Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Pencuri!


__ADS_3


Sudah lama Tasya tidak kesini, tempat yang dulu pernah membuatnya berpikir kalau dia tidak waras. Namun sekarang pandangannya berubah, dia merasa ini tempat terbaik kalau dia benar-benar membutuhkan seseorang selain orang terdekatnya.


Setelah melakukan konsultasi, rasanya lega. Dia benar-benar lega bisa mengutarakan apa yang ada dipikirannya dan juga perasaannya.


"Sekarang kamu rileks dulu di sini. Saya akan berbicara dulu dengan keluarga ya," ucap Dokter Anna.


Tasya mengangguk, dia menyandarkan dirinya di kursi terapi. Perlahan dia menarik napas, lalu menghembuskan ya dengan perlahan. Dokter Anna benar, kalau dia sejauh ini sudah kuat. Jadi dia tidak boleh membiarkan dirinya kembali dikuasai oleh pikiran-pikiran jahat.


Dokter Anna tersenyum ke arah Al sembari membawa hasil diagnosis dan pengamatannya. "Kakaknya?" Tanya Dokter Anna.


"Tunangannya, Dok," jawab Al ramah.


"Ohh baik-baik, sebentar ya." Anna membuka lembar catatannya untuk memilah informasi yang harus disampaikan kepada keluarga pasiennya.


"Sejauh ini untuk skizofrenia yang Tasya alami masih aman ya, tidak ada gejala kekambuhan ataupun semakin parah. Semuanya normal. Tasya mempunyai keluhan kalau dirinya sering terkejut tiba-tiba dan merasa cemas tiba-tiba. Itulah yang disebut Anxiety atau gangguan kecemasan. Fungsi otaknya normal, tensinya juga normal. Yaa mungkin itu saja untuk laporan kesehatannya sekarang," ucap Anna sembari membolak-balikan catatannya.


"Bagaimana untuk membuat gangguan kecemasannya berkurang, Dok?" Tanya Al.


"Beri dia rasa aman, jauhkan dari objek yang membuatnya ketakutan, karena itu akan berpengaruh pada kondisinya. Penderita ODS sangat memerlukan perhatian dan kasih sayang dari sekitarnya. Melakukan sentuhan-sentuhan kecil seperti mengelus punggungnya, mengusap puncak kepalanya, pelukan, itu bisa membuat penderitanya menjadi lebih tenang. Yang terpenting jangan pernah memaksakan apapun, seperti memaksanya menceritakan kondisi atau apapun. Biarkan Tasya yang menceritakannya sendiri."


Al mengangguk, setelah memberikan resep obat Gala dan Tasya pun keluar dari ruangan. Mereka harus menebus obat dan membayar administrasi terlebih dahulu. Al memberikan resep pada apoteker dan menatap Tasya yang kini sedang menatapnya.


"Kamu malu gak sih anterin aku kesini, Al?" Tanya Tasya tiba-tiba.


"Kok malu, kenapa malu?" Tanya Al berbalik.


"Ya masa orang ganteng tapi tunangannya pasien psikiater," ucap Tasya perlahan. Jujur saja jika sedang seperti ini Tasya lebih banyak berpikir yang tidak-tidak.


Al menangkup pipi gadis itu dengan lembut. "Jangan bilang kaya gitu. Ini rumah sakit, sama aja pada umumnya. Jangan mikir aneh-aneh, jangan mikir macem-macem. Aku gak pernah ngerasa kaya gitu, oke?"


"I'm serious," ucap Tasya.


"I'm so serious, Tasya. Aku gak pernah malu apapun keadaan kamu. Jangan mikir kaya gitu, intinya aku sayang kamu." Al mengambil obat yang diberikan apoteker, setelah itu dia kembali menggenggam tangan Tasya dan mengajaknya untuk pulang.


"Tapi kan orang juga paham, Al orang yang masuk kesini tuh-" Tasya tersentak kaget saat Al menarik tangannya dan merengkuh pingganya.


Mata mereka bertemu, rasanya kali ini jantung Tasya dua kali berdebar lebih kencang dari biasanya. Al menatap serius ke arah gadis yang berstatus tunangannya ini. "Kamu ngomong kaya gitu lagi aku cium sekarang juga!"


"H-hahh, jangan ngaco! Ini depan umum, Al," ucap Tasya grogi.

__ADS_1


"Gak peduli, biar kamu ga banyak bicara yang aneh-aneh. Aku gak suka, Tasya. Kalau kaya gitu kamu sama aja ngeraguin perasaan aku ke kamu," ucap Al lembut.


"Aku gak ngeraguin, Al. Aku cuma nanya," kata Tasya memperjelas.


"Iya secara gak langsung bilang kaya gitu. Jadi jangan bilang kaya gitu lagi ya cantik?" Kini Al melembut.


Lagi-lagi pria ini menghangatkan hatinya. Membuat Tasya yang tadinya merasa cemas kini malah salah tingkah sendiri. Dia pun tersenyum lalu mengangguk perlahan.


...~ • ~...


Tasya dan lainnya berlarian membawa ban untuk menaiki waterboom, seperti yang mereka sepakati kalau sekarang mereka akan berenang. Ban terdiri dari 2 orang, jadi tentunya Al bisa Tasya, Monik dengan Yoda, Angkasa dengan Belva dan Arka dengan Niken.


