Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Banyak Yang Suka Tasya


__ADS_3


Sudah hampir satu bulan mereka bekerja di rumah sakit, setelah menyelesaikan beberapa tugas Al dan Tasya menyusul ke kantin. "Kamu mau pesen apa?" Tanya Tasya.


"Samain aja sama kamu," jawab Al sambil tersenyum.


"Tapi aku mau makan mie, udah lama aku gak makan mie rebus. Emang kamu mau makan mie?" Tanya Tasya.


"Iya, yang penting sama."


Tasya pun memesankan 2 mangkuk mie dan juga es kopi untuk mereka berdua, karena yang lainnya sudah memesan. Tiba-tiba ada beberapa koas yang menghampiri mereka. Sepertinya dari universitas lain entah 1 tingkat di atas mereka.


"Hai," sapa salah satu pria pada keduanya, tidak lebih tepatnya pada Tasya.


"Iya, hai," jawab Tasya seadanya.


"Tasya yang di bagian penyakit dalam ya?" Tanya pria yang bernama Verrel lagi.


"Iya? Kenapa ya?"


"Boleh minta instagramnya?" Tanya pria yang satunya. Kini Tasya mengetahui kalau nama ketiganya adalah Karel, Bagas dan Verrel.


"Gak pake instagram," jawab Tasya berbohong, dia malah risih kalau ditanya seperti itu, apalagi dia tidak mau membuat Al cemburu.


"Kalau Line atau Twitter?" Tanya Bagas.


Tasya terkekeh. "Gak pake juga."


"WhatsApp?" Tanya Karel.


Al jengah melihat tunangannya ini diganggu banyak pria yang tidak dia kenal. Tapi dia harus menjaga etikanya juga saat di rumah sakit.


"Gak punya," jawab Tasya.


"Terus punyanya apa dong?" Tanya Verrel yang tidak akan menyerah secepat itu.


Al menggenggam tangan Tasya dan memperlihatkan cincin pertunangan mereka. "Punya tunangan," jawab Al dingin.

__ADS_1


Mereka terdiam dan menelan salivanya dengan susah payah. Ternyata Al adalah tunangan dari Tasya. Pupus sudah harapan mereka untuk mendekati Tasya. Setelah pesanan siap, Al membawa makanan mereka ke meja mereka dan Tasya membawa minumannya.


Di sana yang lainnya sudah tertawa melihat adegan tadi, nampaknya memang Tasya menjadi idola baru di rumah sakit ini. Apalagi kebanyakan para koas adalah pria.


"Kena mental tuh orang," celetuk Yoda.


"Bodo amat," ucap Al tidak peduli.


"Gila si Tasya, banyak banget yang suka. Padahal gak tau aja kelakuannya kaya bocah biadab," celetuk Angkasa.


"Parah banget ih ngatain gue, tapi tetep aja gue maunya sama Aldo prayoga," goda Tasya.


Al hanya tersenyum mendengar penuturan Tasya, gadis itu memang paling bisa membuatnya kesenangan. Andai saja Tasya tau kalau sekarang Al dibuat melayang tinggi akibat ulahnya.


Tasya hanya tertawa saja melihat tingkah Al yang seperti itu, gemas sekali. Tasya tidak suka dikekang, tapi dia suka jika Al cemburu seperti itu, itu artinya Al menyayanginya kan?


Setelah selesai makan di kantin, mereka berdua pun kembali ke ruangan untuk kembali bekerja. Terlihat di meja Tasya sudah Ada coklat dan bunga. Bukan hanya itu tapi ada beberapa makanan juga di sana untuk makan siang.


Al menggelengkan kepala sembari menghela napas. Ternyata banyak sekali yang mendekati tunangannya itu. Di satu sisi dia beruntung karena di saat banyaknya orang yang menyukai Tasya, tapi dirinya yang mendapatkannya. Tapi di satu sisi dia juga kesal. Bagaimana harus menjelaskannya?


"Aku udah kenyang, nanti kita makan bareng aja di mobil." Tasya yang paham langsung memasukan semuanya ke laci, dia juga sebenarnya heran kenapa ada yang menyukainya, padahal Tasya tidak pernah berinteraksi lebih dari itu.


...~ • ~...


Tasya menunggu Al di ruangan, hari ini Al diajak untuk mengikuti operasi. Jadi dia pulang lebih lama, tapi itu tidak masalah untuk Tasya, karena Al pun sering melakukannya untuk Tasya.


Dokter Fadil nampak mencuri-curi pandang ke arah Tasya. Menurutnya gadis itu pintar, tanggap dan juga cantik. Itu kenapa dia senang jika bekerja bersama Tasya.


