Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 20. Guru Dadakan


__ADS_3

Sang Ayah melihat raut wajah yang tiba- tiba berubah dari Adrean. Laki-laki paruh bata itu tidak bisa menafsirkan apa yang tertera di wajah pemuda itu.


"Ada apa?” Tanya Ayah singkat tanpa ekspresi sama sekali.


"Dua hari lagi aku harus kembali untuk mengurus semua yang sudah aku tinggalkan di negara X." Jawab Pemuda itu setelah melihat wajah Sang Ayah.


"Baguslah, lebih cepat lebih baik.” Kata Sang Ayah.


"Sepertinya kalian memang harus bicara banyak." Kata Bunda.


”Aku akan istirahat dulu." Lanjutnya.


Bunda berdiri dari tempatnya duduk setelah berpamitan. Dia segera melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu karena tahu pasti banyak yang akan dibicarakan kedua laki- laki dewasa itu.


Kedua laki-laki muda dan laki-laki paruh baya itu menatap punggung wanita yang baru saja meninggalkan mereka. Mereka tahu bahwa wanita itu sangat mengerti dengan kondisi keduanya.


Ceklek


Pintu ruang kerja itu dibuka kemudian ditutup kembali oleh seorang wanita paruh baya yang telah membawakan minuman dan juga makanan ringan di ruang kerja. Bunda terlihat sangat anggun berjalan saat ini.


Kedua laki-laki itu berbicara empat mata setelah sang Bunda keluar dari sana. Sang Ayah memberikan banyak sekali pesan pada Pemuda itu.


Pemuda itu lebih banyak mendengarkan semua pesan laki- laki paruh baya itu dengan baik. Adrean merasa ada sebuah kata perpisahan yang terselip disetiap pesannya.


Waktu semakin cepat berlalu hingga keduanya tidak sadar kini telah tengah malam. Sang Ayah melihat jam yang tergantung di dinding sekilas.


"Masih mau berbincang?" Tanya Ayah yang memang ingin memastikan Pemuda yang bersamanya masih ingin berbincang dengan nya.


"Sudah larut juga sepertinya, tidak baik sering begadang." Lanjutnya saat tidak segera mendengar jawaban dari mulut Adrean.


"Kalau begadang sama istri lebih bagus sering-sering." Kata Ayah.


"Segera cari istri yang baik, agar bisa membuat mu awat muda.” Kata Ayah.


"Memangnya ada yang buang seorang gadis?" Tanya Adrean.


”Gak ada kan, pastinya beli alias pakai mahar." Lanjut Pemuda itu yang masih ingin menikmati masa lajangnya.

__ADS_1


"Tidak masalah mahar itu buat mu kan?" Tanya Ayah tahu sekarang bukan masalah uang yang ada padanya.


"Ya paling tidak orang baik dapatnya juga baik.” Kata Ayah.


"Sudah larut malam sebaiknya kamu segera istirahat untuk mempersiapkan perjalananmu nanti, aku sendiri akan menemui orang yang bisa memperpanjang masa muda ku." Lanjutnya.


Wkwkwkwk


Keduanya akhirnya tertawa renyah bersama di ruangan itu. Kata-kata Sang Ayah mengenai masalah jodoh ternyata mampu mencairkan rasa canggung sebelumnya.


"Ayo kita pergi ke tujuan kita masing-masing sekarang." Ajak laki-laki paruh baya itu sambil menepuk pundak Adrean.


Kedua laki-laki itu berdiri kemudian berjalan beriringan meninggalkan ruang kerja bersamaan sambil bercerita banyak hal. Saat berada di bawah anak tangga mereka berdua berpisah ayah menuju kamar utama sedangkan Adrean menuju dapur untuk mengambil minuman dingin sebelum menuju kamarnya yang sekarang.


Sejak kembali dari desa Pemuda itu sudah dipindah kamarnya oleh Sang Ayah di lantai atas. Hal itu sudah membuktikan adanya perubahan statusnya.


Ceklek


Pintu kamar utama dibuka oleh Sang Pemilik perlahan. Seorang laki-laki paruh baya itu berjalan perlahan takut mengganggu Sang istri jika Dia sudah tidur.


