Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Titik Bahagia


__ADS_3


Malam ini akan diadakan resepsi pernikahan, Tasya sudah cantik dengan gaun putih yang dia kenakan. Rambutnya dibuat terurai bergelombang dan dihiasi mahkota kecil di sana yang membuatnya sangat cantik. Al memang sengaja meminta agar rambut Tasya diurai saja, karena dia suka.


Setelah selesai, kini Al menggandeng Tasya untuk memasuki balroom, diiringi oleh teman-temannya dari belakang. Tasya tersenyum saat dia jalan berdampingan dengan Al seperti ini. Semua mata tertuju ke arah mereka.


Al yang tampan dengan tuxedo hitam dan Tasya dengan gaun shillouet nya membuat mereka memancarkan kharismatik tersendiri sebagai pasangan. Banyak pasang mata yang memuji apalagi Tasya tubuhnya yang semampai benar-benar terlihat seperti Ratu di acara ini.


Menjadi anak dan adik seorang CEO ternama di kota Surabaya membuat Al dan Tasya menjadi sorotan banyak kamera dan media massa. Mereka saja kaget, bahkan sepertinya lebih banyak kolega ayah dan abangnya. Benar-benar menakjubkan.


Tasya melihat teman-temannya hadir di sana. Dari mulai teman SMA, teman saat kuliah maupun saat di rumah sakit. Ternyata mereka juga hadir dan terlihat antusias. Membuat Tasya merasa terharu karena mereka sampai rela jauh datang untuk dirinya dan Al.


Al melirik Tasya yang kini sedang dia gandeng. "Kamu cantik banget malam ini."


Tasya yang merasa diajak bicara langsung membalas tatapan Al. "Jadi kemarin-kemarin gak cantik?"


"Cantik, tapi sekarang nambah cantiknya."


Tasya tersipu malu. Ini benar-benar pernikahan impian Tasya dan Al mewujudkan semuanya. Tentulah ini akan menjadi hari terbaiknya seumur hidup. Mereka menyapa semua orang yang menyapa mereka. Sampai akhirnya mereka berdua duduk di pelaminan bergaya klasik itu. Terlihat mewah dan elegan, sangat cocok dengan gaun dan jas yang mereka kenakan.


Sambil sesekali menerima dan menyalami para tamu, Tasya dan Al juga kembali melakukan pemotretan. Tidak lupa juga dengan keluarga, rekan dan tamu-tamu penting. Cukup menyenangkan sih untuk ukuran Tasya dan Al yang memang sudah akrab sekali dengan kamera.


Dari banyaknya tamu yang datang, sepertinya kali ini cukup membuat Tasya kaget. Seorang Viko Narendra kini hadir ke acara ini. Viko sadar atas perbuatannya jadi dia tidak heran jika Radit belum bisa memaafkannya.


Tasya sih sudah memaafkan perbuatan Viko, hatinya tidak mungkin sanggup menyimpan dendam terlalu lama. Tapi anehnya Viko tidak datang bersama keluarga ataupun Bella istrinya.


Al memeluk pinggang Istrinya seolah menegaskan kalau sekarang Tasya adalah miliknya. Katakan kalau dia posesif, tapi itu tentu berlaku jika berhadapan dengan cinta pertama dari istrinya sekaligus orang yang pernah membuat kehidupan Tasya terhenti sejenak.

__ADS_1


"Selamat buat pernikahan kalian, maaf untuk semua yang pernah terjadi di antara kita," ucap Viko memberikan selamat.


Tasya menerima uluran tangan Viko meski dengan ragu. "M-makasih ya, Vik."


Viko tersenyum dan kini menepuk bahu Al. "Tolong jaga Tasya, jangan jadi kaya gua."


"Tentu gua akan perlakukan dia lebih baik dari lu tanpa lu bilang," balas Al datar.


Viko tersenyum, setelah itu dia menyalami kedua orang tua Al dam turun dari pelaminan. Tasya sedikit menatap pada pria itu, nampak sedikit berantakan. Bukan dari penampilannya, tapi dari wajahnya yang terlihat tidak fresh.


Namun Tasya tak ingin memikirkan lebih lanjut, dia harus bahagia tanpa beban apapun di acara pernikahan yang akan terjadi sekali seumur hidup ini. Al juga melakukan hal yang sama meskipun dia sedikit khawatir mengingat kejadian pada saat pertunangannya kemarin. Tapi Al cukup lega ketika Angkasa dan Yoda memberi kode kalau mereka akan melakukan penjagaan sampai acara ini berakhir.


Tidak terasa mereka sudah dua jam berdiri di pelaminan. Al melingkarkan tangannya di pinggang Tasya. Dia paham sih kalau Tasya sedikit kehilangan keseimbangan karena berdiri cukup lama dengan heels yang tinggi. Itu kenapa dia membantu Tasya agar tidak terjatuh.


