
Sabtu, adalah hari yang sangat menyenangkan untuk Tasya. Karena dia bisa tidur sampai siang. Namun, sepertinya hari ini akan kacau. Karena ....
"Kak Syaaaa!!!" Teriak gadis ber-umur 7 tahun itu, suaranya begitu nyaring sehingga membuat Tasya bisa langsung terjaga dari tidurnya.
"Aduh, aku masih ngantuk ih," kata Tasya yang kembali menarik selimutnya. Hari ini jadwalnya dia mengebo ria.
"Ihhh kak, Sya! Bangun, aku nangis nih!" Ancam gadis kecil itu.
"Eh iya, aku bangun nih bangun," kata Tasya sambil mengubah posisinya untuk duduk.
"Nah gitu dong." Terpancar senyum kemenangan dari gadis kecil itu, hari ini menurutnya akan menjadi hari bahagia. Karena jika bersama Tasya dia bisa meminta apapun.
"Inun sama siapa ke sini?" Tanya Tasya yang sebenarnya masih mengumpulkan kesadarannya.
"Sama mamah," jawabnya santai.
"Mamahnya ke mana?"
"Mamah ada lembur, jadi Inun disuruh nginep di rumah kak Tasyam Terus bisa main sama kakak. Terus bisa jalan-jalan," ucapnya mendikte.
"Oh gitu, yaudah Inun ikut tidur aja sama kak Sya. Kakak masih ngantuk," kata Tasya yang membawa anak itu dalam pelukannya.
"Gak mau, Inun mau jalan-jalan."
"Ini masih pagi loh," ucap Tasya membujuk Ainun agar tak memintanya menemani jalan-jalan. Bukannya apa-apa, tapi Tasya sedang malas ke luar rumah.
"Ihhh gak apa-apa. Ayok, Kak."
Dengan terpaksa Tasya meng-iyakan gadis kecil itu. Ya, Ainun hanya dekat dengan Tasya. Menurutnya, Tasya adalah kakak yang baik dibandingkan yang lainnya. Setelah selesai mandi, Tasya langsung memanaskan mobilnya. Rencananya mereka akan pergi ke mall hari ini.
"Kak, cepetan ih," kata Ainun tak sabaran, dia sangat antusias jika pergi bersama Tasya. Karena Tasya tidak tegaan.
"Iya bentar," sahut Tasya yang sedang memakai sepatu.
"Kita mau ke mana, kak?" Tanya Ainun.
"Ke Mall aja ya?" Tawar Tasya pada gadis kecil itu.
Ainun hanya mengangguk dan bergegas memasuki mobil. Setelah dirasa sudah rapi, Tasya menyusul Ainun memasuki mobil. "Kak, nanti Inun mau makan eskrim ya."
"Iya bawel," kata Tasya sambil mengacak-acak rambut adik kecilnya itu dan melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan Ainun tak henti-hentinya bercerita kepada Tasya. Anak ber-umur 7 tahun ini, sangat cerewet dan berisik. Tapi meskipun begitu, Tasya tetap mendengarkan ocehannya.
"Kak Sya, Inun pingin curhat deh," ucap Ainun.
"Anak kecil udah curhat-curhat aja. Kenapa? Musuhan sama temen?" Tanya Tasya.
"Ihhh bukan itu," ucap Ainun gemas, karena kakaknya tidak mengerti apa yang dimaksud.
"Terus?"
"Inun di sekolah suka kan sama Ghizan. Tapi Imel juga suka sama Ghizan. Inun ngerasa ditikung sama Imel," katanya sok sedih.
Tasya hanya menggelengkan kepalanya sambil berdecak. Apa hanya Ainun, anak ingusan yang hobbinya cinta-cintaan. "Dih, anak kecil gak boleh suka-sukaan. Belajar yang bener. Kata mamah, Inun udah tiga hari gak mau sekolah. Kenapa?"
"Ih kak Sya mah, kan Inun juga perempuan. Terus Inun kan gak mau sekolah soalnya ambil cuti," jawab Ainun dengan polosnya.
"Heh, sekolah mana ada cuti, Inun," ucap Tasya yang gemas mencubit pipi Ainun dan tertawa mendengar jawaban adik kecilnya itu.
__ADS_1
"Mamah juga ada cutinya."
"Itu kalau kerja, Inun kan masih sekolah. Pokoknya kak Sya gak mau tau ya. Kalau Inun cuti-cuti kaya gitu, kak Sya gak mau main lagi sama Inun." ancam Tasya.
"Iya, Inun janji kok," katanya sambil mengangguk.
Tasya lalu memarkirkan mobilnya di parkiran. Lalu, mereka berjalan memasuki Mall. "Inun mau apa? Bando baru? Pita? Ikat rambut? Sepatu? Boneka atau baju?"
"Mau semua," jawab gadis kecil itu dengan polosnya.
"Tau gini gue gak usah nawarin," batin Tasya.
...~ • ~...
Setelah selesai berbelanja ria dan bermain timezone, mereka pun memasuki salah satu cafe. Rasanya lapar sekali. Tasya jika di satukan dengan Ainun akan kalap. Entah berapa kali Tasya menggesekkan kartu ajaib itu.