Mereka nampak bersenang-senang menikmati kolam renang yang dipadukan dengan alam ini. Al menahan ban, Tasya pun duduk di depan, setelah memastikan Tasya aman, Al pun naik di belakangnya.


"Al liat sini." Tasya memegang tongsis dan kamera go pronya. Tidak afdol jika tidak diabadikan.


Al pun tersenyum ke arah mereka, lalu detik berikutnya ban telah didorong oleh penjaga. Tasya dan Al berteriak kesenangan. Tentunya Tasya senang karena bisa teralihkan dari kejadian kemarin.


"Kamu pegangan, Sya. Nanti jatuh," teriak Al.


Tasya mengangguk dan mengikuti arahan Al. 1 menit mereka di sana lalu ban mereka bermuara di kolam renang. Tasya tertawa saat air mengenai wajahnya, sudah lama sekali mereka tidak berenang.


Yang lainnya sudah menunggu di bawah, Al dan Tasya pun menghampiri mereka dengan saling merangkul.


"Lu baru liat mereka bucin hari ini, gua udah eneg dari lama sumpah," timpal Yoda.


"Jangan iri, lu pada lebih bucin dari gua tolong ngaca," ucap Al.


"Dendaman," cibir Monik.


Mereka semua pun terkekeh. Hari ini terlaku disia-siakan jika hanya dipakai mengobrol. Akhirnya mereka memilih bersantai di kolam arus sambil berbaring di ban.


Tasya menatap ke atas langit, tangannya tidak berhenti menggenggam tangan Al. Posisi yang sangat nyaman dengan buaian air kolam yang membuat ban ini melaju.


"Al, aku seneng hari ini," ucap Tasya jujur.


"Senengnya karena?" Tanya Al sembari melirik ke arah gadisnya.


"Seneng karena punya kamu, dari tadi kayanya kamu buat perasaan aku tenang. Padahal kalau kamu mau tau, aku lagi ngerasa gak karuan."


"Itu gunanya ada aku di samping kamu, mau ditengah perasaan gak enak, di tengah badai, atau bahaya sekalipun tugas aku itu ngelindungin kamu dan bikin kamu nyaman."

__ADS_1


"Kamu emang lakuin tugas kamu dengan baik, tapi apa aku udah lakuin hal yang sama ke kamu? Maksudnya, aku udah bikin kamu bahagia belum seperti yang aku rasain?" Tanya Tasya sambil menatap Al.


Al mengehela napasnya. Tentu saja jawabannya iya, bahkan tanpa Al bicara pun seharusnya Tasya tau kalau dia bahagia memiliki Tasya dalam hidupnya.


Al mengubah posisinya di ban dan mendekat ke arah Tasya. "Sini, deketan."


Tasya menyerngitkan dahinya. "Kenapa? Aku nanya loh Al."


"Sini dulu biar aku kasih tau jawabannya," ucap Al.


Tasya pun menurut, pada akhirnya dia mengikuti perintah Al dan mendekat ke arahnya.


Cup


Al menempelkan bibirnya di bibir Tasya beberapa detik. Setelah itu dia menatap ke arah Tasya yang terlihat kaget dengan perlakuannya, pipinya sudah memanas. Untung saja mereka sedang ada di lorong yang tak terlihat banyak orang.


"A-Al ... "


"Udah tau jawabannya, kan?" Tanya Al.


"KALIAN CIUMAN??!!" Teriak Belva dari belakang.


Mereka berdua kaget sampai jatuh dari ban. Al langsung menarik tubuh Tasya dan memeluknya. Sedetik kemudian mereka tertawa karena situasi konyol begini dan langsung berlari ke atas agar terhindar dari Belva dan Angkasa.


Tasya dan Al berhenti di sebuah jembatan, mereka mengatur napasnya karena cape berlari. Setelah itu mereka kembali tertawa. Namun Tasya tersadar akan satu hal.


"Kamu ihhhhh!!!" Tasya memukul mukul dada Al pelan.


"Awwwww aww sakit, Syaaa. Kenapa sih?" Tanya Al sembari menahan kedua tangan Tasya.


"Kamu nyuri first kiss aku!!! Ihhh Alllll!!" Rengek Tasya.


Al tertawa mendengarnya. "Oh itu, itu juga first kiss aku kok. Kamu juga nyuri berarti. Hayoloh ... "


"Ihhhh kok jadi aku?! Kan kamu yang cium akuu," kata Tasya tak terima.


Al memeluk Tasya dengan erat. "Dikit doang, habis kamu gak percayaan. Aku jadi gemes, lagian kamu nikahnya sama aku nanti. Aku bakalan tanggung jawab karena nyurinya."


Tasya mengulum senyumnya. "Tau ah bodo."


"Dihh senyum-senyum, itu pipinya kenapa cantik? Kok merah-merah gemes banget," goda Al.

__ADS_1


"Ihhh All jangan godain akuu!!" Tasya memukul lengan Al.


Al pun tertawa dan mengeratkan pelukan pada Tasya, dia menciumi pipi gadis itu saking gemasnya. Ahh dia benar-benar menyayangi gadis itu dan berjanji untuk terus bersamanya.


__ADS_2