Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Aldo Prayoga


__ADS_3


Hari ini cukup melelahkan bagi mereka, setelah bersenang-senang dengan OSIS, mereka pun beranjak pulang. Seperti perjanjian di kantin tadi, Tasya akan pulang bersama Viko.


Mereka bersenda gurau di tengah perjalanan menuju parkiran. Ada yang masih bertengkar karena tak terima balonnya diinjak, ada yang saling jahil, ada juga yang terdiam.


Viko dan Tasya berjalan beriringan, namun mereka hanya sibuk mendengarkan pertengkaran Sherli dengan Arka. Benar-benar dua sejoli ini penuh drama, ada saja yang mereka ributkan.


"Eh itu siapa?" tanya Niken sambil menunjuk seseorang yang berada di gerbang sedang menatap ke arah mereka.


Pria itu cukup tampan, pakaian dengan gaya casual membuatnya semakin terlihat tampan bahkan dari kejauhan dengan memegang bouquet bunga di tangannya. Apakah dia akan menembak seseorang seperti di novel-novel?


"Eh iya, siapa ya kok ganteng?" ucap Sherli.


"Yeuu giliran ganteng aja gercep," kesal Arka.


"Kenapa? Iri karena gak gue bilang ganteng?" ucap Sherli sewot.


"Sorry, tanpa diakui emang gua udah ganteng dari kandungan emak gua ye," kata Arka percaya diri.


"Tapi kayanya dia bukan anak sini gak sih? Soalnya gue baru pertama kali liat dia, apa gue yang kudet ya?" ucap Sarah kebingungan.


"Pacarnya anak sini kali," kata Reza.


"Pacarnya anak OSIS? Kan yang lain uda pada pulang," sahut Sarah.


"Tapi bisa jadi sih," gumam Niken.


Mereka terus berjalan sambil berbisik-bisik, Tasya pun akhirnya minat dengan pembahasan mereka dan melihat ke arah objek yang dimaksud. Dia terdiam sejenak, orang itu tersenyum saat sadar akan kehadiran Tasya. Ternyata ini kejutan yang sudah dipersiapkan oleh Radit untuk Tasya.


"Baby ... " Orang itu berteriak semuanya mencari orang yang dimaksud.


"AL!!" teriak Tasya sambil berlari dan memeluk pria jangkung itu.


"Heyyy, miss me?" tanyanya sambil mengelus pipi Tasya dengan tangan yang satunya.


"Gak tau ah kesel, kenapa gak bilang-bilang kalau pulang," ucap Tasya sambil menangis.


"Gua baru sampe semalem, terus baru bisa ketemu sekarang. Ululu kasian kangen gua, maaf ya baru bisa pulang sekarang," ucapnya lembut sambil menghapus air mata di pipi Tasya.


"Ya kenapa gak bilang, kan gue bisa jemput lo di bandara sama bang Radit. Gue kangen lo, kangen." Tasya memeluk Aldo dengan erat.


"Gapapa, biar lu kaget. Suka liatnya."


"Banyak yang mau gue ceritain," cicit Tasya.


"Iya-iya, mau jalan dulu?" tanya Al dan dihadiahi anggukan oleh Tasya.


Aldo tersenyum melihat tingkah Tasya , dia pun membalas pelukan Tasya. Menurutnya gadis ini tidak berubah, masih cengeng, manja dan tentunya menggemaskan. Tasya selalu membuat dia khawatir dan ingin segera menemu gadis itu. Viko merasa panas, dia bertanya-tanya tentang siapa orang yang sedang memeluk Tasya sekarang?


"Yah boss, jangan insecure. Lu sama dia gantengnya sama kok. Tapi gantengan dia dikit," ucap Arka.


"Apasih," ketus Viko.


"Itu siapa ya? Sepupunya atau?" tanya Bagus.


"Gak deh, gue hafal semua sepupunya Tasya. Itu bukan kayanya, tapi Tasya gak pernah cerita soal orang itu."


"Apa pacar? Masa sih, dia jomblo gitu," gumam Sarah.


"Anjirr, tapi kalau diliat-liat romantis banget mereka," celetuk Bagus yang dihadiahi tatapan tajam dari Viko.

__ADS_1


Tasya menghapus air matanya, dia lupa kalau di sana masih ada teman-temannya, kan tidak enak kalau sampai dia mengacangi teman-temannya. Apalagi dia ada janji dengan Viko untuk pulang bersama.


"Biar gue kenalin lo ke temen-temen gue," kata Tasya.


"Terima dulu dong bunganya," ucap Aldo sambil memberikan bouquet bunga itu kepada Tasya.


Bunga mawar berwarna putih, itu adalah kesukaan Tasya. Lambang ketulusan dari siapapun yang memberinya. Tasya pun mengambil bouquet bunga itu dan tersenyum seraya menciumi wangi bunganya.


Tasya menarik lengan Aldo dan menghampiri temannya dengan sedikit senyum yang terpancar dari paras cantiknya. Bisa disimpulkan kalau dia sedang bahagia sekarang.


"Siapa itu, Sya?" tanya Sherli.


"Ini kenalin, Aldo. Al, kenalin ini temen-temen gue. Ini Sherli, ini Sarah, yang ini Niken. Kalau yang tinggi itu namanya Viko, ini Bagus dan terakhir ini Reza." Tasya memperkenalkan mereka semua satu persatu.


"Gua Aldo, kalian panggil gua Al aja atau apapun."


Mereka pun tersenyum canggung lalu menatap Tasya seraya meminta penjelasan tentang siapa orang yang dia kenalkan barusan. Tasya yang mengerti pun mengangguk.


