
Perumahan Nusa Indah, Tasya kini sudah berada di depan rumah dengan nomor 205. Dia langsung menghampiri satpam penjaga untuk membukakan pagar.
"Permisi," ucap Tasya sambil melirik dari pagar yang lumayan cukup besar. Satpam pun membukakan gerbang seraya tersenyum pada Tasya.
"Ada yang bisa dibantu, Neng?" tanyanya dengan ramah.
"Saya mau cari mama saya," kata Tasya yang tanpa menunggu jawaban langsung memasuki gerbang tersebut dan satpam berusaha menghentikannya.
"Neng gak bisa masuk sembarangan, harus ditanya dulu ada kepentingan apa." Satpam menghalangi jalan Tasya.
"Saya anaknya ibu Lidya Kafenya. Ini bener kan rumahnya? Jangan halangi saya." Tasya kembali berjalan menuju rumah mewah itu dan hanya diikuti satpam di belakangnya.
Tasya menekan bel beberapa kali, namun belum ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Setelah beberapa lama menunggu, seorang wanita membukakan pintu, Tasya yang melihat itu langsung terdiam sejenak, Tasya mengingat-ngingat wajah mamanya dalam foto yang dia temukan kemarin dan yaa, wanita itu adalah mamanya.
"Iya, mau cari siapa ya?" tanya Lidya perlahan.
"Mamaaaa," teriak Tasya sambil memeluk Lydia, sementara Lydia kebingungan dengan hal yang terjadi saat ini.
"M-maaf kamu siapa ya? Boleh tolong lepas?" Balasnya sambil berusaha melepaskan pelukan Tasya.
"Mamaa ini Tasya, Mama Tasya udah cariin mama kemana-mana. Tasya seneng banget ketemu mama. Mama maaf Tasya baru bisa ketemu mama hari ini. Mama pasti nunggu Tasya buat ketemu mama kan?" Tasya semakin mengeratkan pelukannya.
Selintas Lidya teringat dengan nama itu.
"Maafin mama sayang, kamu harus tinggal sama papa yaa. Tasya Aurell, semoga kelak kamu menjadi anak yang cantik dan pintar. Maaf mama gak bisa jadi orang tua yang baik buat kamu. Mama harus pergi." Lidya mengecup kening putrinya perlahan, dengan tangis yang masih belum mereda dia memutuskan untuk meninggalkan rumah itu.
Lydia terkejut dengan seseorang yang ada di hadapannya sekarang. Tubuhnya mendadak kaku, dingin dan lidahnya terasa kelu. Dengan sekuat tenaga Lydia mendorong tubuh Tasya.
"L-lepass!! Saya tidak kenal kamu. Pergi kamu dari sini!" perintah Lydia pada Tasya.
"Maaaa ini Tasyaa, anak mama sama papa Jonathan. Aku adik abang Radit. Mama inget kan?" Tasya kembali memeluk Lydia dengan erat, dia tidak bisa menahan apapun dia terus menangis sambil memeluk mamanya seolah tak ingin ditinggalkan lagi.
"Apa-apaan sih?! Saya bilang saya gak kenal kamu dan saya bukan mama kamu. Pakk tolong bawa anak ini!" Perintah Lydia pada satpam.
__ADS_1
"Siap buk." Satpam pun mencoba memisahkan Tasya dengan Lidya, namun Tasya berontak. Bagaimana bisa ibunya tidak mengenali dirinya.
"Gakk, lepasinn! Maa ini Tasya. Maaa, tolong jangan kaya gini," pinta Tasya dengan memelas ke arah Liydia.
Satu tetes air mata berhasil menembus pertahanan Lydia. Namun, dia segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Di sisi lain, seseorang yang melihat keributan di luar rumahnya segera berlari untuk mengecek. Dilihatnya sosok yang dia kenal sedang berusaha digeret oleh satpam.
"Tasyaa, kenapa? Kok lo tau rumah gua? Ini kenapa?" Chandra berusaha meminta penjelasan kepada mereka.
Lidya kaget saat mengetahui anak tirinya mengenal Tasya. Saat ini dia benar-benar panik dan bingung harus melakukan apa.
"S-sayang, b-bukan apa-apa kok. Ayok kita masuk ke dalam. Nanti kuenya keburu dingin gak enak." Lydia berusaha membawa Chandra ke dalam rumah, namun Chandra mengeraskan tubuhnya seolah dia ingin tetap di sana.
"Maaa, ini Tasya. Lepasin!" Tasya melepaskan tangan Satpam itu dari lengannya dan kembali memeluk Lydia.
"Udah saya bilang, saya bukan mama kamu!" Lydia kembali mencoba melepaskan pelukan Tasya.
Chandra tak tinggal dia kini berusaha melepaskan pelukan Tasya pada mamanya. Dia menarik kedua lengan Tasya dan menghadapkan Tasya ke arahnya.
"Sya, gua tau lu kehilangan sosok mama lu. Gua tau lu mau ketemu dia, tapi gak gini caranya. Ini mama gua, lu apa-apaan sih, Sya?!" Kini Chandra berbicara sedikit meninggi dengan tatapan elangnya.
