Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Masalah Deg-Degan


__ADS_3


"Tasyaaaaaaa," teriak ketiga temannya saat Tasya memasuki kelas.


"Kompak amat kalian, cem paduan suara," kata Tasya sambil terkekeh.


"Kita kangen sama lo," seru Niken.


"Baru juga lima hari gak ketemu, gimana kalau sebulan?"


"Dih besar kepala ini anak," kata Sherli.


"Btw, gimana campingnya?" tanya Sarah.


"Gue baru dateng ih, belum juga duduk udah disuruh cerita," protes Tasya.


"Oh iya, sini-sini. Lo duduk cepetan," kata Niken.


"Dih lo mah, gada baik-baiknya nyuruh gue duduk," protes Tasya lagi.


"Protes mulu, taken kagak," celetuk Sherli.


"Percaya deh sama gue, Sher. Itu nyesek kata-katanya," kata Tasya dramatis.


"Mulai deh alaynya," kata Sarah.


Tasya pun duduk di bangkunya. Sedangkan teman-temannya sudah bersiap-siap menyerbu Tasya dengan pertanyaan yang mereka siapkan.


"Jadi, gimana campingnya?" tanya Niken.


"Gak ada masalah sih, kalau kata pak Taufik udah keren. Cuma .... "


"Cuma apa?" tanya Sarah.


"Menurut gue itu gak perfect," jawab Tasya.


"Gak perfect gimana?" tanya Sherli.


"Semuanya gara-gara Kak Arga," jawab Tasya kesal.


"Arga? Kenapa lagi itu orang?" tanya Niken.


"Dia mendadak hentiin pos to pos tanpa seizin gue. Kan gimana gue gak kesel. Terus marah-marah gak jelas. Maksudnya apa coba!" jelas Tasya yang mulai emosi.


"Bener-bener gak ada matinya itu orang."


"Tau ah kesel gue sama dia. Kalau bukan senior udah gue apaain itu orang," kata Tasya.


"Emang lo berani, Sya?" tanya Sherli.


"Hahaha bentukan kaya Kak Arga doang, hahahha emang lo pikir gue gak berani sama dia?" Tasya balik bertanya.


"Jadi lo berani?" tanya Niken.


"Hahahahaha, nggak," kata Tasya sambil memasang muka flatnya.


"Najong," kompak mereka dan meneloyor kepala Tasya.


"Awww! Sakit aihhh!" rutuk Tasya.


"Abisan lo, gue kira berani, taunya kagak!"


"Ya mana gue berani sama itu orang, selalu aja gue jadi tersangka kalau berdebat sama dia."


Tiba-tiba ....

__ADS_1


"Pagi, Tante .... " tak lain dan tak bukan itu adalah suara Viko.


"Siapa yang lo sebut tante-tante?" protes Niken.


"Temen lu tuh," kata Viko sambil melirik-lirik Tasya.


"Heh, apa-apaan lo liat gue. Lo mau bilang gue tante-tante?"


"Ya, gak usah gua bilang ternyata lu sadar diri, Tan," kata Viko.


"Najis loh Kodok!"


"Apaan lo Syapi!"


"Eh, ngapa jadi ledek-ledekan nih?" tanya Bagus.


"Kata Bapak Arka, seseorang berawal dari ledek, terus cinta deh."


"Nah bener, Ka. Bapak gue pernah bilang kaya gitu juga," kata Sheril.


"Jangan-jangan, kita jo .... "


"Jones!" sambung Sarah.


"Palalo gue jones," kata Sheril meneloyor kepala Sarah.


"Anjirr sakit!"


"Ish gosah ribut napa," kesal Tasya.


"Btw, tunggu."


Tasya membuka Tas dan mengambil sesuatu.


"Ini, punya lo. Makasih," kata Tasya sambil memberikan jaket Viko.


"Palalo gue loak. Ini gue balikin, udah gue cuci, dan wangi juga. Selesai." Tasya pun kembali duduk di bangkunya.


Sekilas, Viko mencium aroma di jaketnya. Ternyata benar apa kata Tasya. Ini wangi, wangi khas Tasya yang Viko sukai.


...~ • ~...


Tasya dan teman-temannya sedang asik mengobrol di kantin. Ditambah dengan semangkok bakso dan ice blend kesukaan mereka.


"Sya, lo gak ada kepikiran buat pacaran gitu?" tanya Niken.


