
Tasya langsung menuju ke ruang ekstrakulikuler mading dan informasi. Untuk apa? Jelas untuk menanyakan siapa yang membuat kabar hoax yang menyangkut pautkannya dengan Viko. Sebenarnya Tasya tidak setuju ada ekstrakulikuler mading, kerjaan mereka hanya menggosip tanpa memberikan edukasi di sekolah, benar-benar menyebalkan.
Setelah sampai dia langsung memasuki ruangan itu dengan tatapan tajam pada semua anggotanya. Semua orang sudah tau apa yang akan dilakukan Tasya. Sebelum menuliskan itu mereka sudah menimbang-nimbang dan memikirkan soal reaksi Tasya juga.
"Assalamualaikum," tegas Tasya tanpa peduli sekitarnya yang sudah berwajah panik. Meskipun Tasya kecil, tapi dia tidak akan pernah main-main kalau ada yang melenceng.
"Waalaikumsalam," jawab mereka yang ada di ruangan itu sedikit gugup.
"Kalian mau jelasin sesuatu, atau mau gue yang paksa kalian buat ngomong?" Tasya sedang malas untuk beradu argumen apalagi cowok-cowok ekskul mading yang mulutnya seperti lambe turah.
"Eh emang ada apa, Sya?" tanya Gaby pura-pura tidak mengerti apa yang Tasya tanyakan.
"Sekali lagi, gue tanya. Kalian mau jelasin atau gue yang paksa kalian buat ngomong?" Tasya mempertegas ucapannya, sebenarnya dia bisa saja langsung memaki-maki mereka, tapi Tasya tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu.
"Ya maaf, Sya. Itu kan buat asik-asikan aja. Lu gak marah, 'kan?" ucap Indra sambil terkekeh agar emosi Tasya meredam. Namun perkiraannya di luar dugaan. Tasya justru semakin marah dibuatnya.
"Kalau kalian gak hapus berita itu, gue gak mau lagi bantuin kalian buat dapet dana dari sekolah," tegas Tasya sambil pergi meninggalkan ruangan itu. Dia yakin jika berlama-lama di sana akan semakin emosi.
"Dih, galak amat si mba. Kalau bukan Ketua Osis udah gua jambak." ucap Zahra sinis.
Tasya sangat kesal, dia paling tidak suka menjadi bahan gosip sekolah. Ya walaupun sudah menjadi resiko Ketua OSIS jika ada hal kecil langsung kena gosip.
Bayangkan saja, bagaimana Tasya tidak kesal kalau photonya dan Viko sedang berboncengan diupload ke sosial media. Ditambah dengan bumbu-bumbu gosip yang menyebutkan kalau mereka berpacaran. Konten yang sangat tidak bermutu.
Tasya langsung memasuki kelas dan duduk di kursi dengan raut wajah kesalnya. Teman-temannya melihat ke arah Tasya kebingungan. Sudah pasti kalau Tasya begitu tandanya sedang mode maung.
"Kenapa muka lo? Kusut amat," tanya Niken seraya memperhatikan wajah Tasya dengan seksama.
"Kesel gue sama anak mading," jawab Tasya kesal. Sungguh, dia tidak bisa menahan emosi jika sudah begini. Rasanya ingin berteriak sampai terdengar ke seluruh penjuru sekolah.
"Masalah gosip?" Tanya Sarah mencoba menebak dan tepat sasaran, dia sudah menduga kalau Tasya pasti akan marah besar.
"Ya iya lah, gue kan gak suka. Maksud gue apa gak bisa gitu mereka buat konten yang bermutu? Perasaan dari hari ke hari yang mereka tulis cuma gosip terus," kesal Tasya.
"Emang kemarin lo kenapa bisa bareng sama si Viko? Heran jiga kenapa bisa mereka dapet photo lo. Bener-bener pejuang gosip sejati." Sherli menggelengkan kepalanya kagum.
Tasya pun menceritakan semuanya pada mereka. Sebenarnya ini bukan hal yang penting untuk diceritakan. Tapi Tasya tau kalau ketiga temannya ini sangat amat teramat ingin tahu. Kalau tidak mereka bisa penasaran sampai tidak bisa tidur.