"Sya ... Gak gituu. Ayokk sadar, gua tau lu gak tau mama lu di mana, tapi bukan berarti mama gua ini mama lu. Syaa gua anter pulang ya?" Chandra mulai melembut.
Tasya yang masih terisak, kini menatap mata chandra lekat seolah memohon agar dia mempercayai Tasya, "Gue gak bohong, Chan. Gue gak halu, kenapa lo gak percaya sama gue?"
Chandra menatap ke arah Lydia seolah meminta penjelasan, namun Lydia tetap bersikeras tidak mengenal Tasya dengan isyarat menggelengkan kepalanya.
"Sya, ayok pulang gua anter." Chandra kembali menatap Tasya dengan kasihan. Namun Tasya tidak terima.
"Bentar." Tasya melepaskan tangannya dari cengkraman Chandra, dia mengambil ponsel dalam saku celananya dan mencari apa yang dia ingin tunjukan pada Chandra.
Chandra bingung apa yang akan Tasya lakukan, Lydia yang mulai panik kini tengah menunggu sambil menggigit ujung kukunya.
"I-ini mama gue," Tasya menunjukan Foto pernikahan orang tuanya kepada Chandra.
Chandra melirik Lydia dan menyamakan rupanya.
__ADS_1
"Syaa, emang mirip tapi bukan berarti mama lu kan? Orang yang mukanya mirip itu banyak. Apalagi ini waktu mama lu masih muda." Chandra berusaha meyakinkan Tasya.
Tasya yang tidak percaya kembali menunjukan apa yang dia foto tadi. "Nama mama gue, Lydia Kafenya. Ini alamatnya yang gue temuin di buku catatan papa. Ini mama gue Chandra."
"Maaa, Tasya tau papa udah nyakitin mama tapi jangan kaya gini sama Tasya. Tasya mau tinggal sama mama aja. Tasya mau selalu deket mama." Tasya kembali memeluk Lydia, kali ini tidak ada penolakan. Keduanya sama-sama menangis. Sampai akhirnya ....
"Tidak! Kamu bukan anak saya. Saya gak pernah punya anak kaya kamu. Kalaupun saya punya anak seperti kamu, saya menyesal sudah melahirkannya!" Tangis Lydia pecah, dengan emosi dia mendorong Tasya hingga tersungkur ke lantai.
"LYDIA CUKUP!" Teriakan seseorang dari belakang, membuat mereka kaget. Iya, Jonathan tak terima ketika anaknya diperlakukan seperti itu oleh ibu kandungnya sendiri.
"J-Jonathan ...." gumam Lydia perlahan.
"Sudah cukup kamu selingkuh di belakang saya, sudah cukup kamu pergi dan khianati saya. Sudah cukup kamu sakiti hati Radit. Sekarang kamu gak bisa nyakitin Tasya." Tegas Jonathan yang membantu Tasya untuk berdiri.
Tasya tertegun dengan apa yang barusan dia dengar. Jadi selama ini, Ibunya lah yang mengkhianati keluarga mereka dan dengan sengaja meninggalkan mereka.
"IYAA! Aku emang jahat. Aku udah nyakitin banyak orang. Tapi aku gak pernah cinta sama kamu! Aku menderita sama kamu! Salah aku cari kebahagianku sendiri, Mas? Kamu tuh gak punya apa apa dulu! Aku udah hidup tenang sekarang, kenapa kalian mengacaukan semuanya?!"
"Sudah berkali-kali kamu bilang aku tau! Saya hanya minta kamu jangan menyakiti anak-anak saya, ANAK KAMU JU— Arghht." Tiba-tiba Jonathan memegang dadanya dengan menahan rasa sakit.
"Papaa!!!" Radit langsung membantu Jonathan dan menatap tajam kepada Lydia.
"Kalau terjadi apa apa sama papa saya, saya tidak akan memaafkan anda," ancam Radit kepada Lydia, "Lo juga!" Pandangan Radit menuju kepada Tasya yang sontak membuatnya kaget. Radit pun segera membawa papanya ke mobil.
"A-abang. Tunggu," Tasya langsung berlari dan mengerjar Radit, mencoba untuk membantu namun Radit menghempas tangan Tasya.
"Diemm! Gua ga butuh bantuan lu! Nepi."
Radit dengan terburu-buru langsung memasuki mobilnya dan membawa papanya ke rumah sakit.
Tasya langsung berlari masuk ke dalam mobilnya, dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi hari ini. Dia langsung menuju rumah sakit, menyusul Radit.
"Paaa, maafin Tasya," gumamnya penuh penyesalan dan air mata yang sedari tadi keluar dari kelopak matanya.
Chandra hanya diam mematung di tempatnya. Bagaimana bisa ini terjadi, sosok mama yang hangat dan melekat pada Lydia, membuatnya tidak menyangka jika perempuan itu bisa dengan tega melakukan itu kepada anak kandungnya sendiri.
__ADS_1
"M-mama bisa jelaskan, Sayang." Lydia memegang bahu Chandra namun Chandra menepisnya. Dia pergi ke kamarnya untuk menenangkan diri.