
Setelah melalui beberapa tahap akhirnya hari ini Tasya melaksanakan sidang skripsi. Al dan teman-temannya sudah melakukannya lebih dulu di hari yang berbeda. Selain dospem yang perfeksionis, kini dosen jurinya pun tidak jauh berbeda.
"Kenapa kami harus meluluskan anda?" Tanya salah satu dosen.
Tasya menarik napasnya, berusaha agar tetap percaya diri. Di tengah gempuran pertanyaan yang datang padanya. "Karena saya sudah mengikuti proses perkuliahan dengan baik dan memenuhi sks. Selain itu saya juga sudah menyelesaikan skripsi saya sesuai proses, prosedur dan bimbingan dosen dengan baik. Tentunya effort saya dalam melakukannya sudah besar dan saya sudah bekerja keras untuk itu. Soo, i'm worth it."
Setelah hampir 2 jam Tasya keluar ruangan dengan wajah ditekuk. Semua orang di sana menatapnya keheranan, ada apa dengan gadis itu? Bukan apa-apa, mereka sudah tau pasti kalau Tasya seperti itu ada apa-apa.
"Kenapa mukanya kaya gitu?" Tanya Al sedikit cemas.
"Loh kenapa?" Tanya Monik.
"Hasilnya gimana? Lo lulus kan?" Tanya Belva.
"Cil, kenapa? Bicara kekk, gak mungkin lu gak lulus. Nilai lu kecil?" Tanya Angkasa.
"Sya anjirr kenapa?" Tanya Yoda.
Tasya memperlihatkan skripsinya dan mendadak wajahnya berubah menjadi ceria. " GUE LULUS DENGAN NILAI A+."
"SERIUS??" Tanya mereka bersamaan.
Tasya mengangguk. Mereka pun bersorak dan memeluk Tasya dengan bangga. Akhirnya perjuangannya tidak sia-sia, setelah sekian lama penantian mereka lulus ujian skripsi dengan nilai yang bagus.
Kini Al memeluk Tasya dengan erat, dia benar-benar bangga dengan tunangannya itu. Walaupun dalam perjalanannya dia lebih banyak mengeluh dan selalu ingin menyerah, tapi sekarang dia malah mendapatkan nilai terbaik, lebih dari target yang dia tentukan. "Selamat ya, bangga banget aku sama kamuu."
Tasya tersenyum dan membalas pelukan Al dengan erat, ini semua juga berkat dukungan orang-orang sekitarnya. Dia tidak mungkin berhasil jika tidak ada suport dari mereka semua.
"Aaaaaa aku sedihhhh," rengek Tasya yang kini sudah menangis karena terharu.
"Gue tuh tadi di sana berhadapan sama dosen yang perfeksionis banget. Kalian tau sendiri gue bolak-balik revisi. Gue tadi mikir gapapa lah gue nilainya kecil yang penting lulus, karena udah sepasrah itu. Terus di pertanyaan terakhir gue nangis karenague ngerasa worth it gak sih buat mereka lulusin gue."
"Terus?" Tanya Belva.
__ADS_1
"Ya gue bilang kalau gue emang pantes buat dilulusin karena hasil kerja gue. Mereka bilang gue gak bisa lulus, gue udah nangis banget. Tapi tuh mereka lanjut lagi, katanya gue gak bisa lulus dengan nilai B, gue pantes dapet A+. Gue seneng banget, kaya gak nyangka. "
"Ya itu artinya kamu emang pantes, kasian diprank." Al tertawa dan mengeratkan pelukan pada Tasya, bahkan di saat seperti ini dia rasanya gemas sekali pada gadis itu.
"Ayok ke tongkrongan, gua traktir. Sebagai tanda kelulusan kita," ajak Al.
"Ayok lah gas!"
Dengan rasa bahagia mereka semua keluar dari kampus dengan motor masing-masing. Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka, terutama pada Tasya dan Al. Gadis itu senang sekali, seolah bebannya diangkat semua detik ini juga.
Setelah beberapa menit mereka sampai di cafe. Tidak peduli seberapa banyak makanan yang mereka pesan, yang terpenting sekarang waktunya untuk bersenang-senang.
.
.
.
Wisuda Universitas Airlangga, berhasil menyelesaikan target perkuliahan selama 3.5 tahun membuat siapapun yang hadir di sini merasa bangga. Apalagi untuk Tasya dan Al yang menjadi lulusan kedokteran terbaik tahun ini. Sebuah pencapaian yang memang sudah mereka impikan sejak lama.
Banyak ucapan dan bouquet yang berdatangan untuk mereka, ditambah juga selempang dengan gelar cumlaude dan juga gelar S.Ked mereka. Rasanya perjuangan mereka untuk sampai di tahap ini tidak sia-sia.
