Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Fitting Baju


__ADS_3


"Aku udah persiapin rumah buat kita, kamu mau kan tinggal sama aku di sana?" Tanya Al lembut.


Tasya menatap Al lekat. "Tapi kenapa kita misahin diri dari keluarga?"


Al menghela napasnya, ya mungkin dia memang harus lebih dewasa di sini dibanding Tasya. "Kamu tau kan kalau misalnya seorang istri harus ikut sama suaminya?"


Tasya mengangguk. "Of course dan aku juga bakalan lakuin itu."


"Kalau gitu artinya kita harus tinggal di rumah Ayah Bunda, sementara Zea sama bang Fadil mereka menetap di sana. Apa gak lebih baik kalau kita punya rumah sendiri aja? Kamu tau setiap pertengkaran Zea sama suaminya Bunda selalu kepikiran. Aku gak mau tambahin Bunda beban pikiran juga."


"Tapi emangnya kita ada niat berantem? Kan engga," ucap Tasya.


"Iya gak akan. Bukan gak akan, tapi kita pasti punyalah sesekali masalah dalam keluarga. Jadi kita butuh privasi itu, kalau kamu mau sering ke rumah Abang sama ke rumah Bunda ya gapapa. Setidaknya kita membangun rumah tangga kita sendiri di sana, kamu bisa belajar, aku juga bisa belajar. Kalau kita di rumah pasti selalu disediain dan kita gak akan pernah belajar mandiri, kamu paham kan apa yang aku maksud?"


Tasya mengangguk-anggukan kepalanya, benar juga. Lagi pula bukannya seorang anak perempuan memang harus mengikuti suaminya ya? Dia banyak belajar dari Amanda, dia bahkan mengikuti Radit kemana pun, buktinya dia di sini sekarang meskipun kerap kali merindukan orang tuanya di Bandung.


"Jadi?"


Tasya tersenyum. "Iya aku mau."


"Pinter."


Al menghentikan mobilnya di butik langganan Diana. Selain dress di sini juga mereka menyiapkan gaun dan tuxedo pernikahan secara ekslusif. Al menggenggam tangan Tasya dan memasuki butik.


"Bagus-bagus banget," bisik Tasya pada Al.


"Khusus buat calon istri aku yang cantik juga," puji Al.


"Males ah kamu gombal mulu."

__ADS_1


Beberapa karyawan yang sudah tau akan kedatangan mereka kini menyambutnya dengan baik. Pertama tentulah mereka mengeluarkan beskap dan kebaya sunda terbaik mereka yang akan dicoba Oleh Tasya dan Al.


Tasya dan Al dipersilahkan mencoba baju kebaya dan beskap sunda untuk acara akadnya. Tasya menatap pantulannya di cermin, baru saja dia merasa kalau dia beranjak dewasa, tapi sekarang dia sudah mengenakan kebaya pernikahan, rasanya waktu begitu cepat.


Beberapa karyawan menanyakan tentang baju yang mereka gunakan, apa merasa nyaman atau tidak. Tasya dan Al hanya mengangguk, semuanya sudah pas, hanya mungkin Tasya sedikit meminta untuk di kecilkan di bagian pinggang agar pas dengan tubuhnya.


Setelah selesai mencoba kebaya, kini mereka beralih untuk mencoba gaun pengantinnya. Tak lama seorang manager butik datang, mereka menawarkan beberapa gaun terbaik mereka pada Tasya dan Al. Mungkin karena terlalu banyaknya Tasya sampai bingung sendiri dan harus beberapa kali konsultasi dengan teman-temannya melalui telfon.


"Kalau kaya gitu terus susah," ucap Al.


"Terus gimana?"


"Gini, bayangin kalau kamu nikah bajunya kaya gimana. Soalnya itu datang dari pikiran dan keinginan kamu yang sebenernya."


Tasya berpikir sejenak, membayangkan apa yang ada dipikirannya saat ini. Sementara Al pamit untuk melihat beberapa tuxedo yang nanti akan dia coba dan perlihatkan pada Tasya.


Tasya akhirnya memilih beberapa baju yang sudah tersedia di sana. Tapi, sepertinya tidak jadi. Dia jatuh cinta pada sebuah gaun yang dia yakini Al akan sangat suka kalau dia memakainya.


"Sudah bagus, Kak. Apalagi kakak cantik, pasti calon suaminya pangling," ucap salah satu asisten yang membantunya.


"Iyakah?"


