Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Rahasia Perjodohan


__ADS_3


Al melirik Tasya yang sejak tadi terdiam. Mereka sedang perjalanan menuju pulang, biasanya Tasya akan mengoceh tentang apapun. Al yakin kalau Tasya sedang memikirkan sesuatu. Namun dia bingung bagaimana cara menanyakannya.


"Lu kenapa sih?" Tanya Al pada Tasya yang kini menoleh ke arahnya dengan datar.


"Kenapa gimana?" Tanya Tasya pura-pura tak paham.


"Ya dari tadi diem terus, ada yang dipikirin?" Tanya Al dengan nada yang serius. Jujur dia khawatir sekarang.


Sebenarnya Tasya sangat ingin menceritakannya pada Al. Tapi sepertinya memang harus ada beberapa hal dalam hubungan yang harus dia keep sendiri. Katanya semakin banyak orang yang mencampuri sebuah hubungan, maka akan semakin rumit.


"Gapapa, gue gak kenapa-kenapa. Cuma cape aja kali ya. Gue kan kemarin-kemarin cuma tiduran, main, makan, sekarang udah ada kegiatan. Ditambah baru selesai ospek," ucap Tasya berbohong.


"Yakin cuma itu?" Bukan apa-apa, tapi Al sadar kalau Tasya begitu sejak bicara dengan Viko. Dia takut kalau sampai wanita yang ada di sampingnya ini terlalu memikirkan hal-hal berat dan menyimpannya sendiri.


"Beneran kok gue gak kenapa-kenapa, jangan khawatir," jawab Tasya sambil tersenyum.


Al hanya mengangguk-nganggukan kepala sembari fokus menyetir. Meskipun dia belum tuntas dengan pertanyaannya, dia berpikir kalau mungkin Tasya butuh waktu sendiri. Karena seorang Tasya tidak akan menutupi apapun darinya.


Al lalu menghentikan mobilnya. "Yaudah gih masuk nanti masuk angin. Ganti baju, gosok gigi, minum susu."


"Apasih, Al. Dikira gue anak kecil apa diingetin kaya gitu," kesal Tasya.


"Ya kali aja lu masih ngelakuin itu, udah sana-sana. Gua juga ngantuk mau tidur," kata Al sambil tersenyum.


"Yaudah, good nite Al. Gue masuk dulu ya," ucap Tasya dan dihadiahi anggukan oleh Al.


Tasya masuk ke dalam rumah dan membuka smart lock door nya. Sepertinya tidak ada orang di rumah ini. Entahlah semuanya menjadi begitu membosankan bagi Tasya. Dia merasa sendirian di rumah ini, tidak seperti dulu yang selalu ada Radit menyambutnya saat pulang ke rumah.


Meskipun begitu dia paham kalau sekarang kakaknya itu sudah dewasa dan memiliki karir yang bagus, Tasya tentu tidak boleh menghalanginya karena keegoisan sendiri.


Tasya langsung menuju kamarnya, mengganti pakaian dan tidak lupa juga menggantungkan jas almamaternya untuk dipakai besok. Setelah itu dia mengerjakan beberapa tugas yang sudah diberikan dosennya tadi.


"Kalau mereka ketemu setiap hari bisa jadi tumbuh perasaan gak sih di salah satunya atau mungkin keduanya," gumam Tasya sembari berhenti mengetik.


Jujur saja dia kepikiran dengan hal itu meskipun sudah mengalihkan fokusnya beberapa kali. Dia takut jika itu terjadi, tapi dia juga tidak bisa menanyakan hal itu pada Viko. Dia takut kalau Viko akan menganggapnya tidak percayaan.

__ADS_1


"Udah Tasya, jangan overthinking. Viko aja gak ngelarang kamu buat berhubungan sama siapa aja karena dia percaya. Berarti lo juga harus sebaliknya," ucap Tasya pada dirinya sendiri.


Sekali lagi dia hanya berusaha mengalihkan fokusnya pada tugas yang dia kerjakan agar tidak berpikir macam-macam.


...~ • ~...


Al memasuki rumahnya dan tiba-tiba dia dikejutkan oleh Zea yang langsung memeluknya erat. "HUAAA ADEKKUU, ANAK GANTENG, ANAK CAKEP, AAA GEMESS."


Al hanya pasrah jika Zea sedang kambuh seperti itu. Entah apa yang membuatnya begitu hari ini. Dia juga heran kenapa Zea ada di sini sekarang, bukankah Zea akan datang di akhir bulan? Siap-siap saja kupingnya sakit setiap pagi karena ulah wanita cerewet itu.


"Kenapa lu kaya gitu dah, aneh. Abis obat lu?" Tanya Al heran sambil berjalan ke meja makan dan meminum segelas air.


"Tadi gue liat lo pulang bareng Tasya, kalian deket lagi, makin cantik ya itu anak, gak sabar nimang ponakan dari kalian," ucap Zea polos.


