Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Truth Or Dare


__ADS_3


Tasya terus membolak-balikan kertas berisikan soal Matematika itu. Ya, hari ini adalah ulangan harian Matematika. Setelah dirasa cukup yakin, Tasya langsung mengumpulkannya ke depan. Tidak sia-sia dia belajar semalaman, karena semua soal yang dia pelajari keluar di ujian hari ini.


"Sudah selesai?" Tanya Bu Marda yang tersenyum ke arah Tasya.


"Sudah, Bu," Jawab Tasya sambil menaruh kertas ulangannya di meja guru.


"Kamu boleh langsung istirahat dan tunggu di luar ya," kata Bu Marda.


"Iya, Bu makasih, assalamualaikum," ucap Tasya sambil menyalami Bu Marda.


"Waalaikumsalam."


Tasya membawa mini notenya dan langsung keluar kelas, hal yang paling nikmat ketika selesai lebih dulu saat ulangan adalah, bisa keluar lebih dulu.


Di sisi lain, Viko sedang sibuk mencari kunci jawaban kepada teman-temannya. Ulangan matematika ini membuat otaknya ingin meledak. Bagaimana bisa soalnya selalu berbeda dari yang diajarkan?


"Za, 1 sampe 10 apa?" Tanya Viko pada Reza, sesekali dia melirik ke arah meja guru agar tidak ketahuan.


"Babbabbabc," jawab Reza setengah berbisik.


"Yakin lu? Masa banyak yang bab, gak mules kan lu?" Tanya Viko lagi memastikan.


"Enggalah gila, tulis aja kek," kesal Reza, sudah menyontek tidak percayaan, belum lagi dirinya sendiri pun belum selesai.


Tanpa ba-bi-bu Viko langsung menyalin jawabannya. Meskipun agak sedikit ragu. Tapi demi bisa keluar lebih cepat Viko tidak memikirkan benar atau tidak. Berada di ruangan ini rasanya jauh lebih panas dan mulas.


"Gus, 11 sampe 20 apa?" tanya Viko pada Bagus.


"Abcdeabcde," jawab Bagus.


"Anjirr, bener gak?" Tanya Viko frustrasi, kenapa menurutnya teman-temannya ini asal memberi jawaban?


"Bener, salin aja," kata Bagus santai.


Daripada berlama-lama Viko pun menyalinnya. Kini giliran Arka yang menjadi sasaran Viko. Tinggal beberapa soa lagi dia bisa menyusul Tasya keluar kelas. Tentu akan dia pakai untuk kabur ke kantin pak Adung.


"Oke 10 soal lagi." batin Viko.


"Ka, Arka," panggil Viko pada Arka yang sedang menggigiti ujung pulpennya.


"Oyy," sahut Arka.


"21 sampe 30 apa jawabannya?"


"21 sampe 30?" Tanya Arka memastikan.


"Hooh."


"Gua jawab A semua, nanti juga ada yang bener," jawab Arka santai.


"Tolol lu, gak waras emang," kata Viko sambil mengacak-acak rambutnya frustrasi.


Sepertinya Viko akan mengambil jalan pintas andalannya. Karena tak ada pilihan lain. Jalan apa? Yaitu jalan bismillahirrahmanirrahim sambil mencap-cipcup pilihan gandanya.


"Selesai," teriak Viko dan otomatis seluruh mata menuju padanya.


"Ada apa Viko?" tanya Bu Marda.


"Eh enggak, Bu ini saya udah selesai," kata Viko.Viko langsung membawa kertas ulangannya ke depan Bu Marda. Dia merasa bangga karena sudah selesai, meskipun semua jawabannya haram, alias hasil mencontek dari teman-temannya.


"Kamu yakin sama jawaban kamu?" tanya Bu Marda menyelidik. Bukan apa-apa, beliau tau betul kalau Viko ini selalu menjawab asal-asalan dan tidak peduli dengan nilainya.


