
Di sepanjang jalan Tasya tak berhenti menangis, Viko rasanya sakit melihat keadaan Tasya yang tampak kacau. Sementara Tasya kini seperti dihantam ribuan batu, saking banyaknya dia sampai tidak tau sakitnya berasal dari mana. Dia merasa begitu bersalah dan menjadikan dirinya tersangka akibat kematian ayahnya.
"Vik, gue mau nyusul papa," rintih Tasya dalam tangisannya.
Seketika Viko memberhentikan mobilnya, perlahan dia menggenggam tangan Tasya, menyalurkan kenyamanan agar membuat Tasya tak merasakan sakit sendirian.
"Jangan bilang gitu. Gua tau lu orang yang kuat," ucap Viko dengan nada menenangkan.
"Gak bisa, Vik. Gue gak kuat, gue mau menghilang aja dari sini. Papa gue ninggalin gue karena kelakuan gue, mama gue gak anggap gue ada bahkan dia nyesel lahirin gue, bang Radit benci sama gue. Gue gak bisa. Gue udah gak punya siapa-siapa lagi." Tasya langsung menaikkan lutut dan memeluk lututnya erat tanpa melepaskan genggamannya dengan tangan Viko.
"Nangis aja, gapapa. Lu nangis sampe lega. Biar gua anter lu pulang dulu dengan selamat."
Viko pun membiarkan Tasya untuk menangis, sambil kembali menyetir meskipun dengan satu tangannya. Viko sangat mengerti bahwa gadis yang di sebelahnya ini butuh banyak orang untuk berada di sampingnya saat ini.
Beberapa menit, akhirnya mereka sudah sampai di depan rumah Tasya. Terlihat Sherli, Sarah, dan Niken sudah menunggu di depan rumah Tasya. Mereka khawatir begitu tau apa yang Tasya alami dari Viko.
Saat Tasya keluar dari mobil mereka pun langsung memeluk Tasya. Viko sudah memberi tau mereka semua tentang keadaan Tasya. Sampai akhirnya mereka memeluk Tasya sambil menangis. Mereka tidak bisa melihat sahabatnya seperti ini. Tasya yang selalu ceria, berubah menjadi penuh kesedihan.
"Gue yang buat bokap gue meninggal." Tasya mengeratkan pelukannya pada Sherli.
"Udah, jangan bicara dulu. Gue tau perasaan lo, gapapa lo nangis aja." Sherli mengelus punggung Tasya lembut, berharap akan membuatnya tenang walaupun sedikit.
"Syaa kita ada buat lo, lo gapapa nangis, lo gapapa sedih, kita bakalan terus di samping lo kok," lanjut Sarah.
"Iyaa, lo juga jangan ngerasa bersalah. Ini takdir, Sya. Jangan salahin diri lo sendiri, gak baik." Kini Niken yang berbicara sambil memeluk Tasya erat.
"Tapi kalau gue gak keras kepala, pas—"
"Ssstt udah, masuk dulu yuk. Jangan di sini, gak baik," ajak Viko.
Mereka pun masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar Tasya. Viko sudah menghubungi ketiga temannya, agar semakin banyak yang membantunya untuk menenangkan Tasya, selain itu takut kalau-kalau ada persiapan untuk acara pengajian di rumah Tasya.
Tasya kini terduduk di kasurnya, ditemani ketiga temannya. Sedangkan Viko duduk di kursi dengan ketiga temannya yang baru datang sambil terus menatap Tasya yang masih menangis.
__ADS_1
"Lo harus ikhlas, kasian bokap lo pasti sedih liat anak kesayangannya nangis kaya gini," ucap Sarah.
"Gue yang bikin bokap gue meninggal, bokap gue pasti nyesel punya anak kaya gue," cicit Tasya.
Sherli memegang kedua pipi Tasya, menatapnya lembut sambil menghapus air mata Tasya.
"Syaa, bukan salah lo. Berkali-kali gue bilang, lo gak salah. Kejadiannya aja yang bertepatan, lo jangan salahin diri lo terus dong, Sya. Gue sakit liat lo begini, gue paham lo sedih, lo kehilangan, lo kecewa, gue tau. Tapi berhenti nyalahin diri lo sendiri ya?" Sherli kini tak bisa menahan lagi air matanya yang sedari tadi dipaksanya untuk tidak pecah.
"Lo jangan nangis, gue malah makin mau nangis," ucap Tasya sambil memeluk Sherli erat.
Malam itu terasa gelap bagi mereka, melihat Tasya terus menangis. Mereka bisa tenang setelah Tasya meminum obat lalu tertidur karena efeknya. Niken terus mengelus rambut Tasya, menatap Tasya yang sepertinya masih terlihat banyak beban meskipun sudah tertidur.
"Bang Radit beneran marah?" tanya Sarah pada Viko.
"Iya, gua baru liat dia semarah itu. Padahal dia sayang banget sama Tasya," jawab Viko.
"Lagian mamanya ini kenapa bisa dia kaya gitu ke Tasya. Gue gak paham, padahal Tasya anak kandungnya loh." Sherli tampak kesal saat dia mengetahui kalau ibunya Chandra adalah orang tua kandung Tasya.