"Oh iya Al ini dia itu —"


Suara ponsel Tasya pun terdengar, dilihatnya ternyata itu adalah Radit. Tanpa berlama-lama, Tasya pun mengangkat panggilannya.


"Halo, Abang."


"Gimana, suka sama kejutannya?" tanya Radit dari seberang sana.


"Oh jadi lo udah tau? Jahat banget gak ngasih tau."


"Kan kejutan."


"Makasih ya abang, gue suka kejutannya."


Radit pun mematikan sambungannya, dia tidak mau mengganggu Tasya dan Aldo. Dia tau kalau mereka berdua pasti saling merindukan satu sama lain.


"Vik, maaf kayanya gue gak bisa bareng lo," ucap Tasya perlahan.


"Gapapa santai aja," ucap Viko yang berusaha biasa saja di depan Tasya.


"Tapi lo udah nungguin gue tadi, gak enak." Tasya terlihat sangat merasa bersalah.


"Gapapa, Sya. Kasian juga Al udah ngejemput kesini, besok-besok aja bareng gua," kata Viko sambil sedikit tersenyum.


"Makasih ya lo udah paham, kalau gitu gue balik duluan yaa. Makasih buat hari ini," ucap Tasya berpamitan.


Mereka pun melambaikan tangan kepada Tasya dengan wajah senang, meskipun mereka sebenarnya masih bertanya-tanya tentang pria yang menjemput Tasya sekarang.


Tasya pun menaiki motor sport hitam milik Aldo. Dia sedikit kesusahan karena membawa bouquet. Setelah dirasa aman Aldo pun melajukan motornya keluar dari sekolah Tasya.


"Panas panas panas, padahal udah sore dah perasaan," ucap Arka memecahkan keheningan.


"Diem!!" bentak mereka berbarengan.


"Galak banget dah." Arka pun langsung mengunci rapat-rapat mulutnya.


"Jangan patah semangat bung, walaupun dia lebih ganteng tapi emang ganteng banget anjir," kata Bagus.


"Asuu, gak membantu banget lu," kesal Viko.


"Serius gue penasaran, itu siapa yaa. Masa sih Tasya punya pacar tapi gak bilang-bilang kita," kata Sarah.


"Kalau temen kenapa manis banget mereka tadi yaaa??" Niken berpikir sejenak.

__ADS_1


"Mau ikutin mereka?" tanya Sherli.


"Udah telat bodoh, mereka udah jauh. Udah ah gua cabut." Viko yang perasaannya tidak karuan pun memilih untuk cepat-cepat menuju parkiran. Setelah sampai dia pun segera meninggalkan sekolah dengan motornya.


"Galau dah si Viko," gumam Arka.


"Kasian dia jadi sadboy, kalian kan temennya hibur dong," ucap Sherli.


"Tar deh kita ke rumah Viko, gua harus balik dulu udah ditungguin nyokap," kata Bagus.


Mereka pun memilih untuk pulang daripada sibuk memikirkan kejadian tadi. Lagi pula mereka yakin kalau Tasya nanti akan memberitahu mereka.


...~ • ~...


"Arrghhtt." Viko membantingkan Tasnya ke kasur.


Dia terlihat frustrasi dengan pikirannya sekarang. Melihat Tasya dengan cowok lain membuat Viko kesal, apalagi mereka terlihat begitu dekat dan romantis, ditambah menurutnya cowok itu lebih tampan. Dia tidak bisa menerima itu.


"Astagfirullah sabar, Viko. Lu harus tenang, lu juga gak kalah cakep," ucapnya sambil menatap dirinya di cermin.


"Arrght anjirr tapi gua gak bisa liat kaya tadi, itu siapa dah?" Viko mondar-mandir tak tenang, rasanya dia ingin mencari Tasya sekarang dan membawanya pulang.


Viko mengambil ponselnya dan mencari nama seseorang yang sedang Viko pikirkan untuk dimintai keterangan.


Radit!


Viko pun menunggu Radit mengangkat panggilan darinya sambil mondar-mandir. Satu menit rasanya begitu lama, jantungnya berdebar dan napasnya tak karuan.0


"Halo, Bang," ucap Viko tak sabaran saat Radit mengangkatnya.


"Lu kenapa bege kaya abis dikejar anjing," kata Radit sambil tertawa dari seberang sana.


"Aduhh gak penting, Bang. Ada yang gua pingin tanyain ke lu."


"Apa apa? Tumben lu nanya ke gua."


"Lu tau cowok yang jemput Tasya ke sekolah tadi siapa?" tanya Viko memberanikan diri.


"Ahahahahahahaha kenapa? Lu cemburu ye?" ledek Radit.


"Aisshh gua serius, Bang."


"Siapa ya? Menurut lu siapa?"


"Kalau gua tau gak akan nanya ke lu."


"Oh iya."


"Jadi tu cowok siapa?"


"Kepo, makanya sat set sat set, ditikung orang mampus lu." Radit pun mematikan panggilannya, dia senang membuat anak orang ruwet karena penasaran.


"Anjir dimatiin." Viko melempar ponselnya ke kasur, menghubungi Radit tidak membantu sama sekali, yang ada dia diledek.


Perasaanya masih tidak karuan, dia duduk di samping kasurnya sambil mencoba untuk mengatur napas, berusaha berpikir positif dan tenang.  Beberapa menit pun berlalu, dia rasa cara ini cukup efektif membuatnya terhindar dari overthinking.


Namun tak selang beberapa lama ....


"Anjir!! Apa dia kemarin kaya nolak gua itu karena dia ada pacar ya?" gumam Viko.


Dia kembali menggaruk kepalanya frustrasi, ternyata overthinking itu tidak enak dan bukan cewek saja yang bisa mengalaminya, tapi cowok seperti Viko juga.

__ADS_1


__ADS_2