
Sudah 3 hari Tasya di rumah, besok dia harus kembali ke kampus untuk melakukan aktivitas rutinnya. Dia senang walaupun masih belum mau bicara dengan Viko, tapi perlahan semuanya membaik.
Seperti saat ini, rumahnya ramai. Amara dan Radit yang pulang tidak terlalu malam dan juga teman-temannya yang meluangkan waktu ke rumah Tasya untuk sekedar menghiburnya.
"Lo tau gak ya pertama kali gue disuruh periksa gigi manusia asli, gue mual. Gue gak biasa gitu, tapi kan harus profesional, jadi gue ngelakuinnya dengan tertekan," ucap Monik.
Mereka pun tertawa mendengar cerita Monik sebagai anak Kedokteran Gigi. Pasalnya ada saja kelakuan Monik di sana. Bahkan dia pernah berdebat dengan teman sekelasnya yang kemayu dan Monik yang terlalu bar-bar.
"Kebayang sih muka si Monik kalau tertekan gimana, hahahaanjirr udah gua bilang masik FK aja. Lu sih," kata Yoda sembari menabok lengan Monik.
"Yeuu tapi enak jadi anak FKG, berasa punya kursi tahta. Kalau di lab gua tukang mainin kursi naik turun gitu. Terus gua diamuk sama dosennya ahaahha," ucap Monik jujur.
"Sumpah lo begitu? Katro banget anjir hahahaha," sahut Belva yang tidak bisa menahannya.
"Asli pernah ya ada prof yang masuk matkul gitu, giginya ke depan. Rasanya pingin gue cabutin."
"Jangan gila lu, durhaka lu sama dosen begitu. Tapi kalau gua jadi lu juga sama sih hahaha," kata Angkasa.
Mereka semua tertawa jika Monik sudah bercerita. Ada saja cerita di setiap harinya yang siap dia bagikan kepada teman-temannya itu. Sebagai kaum minor tentu ceritanya yang selalu ditunggu-tunggu oleh mereka.
Radit yang mengikuti percakapan anak-anak beranjak dewasa itu pun ikut tertawa sembari memeluk adiknya itu. Dia senang kalau Tasya bisa kembali tersenyum sekarang. Begitu juga dengan Tasya, dia senang karena Abangnya menepati ucapannya.
"Gila Tasya enak ya punya Abang baik, lah abang gue di rumah kayanya laknat betul," ucap Belva yang melirik ke arah Tasya dan Radit.
"Nanti nangis, adek gua hobinya nangis," ucap Radit sambil mengancak-ngacak rambut Tasya.
"Gak ih, udah mau 20 tahun juga," kesal Tasya.
"Oh dia ngode bentar lagi ulang tahun," ledek Al.
__ADS_1
"Enggaa, Ya Allah. Gue cuma bilang kalau gue tuh udah mau kepala dua, jadi gue gak cengeng lagi kaya apa yang dibilang bang Radit, gitu," jelas Tasya.
"Oh iya bentar lagi ada yang ultah, tahun kemarin dia nagis karena kita bawa ke kandang buaya hahahaha," celetuk Yoda.
"Gakk!!! Gak mau lagi, serius itu gue ketar-ketir. Emang kalian gak ada akhlak," kesal Tasya.
"Tapi seru ngerjain lo, asal lo tau sebenernya itu buaya diiket mulutnya makanya kita santui," ucap Belva.
"Iya tapi gua yanh disuruh ngiket bareng pawangnya, anak babi," kesal Angkasa.
"HAHAHHAHA ANJIR GUE MASIH INGET ANGKASA GEMETER," ucap Monik sambil terbahak-bahak.
"Parah sih padahal gue udah nangis kejer. Jahat banget!" Kesal Tasya.
"Ululu kasian adek abang dinakalin temen-temennya, besk besok kalian jangan ngerjain adek gua! Kalau gua ikut boleh," ucap Radit.
Mereka semua pun tertawa, memang paling enak itu adalah mengerjai Tasya. Karena dia gampang diculik tapi tidak baperan.
Di sisi lain Viko khawatir dengan keadaan Tasya. Apakah Tasya sangat marah padanya? Dia bahkan tidak bisa tidur semalaman memikirkan hal ini. Dia merasa Tasya tau tentang dia dan Bella. Entah itu hanya perasaan saja karena Viko melakukan kesalahan?
"Gua gak mau kehilangan, Tasya," gumam Viko.
Tiba-tiba notif ponselnya berbunyi. Satu minggu lagi Tasya ulang tahun. Dia harus memikirkan apa yang harus dia berikan pada Tasya.
