
Tasya dan Al terdiam di kursi taman rumah sakit yang cukup sepi agar tidak ada rekan dokter yang melihat mereka sambil memakan eskrim cone. Keduanya menatap lurus ke depan sambil memikirkan beberapa hal. Sebenarnya mereka ingin bicara tadi malam, tapi acara berlangsung hingga larut malam.
"Emm jadi, kak Zea mau tetep jalanin perjodohan ini karena gak mau kita jadi pamali karena langkahin dia?" Tanya Tasya.
Al mengangguk. "Padahal kita bisa nunggu, maksudnya kita gak terburu-buru juga. Tapi Zea kekeh sama pendiriannya. Bukan apa-apa, Sya. Aku cuma takut dia gak bahagia."
"Tapi semalem aku udah pastiin kok ke dokter Fadil. Dia bilang kalau dia gak akan main-main soal pernikahan mereka," ucap Tasya.
"Tetep aja aku harus cari waktu buat bicara 4 mata sama dokter Fadil, Sya. Aku gak bisa tenang kalau belum pastiin sendiri."
"Ya pastiin aja, dia juga gak akan marah kok." Tasya kembali memakan eskrim miliknya sambil mengingat kejadian tadi malam. Ah lebih baik dia tidak menceritakannya pada Al. Lagi pula Al tidak bertanya lebih padanya.
"Semalem kamu sama dokter Fadil bicara apa aja?" Tanya Al.
Tasya menepuk dahinya, baru saja dia berpikir tidak akan menceritakannya pada Al, tapi sepersekian detik berikutnya Al menanyakannya. Apa hubungan batin mereka begitu kuat ya? Menyebalkan sekali kalau memang iya, Tasya jadi tidak bisa berbohong soal apapun.
"Kenapa nepuk jidat?" Tanya Al curiga.
"Gapapa, gak boleh suudzon kamu heh!" Peringat Tasya sambil cemberut.
"Terus kenapa tepuk jidat pas aku nanya? Mau bohong ya kamu? Atau mau diem-diem aja cerita?" Tebak Al asal, namun benar.
"Kenapa sih, aku curiga deh kamu punya indera keenam atau peramal apa gimana?" Kesal Tasya.
"Tuh kan bener, jadi cepet jawab," kata Al sambil menatap Tasya serius.
"Gak mau, nanti kamu kesel lagi atau marah-marah, terus rewel. Mending aku gak usah cerita biar aman-aman aja," balas Tasya tak acuh.
"Tasya Aurell," panggil Al dengan nada tegasnya.
"Yaudah iya- iya aku cerita. Semalem aku bilang sama dokter Fadil kenapa dia mau nerima perjodohan ini, terus dia bilang karena dia gak bisa nerima permintaan orang tuanya."
"Terus?"
"Terus aku bilang kalau hubungan itu dijalani dua orang, kalau misalnya mereka sama-sama tau kalau sebenernya nolak kenapa harus dijalanin, kan? Maksudnya tuh beda sama kita, yang emang dijodohin tapi kitanya emang mau dan nerimanya dengan baik."
__ADS_1
"Iyalah, orang kamu cinta juga sama aku. Siapa yang bisa nolak Aldo prayoga," ucap Al pede.
"Pede banget, males ah lanjutin ceritanya," kesal Tasya.
Al mengelus ujung hidung Tasya. "Ututu jangan kesel. Terus gimana lagi, Sayang?"
"Terus dia nanya saran aku. Yaudah aku bilang lebih baik mereka berdua perjuangin orang yang mereka cintai kan ya. kak Zea sama kak Daffa misalnya. Tapi setelah itu dia bilang anu."
"Bilang anu? Anu apa? Tolong jangan ambigu, Tasya. Anu banyak macam dan arti," kata Al gemas.
"Terus dokter Fadil nanya. Emangnya aku mau kalau diperjuangin sama dia?" Cicit Tasya. Ini namanya mencari keributan.
Tatapan Al pada Tasya berubah, membuat Tasya bergidik ngeri seketika. "Itu aku gak jawab apa-apa kok, aku malah ketar-ketir, habis itu dia bilang dia tau aku ada tunangan jadi dia bakalan lanjutin perjodohan dia sama kak Zea dan gak akan nyakitin dia," ucap Tasya cepat.
"Salah."
"Loh salahnya di mana?"
"Harusnya kamu bilang, gak mau!"
Al melihat ke sekitar, memastikan tidak ada siapa-siapa di sana. Perlahan dia memeluk Tasya dan menciumi pipinya, gemas sekali pada Tasya yang polos ini. "Tetep aja kamu harusnya nolak, biar tegas. Berani-beraninya mau perjuangin kamu. Lewatin aku dulu lah."