"Ihhh so sweet," ucap Niken saat mendengar cerita dari Tasya.
"So sweet apanya?" tanya Tasya bingung, bisa-bisanya Niken bilang seperti itu padahal kemarin dia terus beradu argumen dengan Viko.
"Itu yang lo ceritain semuanya so sweet," ucap Niken dengan polosnya.
"Gak ada yang sweet, biasa aja. Gak usah alay," kesal Tasya.
"Terus kalian jadian?" Tanya Sherli.
"Gila lo, ya enggak lah. Yakali," sanggah Tasya.
Tiba-tiba segerombol pembuat onar datang, membuat Tasya menghela napasnya berkali-kali, pasti mereka akan menambah emosi.
"Ciee lagi ngomongin abang Viko," ledek Reza yang entah sejak kapan sudah ada di bangkunya, tentu saja bersama Viko dan lainnya.
__ADS_1
"Najis, apaan sih lo. Gak usah gosip pagi-pagi," kesal Tasya sembari melirik Reza dengan tatapan yang tajam.
"Ciee cinta berawal dari boncengan," kata Arka yang membuat suasana semakin panas. Ribut adalah jalan ninjanya dan kompor adalah passionnya.
"Dih mulut lo pada kaya cewek ya." Tasya sangat kesal dan rasanya dia ingin melempari mereka dengan buku-bukunya.
"Cieee yang pake jaket Viko ciee," sorak Bagus yang mulai bersuara.
"Ihhh! gak usah cie-ciein gue! Kalian bisa diem gak sih?" Kesal Tasya.
"Salting lo," goda Sarah sambil majukan wajahnya ke arah Tasya.
"Gak usah merah gitu mukanya." kini giliran Sherli yang menggoda Tasya.
"Ciee jangan lupa pajak kalau jadian ya," kata Niken.
"Apaan sih kalian, gak jelas banget," ketus Tasya.
"Gak usah malu-malu, Sya. Viko ganteng juga loh," kata Arka.
"Ya terus kalau Viko ganteng kenapa?"
"Cieee mengakui Viko ganteng," tambah Reza.
"Viko, bisa gak sih suruh temen-temen lo diem?"
"Cieee minta dibelain Viko," goda Bagus membuat pipi Tasya semakin panas dibuatnya.
Ciee cieee cieee.
Rasanya ingin mencakar seluruh manusia di kelas ini yang sejak tadi mencie-ciekannya dengan Viko. Tasya merasa risih dengan hal itu. Tapi berbeda dengan Viko, mukanya flat dan tidak berkomentar apapun. Sesekali Viko tersenyum kecil melihat kekesalan Tasya akibat ulah teman-temannya.
'Please, jangan cie-ciein gue. Nanti kalau gue jadi suka sama dia gimana?' batin Tasya.
...~ • ~...
Brakk.
Seseorang menggebrak bangku Tasya dengan keras.
"Nadin, ngapain lo gebrak-gebrak meja gue? Kelas lo kan di sebelah? Ngapain ke sini?" Tanya Tasya yang tak terima dengan perlakuan Nadin.
"Gak usah banyak ngomong lo, jangan mentang-mentang lo Ketua OSIS dan lo bisa pikir gue takut sama lo? Lo itu gak ada apa-apanya dibandingkan sama gue, Sya," ucap Nadin merendahkan.
"Lo ngomong apa sih, gak jelas tau gak?" Kesal Niken.
"Mending lo balik ke alam lo. Jangan gangguin temen gue atau lo yang gue tebas!" Usir Sarah.
"Diem lo pada, gue gak ada urusan sama kalian," ancam Nadin dan langsung menarik Tasya ke depan kelas.
"Lepasin! Lo apa-apaan sih norak banget, to the poit ajalah, perasaan gue gak ada masalah sama lo! Ada urusan apa lo sama gue hah?" Tasya melepaskan tangan Nadin dengan paksa.
"Kenapa sih, lo selalu rebut apa yang seharusnya jadi milik gue? Kenapa lo terlalu serakah jadi orang? Lo gak pernah puas apa ama yang lo milikin sampe salalu mau punya gue?"
"Maksud lo?" tanya Tasya tak mengerti dengan ucapan Nadin.
