Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 6. Tersedak Bersamaan


__ADS_3

Sang Ayah selalu saja sibuk di kantor dengan berbagai macam pekerjaannya. Ayah memiliki tanggung jawab yang besar atas keluarga itu yang di tanamkan pada Sang Putri hingga dia mengerti.


Sang Bunda tidak berbeda jauh dengan kesibukan suaminya yang berada di kantor untuk mengurus sebuah perusahaan keluarga. Perbedaan suami istri itu Sang Bunda lebih mengutamakan gadis kecilnya sehingga dia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah.


Sang Bunda tahu akan kewajibannya akan seorang istri. Dia ingin memberikan sebuah contoh pada kehidupan sehari-hari tentang hak dan kewajiban yang harus terapkannya putrinya yang cantik itu secara langsung bahkan nasehat-nasehat dengan sabar.


Ayah sudah selesai berganti baju, mereka turun menuju ruang keluarga sambil melihat acara di televisi. Terdengar suara Azan Magrib yang berkumandang mereka mematikan acara televisi dan segera bergegas untuk melaksanakan kewajiban mereka sebagai umat muslim.


Saat menuju tempat ibadah yang memang khusus untuk melaksanakan shalat mereka bertemu dengan Adrean. Dia juga akan melaksanakan shalat di kamarnya sendiri.


"Itu Abang sedang wudhu." Kata Tari sambil menunjuk Adrean.


"Sudah selesai?" Tanya Tuan Richat pada Adrean.


"Sudah Pak." Jawab Adrean sopan.


"Shalat berjama'ah bukankah lebih baik?" Tanya Tuan Richat saat melihat Adrean akan melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.


Mendengar ucapan dari Tuan Richat, Adrean menghentikan langkahnya berbalik arah menuju mushola yang ada di kediaman utama Tuan Richat. Adrean tahu maksut dari ucapan Tuan Richat sehingga tidak perlu bertanya lagi dengan kata-kata yang baru saja diucapkan Tuannya itu.


Mereka berempat akhirnya melaksanakan shalat berjamaah di mushola tersebut. Tuan Richat sebagai imam dari mereka.


Shalat Magrib sudah selesai mereka kembali ke kediaman utama. Ayah dan gadis kecil itu menuju ke ruang keluarga belajar berbagai macam hal pada Sang Ayah.


Ayah sangat jarang sekali pulang pada siang hari. Dia selalu meluangkan waktu sebaik mungkin saat bersama keluarganya.


Bunda sangat bangga dengan Sang Suami yang tahu apa keinginan keluarga kecilnya itu. Waktu Shalat Isa' telah tiba, seperti sebelumnya mereka melaksanakan shalat berjamaah seperti tadi.

__ADS_1


Mereka langsung menuju ruang makan setelah Sholat Isa' karena memang waktu untuk mengisi perut. Bunda sedang menyiapkan masakan yang telah dibuatnya tadi bersama Bi Inna.


Makanan kini sudah tersedia semua di meja makan. Gadis kecil ini clingak-clinguk melihat makan yang yang sudah tersedia di meja itu.


Mentari bingung ingin mengambil menu makanan yang sudah tersedia. Semua terlihat sangat enak.


Sang Bunda memang sangat pintar memasak. Semua makanan yang dibuatnya terasa sangat enak, sebelum makan pun dengan aroma makanan itu sudah dapat merasakan enaknya makanan itu.


"Ayah, Bunda kenapa aku tidak memiliki adik?" Tanya Gadis Kecil itu dengan polos hingga menambah nikmatnya makan malam yang biasanya sunyi.


"Kalau aku sendiri tidak seru, tidak ada teman cerita dan bermain." Lanjutnya.


"Uhuuk-uhuuk-uhuk"


Kedua orang tua Mentari tersedak bersamaan mendengar perkataan Sang Anak. Pasutri itu segera mengambil air putih yang ada di depan mereka dan meminumnya untuk mengurangi rasa sakit pada tenggorokan.


