
Sudah hampir sebulan mereka melakukan KKN di desa itu, sekarang mereka sedang melakukan kegiatan kerja bakti. Tasya dan Al sedang membantu petani untuk menanam padi, sementara yang lainnya membantu gotong royong pekerjaan lain, seperti membersihkan sungai, membersihkan irigasi, membersihkan pemukiman dan lain sebagainya.
Tasya begitu semangat melakukan pekerjaannya, ini pengalamannya menanam padi, jadi menurutnya sangat menyenangkan.
"Al liat hasil ker-"
Tiba-tiba Al mencolek pipi Tasya dengan tangannya yang penuh lumpur. Al tertawa melihat wajah Tasya yang mulai kesal dan perlahan membalasnya.
"ALL NYEBELIN BANGET DEH," teriak Tasya.
"Hahahaha lucu cemong, oke mulai sekarang lu gua panggil si cemong. Lucu," ledek Al.
"Lo juga cemong ya, ihhhh sini lo!" Tasya mengejar Al. Mereka berlarian di pinggiran sawah sambil tetap menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh.
Mereka terus berlarian sampai akhirnya ...
Hap.
Tasya berhasil memeluk Al dari belakang, namun karena saking terlalu bersemangat, mereka berdua pun jatuh ke sawah. Baju mereka kotor, namun keduanya malah tertawa melihat wajah satu sama lain tanpa beranjak sedikit pun.
"Hahahaha item semua muka lo." Tasya tertawa sambil menunjuk wajah Al. Rasanya dia sampai sakit perut menertawakan pria itu.
"Sadar itu muka lu juga item, cemong, lu tau meme komik yang anak kecebur got gak sih? Mirip hahahaha," balas Al tertawa nyaring.
"Ya lo sih ajak lari-larian. Tapi seru deh, dulu waktu kecil kita mana pernah main di sawah. Malah gak ada sawah di deket rumah kita. Gue berasa jadi anak kecil lagi," ucap Tasya sambil tersenyum.
Al menghapus lumpur yang ada di pipi Tasya, meskipun tangannya juga kotor, tapi setidaknya lumpurnya tidak terlalu tebal bersarang di wajah gadis itu. "Iya seru, apapun yang dilakuin sama lu pasti seru."
Mereka berdua berdiri. Al mencuci tangannya di pinggiran sawah, setelah itu dia mengambil kemejanya di sebuah saung. Al menggenggam tangan Tasya dan mengajaknya ke suatu tempat. Sementara Tasya masih sibuk menetralkan debaran jantungnya akibat perlakuan Al.
"Kita mau kemana sih Al?" Tanya Tasya yang merasa aneh ketika harus menuruni beberapa jalanan.
"Ke sungai, di sana ada tempat buat bersih-bersih atau minimal kita bisa bersihin diri di sungai. Gak mungkin kita pulang kotor begini.
"Hmm iya juga sih. Al," panggil Tasya.
"Apa, Sya?" Jawab Al dengan lembut.
Tasya tersenyum, itu yang dia suka dari Al. Dia selalu menjawab Tasya dengan lembut. Tasya memperhatikan pria itu dari samping.
"Gimana lo mau dapet pacar coba kalau lo mainnya sama gue terus, yang ada ceweknya malah overthinking duluan," ucap Tasya sambil terkekeh.
Al hanya tersenyum mendengarnya, tentu dia tidak akan mendapatkan pacar karena dia hanya mencintai 1 wanita dan itu adalah orang yang ada di sampingnya.
"Gak ada korelasinya, mereka juga tau hubungan kita," jawab Al santai.
Al mengajak Tasya duduk di bebatuan dan perlahan membersihkan wajah dan tubuhnya. Tasya pun juga melakukan hal yang sama.
"Ya tapi mana ada cewek yang mau cowoknya punya sahabat yang deket banget sama dia. Pasti dia takut lo bakalan kebagi waktunya. Pokoknya, lo kalau ada cewek harus kenalin ke gue, biar gue bisa tau like dislike nya dia. Biar dia gak overthingking," ucap Tasya sambil tersenyum.
__ADS_1
Al menatap gadis itu dengan lembut. "Orang yang gua suka gak akan merasa kaya gitu, Sya. Tapi emang guanya aja yang terlalu pengecut buat utarain perasaan gua."
Degh.
Ada perasaan senang ketika Al memang benar-benar mencintai seseorang. Tapi entah kenapa Tasya juga merasa sedih. Apa dia takut Al menjauh darinya saat memiliki pacar? Namun sekali lagi Tasya hanya bisa menyingkirkan perasaan itu.
