Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Hari Pertama Pacaran


__ADS_3


Pukul 8 pagi setelah selesai sarapan, mereka diarahkan para guru menuju pantai. Mereka diberi tugas untuk mengamati biota laut. Memang tujuan utama mereka adalah belajar, tapi rasanya begitu malas saat seperti ini harus melakukan pengamatan. Tidak terkecuali Viko dan Tasya, mereka tampak menikmati hari ini walaupun diberi tugas.


Tasya dan Viko hari ini terlihat berbeda, setelah memberitahu kabar baik pada teman-temannya dan mereka habis-habisan digoda malah membuat mereka semakin lengket dan senyuman tak pernah pudar dari wajah mereka.


Seperti sekarang, mereka terus menggenggam tangan satu sama lain, ditambah mereka memakai hoodie couple yang pernah Viko beli. Seperti pasangan goals saja, padahal mereka baru berpacaran.


"Bucin cih," decih Sherli saat melihat ke arah Viko dan Tasya.


Tasya tertawa dan memeletkan lidah pada Sherli. "Biarin yang penting pacaran bukan HTS."


"Ck si bucin ini udah berani ngeledek," kata Al mengusap wajah Tasya gemas.


"Ihh, Al. Biarin, yang penting punya pacar gak jomblo," jawab Tasya.


Viko dan Al tertawa melihat tingkah Tasya yang seperti anak kecil. Viko semakin gemas ingin memainkan pipi Tasya sampai dia mengomel.


"Oke sekarang kalian bebas buat mengitari pantai ini, untuk referensi kalian bisa pergi ke pulau-pulau kecil di seberang agar bisa melihat banyaknya biota laut yang ada," ucap Pak Jaya.


"Iya, Pakkk," teriak mereka serempak.


Setelah dibubarkan, mereka langsung menyewa perahu kapal, tujuannya kali ini adalah pulau pasir putih. Menurut info di sama ada snorkeling dan mereka bisa melihat biota laut yang indah.


Tasya menaiki perahu dan duduk berhadapan dengan Al dan di samping Viko. Al tertawa karena dia tau kalau Tasya sedikit takut naik perahu.


Perlahan Al mengarahkan kameranya pada Tasya. "Syaa, liat kamera."


Tasya pun langsung bergaya dan Al mengambil beberapa photo di sana, tidak lupa juga Al mengabadikan photo Tasya dan Viko. Pantai ini begitu indah, apalagi dekat pulai pasir putih ini suasananya masih asli tidak seperti pantai utama yang sudah banyak dikunjungi banyak orang.


Beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di pulau itu. Di sana ternyata ada hutan lindung juga, dan wisata kapal terguling menjadi daya tarik di sini. Tasya melihat ke sekeliling, dia senang karena udara di sini membuat harinya yang bagus, menjadi semakin bagus.


"Eh kita perlu nyewa alat snorkeling gak sih? Gila airnya jernih banget," kata Sarah.


"Iya kayanya, gue mau liat terumbu karang di sebelah sana bagus banget tadi pas lewat," ucap Niken antusias.


"Yaudah, kita sewa dulu habis itu masing-masing kita ngamatin apa yang kita liat, gak semuanya beberapa aja. Nanti kita satuin buat bahan laporan," usul Al.


"Cakep, kalau bagi tugas pasti cepet. Sisanya bisa main," kata Bagus.


"Yaudah ayokk!!" Ajak Arka.


Mereka menyewa alat snorkeling. Setelah itu menaruh jaket dan barang-barang di pinggir pantai. Untung saja mereka membawa kamera tahan air agar mempermudah tugas mereka dalam menyusun laporan.


Tasya mengikuti Viko yang sedari tadi menggenggam tangannya. Tasya tersenyum, dia merasa dianggap berharga karena tidak dibiarkan terlepas walaupun hanya beberapa menit.


"Ini nanti napasnya gimana?" Tanya Tasya polos.

__ADS_1


"Iya nanti waktu masuk air kamu tarik napas dulu yang panjang, biasain dari mulut. Terus di dalam air napasnya pake mulut. Kalau engga nanti sakit hidung kamu," jelas Viko yang tanpa sadar menggunakan aku-kamu sekarang.


"Ohh oke-oke bisa." Tasya mengangguk kesenangan.


Setelah memakai sepatu katak, Tasya memasang alat snorkelnya dan berjalan ke air bersama Viko. Tasya mengikuti arahan Viko untuk menarik napasnya sebelum masuk ke air. Setelah melakukannya dia langsung menenggelamkan dirinya masuk ke air.


"Gila keren banget," batin Tasya.


Tasya dan Viko dengan kompak berenang ke dasar laut, banyak ikan-ikan yang mereka jumpai, tidak lupa Viko mengambil photo mereka berdua dengan kameranya.


Bukannya indah ngadate pertama, mereka melakukan snorkeling bersama? Tasya berenang dan mengambil bintang laut dari balik terumbu karang. Tasya tersenyum dan memperlihatkannya pada Viko. Viko tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.


Setelah puas, Tasya pun mengisyaratkan kepada Viko untuk Naik ke atas. Lama-lama pengap juga bernapas lewat mulu.


"Hhh bagus banget," sorak Tasya sambil melepaskan snorkel miliknya.


"Suka?" Tanya Viko sambil merapikan helaian rambut Tasya.