Uhukkkk ...


Mendengar kalimat terakhir Zea membuat Al tersedak. Bisa-bisanya Zea bicara seperti itu di saat dia saja menyembunyikan perasaannya pada Tasya.


"Lohhh kenapa? Lo kenapa?" Tanya Zea heboh sambil menepuk-nepuk punggung Al.


"Ya kalian kan udah dijodohin, ya gue sih santai aja ya kalau ada yang mau gue bawa deh ke pelaminan," celetuk Zea.


"Jangan bicara perjodohan-perjodohan, Ze. Apalagi di depan Tasya," peringat Al.


"Kenapa sih? Jangan bilang lo belum cerita ini sama dia? Ayah sama bunda juga belum bilang sama Tasya?" Tanya Zea.


"Belum."


"Kenapa? Yaudah gue yang kasih tau, gue yakin dia juga seneng dengernya. Habis itu gue bisa jadi pager ayu di pernikahan adek gue yang lucu ini," kata Zea sembari mengunyel-nguyel pipi Al.


"Jangan!! Jangan kasih tau Tasya. Gua yang bilang sama ayah bunda buat gak kasih tau ini dulu ke Tasya," ucap Al melarang kakaknya itu.


"Kenapa jangan? Jangan bilang lo tetap pada pendirian lo buat nyimpen perasan lo sendiri karena takut Tasya nolak dan lo bakalan kehilangan dia?" Tanya Zea menyelidik.


Al mengangguk pelan, Zea sudah tau semuanya tentang adiknya itu, mana mungkin Zea tidak tau kecemasan yang Al rasakan.


"Dek, dia gak akan ninggalin lo-"

__ADS_1


"Selain itu dia juga ada pacar," potong Al cepat.


Mendadak mood Zea menurun. Padahal dia adalah garda terdepan untuk mendukung hubungan Tasya dan Al. Dia adalah saksi perjalanan mereka berdua sejak masih kecil, tentu saja dia kecewa.


"Jadi gimana?"


"Ya gak gimana-gimana. Gua cuma menunggu kesempatan, kalau gak ada kesempatan pun gapapa. Gua cuma suka sama dia, mau jagain dia, udah cukup. Sisanya bonus," ucap Al simpel.


Zea tidak habis pikir kenapa adiknya bisa begitu dewasa seperti ini. Dia bangga dengan pemikiran Al yang tidak egois tapi tetap bertanggung jawab dengan tugasnya menjaga Tasya.


Zea mengelus punggung adiknya itu seraya menciumi pipinya. Sebenarnya Al risih biar pun kakaknya ini boncel dan kecil tapi dia ini berat. Dan dia sudah terbiasa dengan kelakuan aneh Zea.


"Ututu, sayangnya kakak nih. Semangat, kalau jodoh gak akan kemana, gue bangga sama lo deh. Jangan sedih sedih ututu," hibur Zea.


"Gua gak sedih elah, alay. Remuk badan gua kalau lu giniin terus," protes Al.


"Habis gemes," ucap Zea polos sembari terus memeluk adiknya itu.


Meskipun begitu Al sangat menyayangi Zea. Zea selalu mengerti dan bisa diajak berbagi segalanya di saat Al tidak bisa mengutarakannya.


"Kenapa lu udah balik? Bukannya akhir bulan? Bolos magang lu ya?" Tanya Al menyelidik.


"Engga, sebenernya gue tuh udah beres magang dari awal bulan. Sengaja aja bilang akhir bulan biar gue bisa kemana-mana dulu, eh gue bosen akhirnya gue balik. Kok kaya gak seneng gitu? Harusnya sambut kek Kakaknya pulang, gak ada ekspresi apa gitu?" Protes Zea.


"Gak, males. Manja bener minta disambut, sambut diri sendiri," jawab Al datar.


"Cih adek durhaka," cibir Zea.


"Ze, gua ketemu mantan lu," ucap Al santai tanpa melihat ekspresi Zea yang sudah kaget. Secara mantannya cuma 1, siapa lagi kalau bukan Daffa.


"HAH SERIUS? Di mana gila? Kok bisa ketemu. Anjritt pas putus dari gue dia makin ganteng brodi," balas Zea antusias.


"Kepo," ledek Al sebari lari menuju kamarnya.


"ADEKKK LAKNAT YA UDA BIKIN GAGAL MOVE ON SEKARANG MALAH KABUR!!" Teriak Zea.


Al hanya tertawa melihat tingkah Zea, setelah itu dia memasuki kamarnya. Sebenarnya dia jadi agak was was jika Zea di sini. Takut kalau dia bisa keceplosan kapan saja pada Tasya. Al tidak mau sampai itu terjadi. Dia akan benar-benar melakukannya ketika waktunya sudah tepat, itu pun ketika dia punya kesempatan dan jika tidak ada kesempatan namun harus, sekali lagi dia akan menunggu waktu yang pas.

__ADS_1


__ADS_2