Semuanya mengangguk, memang mereka tidak bohong soal itu. Tasya adalah bride paling cantik yang pernah mereka tangani.


"Mba ini apa dadanya gak terlaku terbuka tapi ya? Takutnya tunangan saya gak suka," ucap Tasya.


"Tidak, Kak. Ini memang modelnya seperti ini, karena nanti juga akan dipadukan dengan perhiasan yang membuat anda semakin cantik," balas salah satunya.


Tasya mengangguk, kalau berlama-lama di depan kaca seperti ini dia jadi ingin memuji dirinya sendiri, tapi tidak berani karena banyak orang di sana. Akhirnya dia malah senyum-senyum sendiri.


Setelah kurang lebih 30 menit, Tasya keluar dari ruang ganti, menemui Al yang kini tengah OOTD di depan kaca sambil merapikan tuxedo hitam yang dia kenakan, lengkap dengan sepatu dan juga dasinya.

__ADS_1


Tasya suka melihatnya, karena kemarin dia sempat memberikan saran pada Al kalau dia ingin Al memakai tuxedo hitam saja. Karena menurutnya lebih bagus saja dibandingkan berwarna putih. Dia juga meminta agar dasinya tidak menggunakan yang berbentuk pita, dia lebih suka melihat dasi yang diurai seperti biasanya. Lebih manly menurut Tasya. Ya meskipun itu memang umum dalam pernikahan. Al terlihat sangat tampan menurut Tasya


"Al," panggil Tasya ragu.


Al yang mendengar itu langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah Tasya. Untuk sejenak dia tertegun dengan apa yang ada di depannya. Apa sopan kalau Tasya bisa secantik ini di hadapannya? Membahayakan jantungnya saja.


"Gimana bagus gak?" Tanya Tasya ragu.


Al masih terdiam hal yang pertama kali dia liat adalah tubuh semampai Tasya yang sangat cantik dengan gaun putih bermodel shillouet mermaid, bagian dadanya terbuka namun tidak over dengan model setengah lengan yang menampakkan bahu putihnya.


Menatap Tasya dari ujung rambut sampai ujung kaki, membuat Tasya takut kalau Al tidak menyukai penampilannya. Namun saat Al selesai memindai calon istrinya dia menyadari kalau Tasya cantik, sangat cantik ditambah dengan rambutnya yang diurai. Gaun yang elegan dengan wajah Tasya yang mendominasi.


"Kamu gak suka ya? Atau mau diganti? Aku gak pilih beberapa karena aku udah jatuh cinta sama gaun ini, tapi kalau kamu gak suka bisa kamu pilihin ... Al?" Tanya Tasya lagi karena tidak mendapatkan respon.


Al menelan ludahnya kasar. "A- engga. Gak usah diganti, bagus Aku suka kamu pake itu."


"Beneran?" Seketika Tasya mulai tidak pede.


Al menghampiri Tasya setelah itu di tersenyum dan mengelus pipinya. "Bener, kamu bride tercantik yang pernah aku liat."


Tasya mendengus, bisa-bisanya Al membuat dia salting di tengah banyak orang begini dan itu tentunya mengundang kekehan dari sekitarnya. Bukan apa-apa, tapi menurut mereka Tasya dan Al adalah pasangan yang romantis.


Pemilik butik meminta Tasya dan Al bersanding di depan cermin, mereka nampak sangat serasi di sana. Bahkan meskipun mereka bukan model, tapi mereka sangat cocok sepertinya untuk menjadi brand ambassador butik mereka.


Tasya dan Al saling memperhatikan satu sama lain di cermin, sementara para asisten melakukan pembenahan agar customer mereka ini benar-benar mendapatkan pelayanan terbaik.


"Kamu cantik banget, kita bisa nikah sekarang aja gak sih?" Tanya Al gemas.


"Gak bisa, masa mau nikah di sini. Sabar ya, Sayang. 2 bulan lagi, oke?" Ucap Tasya penuh perhatian.


Namun Al mana bisa tidak mengagumi calon istrinya itu, yang dia katakan memang benar, dia jadi ingin menikahi Tasya detik ini juga. Tapi benar juga apa kata Tasya kalau dia harus sabar. Dia lebih harus menyiapkan mental sih, Tasya belum di dandani saja dia sudah mau gila rasanya, apalagi saat pernikahan mereka. Tidak bisa dibayangkan akan secantik apa Tasya nanti?

__ADS_1


__ADS_2