
Tanpa berlama-lama Angkasa dan Yoda membantu Tasya merapikan kado-kado yang dia dapat.
"Ayok, Sya. Pulang sekarang. Yod bantuin gua bawa ke mobil," pinta Angkasa yang dihadiahi acungan jempol oleh Yoda.
"Yaudah nanti kita nyusul, mau selesain dulu pembayaran," ucap Belva sambil menggandeng Monik.
"Yaudah kita tunggu di basement ya," ucap Tasya.
Tasya, Yoda dan Angkasa berjalan ke arah basement. Melihat Tasya bahagia membuat mereka senang, itu artinya kejutan ini sukses.
"Makasih ya kalian udah kasih kejutan buat gue, mana baik banget lagi dianterin pulang," ucap Tasya di tengah jalan.
"Soalnya kalau gak dianter balik nanti lu ilang, nanti nangis di jalan," jawab Yoda sambil terkekeh.
"Ih engga, gue udah 20 tahun. Udah gak cengeng, Yod!" Sanggah Tasya.
"Iya, paling nangis doang," ledek Angkasa.
"Ni lama-lama kalian gue gebuk juga ya!" Kesal Tasya.
Mereka berdua hanya tertawa. Mengerjai Tasya memang hal yang menyenangkan. Pintu lift terbuka, Tasya pun melangkahkan kakinya mencari mobil Angkasa, namun baru saja keluar, dia dikejutkan dengan pemandangan yang ada di hadapannya.
Tubuhnya dingin dan gemetar seketika. Angkasa dan Yoda pun ikut melihat ke objek yang dituju oleh Tasya. Tidak jauh dari sana Tasya melihat Viko sedang berciuman dengan Bella di dalam mobil yang sepertinya milik Bella. Yoda mengepalkan tangannya, dia tidak bisa melihat sahabatnya dikhianati seperti itu. Angkasa dan Yoda mencoba maju namun Tasya melarangnya dengan memelas. Dia tidak mau ada keributan hari ini.
Selesai dengan aktivitasnya, terlihat Viko menyalakan mobil. Angkasa membekap mulut Tasya dengan tangan kirinya dan bersembunyi di balik tembok. Tentunya dia juga memaksa Yoda yang kini emosinya memuncak. Tasya hanya menurut, tak terasa air matanya turun begitu saja.
Kenapa? Kenapa Viko bisa melakukan ini padanya?
Angkasa menurunkan paper bag yang dia pegang dengan hati-hati. Dia merasakan air mata yang sudah basah mengenai tangannya. Perlahan Angkasa memeluk Tasya dari belakang dan mengusap ngusap bahunya. Angkasa sangat marah namun Tasya lebih penting sekarang.
Tidak lama kemudian, Mobil Viki pun lewat di samping mereka, Angkasa melepaskan pelukannya dan menatap Tasya.
"Kenapa lu larang kita tadi buat hajar pacar lu yang berengsek itu?" Tanya Yoda kesal.
__ADS_1
Tasya tidak menjawab, dia hanya menangis sekarang. Angkasa yang paham membawa Tasya ke mobil, sementara Yoda membawa barang bawaan dan memasukannya ke bagasi.
Angkasa mendudukkan Tasya di jok mobil dan membiarkan pintunya tetap terbuka. Ditatapnya gadis itu, terlihat jelas dia masih kaget dan masih mencerna semua ini. Angkasa mencoba menghubungi Al namun pria itu mematikan ponselnya.
Tiba-tiba Monik dan Belva datang. Mereka panik karena melihat Tasya sudah menangis di sana.
"Ada apa? Kenapa?" Tanya Monik panik.
"Sya lo kenapa?" Tanya Belva.
Tasya masih terdiam, rasanya sesak jika menangis penuh emosi. Dia hanya memukul-mukul dadanya karena benar-benar emosi. Monik langsung memeluknya, Tasya benar benar meluapkan emosinya di pelukan Monik.
"Gu-gue di selingkuhin." Hanya itu yang keluar dari mulut Tasya.
"APA?! GILA KALI YA SI VIKO?!" Sungguh, Monik benar-benar geram dengan ini.
"Ah anjing, kenapa lo bisa tau sih. Asal lo semua tau, itu yang bikin Al pergi dan ngamuk kaya tadi. Bangsat si Viko, dia ngapain temen gue?!" Tanya Belva emosi.
"Udah udah, mending kita pulang dulu. Jangan di sini gak enak," ungkap Yoda.
Tasya sesekali menarik napasnya, tatapannya benar-benar kosong ke depan dengan air mata yang tidak berhenti mengalir. Apa dia begitu menuntut sampai Viko mencari wanita lain?
...~ • ~...
Mereka memasuki rumah Tasya, untung saja di sini sepi karena orang-orang rumah sedang ada acara. Jadi mereka bisa leluasa membahas masalah ini.
