
Tuan Kai muda terus berlari dan terus berlari meninggalkan rumah tempat tinggalnya sendiri.
"Sialan!!!!!!! Jika bisa aku ingin lari dari kenyataan ini!!!!" Teriaknya sekeras mungkin.
Ia berlari melewati perumahan penduduk lalu bergerak menuju ke sebuah sungai.
"Sialan!!" Teriaknya dengan memukul batang pohon yang tumbuh ditepi sungai.
Tuan Kai muda berada disungai yang sama saat bersama dengan Reina, ia melihat perahu yang dulunya digunakan bersama Reina.
"Sialan!!!"
"Jbbuuak!!" Tuan Kai muda menendang perahu itu hingga hancur lebur.
Iapun teringat kata-kata Reina saat menolak pernyataan cintanya, "Aku tak bisa bersamamu!! Ada seseorang yang telah mengisi hatiku..." ucapan Reina teringat-ingat didalam kepalanya dan hal itu makin membuat Tuan Kai muda frustasi.
"Tidak pernah ku sangka orang yang telah mengisi hati Reina adalah kakak!!!"
"Bagaimana mungkin mereka bisa menjadi sepasang kekasih padahal yang ku lihat mereka berdua saling berdebat satu sama lain dan setiap saat..."
Tuan Kai muda sekarang mulai menyadari bahwa perdebatan antara kakaknya dan Reina adalah perwujudan kasih sayang keduanya.
"Aku tak bisa lagi hidup diantara mereka berdua..." ucap Tuan Kai muda dengan wajah tertunduk.
"Aku akan meninggalkan tempat ini dan tak akan pernah kembali lagi..." pikir Tuan Kai muda yang telah membuat keputusan.
*****
Lalu waktu pun terus berjalan dan Tuan Kai muda yang tak kunjung pulang membuat 'si akhir' yang merupakan seorang kakak khawatir.
"Huft..." ia pun terlihat kelelahan setelah sepanjang hari mencari, "Sialan, dimana si adik kunyuk itu berada!!! Sepanjang hari mencari tapi tak ketemu juga..." gurutunya yang perlahan mengatur nafas.
'Si akhir' berfikir sejenak dan terbesit suatu tempat didalam benak kepalanya, "Hmm... apa dia ada disana, ya? Tapi biasanya kami ke sana hanya saat bimbang saja?"
"Ah, dari pada kebingungan mencarinya lebih baik ku coba pergi ke sana..." ucapnya yang sudah putus asa.
'Si akhir' segera bergerak menuju tebing yang terletak diujung sebelah selatan pulau.
Lalu setelah pencarian yang cukup panjang ia akhirnya menemukan si adik juga, "Sialan, dasar kau adik yang tak tau diri..." ucapnya dengan perlahan berjalan mendekat.
"Akhirnya aku menemukanmu juga..."
Tuan Kai muda menoleh, "Kakak, bagaimana caramu menemukanku?"
'Si akhir' mampu membaca raut wajah penuh kesedihan pada wajah adiknya, "Kita selalu ke tempat ini saat hati kita bimbang..."
"Jadi apa yang tengah mengganggumu?"
__ADS_1
"Ketahuan, ya?" Ucap Tuan Kai muda dan iapun mencari kata-kata untuk berbohong, "Ya, aku adikmu dan aku iri padamu..."
"Iri?"
"Benar, aku sangat iri dengan pencapaianmu, kak!! Aku mendengar pembicaraan antara kau dan ayah..."
Seketika 'si akhir' langsung paham, "Jujur saja, aku tak cocok jadi pemimpin jadi akan ku tolak saja..."
"Kau tak boleh menolaknya!! Impian kakak membuat dunia yang damai sudah satu langkah ke depan jadi kakak tak boleh mundur..."
"Memimpin ras iblis adalah hal yang luar biasa dan hanya kakak yang bisa melakukannya!!!!" Tuan Kai muda keberatan atas keputusan sang kakak.
'Si akhir' terdiam sejenak, "Semuanya akan berubah saat aku jadi pemimpin bangsa iblis dan juga aku tak bisa melakukan semua hal itu sendirian..."
"Aku akan menerima posisi pemimpin bila kau berada disampingku untuk jadi penasehat ku!!"
"Apakah aku pantas berada disampingmu?" Tanya Tuan Kai muda.
"Tentu saja!! Kau kan adikku..." ucap 'si akhir' dengan tersenyum lebar berusaha meyakinkan.
Tuan Kai muda yang awalnya berniat pergi merubah keputusannya dan bersifat dewasa, "Baiklah, demi kedamaian dunia aku akan selalu berada disampingmu, kak!!!"
"Khehehehe... begitulah seharusnya sikap adikku..." ucap 'si akhir' dengan ekspresi senang.
