
Hari ini Tasya datang lebih awal ke kampus, dia memilih untuk duduk di paling depan. Tidak biasanya Tasya memilih kursi paling depan, dia lebih sering memilih di tengah-tengah tentunya bersama teman-temannya. Dia terlihat sibuk dengan beberapa buku yang dia bawa karena hari ini ada jadwal presentasi.
Al dan yang lainnya baru datang, mereka tidak mendapatkan kursi di depan karena datang lebih siang dari Tasya. Jadi ya terpaksa terpisah dari Tasya. Saking sibuknya Tasya dengan dunianya, bahkan dia tidak menyadari kehadiran teman-temannya.
Sebenarnya Belva ingin menyapanya, tapi Al melarangnya. Dia tau kalau sekarang Tasya perlu waktu sendiri untuk melupakan kejadian kemarin. Jadi mereka menurut saja.
"Dia kayanya nyibukin diri," ucap Belva setengah berbisik pada yang lainnya.
Angkasa melirik ke arah Tasya yang masih berkutat dengan buku-bukunya. "Iya, tapi lebih baik gitu daripada dia ngelamun terus galau sendiri."
"Bener, lagian cara orang buat melupakan sesuatu kan beda-beda. Kita kasih space aja sampe dia bener-bener bisa nerima keadaan," balas Yoda.
"Tapi dia bisa gitu ya fokus sama kerjaannya, kalau gue sih udah pasti gak mood banget apalagi baca jurnal-jurnal jurnal. Kaya kok bisaa?"
"Dia emang kaya gitu, karena kalau lagi ambis dia bakalan lupa sama segalanya. Lupa makan, lupa hp, lupa sekitar, lupa waktu. Jadi metode yang tepat buat Tasya healing ya ambis. Justru kalau dia diem, dia bakalan lebih banyak berpikir yang aneh-aneh. Dan lagi kasih dia waktu buat sendiri, kalau dia udah sedikit lebih baik nanti nyamperin sendiri." jelas Al.
Belva tersenyum mendengar penuturan Al. Menurutnya, siapa lagi yang mengenal Tasya dengan sangat baik kalau bukan Al? Hanya saja pria itu penuh pertimbangan untuk memperjuangkan cintanya sendiri.
"Si paling tau emang," goda Belva.
"Bentar lagi ada yang bau-bau bucin lagi kaya waktu SMA, semua pembahasan Tasya semua," timpal Angkasa.
Al hanya terdiam, dia terus menatap gadis itu yang sesekali membenarkan kacamatanya. Al memikirkan bagaimana caranya untuk menghibur Tasya. Meskipun dia memang terlihat biasa saja dengan menyibukkan diri, tapi Al tau kalau gadis itu sebenarnya butuh dihibur.
Yoda menepuk bahu Al sambil setengah berbisik. "Ini waktunya buat lu bahagiain dia, jangan dilepas. Bukannya ini kesempatan yang selalu lu bilang?"
Al menggeleng pelan. "Gak, Yod. Gua menunggu kesempatan bukan berarti ambil celah di saat-saat kaya gini. Gua gak seneng dia terluka karena pisah sama orang yang dia sayang. Gua lebih pingin dia ceria lagi."
"Al lu sama gua aja yuk, gua yang baper," ceplos Yoda
__ADS_1
"Jangan gila," kata Al yang bergidik ngeri melihat ke arah Yoda.
"Tapi asli, itu yang gua suka dari lu. Lu gak terburu-buru buat ambil langkah. Padahal di saat kaya gini biasanya semua orang gercep ngambil kesempatan."
"Gua itu sayang sama dia bukan obsesi," ucap Al menegaskan.
Mata kuliah pun akhirnya dimulai. Hari ini adalah jadwal presentasi. Al menatap gadis yang berdiri di depan sana, sesekali gadis itu mengatur napasnya dan berusaha untuk senyum agar bisa menampilkan presentasinya dengan baik.
Al memberikan semangat saat Tasya sekilas melirik ke arahnya. Setelah siap, dia pun memulai kegiatannya. Tasya memanglah Tasya, dalam keadaan apapun dia berusaha untuk profesional dan tetap dengan perfeksionisnya, sehingga mendapat pujian dari dosennya karena penjelasan yang detail dan data yang akurat.
Tasya sedikit tersenyum, setidaknya kepuasannya ini bisa membuatnya sedikit melupakan rasa sakitnya.
...~ • ~...
Setelah selesai kuliah, Tasya izin pulang duluan pada teman-temannya. Padahal mereka mengajaknya untuk pergi ke rumah Monik. Tapi Tasya merasa kalau dia perlu waktu untuk sendiri.
Dia menghentikan mobilnya di salah satu taman. Duduk di kursi, melihat orang berlalu lalang ditemani 1 cup eskrim vanilla mungkin bisa membuatnya bisa lebih baik.
Dia jadi teringat pada masa lalu, di mana Viko selalu mengajaknya ke taman dan makan eskrim. Semuanya masih Tasya ingat, bahkan pertama kali mereka makan eskrim di taman bersama anak kecil pun dia masih ingat kapan waktunya.