Mereka duduk di bangku paling pojok dekat kaca. Tempatnya sangat nyaman, ditambah dengan hujan yang menghiasi kaca.
"Ainun mau makan apa?" Tanya Tasya saat pelayan menghampiri mereka.
"Pancake setroberi sama milksek coklat sama eskrim setroberi," katanya mendikte makanan untuk dirinya sendiri.
"Saya, lemon tea nya satu, ice cream coklatnya satu, sama spagetti deh mas," kata Tasya pada pelayan.
"Baik, silakan ditunggu," ucap pelayan itu, lalu berjalan menuju alamnya.
Tiba-tiba seorang anak kecil menghampiri mereka. "Ainun," panggilnya.
"Eh Ghizan," sapa Ainun dengan sumringah.
"Kamu ngapain di sini?" Tanya jagoan kecil itu.
"Kamu kenapa gak sekolah?"
"Aku tuh lagi ambil cuti tau," jawab Ainun lagi.
Sementara Tasya hanya cengo melihat kelakuan bocah di hadapannya ini. "Ghizan! Nakal ya. Kakak cariin kamu kemana-mana ternyata di sini," kata seorang pria dari arah belakang bangku Tasya.
Tasya pun menoleh, melihat siapa pemilik suara itu. Mulut Tasya melongo, ternyata itu adalah ....
"Viko?"
"Lu?"
"Kak Viko sama Ghizan duduk di sini aja ya," pinta Ainun kepada pria jangkung itu.
"Iya kak, di sini aja ya," sambung Ghizan.
Viko hanya pasrah menuruti kemauan Ghizan.
"Gua duduk di sini gak apa?" tanyanya.
"Gapapa, ntar Inun ngamuk malah panjang, berabe." Tasya mengiyakan Viko.
Viko langsung duduk di sebelah Tasya dan Ghizan di sebelah Ainun.
"Udah pesen makanan?" Tanya Tasya pada Viko.
"Udah, nih makanya gua bawa nomor pesanannya," jawab Viko.
"Yaudah bagus," kata Tasya tak acuh.
__ADS_1
"Kak Tasya," panggil Ghizan.
"Iya, kenapa Ghizan?"
"Kalau Ghizan pacaran sama Ainun, boleh?" tanya Ghizan pada Tasya.
"Boleh asal gak kelewatan," jawab Viko asal.
"Heh! Gimana sih lo. Ngajarin tuh yang bener!" Kesal Tasya.
"Em gini, Ghizan. Kalian kan masih kecil tuh, masih unyu-unyu banget. Jadi gaboleh dulu pacaran," kata Tasya menjelaskan kepada bocah-bocah tengil itu.
"Emang yang boleh pacaran harus kaya gimana kak Sya," kata Ainun tak terima.
"Emm- yang udah besar, kaya kak Tasya, nah udah boleh." jawab Tasya.
"Terus pacar kak Tasya mana?" tanya Ainun polos dan itu sukses membuat Tasya ingin mengucek-ngucek bocah yang ada di hadapannya itu.
"Em–"
"Kak Tasya mah mana punya pacar, galak. Gak ada yang mau, soalnya, pada takut," ledek Viko.
"Heh! Najong lo ya," kesal Tasya yang sekarang matanya membulat sempurna.
"Iya sih, kak Tasya galak," kata Ainun polos dan itu sukses membuat Viko terbahak-bahak.
"Anjir, kalau bukan sodara. Udah gue apain ini anak. " batin Tasya.
"Terus kenapa kak Tasya gak pacaran sama kak Viko aja, kan kalian umurnya sama?" tanya Ghizan polos.
"Ya gak semua yang udah dewasa harus pacaran. Apalagi sama kak Viko. Dia orangnya nakal. Nah Inun nanti kalau pilih pacar jangan yang nakal, terus Ghizan juga jangan jadi anak nakal ya," kata Tasya menasehati.
"Sekata-kata lu. Emang gua mau sama ketua osis galak?"
"Bodo amat."
Tak lama pesanan mereka pun datang. Tasya yang haus langsung meminum lemon teanya.
"Haus, Mba?" tanya Viko.
"Capek gue debat sama lo," jawab Tasya.
"Siapa suruh debat," kata Viko santai.
"Gada sih, udah lah gue laper," kata Tasya sambil memakan spagetti pesanannya.
"Btw, Ainun itu ade lo?"
"Bukan, dia sepupu gue. Kalau mamanya lembur, dititipinnya ke gue. Soalnya rewel anaknya, cuma gue pawangnya," jelas Tasya panjang lebar.
"Gue kira adek lu."
"Kenapa? Mirip? Banyak yang bilang kaya gitu sih. Bahkan gue tunjukin photo kecil gue ke dia, dan dia bilang itu mukanya dia."
"Ya mirip, cerewetnya juga sama."
"Heh, gue tuh gak cerewet. Kalau gue negur lo di sekolah, itu karena kewajiban gue," kata Tasya penuh penekanan.
"Sssttt kak Sya. Kata mama aku, kalau makan gaboleh bersuara tau," sindir Ainun.
"Iya iya, dasar bocah nyinyir," kata Tasya yang langsung menyuapkan makanannya. Sementara Viko terkekeh karena kejadian itu.
__ADS_1