"Pacaran? Gue gak terlalu obsesi buat dapet pacar, sih. Tapi gue berharap, pas sweet seventeen gue nanti, gue udah ada pacar," kata Tasya


"Btw lo masih suka sama Chandra?" tanya Sarah setengah berbisik.


"Gue gak tau, gak jelas. Kadang dia bikin gue kesel dan disitu gue jadi gak suka sama dia. Tapi kadang-kadang dia juga care sama gue dan gue suka deg-degan lagi," jelas Tasya.


"Ah labil lo, jadi yang mana yang bener?" tanya sherli.


"Gak tau, mungkin suka. Soalnya gue seneng bisa bareng sama dia."


"Jadi lo masih suka?" tanya Niken memperjelas.


"Gak juga," kata Tasya.


"Jadi mana yang bener? Katanya suka, katanya enggak. Cepet, gue tanya sekali lagi. Lo masih suka sama Chandra?" tanya Sherli setengah kesal.


"Gak tau nah, kayaknya gue gak suka deh. Soalnya gue deg-degan bukan sama Chandra doang," jawab Tasya yang sontak membuat ketiga temannya melongo.


"Terus sama siapa lagi?" tanya Sherli.

__ADS_1


"Sama Viko," kata Tasya dengan polosnya.


"Hah? Lo suka sama Viko?" teriak Niken dan dengan spontan Tasya membekap mulut Niken.


"Aihhh gosah teriak-teriak ih!" protes Tasya sambil melepaskan tangannya dari mulut Niken.


"Beneran lo suka sama Viko?" tanya Sarah.


"Ih enggak, itu kan cuma deg-degan aja."


"Itu tandanya lo suka sama dia!" tegas Sherli.


"Ihhhh enggak! Sotoy lo pada," kata Tasya.


"Menurut buku yang pernah gue baca, kalau seseorang merasakan jantungnya berdebar di sebuah benda, berarti itu tandanya dia menyukainya." ucap Sarah.


"Nah!"


"Kan Viko manusia, bukan benda. Jadi itu tandanya gue gak suka," kata Tasya.


"Ya itu sama aja ih, Sya. Kok lo bolot banget sih!" kesal Niken.


"Gue gak bolot, ih! Tadi kan Sarah bilang benda, sedangkan gue deg-degannya sama orang. Bukan sama benda," protes Tasya.


"Ya itu kan perumpamaan aja, Sya. Astagfirr, gue bingung kenapa lo bisa jadi ketua OSIS." kesal Sherli.


"Jangankan lo, Sher. Gue aja bingung kenapa gue bisa jadi ketua OSIS," kata Tasya.


"Au ah! Kesel gue sama lo," kata Sherli.


"Dih, kok lo jadi marah-marah sama gue, sih. Gue kan gak salah," kata Tasya.


"Ya lo gak salah, tapi otak lo yang bermasalah!"


"Otak gue kenapa coba? Biasa aja," sanggah Tasya.


"Bego lo," kata Sherli.


"Kok lo ngatain gue bego sih, Sher?"


"Ehhhhhh, ngapa jadi ribut gini mbaee!! Stop!" kata Sarah menegahi mereka.


"Ya abis tuh, lemot amat!"


"Tuh kan lo ngatain gue lagi," kata Tasya tak terima.


"Yaampun, ini cuma masalah deg-degan jadi pada ribut gini. Udah, mendingan sekarang kalian makan aja, ga usah diperpanjang," kata Niken.


"Baikan, cepet!" perintah Sarah.


"Maafin gue ya, Sya," kata Sherli sambil mengacungkan jari kelingkingnya.


"Maafin gue juga ya, Sher," kata Tasya sambil menautkan jari kelingkingnya.


"Nah gitu dong, udah, makan nah."


"Tuh kan bakso gue jadi dingin gara-gara lo," kata Tasya pada Sherli.


"Bakso gue juga tau," balas Sherli.


"Tapi dinginan yang gue," kata Tasya.


"Ehhh ngapa ini malah ributin bakso," kata Niken.


"Iya-iya. Canda elah," kata Tasya.

__ADS_1


Mereka pun tertawa dan langsung menghabiskan makanan mereka. Ya, mereka tidak pernah berlama-lama marahan. Paling adu argumen, setelah itu baikan lagi. Apalagi Sherli dan Tasya memang sudah sering berdebat dan adu argumen seperti itu.


__ADS_2