
Sudah hampir setengah jam Tasya mengomel. Al masih tidak mau melawan atau menghentikannya. Dia malah terus memandangi gadisnya itu seolah menurut saja. Tasya yang melihat itu malah jengkel dibuatnya.
"Kamu gak dengerin aku ngomong ya? Kenapa dari tadi gak nanggapin?" Kesal Tasya.
"Aku dengerin kamu ngomong dan biarin kamu marah, karena aku ngaku salah. Jadi puas-puasin aja dulu marahnya, aku gak akan ngelak apapun," jelas Al.
"Ya kalau kaya gitu berasa gak didengerin. Aku kesel sama kamu, kami bilang apa-apa harus dikomunikasiin. Tapi kamu malah diem, aku kan gak tau harus ngapain."
Al menghela napasnya. "Aku minta maaf udah bikin kamu kesel," ucapnya tulus.
"Aku tuh gak butuh maaf, aku cuma mau kamu tegas. Aku gak bisa hadapin om-om kaya gitu sendirian. Kamu selalu lindungin aku dari siapapun, tapi kenapa dari kakak ipar sendiri kamu gak berani?"
"Bukan gak berani, tapi nilai kita taruhannya," jelas Al.
"Kalau dia mainnya nilai ya dia gak profesional. Aku kesel banget, kesel banget sama kamu!"
"Jadi harus gimana biar gak marah lagi kamunya?" Tanya Al yang memfokuskan dirinya pada Tasya.
"Gak usah ngapa-ngapain, mau pulang!" Tasya yang masih kesal berdiri dan berjalan duluan mendahului Al.
Al semakin menghela napasnya, kalau sudah seperti ini pasti akan susah dibujuk. Dia juga aneh sekali, kenapa mudah sensitif dan akhirnya mengacuhkan Tasya. Iya dia salah, dia mengakui itu sekali lagi.
Setelah memastikan Tasya aman, Al pun melajukan motornya. Sunyi, Al bertanya pun Tasya tidak menjawabnya. Kalau begini berarti Tasya memang benar-benar marah. Al berpikir keras bagaimana agar Tasya memaafkannya.
Setelah sampai di depan rumah Tasya, gadis itu pun turun dan menyerahkan helm pada Al. Tidak berniat lama-lama, tanpa sepatah katapun Tasya masuk ke dalam rumah. Membuat Al semakin pusing dibuatnya.
__ADS_1
"Tenang, sabar. Mending lu balik dulu, mandi, makan, baru kita berpikir lagi," ucap Al pada dirinya sendiri. Dengan pasrah Al pun melajukan motornya ke rumah dan pulang.
Amanda dan Amara terheran-heran melihat Tasya yang langsung berlari ke atas tanpa mengucap salam atau menyapa mereka terlebih dahulu. Amanda ingin menemui Tasya namun Amara melarangnya. Tasya akan lebih bagus didiamkan dulu, kalau ditanya sekarang dia malah akan tidak akan bisa diajak komunikasi.
"Biarin dulu, dia masih emosi, Man. Nanti kita bicara setelah dia mendingan," ucap Amara.
"Tapi Manda khawatir, Tan," kata Amanda.
"Iya, Tante paham. Tapi kalau diajak bicara sekarang dia gak akan mau jawab. Jadi biarin aja dulu."
Amanda mengangguk, setelah itu dia melanjutkan memilih baju-baju bayi untuk persiapan kelahiran anaknya yang mungkin beberapa bulan lagi.
Tasya merebahkan dirinya di kasur sambil menatap langit-langit kamarnya. Dia sudah memendam emosi dari tadi pagi. Pasalnya Al sempat membentaknya saat dia tidak ingin diganggu. Memang sedikit tapi tetap saja, dia tidak suka didiamkan. Meskipun dia sangat suka mendiamkan orang lain.
Tasya menyeka air matanya. Baru kali ini dia menangis karena Al. Tapi dia juga tidak bisa menahan amarahnya kalau seperti tadi. Memangnya Al pikir dia tidak akan marah jika diiamkan seharian? Lebih kesalnya lagi mereka sudah bersama sejak kecil, seharusnya Al tau itu.
"Bisa gak sih kalau di hubungan itu gak usah ada cobaannya? Padahal niatnya gak nangis, tapi malah nangis. Gue keseellll!!! Kenapa sih harus gue yang disukain sama dokter Fadil yang pemikirannya di luar nalar itu?!'
...~ • ~...
