
Tasya dan Viko duduk di salah satu meja, duduk di atas bean bag membuat mereka terlihat lebih santai. Tasya masih terdiam, dia berpikir kenapa Viko mengajak Bella ke sini?
Viko yang peka dengan itu langsung berlutut di depan Tasya, memegang kedua tangannya dan menciumi punggung tangan Tasya seolah dia sangat mencintai gadis itu. Ralat, Viko memang sangat mencintai Tasya tapi tidak bisa dipungkiri kalau dia sekarang mencintai dua orang secara bersamaan, meskipun lebih mencintai Tasya.
Tasya menatap kekasihnya dengan senyum, meskipun marah dia tidak bisa pungkiri rasa rindu dan senangnya saat melihat Viko ada di sini.
"Maafin aku ya, kemarin-kemarin aku terlalu emosian. Aku gak berniat buat nyakitin kamu, Sya. Aku cuma lagi pusing aja sama rutinitas," ucap Viko menyesal.
"Aku masih marah apalagi kamu bawa Bella ke sini," ungkap Tasya jujur.
"Sayang, sebenernya aku udah dari kemarin di sini. Dan aku tidur di apartemen milik keluarga Bella. Dia cuma sahabat aku, mana mungkin aku bohong dan ajak dia kesini terus kenalin ke kamu, kan?"
Tasya mengangguk saja, tidak akan ada habisnya jika membahas Bella. Ini acara ulang tahunnya, tentu dia tidak boleh membahas hal hal berat. Apalagi Viko sudah jauh-jauh datang ke sini, Tasya tidak mungkin mendiamkannya setelah perjalanan jauh. Tasya tidak se-tega itu.
Viko memeluk Tasya erat dan Tasya pun membalasnya. Dengan lembut Viko menciumi pipi Tasya. Ah kenapa Tasya se-menggemaskan ini?
"Inget ya, mulai sekarang jangan banyak overthinking. Aku sayang kamu, udah pasti kamu doang yang aku cintai. Kita udah janji bakalan jalanin ini sama-sama sampai nemuin titik bahagia," ucap Viko.
Tasya menatap Viko. Ucapannya memang begitu manis, tapi entah kenapa melihat sorot matanya membuat Tasya berpikir kalau Viko tak benar-benar serius mengatakannya. Ada perasaan aneh yang bersarang dalam benaknya, tapi dia tidak memahaminya.
"Iya, aku minta maaf ya. Aku kemarin-kemarin terlalu egois dan mikirin emosi sesaat. Aku percaya sama kamu," balas Tasya. Dia berusaha meyakinkan diri untuk mengucapkannya.
Viko tersenyum, masalahnya bisa terselesaikan hari ini. Rasa cemas yang ada pada dirinya terasa hilang begitu saja. Tasya ini memang baik, pemaaf dan itu kenapa Viko tidak ingin melepaskan wanita sebaik Tasya. "Kamu cantik banget hari ini, aku punya hadiah buat kamu."
"Hadiah apa?" Tanya Tasya penasaran.
Viko mengambil paper bag dari meja, mengeluarkan kotak di dalamnya dan memberikannya pada Tasya. "Buka lah."
Tasya tersenyum melihat itu dan menerimanya dengan senang hati. Perlahan dia membuka kotak itu, jujur dia sangat senang melihatnya.
"Aku tau kamu pasti suka," ucap Viko.
"Makasih yaa, padahal kamu di sini aja aku udah seneng. Tapi ini aku terima ya." Tasya tersenyum ke arah Viko.
"Jangan lupa nanti malem pake, dandan yang cantik, aku mau ajak kamu dinner," pinta Viko.
"Serius?" Tanya Tasya terlihat girang.
Viko mengangguk dan mengeluarkan senyum terbaiknya. "Iya dong, ulang tahun tuan putri gak bisa dirayain cuma sekedar kasih hadiah doang. Harus jadi moment spesial yang gak bakal dilupain dalam hidupnya."
__ADS_1
"Aku-"
Tiba-tiba ponsel Viko berbunyi, menandakan ada pesan masuk. "Bentar ya, takut dari atasan." Viko mengecek pesan itu. Ternyata Bella, wanita ini begitu rewel sekarang.
Amour ❤️ :
Temuin aku di kamar mandi sekarang, penting!
Viko menghela napasnya dan memasukan ponsel ke dalam sakunya. Tasya melihat Viko sepertinya sedang gelisah, entah apa yang terjadi pada pria itu.
"Kamu kenapa?" Tanya Tasya.
"Gapapa, aku lupa ada berkas yang belum diperiksa. Tapi gapapa bisa dihandle," jawab Viko sembari menciumi punggung tangan Tasya.
"Oh dikirain kenapa." Tasya tersenyum mengiyakan, dia tidak mau bertanya lebih lanjut.
"Kamu tunggu di sini sebentar ya, aku mau ke toilet dulu," ucap Viko, Tasya pun tersenyum dan mengangguk tanpa menaruh rasa curiga.
...~ • ~...
Al terus menatap Bella yang berada di ujung sana, pandangannya tak lepas ke luar, lebih tepatnya ke tempat Tasya dan Viko berada. Tidak hanya Al, tapi Belva juga. Mungkin yang lain menganggap Bella tidak ada, tapi menurut Belva dia ini seperti ada yang aneh.