Tasya sebenarnya sadar kalau dia sedang diperhatikan, namun dia berusaha mengalihkan fokus pada buku-bukunya. Ya meskipun dia sudah lulus, tapi selama koas dia harus tetap belajar, belajar dan belajar.


"Kamu sepertinya dekat sekali dengan Dokter Muda Aldo?" Tanya Fadil tiba-tiba.


Tasya mengalihkan pandangannya pada objek yang baru saja mengajaknya bicara. "Iya, Dok." Jawab Tasya mencoba seramah mungkin.


"Kalian ada hubungan? Pacaran?" Tanya Fadil.


Tasya bingung harus menjawab apakah kalau dia menjawab tunangan akan terasa sopan? Atau dia akan dianggap tidak profesional? Ah Tasya benci dengan pemikirannya ini yang terkadang selalu overthinking.

__ADS_1


"Emmm, Dokter Muda Al dan saya sudah bertunangan, Dok," jawab Tasya.


Fadil cukup kaget sih, ya tidak heran juga kalau ukuran gadis seperti Tasya tidak mempunyai pasangan. Tapi dia tidak menyangka kalau sudah di tahap pertunangan. Pantas saja mereka selalu bersama-sama.


"Oh, saya baru tau kalau kalian sudah bertunangan. Selamat ya," ucap Fadil.


"Lebih ke kurang pantes aja mungkin, Dok kalau diumbar.Di rumah sakit kita juga dinilai soal etika kerja dan profesional kerja. Jadi ya yang tau cuma temen-temen doang."


"Hmm bagus, saya suka pemikiran kamu. Memang selayaknya seperti itu, karena termasuk ke dalam penilaian. Good job," ucap Fadil bangga.


Tidak lama dari itu Al memasuki ruangan dengan beberapa dokter, nampaknya mereka sudah selesai melakukan operasi. Sebenarnya cukup lelah, karena ini adalah pertama kalinya Al ikut turun langsung. Tapi melihat Tasya tersenyum ke arahnya membuat rasa lelah itu berganti dengan rasa hangat.


Fadil melihat interaksi keduanya, ya bodoh sekali kalau selama satu bulan ini dia baru menyadari kalau ada hubungan diantara keduanya. Entah mereka yang pintar dalam bersikap atau dia yang terlalu sibuk. Tidak munafik, dia memang tertarik pada Tasya. Dia juga sedikit lemas mendengar pernyataan Tasya, namun dia harus menjaga imagenya sebagai dokter senior, jadi terlihat biasa saja.


"Lama ya nunggu saya? Ayok siap-siap, Dokter Muda Tasya," ajak Al.


Tasya tersenyum dan mengangguk, setelah Al merapikan tasnya, mereka pun keluar ruangan. Tasya sedari tadi menatap Al sambil tersenyum. Entah kenapa dia senang saja menatap wajah Al.


"Gimana tadi operasinya, lancar?" Tanya Tasya.


Al mengangguk. "Batu ginjalnya banyak. Itu kenapa sedikit lama di ruangan. Nunggu lama banget ya? I'm so sorry."


"Lama, tapi gapapa. Aku seneng nungguin kamu, apalagi denger kalau operasinya lancar. Kamu hebat!" Puji Tasya.


"Yang hebat itu dokternya, aku cuma bantuin doang," kata Al.


"Tetep aja kamu juga ikut serta. Kapan ya aku diajak operasi, aku juga mau," gumam Tasya.


"Gantian, nanti juga ada masanya kamu diajak. Kamu kan dokter muda yang pinter, pasti diajak. Gak boleh sedih," ucap Al.


"Engga sedih tau, cuma mau aja," jelas Tasya sambil tersenyum.


Al tersenyum namun seketika dia berpaling ke ponselnya. Ternyata orang-orang di rumah sudah menunggu kepulangan mereka. Tidak tau ada apa. Al melirik ke arah Tasya yang kini menatapnya keheranan.


"Di rumah ada acara apa ngumpul-ngumpul? Bunda sama Zea spam, nyuruh pulang kalau udah selesai. Aneh kan?" Tanya Al pada Tasya.


Tasya hanya menaikan bahunya, pasalnya juga dia tidak tau. "Mungkin cuma mau quality time aja, kita kan jarang quality time."

__ADS_1


"Iya juga, yaudah ayok kita cepet pulang. Bunda udah bawel banget soalnya, apalagi Zea."


Tasya menurut saja. Mereka pun mempercepat langkah kaki menuju parkiran. Sebenarnya tadi Tasya ingin mampir dulu ke resto seafood, namun dia juga kena omel Radit untuk segera pulang, alhasil moodnya tidak terpenuhi.


__ADS_2