
Hai guys, aku mau spoiler. Kalau cerita ini bakalan tamat di akhir bulan. Ya karena aku ngejar bonus daily juga sihh, sorry ya.
Jadi aku perlambat alurnya, makasih udah menjadi pembaca setia. Kalau bosan gapapa kalau misalnya suka jangan lupa like, vote, komen dan juga kasih hadiah ya.
Happy reading~
Tasya keluar rumah dan mendapati Fadil yang sedang duduk di teras sana. Karena penasaran dengan suatu hal, Tasya pun menghampiri Fadil dan duduk di sebelahnya.
"Saya duduk di sini ya, Dok," ucap Tasya sopan.
"Silahkan," balas Fadil seraya tersenyum ke arah gadis itu.
"Saya boleh nanya sesuatu gak, Dok?" Tanya Tasya.
"Panggil kakak aja, saya sebentar lagi akan menjadi calon kakak ipar kamu, kan?" Tanya Fadil.
"Emmm iya sih, tapi kurang enak aja manggilnya."
"Gapapa santai saja kalau di luar rumah sakit, jadi apa yang mau kamu tanyakan sama saya?" Tanya Fadil.
"Maaf kalau lancang ya, Dok - eh Kak maksudnya. Saya gak tau Kakak sebenernya nerima perjodohan ini atau engga, tapi saya ngerasa kalau kakak juga kaget denger soal ini tadi."
"Saya memang baru tau hari ini, Tasya."
"Kalau begitu, bukannya pasti sulit ya buat nerimanya? Apalagi kalian baru saling mengenal juga, kan?" Tanya Tasya.
"Sulit."
"Terus kenapa Kakak nerima perjodohan ini?"
"Kenapa kamu ingin tau soal ini?" Tanya Fadil berbalik.
"Karena ini penting, untuk apa kalian jalanin sebuah pernikahan kalau sebenarnya sama-sama menolak? Kakak juga pasti tau kalau Kak Zea sebenarnya terpaksa nerima perjodohan kalian, kan?"
"Saya tau."
"Lalu kenapa?"
__ADS_1
"Saya tidak bisa menolak permintaan orang tua saya. Semua keputusan dalam hidup saya ada di tangan mereka, termasuk kenapa saya bisa menjadi dokter sekarang ini," ucap Fadil jujur.
"Tapi menikah bukan hal untuk main-main, Kak. Kalian akan hidup bersama dalam waktu yang lama, kalian juga mempertaruhkan kebahagiaan kalian sendiri."
"Jadi menurut kamu apa yang harus saya lakukan?" Tanya Fadil yang kini menatap Tasya dengan serius.
"Pikirkan baik-baik keputusan Kakak. Saya tau kalau Kakak dan Kak Zea itu punya seseorang yang mau kalian perjuangkan. Jadi jangan ikat kalian di perjodohan ini kalau emang kalian gak bisa menjalaninya," jawab Tasya.
"Jadi menurut kamu saya harus perjuangin orang yang saya suka dan menolak perjodohan ini?" Tanya Fadil lagi.
"Iya, bukannya itu lebih baik untuk kalian? Kalian bisa hidup dengan orang yang sama-sama kalian cintai. Tentunya akan semakin enak buat menjalaninya."
"Jadi kamu mau saya perjuangkan?" Tanya Fadil.
Tasya terkejut dengan perkataan Fadil dan tiba-tiba membuatnya menahan napas. "K-kok saya?"
Fadil terkekeh. "Saya suka sama kamu dan kamu sendiri yang bilang kalau saya harus memperjuangkan seseorang yang saya inginkan, bukan begitu?"
Tasya mengerjapkan matanya, apa dia tidak salah dengar. Kalau misalnya memang iya kenapa Fadil harus se-gamblang itu mengutarakannya?
"Saya pria dewasa, Tasya. Saya tidak suka bertele-tele, jadi saya langsung menanyakannya sama kamu. Jadi jangan kaget."
"Ada wajah saya menandakan kalau saya sedang bercanda?" Tanya Fadil balik.
Tasya terdiam, sedikit mengerikan juga menghadapi pria dewasa seperti Fadil. Apa semua pria dewasa seperti itu ya?
Fadil kembali terkekeh melihat ekspresi Tasya yang hanya terdiam. Wajar saja, dia gadis remaja yang sedang beranjak menjadi dewasa. Meskipun usianya bisa dikategorikan wanita dewasa tapi dia masih dalam masa transisi. Pasti kaget menghadapi pria dewasa sepertinya yang to the point, karena pasti Tasya mengalami pernyataan cinta manis dari pacar atau mantan-mantannya.
"Saya sadar diri kalau kamu sudah bertunangan, jadi biarkan saja saya menjalankan perjodohan ini dengan Zea. Lagi pula saya tau bagaimana saya harus bersikap."