"Makasih." Tasya merasa kalau suaminya ini sangat peka terlebih sekarang Al tersenyum mengiyakan tanda terima kasih dari Tasya. Kalau begini siapa yang tidak meleleh.


Sejatinya ini pernikahan bukan seperti yang sering Tasya baca di novel. Di mana rata-rata kedua belah pihaknya saling terpaksa satu sama lain. Pernikahan yang dia jalani nyata adanya, tanpa paksaan dan dilandasi oleh rasa cinta. Tentu ini adalah keinginan mereka berdua. Dan pernikahan seperti itu adalah hal yang Tasya inginkan. Karena sudah pasti rasa bahagianya tersalurkan satu sama lain.


Tasya menerima uluran tangan Al dengan senang hati, dengan senyum yang terus mengembang. Semua orang dapat melihat kalau mereka sangat bahagia. Apalagi Diana dan Haris sekarang merasa terharu melihat kebahagiaan putra bungsunya yang kini menikah dengan wanita idamannya. Bahagianya berkali-kali lipat mereka rasakan.


Kini mereka berdua saling berhadapan, Al menarik Tasya lembut lalu merengkuh pinggangnya dengan tangan kanannya dan yang satunya lagi menggenggam tangan kanan Tasya, gadis itu tersenyum lalu meletakan tangan kirinya di bahu Al sampai alunan musik pun mulai terdengar.


Saling menatap dan mencoba menyadarkan diri sendiri, masih tidak menyangka kalau kini mereka sudah menjadi sepasang suami istri. Dengan kaki yang bergerak ke kanan, ke kiri, ke depan dan belakang membuat decitan dan ketukan sepatu menjadi instrumen tambahan pada malam ini.


"Kamu bahagia?" Tanya Al.


Tasya terkekeh dia menjauhkan tubuh nya dari Al dengan tangannya yang masih terulur. Membuat Al kembali menarik Tasya kedalam pelukannya Kini posisi Tasya membelakangi dengan Al yang yang menaruh dagu di bahunya sambil terus berdansa. "Kenapa gak dijawab?" Bisik Al.

__ADS_1


"Emang masih perlu jawaban?" Tanya Tasya berbalik.


"Perlu, karena aku ingin."


Tasya tersenyum mendengar perkataan Al sambil tetap fokus pada gerakan dansanya yang kini membawa Tasya lebih dekat dengan Al. Tasya menatap mata itu dengan lembut sambil mengalungkan tangannya di leher Al.


"Dari perjalanan yang kita lewatin selama ini sampai detik ini aku tatap mata kamu, apa kami gak bisa liat sorot bahagia dari sana?" Tanya Tasya.


"Aku bukan orang yang gak peka, Sayang. Tapi aku pingin denger itu dari bibir kamu sendiri," ucap Al lembut.


"Kalau kamu tanya dan mau aku jawab. Tentu jawabannya ya aku bahagia. Aku bahagia karena sekarang kita bisa mulai kehidupan kita yang baru, kita bakalan sama-sama dalam waktu yang lama dan aku bahagia untuk itu."


"Janji ya, kita akan terus sama-sama. Jangan pernah berpikir untuk lepas dari aku," pinta Al.


"Aku janji, kamu udah janji sama Tuhan juga soalnya dan aku yakin kamu gak akan ingkar."


Al mengangguk lalu tersenyum, tentu. Janji yang dia ucapkan hari ini tidak main-main, sudah pasti akan dia tepati untuk selamanya. "Mau berputar?"


Tasya dengan senang mengangguk. Al perlahan melepaskan rengkuhannya dan membiarkan Tasya sedikit menjauh, setelah itu dia mengangkat tangannya tinggi membiarkan untuk Tasya berputar di sana. Setelahnya dengan lembut Al menangkap Tasya yang menjatuhkan dirinya.


Tasya terkekeh, ternyata Al berhasil menangkapnya. Dia merasa seperti putri dalam dongeng. Beberapa detik mereka bertahan di posisi itu, lalu sebagai penutup Al mencium bibir Tasya dengan lembut di hadapan para tamu. Semua orang bertepuk tangan melihat hal manis itu.


Al melepas ciuman mereka dan membantu Tasya menegakkan tubuhnya. "I love you Tasya Aurell."


"I love you too Aldo Prayoga," balas Tasya yang kini sudah memeluk Al dengan erat.


Al menciumi aroma tubuh Tasya dengan masih diiringi tepuk tangan semua orang yang hadir pada malam ini. Inilah titik bahagia dari perjuangan mereka selama ini. Akhir dari kisah cinta manis, namun awal untuk kisah cinta sejati seumur hidup.

__ADS_1


- Happy Ending -


Tolong baca komentar bab ini ya guys.


__ADS_2