Tasya membalas tatapan Al bingung. "Kenapa? Setau gue lo bakalan melakukan apapun buat orang yang lo sayang, apalagi memperjuangkan cewek rasa-rasanya lo tipe orang yang kaya gitu. Emang dia gak suka sama lo, Al?"
"Kayanya gak suka. Gua juga gak mau nantinya gua sama dia jadi canggung. Yang terpenting dia bahagia aja itu cukup buat gua, Sya," balas Al sambil tersenyum.
"Iya sih, kadang kebanyakan orang mikirnya kaya gitu. Tapi lo gak mungkin gini terus kan, ayok biarkan gue jadi sahabat yang baik. Spill, siapa? Biar gue bantuin," ucap Tasya dengan sumringah.
Al menggelengkan kepalanya dan terkekeh, bagaimana Tasya begitu polos begini? Bagaimana juga Tasya meminta Al memberitahunya tentang gadis yang dia cintai sementara gadis itu sekarang sedang menatapnya dengan berbinar.
"Kok gitu, lo main rahasia-rahasian ah gak asik," kesal Tasya.
"Emang kenapa mau banget tau orang yang gua sayang?" Tanya Al.
"Al lo itu harus berjuang demi perasaan lo. Urusan lo diterima atau engga itu belakangan. Confess itu biar lo lega, anggap aja kalau dia suka sama lo itu adalah bonus," jawab Tasya.
"Gak deh, gua lebih sayang dia daripada perasaan gua sendiri. Gak mau bikin dia kepikiran," ucap Al.
"Yaudah kasih tau aja siapa, siapa?" Tanya Tasya.
Al tidak mau menjawab dan terus menggelengkan kepalanya. Tasya benar-benar gemas sampai dia menatap tajam Al dengan jarak yang sangat dekat. "Al siapa? Gue maksa!"
Al berpikir sembari menelan ludahnya, jantungnya tidak aman kalau seperti ini. Sementara Tasya tidak akan melepaskan pandangan pada mangsanya begitu saja. Al ini selalu memaksanya cerita tapi dia begitu tertutup dengan masalah percintaannya. Bikin gemas saja.
"Lo," Al akhirnya memberanikan diri untuk mengungkapkannya.
Tasya terkejut, dia menjadi diam. Apa dia tidak salah dengan dengan apa yang didengarnya barusan. Al menyukainya?
"Gua suka sama lo sejak kita kecil, perasaan itu tetap sama dan gak pernah berubah sampai detik ini gua natap lu." Al menatap Tasya dengan lembut, Tasya tau kalau Al tidak mungkin berbohong jika seperti itu.
"Gua gak mau kita jadi canggung karena perasaan. Itu kenapa gua diem dan gak ngelakuin apa-apa. Gua berpikir buat nyimpen perasaan ini sampai lu benar-benar gak bisa gua gapai lagi," lanjut Al.
Tasya masih terdiam, bukannya apa-apa. Bayangkan jika sahabat yang sudah bersama kalian selama 20 tahun tiba-tiba menyatakan perasaannya sekarang?
"Kenapa lo gak pernah bilang? Jadi gue bikin lo patah hati ya waktu gue sama Viko?" Tanya Tasya merasa bersalah.
"Engga, biasa aja. Karena gua mau lu bahagia dengan siapapun itu. Yang terpenting gua masih bisa jagain lu, itu pointnya," jawab Al.
"Kalau gue gak bisa lo gapai lagi terus lo mau ninggalin gue gitu?"
"Engga, gua bakalan mencoba buat lupain perasan gua dan tetap jadi sahabat lu. Udah gua bilang, gua cuma mau lu bahagia, Tasya. Dan sekarang pun gua gak memaksa lu buat suka sama gua juga. Lu maksa buat tau dan gua rasa ini waktu yang tepat buat bilang sama lu. Entah apapun hasilnya nanti, sama seperti apa yang lu bilang."
Tasya memeluk leher pria itu, memejamkan matanya sejenak sembari menikmati aroma tubuh Al yang selalu membuatnya tenang. Al membalas pelukan Tasya dengan erat, dia berpikir mungkin Tasya kaget karena pernyataannya, jadi dia membiarkan Tasya dulu dan tidak bertanya apa-apa.
"Jangan ngerasa terbebani, Sya. Ini yang gua gak mau, perasan gua itu biar-"
"Al," potong Tasya tanpa melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Hm?"