Viko mencari beberapa kalung untuk dia pesan. Sedikit tersenyum saat melihat 1 set gelang dan kalung bermotif kupu-kupu simpel. Tasya pasti akan menyukai ini, Viko sangat hafal dengan gadisnya yang selalu menyukai hal simpel tapi apa yang dia kenakan selalu terlihat mewah dan elegan.
Tapi sesaat Viko berpikir, apakah Tasya saat ulang tahunnya akan terus marah pada Viko? Terakhir mereka bertengkar di Bandung bahkan bisa sampai 2 Minggu lamanya.
Dia mondar-mandir cukup lama. Tanpa berpikir panjang dia mencari tiket untuk penerbangan ke Surabaya. Cara satu-satunya masalah ini terselesaikan adalah, menemui Tasya secara langsung. Pasti Tasya tidak akan tega menolak kehadiran Viko yang sudah jauh-jauh datang untuknya. Saat sibuk memilih tiket pesawat, Bella datang menghampirinya.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Bella yang penasaran dengan sikap Viko yang kebingungan dari tadi.
__ADS_1
Bella melirik ponsel Viko yang sedang mencari tiket pesawat ke Indonesia. Tentu dia harus ikut kemana pun Viko pergi. Dia tidak mau memberi kesempatan untuk Tasya merebut setengah hati yang sudah berhasil dia dapatkan. Dia harus ikut apapun caranya!
"Ke Surabaya? Mau ngapain? Ketemu Tasya?" Tanya Bella terlihat emosi.
"Sebentar lagi Tasya ulang tahun, aku mau kasih kejutan buat dia, Bell. Masalah aku sama dia harus selesai dengan cepat, aku tau dia kalau marah gak akan semudah itu buat maafin aku," jawab Viko.
"Kenapa sih sepenting itu Tasya buat kamu? Terus aku apa Viko? Aku cuma pelarian kamu di saat bosen aja, gitu?" Tanya Bella tak terima dengan perilaku Viko.
"Gak gitu, Bell. Aku juga sayang kamu, bahkan aku selalu ngikutin kemauan kamu buat gak terus terusan hubungin Tasya saat lagi sama kamu, kan? Sekali ini aja, ulang tahun dia," pinta Viko.
"Egois!! Kamu harusnya bisa pilih salah satu. Kamu mau aku atau Tasya, hah?" Amarah Bella memuncak.
"Bella jangan bikin rumit, tolong!"
"Oke aku gak akan bahas itu. Tapi aku ikut! Mama Papaku juga di Surabaya. Aku mau ikut!" Ucap Bela mutlak.
"Bell, gak bisa dong. Tolong ngertiin, kalau mau kamu jangan bareng aku perginya. Kita pergi masing-masing," pinta Viko.
"Aku mau sama kamu! Pokoknya aku ikut atau sekarang juga aku hubungi Tasya di instagram dan kasih tau hubungan kita selama ini ke dia!" Ancam Bella.
"Bell, bisa gak sih jangan ancam aku kaya gini?" Ucap Viko frustrasi.
Terkadang gadis ini begitu keras kepala, Viko sampai pusing jika keinginan Bella sudah mutlak harus dituruti. Kalau tidak dia akan benar-benar nekad. Entah menyakiti dirinya sendiri atau mengancam akan memberitahu Tasya soal hubungan mereka.
"Gak bisa, karena aku mau ikut. Kamu gak bisa ya ninggalin aku sendiri di sini. Terus kamu enak-enakan sama Tasya di sana. Kalau aku ikut sekiranya kamu bisa adil bagi waktu antara aku sama Tasya walaupun diem-diem!"
"Oke-oke tapi kamu janji gak macem-macem di sana. Apalagi sampai bilang sama Tasya," tawar Viko.
"Oke deal," ucap Bella tersenyum.
Tanpa banyak bicara Viko memesan dua tiket untuk pulang ke Indonesia. Lebih tepatnya dia menuju Surabaya. Tadinya dia berpikir untuk pulang ke Bandung, tapi Rena Ibunya sudah sering bolak-balik ke Amerika, jadi akan dia pikirkan setelah menyelesaikan masalahnya di Surabaya bersama Tasya. Dia harus segera menuntaskan permasalahannya dengan Tasya, dia tidak mau kalau Tasya berpikir untuk mengakhiri hubungan mereka. Tentu Viko tidak akan pernah mau dan tidak akan siap jika harus kehilangan Tasya.
__ADS_1
Bella tersenyum senang mungkin dia akan diam, tapi dia akan mengambil kesempatan untuk membuat hubungan Tasya dan Viko benar-benar berakhir dipertemuan mereka. Salah kalau Viko mempercayai Bella, justru ini adalah kesempatan baik untuk hubungannya dengan Viko. Lihat saja Bella akan menuntaskannya saat itu juga. Membuat Tasya hancur dan juga Al.