"Menurut gua, ini salah mamanya bukan salah Tasya. Dia kan gak tau kebenarannya. Alm, bapaknya Tasya baik banget nutupin kejahatan mantan istrinya," kata Bagus.
"Udah, gua rasa juga dia kaget. Dia baru tau tadi katanya. Jadi gua biarin dulu."
"Iya sih, kasian banget Chandra. Tapi temen gue lebih kasian." Niken memeluk Tasya erat, dia begitu menyayangi sahabatnya ini.
"Yang penting kalian ada buat si Tasya sekarang. Kasian kalau dia sendirian nanti mikir aneh-aneh, gua khawatir dah," ucap Reza.
"Sama, apalagi tadi dia bilang pingin mati." Viko terus menatap Tasya lekat, berharap besok pagi dia bisa lebih kuat dari malam ini.
...~ • ~...
Kini pemakaman pun sudah selesai dilakukan, Tasya masih menangis sambil memeluk nisan ayahnya. Tadi dia sudah pingsan 2 kali, sampai membuat teman-temannya khawatir, sementara Radit tidak berbuat apa-apa dan tetap berdiam diri seolah tidak peduli.
Radit menatap Tasya, ada rasa kebencian namun tidak dipungkiri kalau Tasya adalah adiknya. Daripada dia meledak, dia memutuskan untuk pergi dari pemakaman ini.
Viko menatap kepergian Radit, dia paham kalau Radit juga perlu waktu untuk mencerna semua kejadian ini. Yang dia perlu lakukan sekarang adalah, terus bersama Tasya.
__ADS_1
Niken merangkul pundak Tasya, berusaha menjadi sandaran jika sewaktu-waktu dia membutuhkannya. Sementara yang lain hanyut dalam pikiran masing-masing.
Perlahan suara derap langkah terdengar, Tasya mengadahkan kepalanya setelah melihat 2 pasang sepatu berhenti di sampingnya. Perlahan Tasya berdiri, berusaha menatap seseorang yang baru saja mematahkan hatinya. Lidya dan Chandra datang ke pemakaman itu.
Tasya mencoba menatap mereka dengan berusaha tegar, berusaha menahan amarah dan kecewa yang dia rasakan. Dia tidak ingin keributan terjadi di depan tanah ayahnya yang masih basah.
"Ada apa?" singkatnya.
"Sya mam —"
"Jangan mendekat." Tasya memotong ucapan Lidya yang berusaha memegangnya.
"Maafin mama, sayang," ucap Lidya perlahan.
Tasya hanya terkekeh mendengar ucapan dari seseorang yang katanya seorang ibu. Tak terasa air matanya jatuh lagi, tapi dia tidak mau terlihat lemah dan langsung menyeka air matanya.
"Makasih atas bela sungkawanya. Tapi maaf saya mau pulang," ucap Tasya perlahan.
Lidya mencoba memegang tangan Tasya, tapi Tasya tidak peduli dan langsung meninggalkan tempat itu. Hatinya masih sakit jika teringat perkataan Lidya kemarin yang terang-terangan menolaknya. Viko menyuruh agar semuanya menyusul Tasya, sementara Viko masih menatap Lidya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Selangkah, dua langkah, Viko menghampiri Lidya dan dibalas tatapan oleh Lidya.
"Saya bukan keluarga Tasya, bukan bagian dari om Jonathan juga. Tapi menyayangkan sikap tante sama keluarga mereka." Viko memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang dia pikirkan.
"Maksud kamu?" tanya Lidya tak mengerti.
"Belasan tahun om Jonathan menyembunyikan kesalahan tante, sampai dia mendapatkan kebencian dari anaknya sendiri. Belasan tahun juga Tasya hidup dengan harapan dan bayang-bayang ibunya yang dianggap sebagai malaikat." Viko menghentikan perkataannya sejenak.
"Tapi sayang, ketika dia tau malaikat yang dia bayangkan selama ini tidak seperti apa yang dia bayangkan, berharap bisa memeluk dengan erat, tapi yang dia dapet penolakan. Ditinggal ayahnya dengan bayang-bayang penyesalan oleh perbuatan yang dia lakukan karena orang-orang menutupi keburukan tante." Viko pun bergegas meninggalkan tempat itu, sementara Chandra hanya bisa terdiam, dia tidak tau harus berbuat apa.
Lidya menangis, dia sadar kalau selama ini telah begitu buruk sebagai seorang ibu. Bahkan kemarin dia menolak Tasya. Melihat Tasya hancur, naluri keibuannya pun terasa datang dan merasakan apa yang dirasakan Tasya.
"Ma, saya kecewa sama mama," ucap Chandra.
"Mama tau, mama orang yang buruk. Mama mau memperbaiki semuanya." Lidya mencoba meyakinkan Chandra.
__ADS_1
"Percuma, Tasya udah kehilangan semuanya. Semua itu karena mama." Chandra tidak bisa menahan emosinya lalu dia pergi meninggalkan Lidya.