"Biarin gue mencoba bales perasaan lo ya?" Ucap Tasya pelan.
"Sya, jangan memaksakan apapun."
"Gue sayang sama lo, gue selalu mikir buat keep lo selamanya jadi temen biar gue gak kehilangan lo."
Sebelum Tasya melanjutkan perkataannya Al melepaskan pelukan mereka. Al menghapus air mata yang entah sejak kapan turun dari mata cantiknya dan menggenggam kedua tangan Tasya.
"Sya, gua gak akan ajak lu pacaran. Karena gua gak main-main sama suatu hubungan. Gua seserius itu untuk keep lu selamanya di hidup gua," ucap Al.
Tasya menyerngitkan dahinya. "Maksud lo?"
"Sebelun gua bilang, gua mau tanya. Lu bisa terima gua sama perasaan gua? Perasaan lu gimana hm?" Tanya Al perhatian.
Tasya berpikir sejenak. Apa dia bilang saja tentang perasaannya akhir-akhir ini? "Al."
"Kenapa?"
"Bang Radit pernah bilang buat pertimbangin gue suka sama lo. Apa Bang Radit tau soal perasaan lo?" Tanya Tasya.
"Tau, lebih spesifiknya nanti gua jelasin di akhir," jawab Al.
"Iya dia minta kaya gitu. Awalnya gue mikir ya aneh aja, kita sahabatan udah lama. Jadi perasaan nyaman, sayang, cinta yang gue rasain ke lo itu karena kita emang udah terbiasa karena kita sahabat," ucap Tasya jujur.
"Tapi semenjak saat itu gue selalu mikir kalau lo emang orang yang mengerti apapun tentang gue. Gue selalu kepikiran soal itu sampai gue ngerasa terlaku jauh gak sih kalau gue mikir hubungan kita more than friend? Sampai akhirnya kita KKN yang bikin gue ngerasa lo bener-bener sayang sama gue. Tapi gue gak mau pede."
"Jadi gue pikir, itu bakalan bikin gue cepet jatuh cinta ke lo gak sih, Al?"
Al tersenyum dan kini malah menarik hidung Tasya karena gemas. "Jangan bikin gua salting."
"Ah lo mah, rusak suasana aja. Tadi kan minta gue jelasin, yaudah itu gue jelasin apa yang gue rasain. Lagian jadi cowok kenapa manis banget, bikin goyah aja. Coba kalau misalnya gue jatuh cinta kemarin-kemarin sama lo terus lo masih tetep diem. Ngebatin."
Al tertawa mendengarnya. Perlahan dia melepas kalung miliknya dan memperlihatkan pada Tasya. Tasya mengenali kalung itu, kalung yang sama dengan kalung miliknya. Tasya pun melepas kalung miliknya dan menyandingkannya dengan milik Al.
"Ini maksudnya apa, Al?"
"Gua mau nunjukin sesuatu di balik batu kilaunya, tapi gak bisa karena gak bawa kaca pembesar. Adanya di koper. Tapi ini tanggung jawab dari om Jo buat gua," ucap Al.
"Maksudnya?"
"Waktu kita kecil orang tua kita pingin banget kita berjodoh dan akhirnya impian itu mereka wujudkan dengan mengikat kita pake kalung ini. Gua juga baru tau sebelum Om Jo meninggal. Gua janji juga sama bokap lu buat jaga anaknya."
"Jadi papa mau kita nikah, Al?" Tanya Tasya yang semakin kaget dengan semuanya dan Al pun mengangguk.
"Kenapa lo gak manfaatin kesempatan ini buat jadi sama gue? Lo tau gue gak akan menolak kemauan papa karena gue mau papa bahagia."
"Justru gua gak mau lu nerima gua karena perjodohan, ini namanya terpaksa, Sya. Radit udah pernah bilang itu jugake gua. Kemarin gua mikir, yaudah mau lu sama siapa aja oke, kalau lu jodoh gua pasti bakalan sama gua. Sampai akhirnya lu putus, tapi gua gak seneng karena lu sedih. Dari situ gua berpikir buat mengalir aja, kalau lu suka sama gua baru gua kasih tau tentang perjodohan ini."
"Gua sayang, sama lu. Sayang banget. Gua mau keep lu selamanya di hidup gua," ucap Al dengan sungguh.
__ADS_1
Tasya menatap pria yang ada di hadapannya ini. Kenapa dia tulus sekali mencintainya sampai tidak memikirkan perasaannya sendiri? Tasya berjanji, dia akan segera mencintai Al sama seperti yang selama ini Al lakukan.