Satpam membukakan pagar dan Al memasuki pekarangan rumahnya. Dia melihat Fadil sepertinya baru sampai di sana, menyebalkan sekali. Pusing ditambah emosi akhirnya bersatu padu dalam benak Al.
Al turun dari motornya dan langsung menghampiri Fadil. "Jauhin Tasya, dia risih," ucap Al to the point.
Fadil menatap Al santai, lalu tersenyum miring. "Kamu tidak bisa membatasi perasaan seseorang, kan?"
"Tentu bisa, saya tunangannya," balas Al.
__ADS_1
"Belum menikah, kan?" Tanyanya enteng.
Al mengepalkan tangannya, namun sebisa mungkin dia tahan. "Kalau begitu saya ada hak, agar anda tidak menyakiti istri anda yang berstatus kakak saya. Ingat anda menikahinya untuk dibahagiakan, bukan untuk anda perlakukan seenaknya."
Zea menatap keduanya dari balik pintu, ada apa yang terjadi diantara mereka sebenarnya. Langsung saja Zea menghampiri mereka. "Jangan kaya anak kecil, ngapain berdebat di sini."
"Urus suami lu yang udah di luar batas! Kasih tau juga dia gimana caranya bersikap sebagai orang dewasa!" Al melirik ke arah Zea dan pergi begitu saja.
Zea menatap Fadil tajam, dia sudah tau pasti penyebab Al semarah itu. Apalagi kalau bukan mendekati Tasya sama seperti hari-hari sebelumnya. Jujur saja dia jengah melihat sikap kekanak-kanakan Fadil yang katanya orang dewasa. "Kamu ngapain lagi sih, Mas?"
"Ngapain apa? Adekmu yang berlebihan," jawab Fadil santai dengan tatapan datar yang membuat Zea semakin kesal dibuatnya.
"Berlebihan gimana? Kamu gangguin Tasya lagi? Deketin dia? Udah aku bilang jangan gangguin hubungan mereka, rasa suka kamu itu tanggung jawab kamu sendiri. Bukan mereka yang harus menanggung beban perasaan kamu! Udah tua tapi masih egois." Zea mati-matian menahan suaranya agar tidak terdengar ke dalam. Akan aneh juga orang rumah mendengar pertengkaran sepasang pengantin baru.
"Kamu tidak kenal saya, sebaiknya kamu dia dan tidak menilai sembarangan Zea."
"Aku emang gak kenal kamu, tapi aku kenal Al ya, aku kenal adek aku sendiri. Dia gak akan marah tanpa alasan. Kalau kamu gak ngapa-ngapain dia gak akan mungkin semarah itu! Itu artinya juga kamu udah melakukan hal dibatas tolerasi dia."
"Kalau kamu sangat mengenal Aldo, sudah dipastikan kamu tidak mengenal saya. Jadi jangan menilai sesuatu dari siapa yang paling dekat dengan kamu. Karena sudah pasti kamu akan memihak salah satunya. Stop, Ze saya cape baru pulang kerja."
Zea sudah kepalang emosi menghadapi suami yang baru dinikahinya beberapa hari lalu, tapi dia juga tidak bisa mengajak Fadil berdebat di sini. Jadi Zea mengajak Fadil untuk ke kamar mereka dengan paksaan.
Al masuk ke rumah dengan raut wajah yang tidak bersahabat, membuat Diana sedikit keheranan karena Al berlalu begitu saja. Sementara Al memang tidak sadar saja dan tak melihat bundanya. Dia langsung masuk ke dalam kamar dan mengistirahatkan kepalanya yang terasa pusing.
Al mendengar suara derap langkah dari luar, sepertinya itu Zea dan Fadil. Setelah menutup kamar mereka, Al bisa mendengar kalau mereka berdebat di sana.
"Seharusnya gua bisa cegah Zea nikah sama orang yang gak punya otak kaya dia." Al mengepalkan tangannya dan meninju kasur.
__ADS_1
Kalau dia tidak memikirkan perasaan Zea dan keluarganya sudah bisa dipastikan kalau Al tidak akan segan-segan untuk menghajar pria yang berani menyakiti Kakak dan mengganggu tunangannya. Dia merasa tersiksa karena itu.
Al tidak bisa lebih lama mendengar perdebatan mereka. Jadi dia memilih untuk membersihkan diri ke kamar mandi. Banyak yang harus dia pikirkan sekarang. Pekerjaannya, Masalah kakaknya dan yang terpenting itu dia juga harus membujuk Tasya.