Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Kabar Sang kekasih


__ADS_3


"Abang, kenapa matanya ditutup?" Tanya Tasya saat Radit menutup matanya dan menyuruhnya mengikuti Radit. Dia tidak tau akan di bawa kemana, tapi dia menurut saja. Abangnya ini memang selalu senang membuatnya penasaran.


"Rahasia, ikut aja," jawab Radit sambil terkekeh, dia sudah mempersiapkan sesuatu untuk Tasya.


"Abang, gue mau berangkat ke kampus loh. Hari ini hari pertama gue matrikulasi. Nanti gue telat, nanti Al nungguin. Mau kemana sih?" Tanya Tasya lagi.


"Justru karena hari pertama makanya lu harus liat ini. Al juga aman gak akan nunggu lama." Radit tersenyum ke arah Amara, Al, Diana dan Haris. Mereka nampak tertawa juga melihat kelakuan adik kakak ini.


"Ah abang mah main rahasia-rahasiaan. Udah tau adeknya kepoan," kata Tasya sambil cemberut.


"Oke oke sekarang 1 ... 2 ... 3." Radit melepaskan tangannya dari mata Tasya.


"Kejutaaaannnn!" Ucap mereka serempak.


Tasya mengerjapkan matanya, matanya berbinar saat melihat sebuah mobil sport bewarna merah berada di depannya. Itu mobil yang Tasya inginkan. Bagaimana Abangnya bisa tau? Memang Radit pernah menawarkan mobil, tapi Tasya tidak pernah memberitahukan soal keinginannya pada Radit.


"Waaahhh, ABANG INI MOBIL IMPIAN GUE. Abang ini buat gue?" Tanya Tasya antusias sembari menarik-narik tangan Radit.


"Ya buat siapa lagi? Nih," jawab Radit sembari memberikan kunci mobil pada Tasya.


Tasya pun langsung memeluk Radit sambil melompat-lompat kegirangan. "Abang gue seneng banget, aaaa lo manis banget sih jadi Abang. Aaaaa Abang gue sayang banget sama lo sumpah!"


Radit membalas pelukan Tasya seraya tertawa melihat tingkah adiknya itu. "Makasihnya sama Ayah Haris juga, soalnya Ayah yang bantu cariin."


Tasya melirik ke arah Haris dan tersenyum. "Makasih ya, Ayah."


"Sama-sama. Yang semangat ya kuliahnya," ucap Haris sambil tersenyum.


Tasya mengangguk semangat. "Iya siapp!!"


Mereka pun terkekeh melihat Tasya yang sedang senang karena mobil barunya itu.

__ADS_1


"Al, hari ini gue gak bareng lo ya. Mau cobain mobil baru," ucap Tasya.


"Iya-iya, gih sana. Gua juga mau bawa mobil, udah ajakin anak-anak juga biar konvoi, yuk!" Ajak Al.


Tasya pun mengangguk. Setelah berpamitan, mereka pun segera menuju dengan mobil masing-masing. Tasya cukup nyaman dengan mobil barunya, ditambah fasilitasnya sudah lengkap sesuai dengan mobil Tasya di Bandung, tapi bedanya ini lebih bagus. Setelah siap, dia pun mengikuti mobil Al yang sudah lebih dulu melaju.


Tiba-tiba ponsel Tasya berbunyi, ternyata panggilan video dari Viko. Tasya langsung menaruh ponselnya di tripod yang ada di depan setirnya. Sambil fokus menyetir, Tasya melihat ke arah pria itu. Sebenarnya dia marah, tapi rasa rindunya lebih banyak dari amarahnya.


"Baby," panggil Viko lembut.


"Hm kenapa?" Tanya Tasya dengan wajah yang dibuat biasa saja tapi sangat terlihat kalau Tasya sedang ngambek.


"Kamu di mana itu, kok udah cantik? Yah jangan cantik-cantik dong, nanti aku banyak saingannya gimana?" Ucap Viko menggoda Tasya, sebenarnya dia tau kalau Tasya sedang marah sekarang.


"Ini lagi di mobil, mau ke kampus. Ada jadwal matrikulasi sebelum ospek," jawab Tasya tanpa tersenyum dan tetap fokus menyetir.


"Kamu gak tidur? Di sana udah mau tengah malem pasti. Masih di mana?" Tanya Tasya.


"Lagi di kantor, Sayang. Maaf ya kemarin aku gak ngabarin kamu, aku ha-"


"Aku kangen, kangen liat wajah kamu. Kangen sama suaranya juga. Aku bener kok makannya, jangan jutek gitu mukanya senyum dong biar aku semangat," bujuk Viko.


Tasya tersenyum, meskipun sedikit tapi Viko senang melihatnya.