"Yakinlah, Bu. Kalau saya gak yakin, mana mungkin sekarang saya ngumpulin," jawab Viko santai.


"Awas saja kalau nilai kamu seperti ulangan kemarin-kemarin," ucap Bu Marda tegas.


"Ibu suka gak adil deh, tadi Tasya gak diginiin kaya saya. Padahal saya sebenernya 1112 sama Tasya, Bu. Cuma bedanya dia lebih sering belajar saya engga, jadi saya menimbun kepintaran saya untuk masa depan nanti." kata Viko seolah dia adalah murid yang teraniaya.


"Karena kamu jawabannya suka ngasal, Viko. Makanya kau keluarkan kepintarannya sekarang, kalau sudaj di masa depan kepintaran kamu yang ada sudah menjadi fosil!" Kata Bu Marda.


"Kali ini saya pastiin gak ngasal, udah ya bu saya mau ke pak Adung, assalamualaikum," ucap Viko yang langsung berlari ke luar kelas.


Viko memanglah seorang Viko, terlalu cuek kepada lingkungan sekitar. Baginya, hidup itu harus dinikmati. Moto hidupnya adalah :


Biarin nakal sekarang, asal dewasa bertobat. Bukan bertobat dulu baru nakal.


...~ • ~...

__ADS_1


Jam istirahat sudah selesai tiga puluh menit yang lalu. Dan jam pelajaran kosong, dikarenakan guru Bahasa sedang berhalangan hadir.


Yang menjadi pemandangan langka adalah, Viko dan kawan-kawannya berada di kelas saat pelajaran kosong. Kenapa langka? Karena saat ada mata pelajaran saja mereka bolos, apalagi tidak.


"Truth or Dare?" Tanya Bagus pada Arka.


"Truth aja gua," kata Arka yang sudah terlihat pasrah, sebenarnya dia tidak ingin ikut tapi mereka memaksanya.


"Lu udah kentut berapa kali?" Tanya Bagus.


"Gak kehitung anjerr," jawab Arka sewot.


Viko, Bagus, dan Reza tertawa terbahak-bahak akibat jawaban Arka. Tasya melirik sekilas ke samping, dia sangat terganggu akibat suara mereka yang sangat berisik. Akhirnya Tasya memilih membaca novel di depan kelas. Di sana ada seperti panggung untuk persentasi. Tasya memilih untuk duduk di sana saja.


"Truth or Dare?" tanya Viko pada Bagus.


"Truth deh," jawab Bagus percaya diri.


"Cih cemen lu pada," decih Viko.


"Buruan," kata Bagus.


"Lu lagi ngegebet siapa?" Tanya Arka pada Bagus.


"Si Sarah," kata Bagus sambil berbisik.


"OYYY SARAH, KATA SI BAGUS DIA LAGI NGEGEBET ELU," Teriak Reza.


"Anjerrr," kesal Bagus sambil menjitak kepala Reza.


"Mampus lu."


Mereka tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Reza. Sementara Sarah pipinya mulai merah akibat perbuatan mereka. Sekarang giliran Viko.


"Truth or Dare?" Tanya Reza.


"Dare, gua mah pemberani," kata Viko dengan bangganya.


"Yakin lu?" tanya Arka.


"Yakin lah," kata Viko dengan mantap.


"Apaan?"


"Lu liat kan, si Tasya lagi duduk di depan?" tanya Reza sambil menunjuk ke arah Tasya. Sementara Tasya yang merasa tertunjuk, mulai merasakan hal yang tidak enak.


"Terus?" tanya Viko.


"Lu harus duduk di sebelahnya selama sepuluh menit," kata Reza.


"Oh oke," kata Viko yang mulai berdiri dari tempatnya.


Tasya yang melihat Viko mulai mendekat, sudah berancang-ancang. Saat Viko baru saja akan menaruh bokongnya, Tasya berdiri dan kembali ke tempat duduknya dengan wajah datar.


"Sialan," batin Viko.