__ADS_1
"Pertama, lo bikin gue kalah di pemilihan kemarin. Kedua, lo sekarang mau rebut Viko dari gue? Jangan sok kecantikan, lo itu cuma sampah! SAMPAH!"
"Siapa yang rebut Viko dari lo? Gue sama dia gak ada apa-apa. Sakit lo, makanya jangan kemakan hoax, ngakunya lebih dari gue tapi otak lo aja gak ada," kesal Tasya.
"Halah gak usah ngeles lo! Jangan sok polos jadi orang, gue udah tau ya busuk-busuk lo gimana, gimana lo caper sama orang-orang. Basi tau, Sya!" Nadin membanting punggung Tasya ke dinding.
Teman-teman Tasya segera berlari mencari Viko. Bukannya apa-apa, mereka pikir Nadin akan mereda jika Viko yang menjelaskan.
"Denger ya, Nad. Pertama, gue gak pernah mau ada di jabatan gue ini. Semua ini murni suara dari warga sekolah dan lo mutusin keluar OSIS gue masih fine-fine aja ya sama lo. Sekarang lo bilang gue rebut Viko dari lo? Lo kalau gak tau apa-apa diem deh. Gue cuma minta bantuan dia aja kemarin buat survey, salah?"
"Salah, karena gak seharusnya lo deket-deket sama Viko!" Bentak Nadin.
"Emang Viko siapa lo sih? Sampe lo segini marahnya sama gue? Kalau gue salah, oke gue minta maaf. Tapi berhubung gue gak salah, gue ogah minta maaf sama lo," ucap Tasya tegas.
"Brengsek ya lo," geram Nadin yang langsung mengangkat tangannya menampar Tasya, namun ....
"NADIN!!!" teriak Viko yang datang tiba-tiba.
"V-viko ..."
"Lu apa-apaan sih, norak tau gak," kesal Viko yang menjauhkan tubuh Nadin dari Tasya.
"Tapi Ketua OSIS yang sok cantik ini kegatelan sama kamu, Vik," kata Nadin membela diri.
"Mending lu sekarang balik ke kelas lu!" Perintah Viko.
"Ta–"
"PERGI!!" Bentak Viko.
Nadin yang tak terima langsung berlari dan meninggalkan Viko. Sementara Tasya hanya terdiam, melihat adegan sinetron itu, penuh drama dan sangay menyebalkan.
"Lu gak apa-apa?" tanya Viko memastikan.
"Gak apa, lain kali jagain cewek lo. Udah tau cewenya posesif, harusnya lo bisa kasih pemahaman sama dia!" Tasya menghela napasnya sembari merapikan pakaiannya.
"Bukan cewek gua," ucap Viko meluruskan.
"Gak peduli," balas Tasya yang kembali duduk di kursinya.
Viko lebih memilih kembali ke roftoop sekolah. Karena hari ini adalah pelajarannya bu Beti, dan itu sangat menyebalkan menurut Viko.
Tasya sangat kesal hari ini. Nadin, orang yang dulunya sangat dekat dengannya berubah. Semenjak kekalahannya di pemilihan Ketua OSIS. Tasya aneh, kenapa orang-orang sangat menginginkan jabatannya itu. Sementara Tasya yang sudah mendapatkannya biasa saja. Tak ada yang istimewa dari jabatan seorang Ketua OSIS.
Menurut Tasya mejadi Ketua OSIS hanya mengekang dirinya. Sikap, tata cara bicara, dan sebagainya harus dia jaga. Entah Chandra atau Nadin, mereka sama. Berubah karena hanya jabatan.
"Lo fine kan?"
"Fine kok, gue kan Ketua OSIS. Mau gimana-gimana pun gue yang yang bakalan disalahin."
"Emang Ketua OSIS gak boleh gak fine? Gue tau kok perasaan lo," kata Sarah memeluk sahabatnya itu.
"Makasih udah ngertiin gue," kata Tasya.
Mereka pun berpelukan sampai bu Beti masuk ke kelas dan menghentikan aktivitas mereka. Lebih baik Tasya fokus dengan pelajaran daripada memikirkan Nadin yang tidak jelas itu.
__ADS_1