
Aera adalah sebuah pulau buatan yang terbang mengambang diatas awan, pulau tersebut digerakan oleh Cahaya Surga yang memiliki energi tanpa batas.
Ya, dalam pulau itu terdapat sebuah kota yang merupakan negeri para dewa akan tetapi saat ini negeri para dewa yang maju itu telah jatuh ke tangan para iblis.
Dan beberapa saat yang lalu...
"Sllash... Sllash..." bagaikan angin yang berhembus dengan kencang, tiga petarung melesat dari bawah lalu tiba ditepian Aera.
Ya, ketiganya adalah Sakazaki Ryusuke, Shirio Torano dan Sunichi Daisuke.
"Tap..." dengan langkah perlahan Torano untuk pertama kalinya menginjakan kaki dinegeri para dewa itu, "Jadi ini Aera yang terkenal itu, ya?"
"Benar, dan apakah ini pertama kalinya kau kemari?" Tanya Daisuke.
"Ya, tentu saja ini pertama kalinya aku berada diatas pulau yang bisa terbang..." jawab Torano.
"Tapi sangat disayangkan kau yang pertama kalinya datang kemari harus melihat negeri yang hancur..."
"Itu tak masalah bagiku..." jawab Torano.
Ryusuke sudah berjalan didepan dan tanpa menoleh ke belakang, iapun berkata dengan wajah dingin, "Seharusnya kalian tak perlu mengikutiku sampai ke tempat ini..."
"Siapa juga yang mengikutimu?" Tanya balik Daisuke dengan ekspresi agak kesal, "Aku datang kemari karena keinginanku sendiri dan juga aku ada urusan ditempat ini...!!"
"Aku juga tak mengikutimu!! Aku datang kemari karena keinginanku sendiri..." sahut Torano.
Ryusuke mengabaikan alasan keduanya dan terus berjalan maju, "Terserah kalian saja akan tetapi kurasa kalian akan lebih berguna bila berada dikota Kronoz..."
"Aku tak khawatir!! Teman-teman yang lainnya pasti bisa melawan mereka para raja iblis dan membebaskan kota..." jelas Torano.
Ryusuke menatap ke belakang dengan sorot mata tajam lalu berkata, "Percaya pada orang lain dalam perang adalah tindakan salah..."
Torano sedikit tersulut emosi, "Lalu aku harus percaya pada siapa selain pada teman-temanku?"
"Kau boleh percaya pada orang lain akan tetapi aku berbeda!! Aku memilih percaya pada diriku sendiri dari pada orang lain..."
"Cukup!!" Torano memasang sorot mata tajam, "Apa kau berfikir dirimu yang terkuat?"
"Ya, tentu saja..." ucap Ryusuke dengan meningkatkan energi.
"Kalau begitu mari buktikan..." Torano juga meningkatkan energi.
__ADS_1
Keduanya berdebat dan siap berkelahi akan tetapi mendadak Daisuke berdiri ditengah-tengah keduanya yang saling menatap, "Konyol sekali!!"
"Kita sama-sama berasal dari Red Eagle jadi arahkan semua kemampuan kalian pada musuh bukannya pada rekan..."
Kata-kata Daisuke itupun ada benarnya sehingga membuat Ryusuke maupun Torano menurunkan tekanan energinya masing-masing.
"Cih..." Torano masih agak kesal, "Aku pertama kali datang ke tempat ini lalu dimana musuh yang seharusnya kita hadapi berada?"
Ryusuke yang berjalan kembali didepan mendadak menghentikan langkah kakinya, "Aku pernah menghadapinya sekali jadi aku akan pergi ke tempat itu dan menantangnya kembali..."
"Baik, tunjukan tempatnya..." ucap Daisuke.
Keduanya akhirnya mengikuti Ryusuke yang jadi penunjuk jalan.
*****
Mereka berjalan melewati bangunan megah yang berupa gedung-gedung pencakar langit yang kosong, hancur dan sepi tanpa adanya penduduk satupun.
Torano yang pertama kali ke
Aera bergumam dalam hati saat melihat kemegahan negeri para dewa, "Sebelum invasi para iblis terjadi ku yakin tempat ini sangat ramai..."
Daisuke memperhatikan rekannya itu dan berkata, "Semua penduduk tempat ini pergi setelah Aera jatuh ke tangan para iblis..."
"Entahlah..." jawab Daisuke dengan agak ragu, "Kita akan tau jawabannya setelah berhasil mengalahkan mereka..."