Bella terlihat beranjak dari tempatnya, saat Bella berbelok barulah Al mengikutinya perlahan. Yang lain sempat heran tapi mereka membiarkannya. Al bersembunyi di balik tembok saat Viko tiba-tiba saja muncul di hadapannya. Setelah di rasa aman dia kembali mengikuti Bella.
"Iya sabar, bentar lagi. Udah aku bilang kamu jangan ikut, tapi maksa."
"Kalau aku gak maksa kamu bakalan lebih lama lagi sama dia, kita pulang!"
"Bell, belum ada sejam loh di sini."
"Kita pulang atau aku umumin hubungan kita sekarang juga?!"
Al mengepalkan tanggannya saat melihat apa yang terjadi di hadapannya. Bella yang sedang merajuk dan bergelayut pada lengan Viko. Sudah Al duga kalau mereka memiliki hubungan. Al melangkahkan kakinya, namun ....
"Al, sabar!" Belva menarik tangan Al dan membawanya pergi dari sana.
"Bel, mereka keterlaluan! Gua gak bisa liat Tasya dikhianati kaya gitu!" Al kini menatap ke arah Belva.
"Gue tau, Al. Tapi lo pikirin Tasya juga dong sekarang. Di hari ulang tahunnya dan dia liat semua ini? Ini bakalan bikin dia hancur di hari ulang tahunnya sendiri."
Al terdiam, Belva benar. Tapi dia tidak bisa menahan emosinya sekarang. Al meninggalkan Belva dan mengambil kunci motornya di meja.
__ADS_1
"Sa, gua titip Tasya. Biar dia pulang bareng lo. Se, gapapa kan Tasya bareng kalian?" Tanya Al pada Seana.
"Gapapa tapi lo mau kemana?" Tanya Seana.
"Pokoknya titip Tasya." Al memutuskan pergi dari tempat itu, dia tidak mau membuat keributan di sana.
Entah apa yang ada dipikiran Bella sehingga dia tega menjadi orang kedua dari hubungan Viko dan Tasya. Lebih heran lagi, ada apa dengan Viko? Dia menyesal telah mengalah pada seorang bajingan seperti Viko.
"Maaf, Sya. Gua salah ngebiarin lu sama seorang bajingan." Al menaiki motornya dan melajukannya di atas rata-rata. Cara itulah yang bisa membuat emosinya membaik.
Di sisi lain, yang lain kebingungan dengan sikap Al. Ada apa dengan pria itu? Jika Al begitu biasanya dia sedang benar-benar emosi. Mereka sangat mengenal Al.
"Al kenapa?" Tanya Angkasa.
"Aduh nanti deh gue ceritain, sekarang kita selesain dulu urusan di sini. Baru kita bahas. Pulang dari sini kita kumpul, tanpa Tasya. Untung pacar gue sama Monik udah balik," kata Belva frustasi.
"Kayanya masalah serius, Sa. Gini aja, aku pulang bareng sama Vian. Dia bawa mobil, kalian urus ini. Tadi Al udah titipin Tasya ke kamu," usul Seana, Vian itu pacarnya Yoda.
"Tapi kamu harus aku antar sampai rumah," kata Angkasa sambil menatap Gadis itu.
"Gapapa, aku ngerti. Jangan khawatir oke?"
Angkasa tersenyum, Seana memang sangat pengertian dan tidak rewel. Mungkin kalau Seana tidak inisiatif Angkasa akan kebingungan.
Setelah mendapat Izin Angkasa dan Yoda, mereka pun pamit pulang duluan. Mereka senang bisa menghadiri ulang tahun Tasya. Jadi tidak masalah kalau hari ini semua terfokus pada Tasya.
Sepeninggalan Seana dan Vian, tiba-tiba Tasya dan Viko muncul. Tasya nampak semang sepertinya bertemu dengan kekasihnya. Tapi tidak dengan Belva yang sedang mati-matian menahan amarahnya.
"Loh, Al mana?" Tanya Tasya yang tak melihat kehadiran Al.
"Dia ada perlu, ada masalah di Shelter. Dia sebagai ketua harus turun tangan. Nanti lu bareng gua kalau gak sama Viko," jawab Angkasa berbohong.
Tasya mengangguk pelan lalu menatap ke arah Viko.
"Aku kayanya harus anter Bella pulang. Kita kan malem mau dinner, sekalian harus siap-siap. Mastiin semuanya beres," ucap Viko mencoba memberi pengertian pada Tasya.
Tasya pun hanya mengangguk paham, lagi pula Viko sudah menjelaskan semuanya. Viko melirik ke belakang, ternyata Bella sudah lebih dulu menuju basement. Gawat jika wanita itu marah.
"Yaudah kalau gitu aku pamit dulu ya, jangan lupa kamu dandan yang cantik," peringat Viko sambil memeluk Tasya.
"Iya-iya. Kamu hati-hati ya," ucap Tasya lembut.
__ADS_1
"Gua izin duluan ya, titip Tasya," pinta Viko pada yang lainnya dan mereka pun menyanggupi.
Setelah dirasa beres Viko pun segera menyusul Bella, tidak lupa dia tersenyum ke arah Tasya. Sebenarnya Tasya tidak rela melepas Viko pada Bella, tapi tidak apa-apa. Lagipula benar kata Viko kalau dia juga harus bersiap-siap.