"Aku dapet patrick lucu banget, gemes." Tasya memperlihatkan bintang laut yang ada di telapak tangannya


"Gemesan juga kamu." Viko menarik kedua pipi sampai gadis itu merengek.


"Ihhhh kamuuuu, nakal!" Kata Tasya memukul lengan Viko pelan.


"Hahaha, ampun ampun. Jangan marah ya pacar," ucap Viko sambil menangkup kedua pipi Tasya.


Viko tertawa melihat tingkah Tasya dan langsung mengejarnya. Mereka seakan bebas karena yang lain masih di bawah air.


Tasya menghindari Viko, tanpa sadar kalau langkahnya lebih kecil dari pria jangkung itu. Viko mengejar Tasya dan akhirnya ....


Hap!


Viko menangkap Tasya dari belakang dan memeluk Tasya erat seolah tidak ingin kehilangan gadis itu.


"Aaahh curangg, kaki kamu langkahnya besar! Curang-curang," kesal Tasya sambil tertawa.


"Salah sendiri ngejek, nih nih nih rasain nih." Viko menggelitik perut Tasya sampai membuat gadis itu teriak-teriak. Itu adalah kelemahannya.


"Hahahaha Vikoo, lepasinn. Hahahaha ampun-ampun udahhh janji gak ngeledek lagi," pinta Tasya.


"Yakin? Janjii?" Tanya Viko tanpa menghentikannya.


"Hahahaha ampunn, iyaaa janjii iyaaaa." Tasya mengacungkan jari kelingking pada Viko.


Viko tersenyum dan melepaskan pelukannya, lalu kembali mencubit pipi Tasya. "Pacar siapa sih gemes banget?"


"Gak tau, jelek!" Kesal Tasya.

__ADS_1


"Ululu pacarku ini," kata Viko sambil mengusak rambut Tasya pelan.


Tanpa mereka sadari kalau sedari tadi teman-temannya sedang memperhatikan mereka dengan tatapan aneh. 10 menit mereka habiskan untuk melihat aksi kejar-kejaran dua sejoli yang sedang bucin-bucinnya.


"Emang ya kalau bucin dunia seakan milik berdua," ucap Reza sambil menghembuskan napasnya.


"Berasa lagi nonton drama Korea gua," sambung Bagus.


"Lohhh kalian gak bilang kau udah naik, mana gua tau," sanggah Viko.


"Halahh, bilang aja emang gak sadar. Bucin," ejek Sherli.


"Gak bucin tapi sayang, iya kan?" Tanya Tasya pada Viko sambil melengkungkan senyumnya.


"Betul, iri dengki mulu lu semua," ucap Viko bangga.


"Haduhh susah emang bicara sama orang bucin sehari," ucap Sarah sambil menggelengkan kepalanya.


"Ribut mulu, mending Foto. Bagus nih view-nya," cetus.


"Oh iya kita belum foto, ayok ayokk. Kita foto barengan gitu," kata Tasya antusias.


Mereka semua pun berkumpul, sementara Al memposisikan kameranya di tripod. Dan ... Cekrek. Mereka asik berphoto di sana. Bahkan sampai kehabisan gaya saking banyaknya yang diambil.


"Nanti gua pilihin yang bagus-bagus," kata Al sembari melihat-lihat hasil jepretannya. Al memamg menyukai dunia photography. Tidak heran kalau hasilnya bagus dan memuaskan.


"Eh, Ar. Boleh fotoin gue sama Al gak? Buat dikirim ke bunda Diana. Soalnya bundanya Al minta foto," pinta Tasya.


"Bukan Al doang yang jago kamera, liat kemampuan gua. Sini," Arka menerima kamera dari tangan Al.


Al dan Tasya pun bergaya menatap kamera. Mereka berdua jika digabung menjadi sangat ekspresif, berbagai gaya di coba. Semua tersenyum melihatnya, persahabatan Al dan Tasya membuat siapapun pasti iri.


Viko tersenyum melihat tingkah Tasya, entah kenapa semua yang dilakukan gadisnya itu gemas di matanya.


"Akhirnya ya jadi juga," ucap Bagus yang melihat Viko seharian ini tak henti-hentinya tersenyum.


"Berkat kalian juga, gak sia-sia gua nunggu. Gua beruntung banget, dapetin dia," ucap Viko yang masih terfokus pada Tasya.


"Ya setimpal sama perjuangan lu, sekarang lu tinggal nikmatin hasilnya. Tapi inget, jangan sia-siain orang yang udah milih lu. Jangan buat Tasya kecewa," peringat Bagus seraya merangkul sahabatnya itu.


"Iyalah, gua pasti bakalan selalu jagain dia. Sampai akhirnya gua dan Tasya berakhir bahagia. Jauh lebih bahagia dari sekarang."


"Gila udah nikah aja pikiran lu," ucap Bagus spontan.


"Gak ada yang bilang nikah anjirr, kita gak akan tau kedepannya gimana. Tapi yang pasti apapun itu entah berakhir bareng-bareng atau engga, harus dalam keadaan bahagia."


"Astagfirullah, bucin! Tobat dah gua bicara sama lu, Vik." Bagus melengos pergi sementara Viko hanya tertawa melihat tingkah teman-temannya.

__ADS_1


Jujur, baru kali ini dia mempunyai pacar. Jadi dia akan melakukan apapun agar Tasya bahagia. Termasuk menunjukkan rasa sayangnya setiap hari.


__ADS_2