Ya, pada akhirnya seburuk apapun masalah yang menimpa Tuan Kai muda, ia tetap bertahan demi hal yang lebih baik.
*
Ketiga iblis muda itu seperti biasa menjalankan misi, berpetualang dan bertarung bersama.
Akan tetapi hal yang berbeda dirasakan oleh Tuan Kai muda, hatinya begitu tersiksa ketika melihat kakaknya dan Utsugi Reina mengakrabkan diri dengan bertengkar dan berdebat.
Seolah-olah ada dinding pembatas yang tak bisa dimasuki oleh Tuan Kai muda tetapi meskipun begitu ia tetap menahan diri dan bersikap biasa demi kebaikan bersama.
Mereka bertiga selalu bersama akan tetapi lambat laun bukan rasa kedamaian ataupun kebahagiaan yang tumbuh dalam hati Tuan Kai muda melainkan rasa sakit hati, iri dan kebencian yang berkobar-kobar.
Hingga suatu ketika kebencian itu mengalahkan akal sehat Tuan Kai muda.
Kala itu sebuah pesan darurat dikirimkan Kekaisaran Dewa untuk pemimpin bangsa iblis dan secara kebetulan Tuan Kai muda orang pertama yang mengetahui isi pesan itu.
"Apa-apaan pesan ini!!!!" Ucapnya yang terkejut, "Pihak dewa menginginkan kita para iblis untuk menghadang pemberontakan 10.000 pengguna jubah raja!!!"
"Sialan!! Pesan ini darurat tingkat atas dan harus segera diatasi!! Akan tetapi mengapa misi tingkat darurat ini datang saat ayah tak ada ditempatnya..."
Tuan Kai muda kebingungan untuk membuat keputusan akan tetapi terpikir hal yang sangat licik dibenak kepalanya, "Benar, para dewa ingin mengadu kami bangsa iblis dengan para ksatria dan aku tak akan membiarkan hal itu terjadi..."
"Tetapi bila kami tak pergi menjalankan misi ini maka para dewa juga akan mulai menganggap kami sebagai pembangkang..."
__ADS_1
"Kalau begitu apa yang harus ku lakukan?" Iapun berfikir lalu tersenyum licik, "Maafkan aku kakak tapi ini demi kebaikan semuanya termasuk demi kebaikanku dan kebaikan Reina..." ia pun bergegas pergi menemui 'si akhir'
Saat itu 'si akhir' sedang memancing seorang diri ditepian sungai lalu ia dikejutkan dengan datangnya si adik yang wajahnya pucat.
"Hah... hah... hah..." Tuan Kai muda mengatur nafasnya.
"Hey, apa yang terjadi? Mengapa kau terlihat sangat buru-buru?"
"Gawat kakak!!!"
"Apanya yang gawat?" Tanya 'si akhir' dengan santainya.
"Saat ayah tak ada dipulau ini sebuah tugas darurat yang harus segera dikerjakan datang dari Aera!!! Kita pasukan iblis harus segera menghentikan pemberontakan 10.000 ksatria..."
"Apa!!!" Sontak 'si akhir' yang sebelumnya tenang jadi panik.
"Brengseknya para dewa karena ingin mengadu kita dengan para ksatria!! Mereka ingin menjatuhkan bangsa iblis dan para ksatria tanpa ikut campur..."
"Aku mengerti!!!" Ucap 'si akhir'
"Apa maksudmu, kak?"
"Aku akan pergi menghentikan 10.000 ksatria itu!!!"
"Apa!!! Itu tindakan gila!! Aku melarangmu!!" Protes Tuan Kai muda akan tetapi sang kakak memukul kepalanya keras-keras hingga ia tak sadarkan diri.
"Sudah menjadi tugas pemimpin menghentikan masalah ini seorang diri..." ucap 'si akhir' yang kemudian pergi.
Lalu setelah beberapa saat kemudian, Tuan Kai muda bangkit dan ia tersenyum licik, "Maafkan aku, kak!! Ini semua demi bangsa iblis dan juga bila kau mati maka aku akan mengambil semua peranmu..."
"Aku akan menjadi pemimpin bangsa iblis dan mendapatkan hati Reina..."
'Si akhir' pergi berperang seorang diri dan semuanya telah sesuai rencana Tuan Kai muda.
Bersambung Ke Kosuke Arashi Chapter 1152 : Kebencianku IV
******
Pesan Author : kalau gak mau Vote gak papa sih tapi tolong like atau setidaknya komen meski hanya "lanjut" "next" "bagus" atau "up" yang penting bisa support karya ini
Yang intinya komenlah meski satu huruf dan bisa buat autor semangat.
Bukan niatnya maksa tapi author ingin tau aja siapa yang berkontribusi
Terima kasih atas perhatiannya.
*****
__ADS_1