
Enam mobil sport terparkir di area kampus, membuat mereka yang turun dari sana menjadi pusat perhatian. Mereka nampak terlihat keren ditambah dengan visual mereka yang memadai.
Tasya awalnya sedikit risih, namun Monik dan Belva membantunya agar fokus ke hal lain. Hari ini adalah hari pertama perjalanan mereka dimulai sebagai calon mahasiswa baru Universitas Airlangga.
Semua camaba dikumpulkan di sebuah auditorium yang cukup besar, untuk mendengarkan berbagai materi dan pengarahan kehidupan kampus.
"Gila ternyata ada yang lebih lama ceramahnya dari pak Bernard," ucap Yoda saat mendengarkan sambutan dari rektor kampus.
"Asli baru setengah jam duduk gua udah ngantuk lagi," sahut Angkasa.
"Udah dengerin aja, berguna tau buat kita cepet menyesuaikan diri sama lingkungan kampus," nasehat Belva.
"Belva, apa yang lu dapet dari setengah jam ini anjir? Beliau cuma menceritakan masa muda sama silsilah keluarganya 7 turunan," timpal Angkasa.
"Motivasi itu namanya, dengerin aja," tegas Belva.
"Ck, lu harus bisa bedain mana yang memotivasi mana yang pamer. Suka-suka lu aja dah Belva," ucap Yoda pasrah.
Tasya, Monik dan Al hanya terkekeh melihat kelakuan mereka. Setelah itu kembali fokus untuk mendengarkan pembicara.
Kini giliran sambutan dari Presma Universitas Airlangga. Mata Tasya membulat ketika melihat seseorang yang maju ke podium.
"Salam 5 agama, perkenalkan saya Daffa Pranata Dirlangga, President Mahasiwa Universitas Airlangga. Saya mengucapkan selamat datang kepada kalian semua Calon Mahasiswa Baru tahun ini. Untuk kedepannya kalian akan bertemu dengan saya dan rekan-rekan yang akan membimbing kalian dalam masa orientasi mahasiswa."
Tasya menarik-narik tangan Al. "Al Al, itu orang yang gue ceritain waktu itu."
"Al itu si Daffa mantan kakak lu kan?" Tanya Yoda.
Al mengangguk. "Iyaa, gua harus kasih tau Zea nih kalau dia balik ke rumah."
Zea memang sedang magang di Bali. Sehingga sampai saat ini kakak beradik itu masih belum bertemu karena Zea yang akan pulang di akhir bulan ini.
"Mantan kak Zea?" Tanya Tasya.
"Iya mantan Zea, dia suka berondong. 1 tahun lebih muda dari Zea. Jadi gak perlu takut, dia kenal gua kok."
Tasya hanya mengangguk paham. Tapi tetap saja dia takut kalau ditandai oleh orang itu. Setelah selesai degan materi hari ini, mereka semua keluar dari auditorium.
"Gue baru tau kalau FK UNAIR itu masuk salah satu fakultas terbaik di dunia. Keren sih," ucap Tasya bangga.
"Makanya gua milih masuk ke sini. Selain deket sama rumah ya karena bagus," sahut Al.
__ADS_1
"Tau gitu gue masuk FK aja gak sihh," Kata Monik.
"Lo udah gue ajakin tapi tetep kekeh FKG, yaudah nikmati saja kesendirian lo," ledek Belva.
"Kurang ajar," umpat Monik yang dihadiahi gelak tawa mereka.
"Gue jadi semangat buat kuliah di sini tau. Ngeliat kating pada pake almamater birunya kaya keren aja gitu," gumam Tasya sambil tersenyum.
"Bener apalagi tadi kating nya cantik-cantik," timpal Yoda.
"Giliran yang cantik aja lu cepet," ucap Al sembari menggeplak kepala Yoda dan dihadiahi ringisan pria itu.
Saat sedang asik bercanda tiba-tiba mereka menghentikan langkahnya melihat seseorang yang sudah ada di depan koridor.
"Wassap, bro. Apakabar?" Tanya seseorang lalu beradu tos pada mereka.
"Woii Kak, kemana aja lo? Jarang liat di tongkrongan sekarang," ucap Monik.
"Gua ganti tongkrongan, jarang ke tempat biasa," jawab Daffa santai.
Matanya tertuju pada Tasya yang berada di samping Al. "Ini siapa?"
Al sudah sangat paham dengan kelakuan Daffa, meskipun terlihat berwibawa tapi sifat buaya yang ada dalam dirinya tidak bisa dipisahkan. Al langsung menggenggam tangan Tasya dan menariknya agar lebih mendekat.
Daffa mengangguk seolah paham, sepertinya Tasya akan batal menjadi calon mangsanya. "Oh gitu, yaudah gua mau ke ruang dekan, selamat datang di Universitas Airlangga."
Setelah sampai di rumah Tasya langsung merebahkan diri di kasur. Tidak ada orang di rumah ini, karena Amara dan Radit sedang berada di kantor dan pulang larut malam.
