Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
F*ck Birthday! Part 2


__ADS_3


Pukul 7 malam. Al menghentikan motornya di sebuah rumah, rumah yang sudah lama tidak dia kunjungi. Kebetulan sekali sang pemilik rumah sepertinya akan pergi keluar, itu mempermudahkannya untuk bicara dengan gadis itu, Bella.


Al turun dari motornya menghampiri Bella yang sedang berjalan menuju mobil. Gadis itu menghentikan langkahnya saat menyadari kehadiran Al.


Dengan angkuh dia melipat tangannya dan menaikan dagunya. Entah ada apa dengan pria itu, namun sepertinya dia kesal. Secara Bella tau kalau Al teman berbagi segalanya untuk Tasya. Tentu bukannya takut tapi malah membuat Bella semakin senang.


"Hai, cinta pertama. What's wrong with me? Keliatannya emosi banget, chill," ucap Bella meledek.


"Gua gak nyangka ya lu bisa serendah ini jadi orang ketiga," ucap Al santai.


Bella tertohok, murahan maksudnya? Memang Al siapa sampai berani-beraninya berkata itu padanya. Dia belum tau saja siapa Bella sekarang. Dia tidak akan membiarkan siapapun merendahkan atau menghina dirinya.


"Jaga mulut lo ya, gue gak serendah yang lo maksud. To the point ada apa?" Tanya Bella berusaha tenang menghadapi Al.


"Jauhin Viko sekarang dan biarkan dia bahagia sama Tasya. Lu sadar gak kalau lu itu orang kedua? Lu pikir gua gak tau kelakuan lu sama Viko di toilet tadi, Hah?"


"Oh bagus kalau lo tau, sekalian kasih tau Tasya gih biar dia juga jadi milik lo. Gue kasian deh sama lo, Al. Sampai sekarang terus jadi malaikat pelindungnya Tasya tapi dia gak ngelirik lo sama sekali. Buang-buang waktu aja, andai lo gak nolak gue waktu itu ya Tasya masih aman-aman aja. Upss, engga deh gue bahagia dengan apa yang gue lakuin sekarang, karena Viko jauh lebih sempurna dari lo," ucap Bella terkekeh


"Jangan sangkut pautin masalah kita ke Tasya, Bell. Lu masih ada waktu buat tinggalin Viko dan gua akan keep ini selamanya."


"Jelas bukan cuma masalah kita, tapi dia juga terlibat dalam setiap langkah yang coba gue jalanin. Jadi stop ganggu hidup gue yang udah bisa nerima lo suka sama dia dan biarin gue bahagia sama Viko," tegas Bella.


"Tasya gak salah, Bell. Lu aja baru kenal sama dia, kenapa bisa tega lu nyakitin dia sebelum lu mengenal dia, jangan balas dendam ke gua tapi lu nyakitinnya malah ke Tasya!"


"Asal lo tau, awalnya gue emang berpikir ini balas dendam buat lo sama Tasya. Tapi gue cinta sama Viko jadi stop ganggu hidup gue, lo udah cukup jadi bayang bayang gue kemarin, sekarang lo bukan apa-apa. Gue gak ada waktu buat urusin lo!"

__ADS_1


"Tapi lu salah! Gua sebagai sahabat lu di sini mau lu ada di jalan yang benar. Semua ini salah, Bell! Belum terlambat buat merubah semuanya!"


Bella terkekeh menatap pria yang ada di hadapannya. "Sayangnya lo yang terlambat."


"Maksudnya?" Tanya Al yang tidak mengerti dengan ucapan Bella.


Bella menepuk bahu Al dan tersenyum licik. "Nanti juga lo tau."


Bella memasuki mobilnya, dalam sekejap dia pergi meninggalkan Al yang emosi dibuatnya. Dia senang bisa mempermainkan banyak perasaan di sini. Mari kita lihat, apa yang akan Bella lakukan selanjutnya, tentu akan lebih menyenangkan dari ini. Pikirnya dalam hati.


Al mengepalkan tangannya, dia berjanji apapun yang akan dilakukan Bella. Sama sekali tidak akan mempengaruhinya, dia akan terus menjaga Tasya agar tidak terluka.


...~ • ~...


Tasya melihat dirinya di cermin, Belva dan Monik membuatnya sangat cantik hari ini. Meskipun awalnya mereka kesusahan untuk membuat mata Tasya tidak sembab.


Long dress hitam elegan, dengan perhiasan simpel yang diberikan oleh Viko, rambutnya yang terurai dan dibuat sedemikian rupa, make up yang terlihat dewasa namun tetap natural di wajah Tasya, membuatnya sangat cantik malam ini. Yoda dan Angkasa pun pangling melihatnya.