Ketiganya terus berjalan dikota yang hancur itu lalu meski membutuhkan waktu agak lama tapi akhirnya mereka sampai juga dipusat pulau.
Dipusat pulau berdiri sebuah banguan mirip menara dengan ukuran besar akan tetapi tak terlalu tinggi.
Ryusuke dengan ekspresi serius berkata, "Kita sampai dan musuh kita ada disana..." iapun menunjuk ke bangunan yang berdiri dipusat pulau.
"Baik, kita mulai saja!!" Teriak Torano dan Daisuke serentak.
Ketiganya meningkatkan energi lalu melesat bagaikan hembusan angin, mereka tak peduli dan mendobrak pintu masuk begitu saja lalu bergerak semakin dalam menuju sebuah ruangan.
Ya, diruangan itu sang iblis terkuat duduk disinggasananya, ia terlihat tenang dan sudah mengetahui akan kedatangan ketiganya.
Iblis itupun menatap remeh ketiga petarung yang berdiri dihadapannya, "Jadi untuk apa kalian kemari?"
Tiga petarung itu terdiam dan hanya membalas dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
"Sllash!!" Ryusuke melesat dan langsung saja menusuk jantung sang iblis terkuat.
Sementara itu, Daisuke bergerak ke belakang tubuh sang iblis terkuat lalu tanpa ragu mengayunkan pedangnya sehingga memenggal kepalanya.
Kepala sang iblis terkuat itupun terjatuh ke lantai dan Torano menusukan pedangnya pada bagian kepala yang telah lepas dari tubuhnya itu.
"Hahahahahaha...!!" Terdengar suara tawa lepas memenuhi ruangan tersebut dan kejadian barusan hanyalah khayalan dari aura kuat kebencian ketiganya saja.
Mereka yang memiliki aura membunuh yang sangat kuat mampu menciptakan sebuah rencana pembunuhan yang sadis.
"Si akhir' tersenyum menyeringai lalu mengejek, "Ku ulangi pertanyaanku!! Untuk apa kalian kemari?"
Ketiganya tak menjawab.
Ryusuke langsung saja menarik sebilah pedangnya dan melesat bagaikan hembusan angin, ia menyerang dengan tusukan.
'Si akhir' tersenyum menyeringai, ia melompat ke belakang dengan bersalto sehingga tusukan Ryusuke hanya menembus singgasananya saja.
"Tak buruk..." ucap 'si akhir.
"Sllash!!" Bagaikan kilatan petir, Daisuke sudah berada dibelakang punggung lawan dan melesatkan tebasan tepat pada leher.
'Si akhir' melirik ke belakang dan mampu menghindar dengan menunduk, ia membalas Daisuke dengan hantaman siku, "Jbbuuak!!!"
"Uhuk..." Daisuke sedikit terdorong ke belakang.
Lalu Torano menarik pedang angin dan api hitam yang tersarung dipinggulnya, iapun berlari maju dan tanpa ragu menebas, "Sllash!!"
'Si akhir' tak memiliki kesempatan menghindar jadi ia juga melesatkan cakaran, "Sllash!!
"Cthing!!" Dua pedang Torano ditahan oleh 'si akhir' menggunakan cakar
"HIIAA...!!!" Torano menekan lebih kuat lalu terus mendorong lawannya.
'Si akhir' menyeringai, "Berani juga menantangku dalam hal kekuatan fisik..." iapun memperkuat pijakan kedua kakinya sehingga berhenti terdorong meski Torano sudah menekan sekuat tenaga.
Torano segera menjaga jarak akan tetapi Daisuke menembakan kilatan-kilatan petir dari jari-jarinya.
"Bodoh!!" Ucap 'si akhir' yang dengan mudahnya menepis serangan itu menggunakan telapak tangan kanannya.
Setelah itu mengatasi tembakan petir, 'si akhir' kemudian melompat ke belakang lalu duduk kembali disinggasananya lagi, "Ku harap kalian dapat lebih menghiburku..." ia pun menatap remeh tiga kapten Red Eagle itu.
__ADS_1
Mereka sedikit kesal akan tetapi tetap tenang mengingat yang dihadapi adalah pemimpin pasukan musuh yang sangat kuat dan berbahaya.
Bersambung Ke Kosuke Arashi Chapter 1133 : Tiga Senjata Terkuat Berkumpul