Tasya sudah berguling-guling, menonton film, makan dan masih banyak yang dia lakukan. Namun tidak bisa mengusir rasa bosannya. Dia jadi ingin cepat-cepat mempunyai kegiatan di luar rumah agar dia tidak merasa bosan.
Tadinya Tasya ingin mengganggu Al di rumahnya, namun sekarang Al sedang ikut bersama kedua orang tuanya ke acara kolega ayahnya. Sebenarnya Tasya pun diajak tapi dia menolaknya karena takut mengganggu me time keluarga mereka.
Tasya mencoba menghubungi teman-temannya di Bandung tapi tidak diangkat, begitu juga dengan Viko. Susahnya berkomunikasi membuat dia takut kalau mereka satu sama lain akan terbiasa dengan kehidupan masing-masing.
Sayang ❤️ :
^^^^Kamu jangan lupa makan sarapan ya^^^
^^^Pasti lagi tidur^^^
^^^Hati-hati di jalan^^^
^^^I love you^^^
__ADS_1
Tasya tersenyum meskipun tidak mendapat balasan. Tak jarang juga di overthinking karena masalah ini. Mungkin juga pernah menangis sesekali.
Tapi dia selalu mengalihkannya dengan belajar mengenai jurusan yang akan dia hadapi. Seperti ada Dewi Fortuna yang berpihak padanya, tiba-tiba bell rumah berbunyi.
Dia pikir itu Al, ternya mereka adalah Monik dan Belva yang sengaja ke rumah Tasya karena bosan di rumah.
"Haaaaiiiii!!" Teriak mereka berdua.
"Aaaaahhh akhirnya gue ada temen, ayokk ke kamar aja," ajak Tasya.
Mereka pun mengangguk kesenangan dan langsung menuju kamar Tasya. Mereka takjub melihat kamar Tasya yang ditata rapi, banyak foto yang dipajang di sana membuatnya semakin estetik.
"Gue suka deh sama suasana kamar lo," ucap mereka sambil duduk di karpet bulu besar milik Tasya.
"Kamar ini sengaja dibuat sama Abang gue sesuai umur gue sekarang. Asal kalian tau, kamar gue di Bandung like a princess," ucap Tasya sembari tertawa.
"Wah iya? Kamar gue juga gitu sih, belum diganti. Jadi ada referensi buat ganti kamar hahaha," kata Belva.
"Bisa-bisa, sekalian ganti suasana," ucap Tasya tersenyum.
"Taraaaaa kita bawa pizza." Monik mengeluarkan satu kotak pizza dan minuman kaleng.
"Kalian repot-repot segala, harusnya gue yang beliin buat kalian," ucap Tasya tak enak.
"Gapapa kali santai kalau sama kita." Belva tersenyum, dia melihat ke arah dinding kamar Tasya yang penuh polaroid. Ada photo bersama teman-teman SMA-nya, pacar dan juga Al.
Mata Belva tertuju pada salah satu bingkai di meja Tasya. Sedikit tersenyum melihat persahabatan Tasya dengan teman-temannya. "Ini sahabat-sahabat lo, Sya?"
Tasya mengangguk sembari menunjuk satu persatu temannya. "Yang ini namanya Sherli, dia itu galak tapi perhatian. Kalau yang ini namanya Sarah, dia itu penengah diantara kita, kalau yang ini namanya Niken dia yang paling kecil,lemot tapi dia gemes."
Tasya terkekeh, dia jadi merindukan ketiga sahabatnya itu. Monik pun tersenyum juga melihatnya, dia jadi merindukan Abella yang dulu sangat dekat dengan mereka. Meskipun mereka sekarang putus hubungan, tapi kenangan tidak akan bisa dilupakan begitu saja.
"Kita bisa kaya gini juga gak, Sya?" Tanya Monik.
"Gini gimana, Mon?" Tanya Tasya tak mengerti.
"Ya sedeket ini, gue pingin deh jadi salah satu orang yang lo pajang di kamar lo kaya mereka," ucap Monik jujur. Belva pun ikut mengangguk menyetujui ucapan Monik.
Tasya tersenyum mendengarnya. "Tentu aja dong, kalau kalian mau."
"Mau dong, kita tuh cuma berdua dan saat Al bawa lo itu kita seneng banget," kata Belva sembari memeluk Tasya.
"Gue juga seneng kok ketemu kalian," ucap Tasya sembari memeluk mereka berdua.
__ADS_1
"Jadi kita sahabatan, kan?" Tanya Monik sembari mengacungkan jari kelingkingnya.
Tasya dan Belva pun menyambut jari kelingking Monik. Tasya senang, selain memiliki Sherli, Sarah dan Niken sekarang dia juga memiliki Monik dan Belva. Setelah itu mereka mengobrol ditemani pizza dan juga cola. Bahkan menginap di rumah Tasya.