Di sisi lain Al terus mengawasi gadis itu, dia takut Tasya berbuat yang aneh-aneh, jadi dia mengikutinya. Meskipun hanya memandangi Tasya makan eskrim tapi dia tidak bosan.
Suara gemuruh mulai terdengar, awan pun sudah mulai gelap. Namun Tasya masih belum mau beranjak dari sana bahkan sampai hujan turun pun dia masih tetap di sana sambil menunduk menatap eskrim yang meleleh serta tersiram air hujan.
Tiba-tiba sebuah sepatu berhenti di hadapannya dengan payung yang dia pegang untuk melindungi gadis itu. Tasya mengadahkan wajahnya, melihat pria yang kini menatapnya dengan hangat.
"Al," gumamnya.
"Jangan hujan-hujanan, nanti sakit. Ayok pulang," ajaknya sembari mengulurkan tangan pada Tasya.
Tasya menyimpan eskrim miliknya di kursi taman dan menerima uluran tangan Al. Kini dia berdiri di hadapan Al dengan menatap curiga. "Lo ngikutin gue ya?"
__ADS_1
"Apapun itu ini gak baik buat lu. Hujan, Tasya. Mana kunci mobil lu?"
Tasya terdiam, tak ingin menjelaskan atau bicara apapun. Dia mengeluarkan kunci mobil dari dalam jasnya dan memberikannya pada Al.
"Ayok pulang," ajak Al.
Tasya mengangguk. Mereka berdua pun berjalan menyusuri taman untuk kembali ke mobil. Saat sudah sampai di sana, Al menyuruh Tasya untuk masuk lebih dulu. Al membuka tasnya dan mengambil sebuah hoodie dari sana.
"Ganti, nanti masuk angin. Gua jagain di luar," ucap Al seraya mengulurkan hoodie miliknya pada Tasya.
Tasya pun mengambil hoodie dari tangan Al. Setelah itu Al menutup pintunya dan membiarkan Tasya mengganti bajunya. Untung saja dia membawa hoodie itu, kalau tidak Tasya akan sakit karena kedinginan.
Setelah selesai, Al pun masuk ke dalam mobil sembari melipat payungnya. Tidak lupa dia mengirim pesan kepada salah satu anak genk motor untuk mengambil motornya di sana dan mengantarkan ke rumah. Setelah itu dia pun melajukan mobilnya.
Tasya menatap ke arah jalanan, melihat bagaimana mobil menerjang air yang tergenang di jalanan tapi masih bisa melaju kencang. Berbeda dengan dirinya yang seolah melambat bahkan stuck di tempat yang sama.
"Al," panggil Tasya perlahan tanpa mengalihkan pandangannya ke jalanan.
"Apaa?" Sahut Al sembari melirik gadis itu sekilas.
"Kayanya gue gak akan bisa percaya sama cowok lagi setelah ini. Kecuali Abang, Lo, Yoda, sama Angkasa," ucapnya.
"Kenapa?" Tanya Al.
"Orang yang keliatannya bucin sama gue aja ternyata kaya gitu." Tasya terkekeh.
"Wajar kalau lu mikir gitu, tapi ada saatnya kok lu bisa percaya lagi sama seseorang. Asal jangan pernah mencintai dia begitu dalam," kata Al.
"Maksudnya? Bukannya saat kita jatuh cinta itu harus kasih yang terbaik bahkan mencintai dia semaximal mungkin?" Tanya Tasya.
"Itu terori yang salah. Karena dalam hidup, kita dikasih satu kesempatan buat mencintai seseorang sampai tahtah tertinggi di mana kita ngerasa bahagia banget saat ngelakuinnya. Tapi kalau sama orang yang tepat, yang udah pasti. Kalau lu kasih semua perasaan lu sama orang yang belum tentu berakhir bareng-bareng, lu kasihin semua attention, perasaan, waktu, semua yang lu punya ke dia. Suatu saat ketika dia pergi lu bakalan ngerasa kosong, gak punya apa-apa lagi. Karena semuanya udah dia bawa pergi dan setelahnya lu gak akan bisa ngerasain perasaan kaya gitu lagi. Mungkin bisa berkomitmen lagi, tapi rasanya gak akan pernah sama."
__ADS_1
"Darimana kita bisa tau orang itu ending nya sama kita, gue pernah berpikir kalau gue bakalan berakhir bahagia sama Viko. Tapi tiba-tiba aja kaya gini, gimana kalau udah terlanjur kasih semua perasaan yang gue punya ke dia? Apa gue gak bisa bahagia lagi?"
"Itu kenapa gue ingetin dari sekarang kalau suatu saat lu jatuh cinta lagi jangan kaya gitu. Mencintai sekedarnya, karena berlebihan itu gak baik. Buat pertanyaan lu yang terakhir, lu sendiri yang bisa buktiin nantinya. Tapi jangan sekarang, lu fokus aja dulu buat sembuhin luka. Rehat sebentar dari hubungan percintaan gak akan bikin lu kesepian. Awalnya mungkin berat, tapi kesana nya lu bakalan terbiasa." Al tersenyum sembari mengusap puncak kepala Tasya. Sementara Tasya masih terpaku pada kata-kata Al.