"Selamat ya, Sya. Kamu keren banget bisa cumlaude dan jadi lulusan terbaik. Kakak sama Abangmu bangga," ucap Amanda seraya memeluk Tasya.
"Tante juga bangga loh sama kamu, semoga gelarnya bermanfaay untuk di masa depan ya sayang?" Amara kini juga ikut memeluk Tasya.
"Abang juga bangga sama lu, walaupun rewel setengah mampu tapi akhirnya gak sia-sia. Good job!" Kata Radit sembari menarik pipi Tasya gemas.
"Makasih ya, Tante, Abang, Kakak. Ini juga berkat kalian, jadi aku bisa lewatin semuanya dengan baik. Apalagi kalian dateng ke sini, padahal Kak Amanda lagi hamil." Tasya terharu sekali melihat keluarganya di sini.
Tasya menerima bouquet dari mereka dan berphoto bersama. Haru bersejarah ini tentu harus diabadikan. Sekarang dia resmi menjadi dokter muda, setelah itu dia bia satu tahao menuju gelar dokter resmi setelah menjalankan masa koass.
Setelah mereka selesai menerima tamu masing-masing, kini mereka mengadakan acara sendiri. Membuka label gelar masing-masing sekaligus berphoto bersama. Mereka ber 6 selalu bersama-sama sampai lulus dan itu juga menjadi sebuah pencapaian dalam lingkup pertemanan mereka.
"Ciee, sebentar lagi ada yang nikah nih," goda Yoda.
__ADS_1
Al dan Tasya saling melilirik. "Gimana nanti, koass menunggu nih." Ucap mereka bersamaan.
"Kompak banget."
"Bokap gua udah siapin rumah sakit buat kita koass, bareng lagi?" Tanya Al.
"Bareng lah. Mana bisa jauhan, pokoknya kita harus selalu bareng-bareng," jawab Belva antusias.
"Udah-udah, nanti aja bahasnya. Sekarang mending seneng-seneng," aja Tasya.
Mereka mengangguk lalu melanjutkan aktivitas berfoto mereka. Ya waktu terlalu sayang jika dipakai untuk membahas hal-hal berat, menurut Tasya lebih baik mereka bersenang-senang dulu sekarang.
Setelah selesai dengan acara di kampus, Tasya dan Al kini berada di sebuah Mall. Mereka melakukan photo studia bersama yang lainnya tadi. Tapi mereka pulang terpisah karena tentunya memiliki acara masing-masing. Tasya dan Al saling menggenggam, mereka merasa aneh jalan di mall menggunakan jas dan kebaya.
"Sya, aku mau nanya," ucap Al.
"Tanya apa?"
"Kalau misalnya kita menikah emang kamu udah siap?" Tanya Al.
"Kenapa nanya kaya gitu?" Tanya Tasya berbalik dan menatap Al keheranan.
"Ya nanya aja, bukannya setiap pasangan harus punya kesiapan?"
"Kesiapan itu gak akan pernah ada menurut aku, semuanya harus belajar. Kalau emang udah waktunya ya ayok-ayok aja. Lagian aku jalaninnya juga sama kamu, kan? Ya cuma maksud aku minta kita jadi dokter dulu karena bir kita fokus, tapi kalau waktunya dipercepat atau gimana pun kan gak ada yang tau. Ya jadi siap-siap aja gak sih?" Jawaban logis yang terlontar dari mulut Tasya.
"Jadi gak masalah?"
Tasya menggeleng. "Lagi pula kita gak di bawah umur juga. Bukan anak kecil lagi Al yang diatur sama orang tua. Kalau kita mampu ya ayok. Jadi kamu gak perlu tanya aku lagi, kita cari tanggal yang tepat, ya oke."
Al tersenyum, gadis ini sudah bisa diajak berdiskusi soal masa depan ternyata. Dia bukan lagi Tasya yang akan menjawab terserah dalam setiap keputusan.
Tiba-tiba Tasya menajamkan pengelihatannya, dia melihat seseorang yang dia kenali berjalan ke sebuah toko. Al menatap Tasya dengan heran. "Kamu kenapa?"
Tasya tersadar, lalu menggeleng. "Hah? E-enggak kok, aku kira tadi aku liat temen aku, taunya bukan. Ayok pulang."
__ADS_1
Tanpa banyak tanya, Al pun mengiyakan ajakan Tasya. Sementara gadis itu tengah berkutat dengan pikirannya sendiri.
"Bella? Apa yang tadi gue liat itu beneran dia ya?" Bantinnya.