Teman-teman Tasya dan Viko hanya tertawa melihat adegan itu. Sementara Viko terus mengikuti Tasya.


"Ngapain lo ngikutin gue?" akhirnya Tasya mulai bersuara.


"Duduk sama gua yuk, sepuluh menit aja," pinta Viko.


"Ogah," tolak Tasya yang terus menghindar dari Viko.


Bayangkan saja, mereka sekarang terus berjalan mengelilingi kelas. Seperti anjing dan kucing yang sedang bertengkar."Ayolah, Sya. Biar cepet," Viko ucap Viko memohon.


"Ogah ih," kesal Tasya yang terus menghindar.


Hingga...


Viko berhasil memegang pergelangan tangan Tasya.


"Ayok," kata Viko polos.


"Yaaaakk lepasin gue." Tasya yang berusaha melepaskan tangannya dari Viko.


"Gak, sebelum lu duduk sama gua sepuluh menit," tegas Viko.


"Najis," kata Tasya yang pasrah dan langsung duduk di kursi pojok bersama Viko.

__ADS_1


"Diem lu, gak usah kabur. Biar cepet selesai."


"Terus kalau gue udah duduk sama lo mau ngapain?" Tanya Tasya.


"Ya diem aja."


"Gak jelas tau gak."


Ponsel Viko tiba-tiba bergetar. Ternyata adalah notif LINE.


...Begundals (4)...


Reza Arya : ajak si Tasya selfie.


^^^Viko Narendra : gila lu.^^^


Reza Arya : bau-bau pecundang


Bagus Putra : bau-bau pecundang (2)


Arka Bagaskara : bau-bau pecundang (3)


^^^Viko Narendra : gua berani -_-^^^


Bagus Putra : sip


Arka Bagaskara : sip (2)


Reza Arya : sip (3)


"Sya, selfie bareng yuk," kata Viko.


"Dih, ogah," tolak Tasya tegas. Dia duduk bersama Viko saja sudah malas rasanya.


"Sekali aja," ucap Viko memohon.


"Gak." Tegas Tasya pada Viko.


"Kalau lu gak mau, nambah deh tiga puluh menit duduk sama gua," kata Viko.


"Eh, o-oke gue mau." Dengan terpaksa dia mengiyakan ajakan Viko, bukan apa-apa dia hanya ingin cepat selesai.


Viko mulai memegang ponselnya dan...


"Tunggu," tahan Tasya.


"Apa?"


"Viewnya gak bagus, biar gue aja yang pegang hpnya," kata Tasya sambil menggambil ponsel Viko.


"Narsis lu," sarkas Viko.


"Yang penting viewnya bagus."


Cekrekk.


"Udah, apa lagi?" Tanya Tasya kesal sambil memberikan hp Viko.


"Udah, tinggal nunggu sepuluh menit berlalu," kata Viko.


Sepuluh menit pun berlalu. Viko pun berdiri dari bangkunya.


"Makasih, udah sepuluh menit," ucap Viko yang pergi meninggalkan Tasya.


Sementara Tasya hanya memasang rolleyes-nya dan kembali duduk di kursinya.


"Kenapa manusia-manusia itu selalu gangguin gue, sih. Bete kan jadinya,'" batin Tasya.


"Kusut amat muka lo," kata Niken.


"Kesel," singkat Tasya.


"Jangan kesel dong, senyum," kata Niken.


"Gak bisa, kesel banget gue."


"Yaudah, jangan lama-lama keselnya. Gak enak diliat," kata Niken.


"Iya, makasih. Gue mau denger lagu aja. Kalau ada guru bangunin gue," kata Tasya.

__ADS_1


Sungguh Ketua OSIS yang tidak patut dicontoh. Tapi, itulah Tasya. Saat kesal, hanya lagu yang bisa membuatnya kembali ceria. Kalau tidak lagu dia memilih untuk ke ruangan OSIS dan menjauh dari keramaian.


__ADS_2