Seorang pemuda setelah mengambil air dingin segera menuju kamar barunya. Dia mengambil laptopnya berjalan menuju balkon.


Pemuda itu sesaat menatap langit yang begitu luas dan tak terhingga. Pikirannya kini menuju dengan apa yang diucapkan oleh Sang Ayah.


Pemuda itu tersadar setelah benda pipih yang ada di atas meja itu bergetar. Dia segera menyambungkan ponsel dengan leptopnya dan membaca semua e-mail yang masuk.


"Akhirnya selesai juga." Katanya lirih.


Glek glek glek


Seorang pemuda meneguk minuman setelah menyelesaikan pekerjaannya itu. Tenggorokannya terasa sangat kering hingga menghabiskan segalon air minum dingin itu.


Pakaian santai itu kini sudah berganti dengan pakaian tidur. Pemuda itu segera pergi untuk merebahkan tubuhnya setelah melihat jam yang tergantung di dinding menunjukkan pukul 02.00 waktu hampir dini hari.


Pemuda itu hanya tidur satu jam saja karena alarm sudah berbunyi. Dia segera mengambil air wudhu untuk shalat tahajud dan selalu disambung dengan membaca ayat suci Al-Qur'an hingga waktu subuh tiba.


Hari ini Adrean mempersiapkan segala sesuatu untuk penerbangannya besuk. Dia hanya berada dikediaman utama saja tanpa melakukan aktivitas di luar.

__ADS_1


"Tumben memakai pakaian santai Bang?" Tanya Seorang gadis kecil yang sudah menunggunya untuk makan pagi bersama seperti biasa.


"Mau ngajak kencan aku lagi ya?" Lanjutnya.


"Huus, anak kecil bicaranya jangan ngawur." Tegur Bunda saat mendengar Sang Putri berkata seperti kemarin malam.


"Iya, kencannya nanti malam saja." Sahut Ayah yang baru saja datang dengan pakaian formalnya.


"Memangnya kenapa Ayah, kalau seharian jalan-jalan sama aku?" Tanya Tari.


"Memangnya kamu tidak lihat mata Abang mu itu seperti apa?" Tanya Ayah tanpa menjawab pertanyaan Sang Putri.


"Itu ada lingkar hitam di sekitar mata." Jawab Tari.


"Nah itu saja belum punya istri." Jelas Sang Ayah.


"Ayah kalau ngomong disensor dong!" Kata Bunda memperingatkan Sang Suami.


"Maksut Bunda apa'an?" Tanya gadis kecil itu.


"Semoga kali ini aku gak jadi guru dadakan seperti semalam." Batin Seorang Pemuda yang sedang mengaduk makanan yang baru saja di ambil dari meja makan dan diletakkan di piringnya.


"Bang maksut Bunda apa'an ya?" Tanya Mentari tiba-tiba.


Uhuuuk Uhuuuk Uhuuuk


Seorang Pemuda tersedak karena sebuah pertanyaan yang baru saja dibatinnya. Pertanyaan yang benar-benar ditujukan padanya.


Adrean segera mengambil air putih yang ada di depannya untuk mengurangi sedikit rasa sakit di tenggorokannya. Pasutri itu merasa terselamatkan dengan pertanyaan itu dilontarkan pada seorang Pemuda yang sedang makan pagi bersama.


Mentari terus menatap Sang Kakak laki-lakinya menunggu sebuah jawaban. Wajah polos itu terlihat sangat menggemaskan hingga Dia pun berusaha mencari sebuah kata-kata yang cocok untuk usia gadis kecil itu.


"Sudah makanlah dulu sarapan mu." Pinta Sang Bunda.


"Kalau dingin nanti gak enak lho." Lanjutnya lagi memberitahukan pada Sang Putri.


Bunda mencoba mengalihkan pembicaraan saat melihat Pemuda itu sudah mulai kesulitan untuk menjawab pertanyaan Sang Putri. Mentari akhirnya melahap makanan segera.

__ADS_1


__ADS_2