Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Mulai Beraksi


__ADS_3


Tasya turun dari kamarnya, pagi ini tentu dia harus kembali beraktifitas. Wajahnya senang karena dia merindukan Radit hari ini, kemarin dia tidak sempat mengobrol dengan kakaknya itu karena dia buru-buru. Jadi sekarang dia kan menuntaskan rasa rindunya.


Matanya menatap kecewa ketika tidak ada siapapun di meja makan. Hanya ada sepiring nasi goreng, susu dan sebuah note. Tasya menghampiri meja makan dan membaca isi pesan yang dituliskan oleh Amara.


Isi note :


Sayang, maaf tante dan Radit semalam pulang malam. Hari ini kami akan pergi ke Jakarta selama 2 hari. Kamu jangan lupa makan ya sarapannya. Kalau butuh apa-apa hubungi tante.


Tasya sedikit tersenyum.Ternyata mereka memang sudah mulai sibuk. Tapi oke, masih bisa diterima oleh Tasya. Dia pun mengambil kursi dan memakan sarapannya. Meskipun dia sangat merindukan Abangnya hari ini. Entah kenapa.


Tasya melirik ke arah ponselnya. Tidak lupa dia mengirim pesan pesan pada Viko agar dia tidak lupa istirahat. Jam segini pasti Viko sedang berada di kantor atau mengerjakan tugas. Jadi wajar saja jika tida langsung membalas, perlahan juga Tasya mulai terbiasa dengan itu.


Tasya pun bergegas untuk menghabiskan sarapannya. Kali ini dia akan pergi sendiri saja, dia juga sudah bilang pada Al semalam. Karena dia sedang mood untuk membawa mobil. Itu hanya alasan pada Al, yang sebenarnya adalah Tasya sedang memikirkan banyak hal tapi dia tidak mau membuat orang-orang khawatir karena melihat dan membaca dari ekspresinya.


Setelah selesai dengan sarapannya, dia langsung keluar rumah dan menuju mobilnya. Namun tiba-tiba ...


"Tasya!" Panggil seseorang dari balik pagar.


Tasya tersenyum dengan apa yang dilihatnya, sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan kakaknya yang satu itu. Tasya berlari keluar pagar dan memeluk Zea.


"Kak Zea! Kangenn ..."


"Hahaha kangen sama Tasya juga," ucap Zea sembari menciumi pipi Tasya dan memeluknya erat.


Dia sedang olahraga pagi dan kebetulan melihat Tasya keluar dari rumahnya. Padahal masih pagi buta begini, Al saja sepertinya baru bangun tidur. Benar-benar adik pemalas.


"Lo udah pulang, Kak? Kata Al pulangnya nanti akhir bulan?" Tanya Tasya yang heran.


"Ohh itu akal-akalan, biasa lah biar gue bisa main. Tapi ternyata bosen juga jadi balik, lagian udah kangen mau ketemu Al sama lo, Sya. Uhh adek gue ini manis-manis jadi gemes deh," jawab Zea sembari mengunyel-unyel pipi Tasya.


Tasya juga sama seperti Al, dia sudah terbiasa dengan sikap Zea yang sering geregetan. Jadi Tasya biasa saja walaupun sudah lama tidak bertemu dengan Zea.

__ADS_1


"Kenapa perginya pagi-pagi banget, Al aja baru bangun. Gak akan bareng Al?" Tanya Zea.


"Engga, Kak. Hari ini harus ke perpus lebih dulu mau cari referensi, kasian juga kalau Al nungguin," ucap Tasya sabil terkekeh.


"Oh gitu, yaudah hati-hati yaa. Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya. Nanti sore ke rumah ya, gue punya oleh-oleh. Radit juga semalem nitipin lo sama gue, jadi ke rumah ya," pinta Zea.


Tasya pun mengangguk. "Iya, Kak. Nanti pulangnya ke rumah lo ya."


Zea pun tersenyum mendengar perkataan Tasya. Tasya pun berpamitan karena dia harus pergi sekarang. Bukannya tidak ingin berlama-lama, tapi dia suka tidak enak kalau berangkat bersamaan dengan Al tapi pergi masing-masing.


"Dadah, Kak," kata Tasya sembari melajukan mobilnya dan melambaikan tangan dari jendela.


Zea pun tersenyum dan melambaikan tangan kepada Tasya. Adik kecilnya kini sudah tumbuh dewasa dan cantik. Dia sangat senang bertemu Tasya.


...~ • ~...