"Kurang gatel aja, orang selingkuhannya lebih gatel," sarkas Belva. Namun Tasya melarangnya bicara seperti itu, bagaimana pun dia tetaplah seorang perempuan.


"Inget, jangan nangis. Kita bakalan tetep di sini sampai lo pulang nanti. Apapun keputusan lo nanti kita bakalan dukung. Kalau lo sedih, inget ada kita," ucap Belva.


"Yaudah keluar gih, si bajingan itu udah ada di luar. Kita bakalan di sini aja, biar dia gak mikir gimana-gimana."


Tasya mengangguk, dia hanya mengiyakan saja. Selebihnya dia akan mencoba tapi jika tidak bisa, dia benar-benar akan diam saja seolah tidak terjadi apa-apa. Bagaimana situasinya.


Tasya membuka pintu, terlihat Viko di depannya sudah rapi dengan menggunakan tuxedo nya. Mereka nampak serasi seperti pasangan pada umumnya dan nampak bahagia jika salah satunya tidak ada yang memendam kenyataan pahit.

__ADS_1


Viko tersenyum, Tasya terlihat jauh lebih cantik dari biasanya. Apakah sudah terlalu lama mereka jauh sampai Viko baru melihat Tasya berdandan seperti ini? Tasya pun tersenyum, sebenarnya dia ingin sekali menangis di hadapan pria ini sekarang juga dan bertanya hal-hal yang belum tuntas dalam pikirannya.


"Ayok, aku punya kejutan istimewa buat kamu," ucap Viko sambil mengulurkan tangannya.


"Kamu udah kasih kejutan yang lebih dari kata istimewa buat aku, Vik. Rasa sakit di hari ulang tahunku sendiri," bantinnya.


Tasya tersenyum simpul dan menerima uluran tangan Viko. Rasanya seluruh tubuhnya bergetar mengingat ciuman Viko dengan Bella di depan matanya sendiri. Viko pun merasakan bagaimana gemetarnya tangan Tasya, mungkin dia grogi malam ini.


Viko membukakan pintu untuk Tasya, dengan senang hati Tasya menerimanya. Dia masuk ke sana sambil sesekali menghela napasnya. "Makasih, ya."


Viko mengangguk, dia pun menutup pintu mobil dan masuk ke pintu sisi lainnya. Sejenak dia melihat Tasya dan sedikit tersenyum. Pelan-pelan mobilnya pun menjauh dari rumah Tasya.


Tidak ada percakapan di antara mereka. Tasya yang sibuk berkecamuk dengan pikirannya, sementara Viko yang sekarang mulai irit bicara, itu yang dirasakan Tasya saat pertama kali mereka bicara kembali.


"Kamu di sana gimana? Ada rutinitas yang lagi kamu sukain?" Tanya Tasya memecahkan keheningan. Sebenarnya Tasya hanya ingin memastikan hatinya, apakah Viko masih mencintainya atau tidak.


"Apa ya?"


"Ya apa gitu, ceritain keseharian kamu di sana," ucap Tasya sambil tersenyum.


"Gak ada yang menarik buat diceritain, cantik. Biasa aja," balas Viko sembari menipiskan senyumnya.


Tasya mengangguk paham lalu tersenyum tipis. "Kamu tau gak, temen-temen aku semalem kasih surprise tengah malem, terus habis itu kita bakar-bakaran sampe pagi. Eh siangnya aku masih dapet kejutan di cafe. Aku seneng banget."


"Bagus kalau kamu seneng, aku juga seneng," Viko sambil tetap fokus pada jalanan.


Tasya memutuskan tidak bertanya lagi, akan semakin sakit nantinya jika Tasya menjadi badut di depan orang yang memilih untuk menjadi patung di hadapannya.

__ADS_1


Perlahan Viko menggenggam tangan Tasya, sesekali dia menciumi tangan itu seolah dia takut kehilangan Tasya. Tapi bagi Tasya sekarang ini adalah omong kosong. Entah hatinya masih bersama Tasya atau dia menjalaninya setengah hati, Tasya tidak tau apa yang ada dipikiran pria yang ada di hadapannya ini.


Viko yang sekarang sangat abu-abu, dia tidak bisa menelisik masuk ke dalam pikiran Viko. Dia bisa saja bertingkah kalau dia menyayangi Tasya, tapi dia juga menyembunyikan hubungan dengan Bella. Tasya benar-benar berpikir keras, kalau bisa memilih, dia lebih baik diputuskan sekarang juga oleh Viko dan tidak ada keputusan yang harus dia ambil.


__ADS_2