
Beberapa bulan berlalu, kini Al dan Tasya sama-sama disibukkan dengan skripsi. Apalagi mereka berdua memiliki target lulus 3.5 tahun. Mereka sampai dibuatkan ruangan untuk mengerjakan skripsi bersama. Ya selain untuk penyemangat, mereka juga bisa saling mengkoreksi. Tidak mungkin juga ada copy paste. Mereka hanya berjuang bersama.
Mereka setiap hari di ruangan itu, begadang sampai malam. Tak jarang juga sampai shubuh. Sampai-sampai mereka menyetok kopi sangat banyak agar tidak mengantuk.
"Dospem aku perfeksionist banget ih, teliti banget sampai banyak revisi. Mana dingin banget orangnya, ahhh aku stress. Al gak usah nunggu kita S.Ked. Nikah sekarang aja yuk," ajak Tasya yang sudah stress dengan skripsinya.
Al terkekeh dan melirik Tasya sebentar, tarik napas, buang napas. Kamu jernihin dulu pikiran, cuci muka sana. Ini udah jam 3 shubuh, makanya kamu ngaco ngomongnya," balas Al.
"Ya habis gak selesai-selesai, aku mau nangis rasanya. Tapi udah nanggung juga. Ini udah beres bab ini tapi gak tau deh," ucap Tasya pasrah.
"Yaudah sana cuci muka dulu, biar aku bantu periksa. Semangat dong, semester akhir ini. Masa calon istri aku gampang nyerah, bukan Tasya banget. Ayok semangat-semangat!" Kata Al menyemangati.
Tasya tersenyum, setelah itu dia mengangguk dan mencuci mukanya. Ah rasanya matanya ini sedikit lebih fresh di bandingkan tadi. Tasya kembali ke ruangan dan melihat Al yang fokus memeriksa miliknya.
Tasya pun menghampiri Al dan mengalungkan tangannya ari belakang ke leher Al. "Makasih tunangan aku udah dibantuin."
Al tersenyum, gadis itu memang paling bisa dalam hal membuatnya gemas. "Sama-sama, Sayang. Udah bener nih, tinggal lanjut ke bab selanjutnya."
Tasya heran, kenapa Al bisa begitu santai mengerjakan skripsi di saat dia pun juga banyak revisi, tapi masih bisa menyempatkan diri memeriksa punya Tasya. Lebih kerennya lagi dia tidak banyak mengeluh.
"Kenapa kamu bisa santai buat ngejalanin apapun, padahal revisianmu lebih banyak dari punya aku," Tanya Tasya pada Al.
"Segala sesuatu itu harus dinikmati, mau sesusah apapun, kalau kitanya enjoy gak akan ngerasa cape, ya walaupun emang cape tapi gak akan ngeluh," jawab Al sembari mengelus tangan Tasya yang ada di lehernya.
"Susah tapi."
"Iya susah, tapi kalau ngeluh bikin semuanya jadi lebih baik ya lakuin aja," kata Al.
"Makin mumet iya."
"Tuh tau, yang ada pekerjaan kita gak selesai, Sayang. Belajar buat control yourself biar bisa memanage apapun dalam diri kita. Kalau udah bisa menanamkan itu pasti apapun yang kita kerjakan bakalan lebih mudah."
__ADS_1
Tasya mengangguk lalu perlahan tersenyum. Al ini memang selalu memberinya energi positif. Dan sekarang dia benar-benar mencintai pria itu.
Al berdiri dan membantu Tasya untuk duduk. "Udah kerjain lagi. Tapi jangan minum kopi lagi, lambung kamu gak kuat. Minum susu aja," peringat Al.
"Iya gantengkuu, siap laksanakan. Semangat juga ya revisiannya!"
Mereka tersenyum, ya beginilah yang mereka lakukan. Saling menyemangati satu sama lain. Membuat pekerjaan menjadi lebih ringan dan perasaan pun aman.
Beberapa jam berlalu, Al melihat Tasya sudah tertidur. Tasya dan Al memang kurang tidur demi perjuangan mereka. Al menidurkan Tasya di sofa dan perlahan menyelimutinya. Karena hari libur biasanya saat bangun mereka akan langsung melanjutkan pekerjaan mereka, untuk itu mereka lebih memilih tidur di sofa. Tapi mereka tetap menjaga batasan.
...~ • ~...
Amanda memasuki ruangan kerja Tasya dan Al. Pemandangan yamg sudah biasa kalau mereka masih tertidur. Mereka akan bangun jika sudah jam 9, itu pun mereka hanya mencuci muka lalu melanjutkan kembali pekerjaan.
Akhirnya Amanda lah yang harus lebih perhatian dengan membawakan sarapan ke sana. Seperti saat ini, dia sudah membawakan dua gelas susu dan nasi goreng. Agar setelah bangun mereka bisa langsung sarapan.