Seseorang memasuki ruangan kerja Viko, terlihat Bella membawa bingkisan yang sengaja dia bawa dari apartemennya. Viko cukup heran karena dia hanya memberitahu kantornya tapi wanita itu bisa sampai di sini.


"Nggak emang sengaja aja mau ke sini, lo udah makan malam?" Tanya gadis itu perhatian.


"Belum, bentar lagi kayanya gua pesen," jawabnya santai dan duduk kembali di kursinya.


Bella duduk di kursi tamu sembari menaruh satu kotak makanan di meja, dia sengaja menyiapkan makanan itu untuk Viko. Bella memang pintar memasak, turunan dari Ibunya.


"Ini apa?" Tanya Viko tak paham.


"Makan malam, ya gue iseng aja sih masak. Karena mau ke sini yaudah gue bawain. Semoga lo suka ya," kata Bella sedikit terkekeh.


Viko tersenyum dan membuka kotak makannya. Ternyata itu curry dan katsu. Viko lumayan menyukainya, dia akhir-akhir ini lebih banyak memakan fast food yang lumayan cukup membosankan.


"Gak usah repot-repot padahal, gua jadi gak enak," ucap Viko.


"Gapapa kali santai, gue seneng kok dan gak ngerasa di repotin. Makan lah, nanti keburu dingin gak enak," kata Bella sambil tersenyum.

__ADS_1


Viko memakan makanannya dengan lahap, Bella senang melihat Viko menyukai apa yang dia buat. Sudah baik, tampan, dia juga menghargai usaha orang lain. Itu kenapa Bella menyukai Viko. Bukan karena ini membalas Tasya saja.


"Gimana, enak?" Tanya Bella.


Viko pun mengangguk. "Makasih ya, Bell. Gua emang akhir-akhir ini lagi sering makan fast food, jadi ya lumayan bosen."


"Kalau lo mau gue bisa bawain setiap hari kok. Gue emang suka masak aja sih daripada beli, karena lebih enak aja kalau masak sendiri dan lebih hemat," balas Bella.


"Gak usah, ngerepotin," kata Viko sembari melihat ke arah Bella.


"Engga lah, tenang aja. Nanti kalau gue masak bakalan gue bawain buat lo," ucap Bella senang.


Viko mengangguk-nganggukan kepalanya. Lumayan juga untuk menghemat. "Thanks, ya."


Bella tersenyum. Satu langkah berhasil dia pijak, orang tuanya pernah bilang. Memikat seorang lelaki itu bisa dari perutnya. Kalau pintar masak dan orangnya suka, bisa jadi juga dia cepat jatuh hati.


"Oh iya, lo pulang jam berapa?" Tanya Bella pada Viko.


"Entah, pekerjaan gua masih banyak. Kayanya bakalan lembur, tapi kalau gak lembur pun gua bawa ke rumah kerjaannya," jawab Viko sembari fokus pada laptop dan makanannya.


"Oh gitu, lo jangan terlalu memforsir diri tau. Nanti kalau kecapean yang ada lo tuh gak bisa ngapa-ngapain akhirnya kerjaan bertumpuk-tumpuk karena lo sakit, ujungnya? Keteteran. Apalagi lo pulang kuliah, langsung ke kantor buat meriksa berbagai berkas, pasti cape banget" peringat Bella.


"Iya-iya, gua juga inget itu kok. Sekarang masih bisa ke handle dan bisa gua tangani," balas Viko sambil tersenyum.


"Iya belum, harus jaga dari sekarang, Vik. Kedepannya juga kampus bakalan semakin sibuk dan satu lagi yang penting, angin malam itu gak baik. Walaupun lo pake mobil ya sama aja, jadi harus diperhatiinn betul-betul," ucap Bella lagi.


"Iya, Bell. Lo kaya Tasya aja ya sekarang, bawel kalau urusan kesehatan. Gue jadi kangen dia," ucap Viko spontan.


Sungguh, mood Bella yang tadinya bagus malah hancur seketika ketika Viko menyebutkan nama Tasya. Tidak bisakah nama itu menyingkir saja sebentar?


Tapi tidak apa-apa, mendekati Tasya mungkin bisa lebih dekat juga dengan Viko dan perlahan dia bisa membuatnya terbiasa dengan dirinya, bukan dengan Tasya.


Bella hanya terkekeh mendengar ucapan Viko, dia memilih untuk diam dulu takut keceplosan kesal di hadapan Viko. Dia sengaja menunggu Viko menyelesaikan pekerjaannya dengan alasan dia ke sana menggunakan taxi. Jadi dia akan pulang menumpang pada Viko.

__ADS_1


__ADS_2