
Kurang lebih masih ada waktu 10 hari untuk Tasya dan Al melangsungkan pernikahan. Kini mereka berdua sedang berada di Bandung untuk meminta restu kepada Jonathan- Ayahnya Tasya.
Kedua orang tua Al dan keluarga Tasya memang sengaja memberi mereka kesempatan untuk berdua agar lebih leluasa, apalagi setelah ini mereka akan dijauhkan atau yang biasa disebut pingitan.
"Pa, Tasya mohon restu papa. Minggu depan Tasya dan Al akan menikah." Tasya meneteskan air matanya, entahlah baru beberapa kalimat yang dia ucapkan tapi rasanya semua tertumpah ruah.
Dia tidak bisa mengatur perasaannya, dia benar-benar menangis sampai rasanya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Al mendekat dan mengelus punggung Tasya, berusaha memberikan dia ketenangan agar bisa mengutarakan apa yang ingin dia katakan.
"Pa, seharusnya papa ada di sini ya? Papa mau kan Tasya menikah dengan Al? Papa juga yang memilihkan jodoh untuk Tasya."
"Pa, terima kasih telah memilih Al untuk Tasya. Bahkan rasanya saat papa gak ada pun papa selalu mengusahakan yang terbaik buat Tasya. Percaya atau engga, rasa bersalah itu masih bersarang di hati aku pa."
Tasya menghapus air matanya dengan sapu tangan yang dia pegang. Dia kembali menangis, untuk kembali mengutarakan semuanya.
"Pa, sekarang Tasya mau melangkah ke kehidupan yang lebih tinggi. Tasya akan menjalankan rumah tangga dan akan menjadi seorang istri. Tolong doakan Tasya agar bisa menjadi istri yang baik buat Al ya, Pa? Papa memang tidak ada di sana nanti, tapi Tasya tau kalau papa hadir di sana meski tanpa Tasya ketahui."
Al tersenyum, ada rasa haru yang menyelimutinya sekarang. Sebentar lagi dia harus mengemban tanggung jawab sebagai seorang suami dan sekarang dia berada di hadapan cinta pertama dari calon istrinya.
Dengan tetap mengelus punggung Tasya, Al mencoba menenangkannya. Tapi kalau dia masih mau menangis ya tidak apa-apa. Al paham sekali kalau Tasya sangat merindukan ayahnya.
Al tersenyum dan menggenggam tangan Tasya. Dia menatap lurus ke arah nisan Jonathan. Al berusaha memantapkan hatinya. "Om, hari ini Al meminta izin untuk menikahi putri Om. Meskipun Om sudah menitipkannya pada Al tapi tetap saja kewajiban Al untuk meminta izin terlebih dahulu itu wajib."
"Minggu depan, Al akan menjadikan putri kecil Om yang sangat kuat ini menjadi istri Al. Selain menjaganya Al akan berusaha membuat dia selalu bahagia. Al tidak akan membiarkan air matanya jatuh dengan sengaja karena tersakiti hatinya."
"Terima kasih Om telah menjadi sebuah pelita untuk Tasya. Hari ini, Al ingin meminta dengan hormat untuk menjadi pelita Tasya dalam kehidupannya. Pelita Om memang tidak akan pernah tergantikan, itu sebabnya Al ingin Om menyerahkan pelitanya, bukan menggantinya. Biarkan sekarang Al yang mengemban semua tugas Om untuk menjaga Tasya sampai akhir. Terima kasih ya Om sudah mempercayai Tasya pada Al kemarin."
Tasya menatap Al dengan haru, apakah ini rasanya dipinang di depan ayahnya sendiri? Seseorang berjanji di hadapan ayahnya untuk menjaganya sampai akhir. Tasya tidak bisa membendung air matanya. Rasanya kini bercampur aduk, tidak bisa dijelaskan.
__ADS_1
Al tersenyum dan kini memeluk Tasya, membiarkan gadis itu menumpahkan tangisannya di dada bidang milik Al. "Aku kangen papa."
Al mengangguk lalu kembali mengelus punggung Tasya dengan lembut.
...~ • ~...
Tujuan pertama selesai, kini mereka sudah sampai ditujuan kedua. Tasya menatap Al ragu, tapi Al menggenggam erat tangan Tasya dan menyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja.
Mereka berdua memasuki gedung itu dan dipersilahkan duduk, Tasya tetap berkecamuk dengan pikirannya sementara Al kini mengecup punggung tangan Tasya dan membawanya tangannya di perut Al.
Seseorang muncul dengan dibawa oleh salah satu polisi wanita. Nampaknya dia cukup kaget saat melihat Tasya dan Al ada di sana.
"T-tasya?" Ucap wanita itu dengan nada bahagia.
Tasya memalingkan wajahnya, dia bisa melihat kalau wanita itu kurus kering sekarang. Hidup di penjara bertahun-tahun tanpa ada sanak saudara yang mengunjungi membuat Lidya kaget saat tau ada yang mengunjunginya setelah sekian lama. Terakhir kali adalah Radit yang ke sini untuk meminta restu meskipun Lidya tau kalau Radit masih membenci dirinya.