Tasya memang senang jika seperti ini, namun jika dilakukan di tempat kerja sudah jelas dia ketar-ketir bukan main. Tasya pun melepaskan pelukan Al dan melihat ke sekitar, untung saja aman. "Kamu ihh, gimana kalau nanti diliat senior?"
"Gak akan, orang jauh juga. Kita bolos aja yuk, Sya? Masih mau peluk.
Tasya memasang muka kesalnya, dia malu kalau digoda seperti itu. "Ihh Al, udah ah kita balik kerja sekarang!"
Tasya meninggalkan Al, sementara Al malah tertawa karena melihat reaksi Tasya. Benar-benar gadis lugu.
...~ • ~...
Tasya keluar dari ruang operasi, ternyata begini rasanya ikut operasi? Dia cukup bergidik ngeri karena hari ini dia melihat langsung bagaimana manusia asli dibedah. Tentu berbeda dengan pada saat dia masih kuliah.
"Good job, sekarang kalian boleh berganti pakaian dan langsung pulang. Terima kasih untuk kerja samanya," ucap dokter Fadil.
Tasya mencuci tanggannya di wastafel setelah dia mengganti pakaiannya. Dia masih gemetar karena melihat banyak darah barusan. Rasanya mual sekali, tapi bukankah dia harus profesional.
__ADS_1
Fadil memberikan sebuah coklat dari dalam saku celananya pada Tasya. Tasya yang kaget langsung menoleh ke pemilik tangan yang kini terulur di depannya. Hanya tinggal mereka berdua di sana, jadi tidak ada yang melihat.
"Biar tenang, saya tau kamu lemas setelah operasi," ucap Fadil.
Tasya pun dengan ragu mengambil coklat itu. "M-makasih, Dok."
Fadil tersenyum. "Tapi kerja kamu bagus, cukup membantu dan telaten. Saya suka dengan cara kerja kamu, pertahankan."
Tasya tentu senang mendapat pujian itu, berarti progressnya membaik di sini. "Terim kasih, Dok. Saya pasti akan terus belajar ke depannya."
Fadil tersenyum dan perlahan mengelus puncak kepala Tasya dengan lembut. "Sama-sama, kalau begitu saya duluan." Setelah selesai, Fadil keluar ruangan. Tasya malah menjadi tidak karuan, bukan salting. Kalau begini dia jadi merasa selingkuh dari Al rasanya. Padahal dia tidak berbuat apapun.
Tidak lama dari itu, Tasya keluar ruangan dan mendapati Belva, Angkasa dan Yoda ada di sana. Tumben sekali mereka bisa kumpul seperti itu di jam pulang, biasanya mereka sibuk dengan urusan masing-masing.
"Al mana?" Tanya Tasya.
"Bicara sama dokter Fadil, ga tau kemana," jawab Belva.
"Kayanya serius amat mereka, ada apaan ya? Bukan soal lu atau kecurigaannya Al kan?" Tanya Angkasa.
"Gua takutnya dia nekad karena gak suka lu dideketin sama dokter Fadil. Apalagi dia selalu pingin deket-deket lu. Gua jadi Al juga pasti marah sih."
"Gak lah gak mungkin, Al itu gak kaya gitu. Mungkin mau konsultasi. Posthink aja dulu," ucap Tasya bijak, tapi sebenarnya dia juga kepikiran sih.
Tasya menganggukkan kepalanya perlahan, mungkin memang mereka perlu bicara 4 mata. Tasya tidak tau apa yang akan Al bicarakan selain soal Zea. Dia takut kalau Al marah pada Fadil juga karena soal semalam. Dia jadi overthinking juga kalau Al melihat kejadian di ruang operasi.
"Lu kenapa kaya panik gitu dah?" Tanya Angkasa.
"Hah? Engga, gue gapapa. Gue cuma masih tremor aja karena operasi barusan," jawab Tasya berbohong.
"Gak ada yang lu sembunyiin dari kita kan?" Tanya Yoda menyelidik ke arah Tasya dengan tatapan curiga.
"Sembunyiin apa? Gue kan selalu cerita sama kalian, beneran gue masih tremor aja karena barusan. Pusing juga liat banyak darah.
"Yaudah lo istirahat dulu gih, sambil nunggu Al. Good job buat hari ini," ucap Belva.
Tasya tersenyum, satu kalimat itu mampu membuat perasaannya sedikit teralihkan dari rasa cemas. Semoga saja Al dan Fadil bicara baik-baik. Yang terpenting Al bisa memastikan kalau Zea bisa aman dari Fadil dengan perjodohannya.
__ADS_1