Tasya kembali menatap Fadil, ya dia masih kaget memang, tapi dia harus memastikannya pada Fadil agar Zea tidak akan pernah terluka. Bagaimanapun Zea juga kakaknya, dia ingin yang terbaik untuk Zea.
"Sudah, lupakan semua pernyataan saya sama kamu. Anggap saja saya confess agar sedikit lega, kamu bisa menjalankan pertunangan kamu dan saya menjalankan perjodohan saya. Jangan khawatir, saya tidak akan bermain-main soal pernikahan. Saya akan menjaga Zea dengan baik," ucap Fadil.
Tasya sedikit tersenyum dan mengangguk, setidaknya dia sudah mendapatkan jawaban kalau Zea akan baik-baik saja bersama Fadil. Meskipun perasaannya sekarang tidak karuan karena pernyataan suka Fadil padanya.
...~ • ~...
Tasya dan Al saling menatap, setelah ini atau mungkin besok mereka akan bicara mengenai jawaban masih-masing dari Zea dan Fadil. Sekarang dia dan Al harus diam dulu dan mengikuti acara sampai selesai.
__ADS_1
Para orang tua sedang berdiskusi di meja makan, Daffa juga ikut di sana karena Fadil menyerahkan semua seleranya pada Daffa. Sementara Zea tidak ingin ikut campur, dia akan benar-benar pasrah saja.
Al dan Tasya memutuskan untuk bermain Play Station dengan duduk di karpet sambil menunggu acara selesai, ya apalagi yang harus mereka lakukan sekarang? Zea juga duduk di sofa, tepat di atas mereka berdua, karena Zea juga tidak tau harus berbuat apa.
Tiba-tiba Fadil datang dan ikut duduk di sofa. Mereka berjauhan karena masing-masing duduk di ujung sofa. Mereka saling melirik, tidak ada yang inisiatif juga untuk saling bertanya. Jadi mereka berdua hanya fokus melihat Tasya dan Al yang sedang bermain sambil beradu mulut.
"Aallll, kamu mah curang! Masa aku diserang terus. Makan nih makan!" Kesal Tasya sambil mengulik stik psnya.
"Alah anak kecil sok sok lawan yang besar," cibir Al yang kali ini membuat Tasya kalah.
Al terbahak saat melihat wajah kesal Tasya. "Ah kesel banget, gak mau main ini!"
"Kamu main apa juga kalah, udah aku bilang kamu main pou aja di hp. Sok-sokan mau main ps, kalah terus," ejek Al.
Tasya memukul lengan Al kesal. Pria itu memang suka sekali meledeknya. Padahal Tasya bukan tidak bisa bermain, hanya saja Al yang lebih jago dalam hal ini.
"Males, aku gak mau main yang beranteman. Mau main GTA aja."
Al terkekeh setelahnya dia mengangguk, apasih permintaan Tasya yang tidak dia turuti? Perlahan Al mengubah posisinya jadi di belakang Tasya. Tasya sepertinya sudah mulai terbiasa, jadi dia menyenderkan punggung dan kepalanya pada Dada Al. Tangan Al melingkar pada tubuh Tasya sembari memainkan tangan di stik PSnya. Membuat kedua orang dewasa di belakang mereka merasa menjadi nyamuk diantara keduanya.
Tasya menatap ke atas dan mendapati Al tersenyum dan perlahan mencium keningnya. Gemas sekali melihat Tasya seperti ini. Setelah itu pun mereka tersenyum dan fokus kembali pada layar televisi.
"Kamu tungguin aku, aku ke sana," ucap Al.
"Yaudah tapi bawa mobil ya, biar gak cape jalan," ucap Tasya.
"Hm, meluncur. Ayok cepet naik mobil, aku di depan," kata Al.
"Hm bentar." Tasya mengikuti ucapan Al.
"Eh kode buat nembakin sambil naik mobil tuh apa ya?" Tanya Tasya.
"Atas, atas, kotak, L2, kanan, x, R1, bawah, R2, lingkaran," jawab Al.
"Oke."
Mereka berdua nampak asik satu sama lain, ya dugaan Fadil memang benar. Gadis seusia Tasya ini memang memiliki kisah cinta yang manis ala gadis remaja pada umumnya. Jadi tidak heran jika tadi dia begitu kaget mendengar penuturan Fadil.
Zea menatap Fadil yang kini fokus memperhatikan kedua adiknya. Ya semoga saja kedepannya dia bisa menjalankan perjodohan dan pernikahannya dengan baik. Seharusnya mereka melakukan PDKT sekarang, tapi keduanya masih enggan melakukannya. Jadi malam ini mereka hanya melihat Tasya dan Al saja yang bergelut dengan permainan mereka. Mungkin pendekatan mereka akan terjadi setelah mereka menikah nanti, atau bahkan tidak akan ada sama sekali.
__ADS_1