Lidya paham jika anaknya masih marah dan kini tidak ingin melihatnya, jadi dia tidak memaksakan kehendak dan membiarkan mereka sendiri yang mengutarakan maksud dan tujuan datang ke sini.
"K-kalian ada apa ke sini?" Tanya Lidya memulai pembicaraan.
"Saya Al, putra dari sahabat Om Jonathan."
"Al anak Diana dan juga Haris?" Tanya Lidya.
Tentu Lidya mengenalnya, Al lahir lebih dulu sebelum Tasya. Dia ingat meski samar-samar. "Iya, saya ingat. Sudah besar kamu rupanya. Maaf pertemuan kita terakhir kali tidak mengenakan."
Al mengangguk kecil dan sedikit tersenyum. "Jadi kedatangan kami ke sini ingin meminta restu kepada Tante karena kami akan menikah Minggu depan."
Lidya tidak percaya, putri kecilnya ini sudah beranjak dewasa. Kini ada seseorang dalam hidupnya yang akan menjaganya kelak dan menjadikannya seorang istri. Lidya meneteskan air matanya dia benar-benar senang mendengar kabar ini.
__ADS_1
Lidya dengan lembut meraih tangan Tasya dan Al lalu dia genggam. "Mama merestui kalian berdua, mama senang sekali kalau putri kecil mama ini sebentar lagi akan menjadi seorang istri."
Degh ....
Entah perasaan apa yang kini Tasya rasakan, dia masih memalingkan pandangannya namun gadis itu tidak bisa menahan tangisannya sekarang.
"Tolong jaga putri mama ya, Al. Mama tidak pernah ada di masa kecilnya bahkan sampai sekarang. Meskipun mama tidak tau pertumbuhan apa yang terjadi dalam hidup Tasya, mama senang kalau sekarang dia baik-baik saja." Lidya kini mengecupi tangan anaknya. Terakhir kali dia melakukannya saat sebelum meninggalkan Tasya dengan ayahnya.
Cukup, Tasya tidak bisa menahan ini semua. Dia tidak mau terlihat lemah dihadapan wanita yang sudah membuangnya. Tasya menarik tangannya dari genggaman Lidya dan beranjak meninggalkan ruangan itu.
Al menahan lengannya, dia ikut beranjak dan mencoba memberi pengertian pada calon istrinya itu. "Sya."
"Aku gak bisa, Al. Gak bisa!" Ucapnya setengah berbisik.
Al menghapus air mata Tasya dengan ibu jarinya. "Sebentar lagi ya?"
Tasya menggeleng, namun tidak disangka kini Lidya menghampiri mereka berdua dan berlutut di hadapan putrinya. Lidya menggenggam erat kedua tangan Tasya. Dia tau dengan begini tidak akan menghapus kebencian pada diri Tasya, tapi setidaknya biarkan kali ini dia mengutarakan isi hatinya.
"Sayang, mama minta maaf sekali sama kamu. Mama bukan Ibu yang baik, mama orang tua yang buruk untuk kamu. Mama juga yang sudah membuat papa kamu meninggal, mama menyesal."
Tasya tidak bisa menatap Lidya, entah kenapa rasa bencinya mendominasi sampai dia menangis karena menahan amarah. Tasya menggeleng pada Al seolah dia mengatakan tidak sanggup di sini. Namun Al mengangguk seolah memberinya kekuatan untuk menghadapi.
"Mama minta maaf sama kamu, Sayang. Tidak apa-apa kalau kamu belum mau memaafkan mama, mama tau kamu bahkan tidak mau menyebut mama sebagai ibu kamu, tapi izinkan mama memeluk kamu sekali saja."
Al membantu Lidya berdiri, tidak etis juga kalau Lidya melakukan itu. Karena akan mendurhakakan putrinya sendiri. "Boleh, Kok. Mama boleh peluk kamu kan, Sayang?" Tanya Al pada Tasya.
Tasya terdiam, kenapa hal harus menanyakan hal itu kalau dia sendiri tau jawabannya adalah tidak. Al mencoba memberikan pengertian lewat tatapan matanya dan akhirnya Tasya mengangguk kecil.
Lidya dengan senang memeluk putrinya meskipun tidak ada balasan. Dia hanya merasakan kalau Tasya semakin menangis karena itu. Lidya memeluknya sangat erat, dia benar-benar merindukan putrinya. Dia ingat hal buruk yang pernah dia lakukan dan dia sangat menyesal pernah menghancurkan hidup putrinya.
__ADS_1
"Jadi istri yang baik ya, Sayang. Jangan seperti mama. Maaf kalau mama pernah membuat hidup kamu hancur, mama merestui kalian. Doa mama akan selalu menyertai kamu, Sayang. Semoga kamu selalu bahagia."
Al terharu sebenarnya melihat apa yang ada di depannya ini, meskipun Tasya nampak engga tapi ada kemajuan sedikit. Memang tidak akan mudah menghapus kebencian pada diri Tasya. Tapi Al percaya, kalau suatu saat nanti dia bisa membuat Tasya berdamai dengan Ibu kandungnya.