"Aku kemarin harus ngejar ketertinggalan aku, Cantik. Makanya aku sibuk banget dan gak sempet ngabarin, aku juga baru sadar kalau jarak waktu kita itu 12 jam. Jadi aku telfon kamu pagi, di sana kamu udah tidur, begitu juga sebaliknya. Aku janji bakalan luangin waktu buat kita setelah aku bisa menyesuaikan diri sama sistem di sini," jelas Viko.


"Aku sebenernya gak masalah kalau kamu gak hubungin aku lama, tapi kamu kasih kabar sekiranya semenit aja. Aku kesananya gak akan khawatir karena kamu kasih kabar, aku takut kamu kenapa-kenapa," ucap Tasya melembut.


"Iya maaf ya, Sayang. Kedepannya bakalan aku usahain, oke? Jangan marah dulu kan kangen," ucap Viko sambil cemberut.


"Aku juga kangen kamu tau, miss you soo much. Kemarin aku khawatir, untung sayang," kata Tasya.


"Ululu kasian, mau peluk kamu rasanya. Aahh kesiksa gak bisa meluk. Kalau ada pintu doraemon aku langsung kesana." Viko terkekeh.

__ADS_1


"Apasih kamu suka bikin orang salting aja," kesal Tasya sambil sedikit tertawa.


"Hahaha gapapa gemes, tapi jangan gitu di depan orang lain nanti bisa jatuh cinta ke kamu," ucap Viko.


"Gapapa, sukanya tetep sama Viko Narendra."


"Iya itu harus. Gimana kampusnya nyaman? Aku liat kamu udah dapet temen baru, baik?" Tanya Viko.


Tasya mengangguk senang sambil melihat ke spion untuk berbelok dan mengikuti mobil teman-temannya di depan.


"Kampus aku tuh bagus tau, ada danaunya hahaha. Aku suka di sana, ya walaupun bru 2 kali kesana. Sekarang waktunya matrikulasi, minggu depannya udah ospek, terus jadi mahasiswa kedokteran deh. Kalau temen-temenku baik, mereka tuh sahabatnya Al, terus kita jadi temenan juga. Yang namanya Belva itu satu fakultas sama aku, Al, Angkasa sama Yoda. Kalau Monik itu dia anak kedokteran gigi. Mereka seru kok, walaupun gak kaya Sherli, Sarah sama Niken. Maksudnya aku belum sedeket itu," jelas Tasya.


"Bagus kalau kamu nyaman, biar semangat juga kerjanya Gapapa, kan namanya juga adaptasi. Nanti juga lama-lama bisa deket. Huuaaa," ucap Viko sembari menguap.


Tidak heran sih ini sudah mau tengah malam dan di Indonesia justru sebaliknya.


"Kamu tidur gih, jangan kecapean. Kamu langsung pulang ke apart aja sekarang kalau udah gak ada yang dikerjain lagi. Jangan terlalu memforsir sesuatu, gak baik," peringat Tasya.


"Iya ini aku bentar lagi pulang, kamu matrikulasinya mulai jam berapa sampai jam berapa?" Tanya Viko.


"Kalau buat hari ini dari jam 12 sampai sore katanya, selebihnya dari pagi. Ya semoga aja aku kuat deh, biasanya di SMAVEN kan kita setengah hari doang terus pulang, kalau ga pulang ya kumpul OSIS," kata Tasya terkekeh.


"Harus kuat dong, jangan sampe knapa-kenapa ya. Aku gak izinin kamu kenapa-kenapa. Harus teratur minum obatnya."


"Iya-iya pak boss siapp. Udah gih sana kamu pulang dulu. Aku gak mau kamu kena begal di Amerika. Gak elite namanya, nanti kalau kamu luang kita bicara lagi," ucap Tasya.


"Yaudah iyaa bawel, aku matiin dulu yaa. Mau pulang, aku udah mulai ospek juga 2 hari lagi. I love you."


"Iya semangat ya, i love you too."


Panggilan itu pun berakhir, Tasya tersenyum. Mood nya bertambah naik setelah bicara dengan Viko. Meskipun dia rasanya ingin memeluk pria itu sekarang. Dia juga sebenarnya masih rindu, tapi dia peka kalau Viko juga pasti cape dan butuh istirahat. Jadi dia harus belajar lebih memahami Viko.


Tasya pen melajukan mobilnya menyusul ketertinggalan dari teman-temannya yang sudah jauh di depan. Mereka semua membawa mobil sport masing-masing kali ini dan itu sangat seru menurut Tasya.

__ADS_1


Di sini lain, Viko segera membereskan mejanya. Dia memang sudah mengantuk dan harus cepat-cepat pulang ke apartemen. Besok dia harus memulai kegiatannya lagi dan pasti membutuhkan istirahat yang lebih agar fresh.


Meskipun tak bisa dipungkiri kalau dia sangat merindukan kekasihnya itu. Hanya melihat wajah Tasya, itu sedikit menghilangkan rasa lelahnya karena seharian mengurusi kuliah dan pekerjaannya.


__ADS_2