
"Baaaaang!! ABANGGG!!" Teriak Tasya sambil menuruni anak tangga. Dia sudah sibuk dari pagi kesana kesini, entah apa yang dia cari.
"Apa, Toa amat lu," kesal Radit dan melemparkan kulit kacang pada Tasya. Kebiasaan Tasya adalah berteriak-teriak di rumah seperti di hutan. Tak jarang membuat telinga sakit karena kerasnya.
"Aihh, emang gue gajah di lempar kacang. Mana kulitnya pula," dengus Tasya sambil merapikan rambutnya.
"Apa lu panggil-panggil gua? Kangen?" tanya Radit asal tanpa berpaling dari Tv.
"Kotak musik yang di kasih Aldo gue taro di dus. Tapi dus nya ilang," kata Tasya.
"Hah? Dus? Dus yang mana?" tanya Radit bingung.
"Itu loh, yang gue taro di kolong kasur, ilang gatau kemana," jawab Tasya.
"Gak mungkin ilang lah, paling ditaro papa di gudang," kata Radit asal.
"Ishh main taro aja." Tasya kesal, pasalnya dia tidak suka kalau seseorang memindahkan barang-barangnya tanpa izin, itu akan membuat Tasya kesusahan mencarinya yang terkadang pelupa.
Tasya langsung menuju gudang. Entah kenapa di sangat ingin memainkan kotak musik pemberian Aldo itu. Sebelum masuk, tak lupa Tasya memakai masker. Karena Tasya alergi dengan debu.
Tasya tidak pernah ke gudang, selain karena alergi dia juga tida pernah menyimpan apapun di sana. Ruanggannya rapi, namun terlihat berdebu. Banyak dus yang diselimuti kain putih membuat debu-debunya semakin terlihat jelas.
"Yaampun, ini kaya gudang aja. Kotor, banyak debu," gumam Tasya.
Tasya membuka dus demi dus. Lalu seketika Tasya menemukan semua mainan masa kecilnya di sana. Baju-bajunya sewaktu kecil pun masih ada. Tasya jadi tertawa sendiri saat mengingat masa kecilnya.
Tasya lalu menarik dus yang diletakan paling bawah. Sepertinya itu dus yang dia cari. Dengan perlahan, dia membuka dus itu. Ternyata isinya adalah photo-photo lama.
"Hah? Photo masa kecil gue. Bahkan gue aja belum liat photo-photo ini." Baranga-barang itu menarik perhatiannya. Dia tertawa sendiri saat melihat dirinya sewaktu kecil.
Tasya mengambil bingkai-demi bingkai yang terletak disana. Melihat photonya yang masih imut-imut.
"Ya ampun, kok gue lucu ya," gumam Tasya sambil terkekeh, Tasya mengambil ponselnya dan memotretnya. Sejenak dia beranjak keluar mencari kanebo.
Tasya berlari ke arah garasi, dan mengambil apa yang dia cari. Lalu kembali lagi ke gudang. Tasya mengelap bingkai fotonya. Dia akan membawanya ke kamar dan memajangnya di dinding.
Dia mengambil lagi album photo, bahkan 1 album penuh wajahnya. "Ternyata gue unyu bawaan lahir. Wkwkw," gumamnya lagi.
"Aaaaa kenapa gue baru liat photo-photo ini. Pasti abang deh yang sembunyiin ini. Padahal gue nya lucu-lucu. Kan lumayanlah bisa masuk snapgram."
Tasya terus mengambil bingkai-bingkai itu. Hingga tersisa 2 bingkai terakhir yang telungkup. Perlahan dia mengambilnya.
"Hah, dia siapa ya. Kok gue baru liat. Apa gue tanya abang aja ya." Sebuah photo wanita berparas cantik yang tidak dia kenali. Baru kali ini dia melihatnya. Aneh, kenapa papanya menyimpan photo ini?
"Ah, udahlah gue taro dulu." Tasya menyimpan kembali bingkainya, lalu mengambil bingkai selanjutnya.
Dia tertegun, wanita itu kembali ada di bingkai selanjutnya. Dengan gaun putih pernikahan yang sangat cantik. Dan papanya tengah menggendong wanita itu. Pikirannya menuju ke satu titik. Dia kaget dan matanya mulai berkaca-kaca saat melihat apa yang ada di hadapannya ini. Wanita itu, ternyata adalah.
"Ma-mama," lirihnya.
"Ini mama?" Tasya terharu, setelah sekian lamanya Tasya baru tau wajah orang yang melahirkannya. Dia begitu bahagia. Antara kaget, senang, dan perasaan lainnya. Dia langsung membawa bingkai itu dan berlari menemui Radit.
"ABANGGGG!" Tasya berlari ke arah ruang keluarga sambil membawa bingkai photo itu.
"Apa? Loh, kok lu nangis?" tanya Radit cemas.
__ADS_1
Tasya langsung duduk di sebelah Radit.
"Bang, bilang sama gue. Ini mama, 'kan?" tanya Tasya sambil memberikan bingkai photo pada Radit.
Radit mematung, dia tak tau harus berkata apa. Photo ini sudah dia simpan agar Tasya tidak mengetahuinya. Tapi kenapa bisa Tasya menemukan Photo-photo itu?
"Bang jawab, kasih tau gue," rengek Tasya.
"Simpen," perintah Radit sambil memberikan Photo itu.
"Kenapa? Gue tanya loh bang. Lo gak mau jawab?" Tasya bingung. Bahkan setelah melihat ini pun dia begitu marah. Padahal Tasya hanya ingin mengetahui kebenarannya.
"Sya, jangan bikin abang kasar kaya waktu itu ya."