Setelah selesai, Amanda pun keluar dari sana.
"Mereka masih tidur?" Tanya Radit.
"Kasian, untung Tasya selalu ditemenin Al. Kalau gak dia udah stress sendiri. Hari ini ada jadwal chekup gak?" Tanya Radit sambil mengusap perut istrinya yang sudah 3 bulan itu.
"Ngga ada, nanti senin baru ada," jawab Amanda sambil tersenyum.
"Yaudah nanti aku temenin ya." Radit tersenyum lalu mencium kening istrinya, tanpa sadar sudah ada Tasya dari balik pintu yang akan mengambil minum.
"Ya Allah pagi-pagi aku melihat kebucinan Abang, sabarkan hati hamba," keluh Tasya.
"Iri ya? Selesaiin dulu tuh skripsi, biar cepet nikah," cibir Radit.
"Silisiin dili tih skirpsi biir cipit nikih," ejek Tasya.
"Dih ngeledek," kesal Radit.
__ADS_1
"Ya lagian ngada-ngada, gue lulus buat jadi dokter, malah disuruh nikah. Parah banget Abang mau membuang adiknya dengan cepat, sedih banget gak sih, Kak jadi aku?" Tanya Tasya dramatis pada Amanda.
Amanda terkekeh, melihat itu Radit langsung memeluk istrinya itu sembari menciumi pipinya. Membuat Tasya mencibir sebal melihat kelakuan Abangnya yang seperti itu.
"Jangan memprovokasi istri gua."
"Lo kayanya kesel banget sama gue, hati-hati loh Abang. Nanti anak lo mirip gue. Pas keluar malah melihat little Tasya," kata Tasya sambil tertawa.
"Jangan, Dong. Satu kaya lu aja udah pusing apalagi kalu ada dua. Jangan," ucap Radit.
"Tapi kalau anak kita kaya Tasya gapapa, Yang. Cantik, pinter, gemes. Kan bagus," Kata Amanda.
Tasya tertawa dan tersenyum menang. "Betul Kakak Ipar. Kalau mirip aku banyak keuntungannya, daripada mirip Abang. Soalnya Abang dodol, bagusan kalau ponakan aku nanti cantik kaya aku," ucap Tasya percaya diri.
"Kalau gak mirip bapaknya aneh, Dek. Nanti dia sedih karena merasa tidak diakui," bela Radit pada dirinya sendiri.
"Dihh iyadeh iya." Tasya pun berjalan ke dapur dan mengambil air.
"Al belum bangun?" Tanya Radit.
Tasya menggeleng. "Kasian tau dia, udah banyak revisian terus bantuin gue juga tau, Bang. Soalnya semalem stress banget. Untung aja Al bantuin."
"Sabar beberapa bulan lagi kalau lu bener pasti lulus, habis itu koass. Udah gak akan pusing lagi kalau udah begitu," ucap Radit.
"Iyaa sabar, Al juga semalem semangatin gue. Ya pokoknya kalau gak ada Al gak tau deh gue bisa ngerjainnya apa gak."
"Beryukur lu. Kalau pacar lu bukan Al belum tentu mau bantuin," peringat Radit.
"Bersyukur, gue tuh selalu menyukuri apa yang di kasih tau. Dikelilingi orang baik. Punya Abang dan Tante yang sayang sama gue, punya Kak Amanda, Punya Al, punya temen-temen gue. Nanti nambah satu sama ponakan Tasya yang masih segede kecebong itu. Kadang gue mikir, pernah ngelakuin apa ya di masa laku sampai dikasih kalian di hidup gue?" Tasya terkekeh.
"Karena lu pantes dapetinnya, Dek. Lu selalu bisa menghadapi masalah lu dengan baik, selalu berbuat baik, gak pernah bales orang yang jahatin lu. Makanya mulai sekarang harus bahagia-bahagia aja ya, apapun yang lu pilih Abang selaku dukung," ucap Radit sembari mengelus puncak kepala adiknya dengan lembut.
"Makasih ya abangku yang paling ganteng sedunia, gue bahagia-bahagia aja kok. Tapi lebih bahagia lagi kalau lo kerjain skripsi gue." Tasya menyengir kuda pada Radit.
__ADS_1
"Itu namanya ngelunjak."
Tasya tertawa dan langsung kabur ke ruangannya. Radit senang melihat Tasya sudah bisa kembali menjalankan kehidupan normalnya. Memang lebih baik dia di Surabaya, agar jauh dari orang-orang yang selalu menyakitinya. Jika Tasya kembali ke Bandung selalu saja ada hal yang membuatnya sedih dan Radit tidak suka itu.