Belva dan Monik masih menatap Tasya yang belum selesai dengan tangisannya. Meskipun sudah jauh lebih baik tapi dia tetap menangis.
"Gue gak baik ya? Atau gue gak bisa kaya Bella yang jago make up? Atau gue emang gak worth it buat dia?" Tanya Tasya pada teman-temannya.
"Kebiasaan cewe kalau diselingkuhin nyalahin diri sendiri. Bukan salah lu, mau sesempurna apapun lu kalau dasarnya cowok lu gak pernah puas dia akan cari yang lebih dan lebih," kesal Yoda.
Hening, Tasya kembali berkutat dengan pikirannya.
"Gue mau pura-pura gak tau aja," ucap Tasya tiba-tiba.
__ADS_1
Mereka tidak habis pikir dengan gadis yang ada di hadapan mereka ini. Mereka sebagai sahabat tentu tidak ingin sahabat mereka dipermainkan, tapi apa yang Tasya putuskan sekarang? Dia akan menerima saja perlakuan dari Viko? Sungguh gadis itu perlu disadarkan.
"Sya, gue tau lo setolol itu ya cinta sama Viko, sampai kemarin kemarin aja lo nutupin kelakuan dia dari kita, sampe lo sakit, sampe lo sering nangis beberapa tahun ke belakang. Tapi ini udah keterlaluan, lo mau dinjek-injek sama cowok kaya gitu hah?" Kini Belva yang emosi melihat Tasya yang lemah seperti ini.
"Ya terus gue harus gimana? Gue menghabiskan waktu 3 tahun ini buat cinta sama dia, engga. Bahkan hampir 4 tahun gue cinta sama dia, Belva. Gue harus gimana?" Tasya membenamkan wajah di telapak tangannya. Dia benar-benar tidak tau harus berbuat apa.
"Gini aja deh, biar gua hajar orang yang bikin lu nangis!" Angkasa mulai geram dengan semua ini.
Tasya menahan lengan Angkasa, menatapnya sendu dan menggeleng pelan. Dia tau kalau teman-temannya berada di pihaknya. Tapi dia tidak mau Viko sampai terluka hanya karena dirinya.
"Bisa gak lu jangan tolol kaya gini?" Kesal Yoda
Tasya tidak peduli mereka akan menyebutnya apa, andai mereka tau sedetik saja bersama Viko bisa membuatnya melupakan amarah pada pria itu. Andai mereka tau kalau Tasya benar-benar tulus mencintai pria yang sudah bersamanya dari SMA.
Monik memegang kedua lengan Tasya dan menatapnya tajam. "Putusin dia!"
Tasya menggeleng pelan, air matanya kembali keluar saat mendengar kata putus yang Monik ucapkan. "Mon, gue sayang sama dia. Dia yang nemenin gue waktu gue down saat itu. Biarin aja dia main-main, biarin aja gue sakit, asal dia gak pergi."
Jujur Monik tidak tega melihat Tasya menjadi lemah seperti ini. Janji, harapan, kebahagiaan semuanya seolah direnggut paksa hari ini juga.
Monik menghapus air mata Tasya dengan kedua Ibu jarinya. "Jangan nangis! Lo gak akan bisa bahagia kalau lo gak bisa ngehargain diri lo sendiri dengan membiarkan laki-laki keparat itu nyakitin lo kaya gini. Putus! Biar gue ajarin lo gimana caranya balas dendam atas sakit hati yang lo rasain!"
"Gue gak mau kehilangan Viko, Mon," lirihnya.
"Tasya! Liat gue sekarang. Gue sahabat lo, Belva, Yoda, Angkasa, Al juga sahabat lo! Lo gak akan rugi kehilangan satu orang yang merusak hari-hari lo," bentak Monik. Entah harus dengan cara apa dia bicara pada Tasya. Dia hanya tidak mau sahabatnya dibodohi.
"Gak ada toleransi buat seorang yang membagi hatinya buat wanita lain apalagi ciuman di tempat umum kaya gitu!" Belva menegaskan.
"Lo dinner sama dia malam ini. Bikin dia pangling dan menyesal udah selingkuhin lo. Bikin acara malam ini jadi spesial. Setelah itu lo putusin!"
"Gue gak bisa," ucap Tasya pelan.
"Lu bukan ga bisa, lu bisa dan mampu sebenarnya. Tapi lu gak mau!" Ucap Angkasa.
Angkasa benar, dia memang tidak mau mengakhiri semuanya. Dia sangat mencintai Viko sampai saat ini. Bahkan hari ini saja dia dengan mudahnya melupakan permasalahan mereka kemarin-kemarin.
__ADS_1
Tasya mulai berpikir, haruskah dia melakukan apa yang Monik bilang? Menghancurkan hubungannya dan benar-benar kehilangan Viko? Dia saja tidak pernah berpikir untuk meninggalkan Viko, apalagi memutuskan hubungan mereka? Jauh darinya saja membuat Tasya selalu merindukan pria itu.