"Gue gak minta apa pun kok, Bang. Kalau lo gak bisa jelasin ini sama gue, tolong jawab ya atau bukan. Itu doang."
"Iya, itu mama. Sekarang lu mau apa?" ketua Radit.
"Kenapa lo sama papa gak pernah kasih tau gue. Lo bilang kalau photo mama udah gak ada semua. Tapi buktinya?"
Radit tak mau semakin emosi. Dia beranjak pergi dan meninggalkan Tasya. Dia tidak peduli dengan apapun, karena jika dia sampai bersikap kasar pada Tasya pada akhirnya dia juga akan merasa sangat bersalah.
"Argghht, kenapa semua orang di rumah ini nutupin segalanya dari gue?!"
...~ • ~...
Disinilah Tasya berada. Ruang OSIS SMA Veteran. Dia sangat butuh tempat ini sekarang. Walaupun ini hari libur, dia bisa masuk ke dalamnya. Sebuah derap langkah terdengar dari luar ruang OSIS.
"Sya," panggil seseorang yang beberapa detik lalu memasuki ruangan ini. Dia menatal heran kenapa wanita ini ada di ruangan OSIS di hari libur.
"Gua lagi pingin ke sini aja."
"Oh." Tasya hanya mengangguk, dia tidak berminat untuk menanyakan ini itu untuk sekarang. Dia hanya ingin menenangkan diri dari pikiran-pikiran yang membuatnya jengah.
"Lu kenapa?" Chandra memulai pembicaraan saat terjadi keheningan beberapa menit lalu.
"Gapapa kok," jawab Tasya berbohong. Dia tidak ingin membebani seseorang dengan masalahnya. Dia selalu merasa tidak enakan.
"Gua tau lu lagi apa-apa," ucap Chandra yang peka saat melihat raut wajah Tasya yang kusut dan matanya yang sedikit sembab akibat menangis.
"Biasa." Tasya menarik napasnya panjang, apakah tepat jika berbicara dengan chandra?
"Nyokap?" Tebak Chandra lagi.
"Gue baru tau wajah nyokap gue kaya gimana."
"Ya yang penting kan lu udah tau," kata Chandra.
Chandra pun memutuskan untuk duduk di sebelah perempuan itu.
"Tapi-"
"Sya, gua tau. Pasti lu butuh penjelasan kan?" Chandra menatap gadis itu. Dia paham apa yang Tasya pikirkan. Tasya pun mengangguk atas pertanyaan itu. Hanya itu sebenarnya yang dia butuhkan.
"Gak semua butuh alasan. Bisa aja abang atau bokap lh ngelakuin ini demi kebaikan lu sendiri," lanjut Chandra.
"Gue ga tau, gue bingung."
__ADS_1
"Ada satu hal yang gak pernah lu tau dari gua."
"Apa?"
"Gua juga gak pernah tau, wajah nyokap gua kaya gimana."
"Bukannya nyokap lo masih ada ya?"
"Nyokap gua meninggal waktu ngelahirin gua. Dan mama gua yang sekarang, dia itu nyokap tiri gua. Dari gua masih bayi, bokap gua cari nyokap baru buat gua."
"Tapi mama tiri lo baik kan?"
"Banget, dia sayang sama gua. Gua udah kaya anaknya aja. Nah jadi sekiranya lu masih beruntung daripada gua."
"Beruntung gimana?"
"Nyokap lu masih hidup, lu udah tau wajahnya, itu semakin mempermudah lu buat cari nyokap lu kan? Sementara gua? Nyokap gua udah tenang di sana."
"Hmm iya sih. Lo bener, Chan."
"Semuanya bakalan mudah, kalau lu buat mudah. Semuanya juga akan rumit, kalau lu memperumit jalan hidup lu."
"Btw makasih loh advicenya. Maaf buat kejadian waktu itu," ucap Tasya.
"Lupain."
"Lo beneran suka sama gue?"
Chandra pun langsung berdiri. Dia sungguh tak bisa menjawab pertanyaan Tasya saat ini.
"Gua ada urusan, lu jangan terlalu lama di sini," katanya lalu pergi meninggalkan Tasya sendiri.
Tasya tak pernah mengerti dengan jalan pikiran pria itu. Daripada ambil pusing, Tasya lebih baik menulis novel onlinenya untuk mengisi waktu. Jari-jarinya berhenti mengetik. Ada notif pesan dari Radit.
...Raditya Putra...
Di mana?
^^^Di mana pun gue, apa lo peduli?^^^
Please, gua udah males berdebat masalah ini sama lu.
^^^Kalau lo aja udah males, apalagi gue. Gue udah cape dilanda rasa penasaran. Sementara lo? Lo malah sengaja nutupin semuanya dari gue.^^^
Gua ngelakuin itu juga ada alasannya. Demi kebaikan lu juga.
^^^Kebaikan mana yang lo bilang? Kalau gue gak ke gudang tadi, mungkin gue gak akan pernah tau siapa mama gue.^^^
Gua minta lu balik sekarang.
^^^Kenapa lo malah alihin pembicaraan. Lo selalu ngehindar dari pertanyaam gue yang ini, Bang.^^^
Gua gak mau bahas. Gua udah males bilang sama lu. Gua udah bilang berkali-kali tapi lu tetep gak pernah mau ngerti.
^^^Apa harus selalu gue yang ngertiin lo, Bang. Gue juga pingin dingertiin. Bukan lo aja. Kalau lo gak mau bahas ini, oke gapapa. Gue NGERTI, kok. Gue udah terbiasa ngertiin lo. :))^^^
Tasya langsung mematikan data ponselnya. Tak akan ada gunanya berdebat. Radit pun akan tetap pada pendiriannya untuk bungkam. Lebih baik dia mencari taunya sendiri.
__ADS_1