Mereka bisa menebak apa maksut anaknya itu. Seorang adik untuk menemaninya setiap hari, hingga rumah yang sangat besar itu tidak terasa sepi.


"Baiklah sayang kami akan berusaha untuk mu." Kata Ayah.


"Segera habiskan makan malam mu itu." Titah Sang Bunda.


"Saat makan jangan banyak bicara nanti bisa tersedak dan tenggorokan bisa sakit seperti seperti kami tadi." Lanjut Bunda memberikan nasehat kepada putrinya itu.


"Baik-baik Bunda ku sayang. Aku akan selalu ingat itu." Balas Mentari.


Mendengar perkataan Ayah baru saja Mentari merasa senang karena ada sebuah harapan. Selama ini Sang Ayah memang tidak pernah membohongi dirinya hingga kali ini pun Dia mempercayai Sang Ayah.

__ADS_1


Perut mereka sudah kenyang karena menu makanan yang disiapkan sang Bunda hampir habis. Gelas yang berisi jus jeruk itu diminum juga sampai habis.


Sang Ayah mengajak putri kecilnya itu menuju ruang belajar. Ruangan ini penuh dengan buku-buku pelajaran dan buku sains yang lain.


Hati Sang Bunda menghangat mendengar percakapan keduanya. Percakapan yang jarang sekali didengar olehnya. Percakapan yang penuh arti.


Sang Bunda yang berdiri sejak selesai membersihkan ruang makan dan mencuci semua peralatan makan langsung menyusul Sang Suami dan putrinya yang sedang berbincang mengenai segala hal. Perlahan Sang Bunda berjalan menghampiri mereka.


"Hem hem hem." Sang Bunda berdehem hingga kedua orang yang disayangi melihat ke arahnya.


"Bunda kenapa lama sekali?" Tanya Mentari memang ingin ditemani oleh kedua orang tuanya.


"Belajar apa sayang?" Tanya Bunda yang sudah duduk bersimpuh di dekat sang Sang Putri.


"Ayah bercerita banyak hal tentang kehidupannya yang harus banyak berusaha dan berdoa." Jawab Sang Putri.


Mentari merasa kagum dengan semua perjuangan kedua orang tuanya itu. Sang Bunda banyak juga usaha untuk mendapatkan kehidupan yang sekarang. Mentari sekarang baru tahu alasan kedua orang tua membatasi pergaulan untuk keamanan dirinya sendiri.


Waktu yang tidak terasa sudah larut membuat Mentari merasa lelah. Dia sudah menguap beberapa kali, tetapi karena ditemani oleh kedua orang yang sangat menyayanginya rasa lelah itu tidak terasa sama sekali.


Ayah yang sudah melihat sang anak menguap beberapa kali memintanya untuk kembali ke kamar untuk tidur. Gadis itu menolak dengan merengek manja.


Mentari dengan berat hati Meninggalkan ruangan itu berjalan menuju kamarnya setelah mendengar penjelasan dari kedua orang tuanya. Mereka memang sangat bijaksana dalam segala hal hingga Sang Putri ingin menjadikan mereka contoh.


Tuan Richat menuju ke ruang kerjanya setelah Sang Putri pergi ke kamar untuk tidur. Dia meninggalkan pekerjaannya siang ini hingga setumpuk gunung.


"Bunda, Aku ke ruang kerja dulu ya sayang." Pamit Ayah pada Sang Istri.

__ADS_1


"Masih ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan." Lanjutnya sambil berjalan berdampingan dengan sang istri.


Sang Bunda yang diperlakukan seperti itu setiap waktu merasa sangat dihargai sebagai seorang istri hingga dia sangat mencintai sang suami setulus hati. Suka dan duka sudah mereka jalani bersama dan rasa saling percaya tumbuh begitu saja.


__ADS_2