
Tasya hari ini memilih membawa mobil sendiri, setelah sampai di rumah sakit dia mengambil beberapa data pasien yang harus dia lakukan visite pagi ini. Belva, Angkasa dan Yoda pun sudah datang, sepertinya hanya Al yang belum datang. Tapi berhubung mereka semua masih marah pada Al karena seharian kemarin diacuhkan jadi mereka biasa saja dan kembali fokus pada pekerjaan masing-masing.
"Lo gak bareng sama Al?" Tanya Belva.
"Engga, gue bawa mobil sendiri," jawab Tasya.
"Pulangnya jadi mau nongkrong?" Tanya Belva lagi.
"Jadi lah, mumet juga kerja terus. Udah lama juga gak nongkrong."
"Oke tar calling aja."
Setelah merapikan beberapa berkas, Tasya mengambil peralatan dokternya dan bersiap untuk melakukan visite. "Gue visite dulu ya," ucap Tasya.
Yang lainnya mengacungkan jempol tanda setuju. Tasya keluar ruangan dan mendapati Al yang sedang mengobrol di luar ruangan bersama Aruna. Gadis yang dengan terang-terangan menyukai Al. Semakin membuat kesal saja. Tapi ini di rumah sakit, jadi Tasya hanya melewati mereka.
Al mengeluh dalam hatinya, kalau begini caranya akan semakin lama mereka bertengkar. Al memasuki ruangan setelah menyelesaikan percakapan dengan Aruna. Namun tidak ada sapaan seperti biasanya dari ketiga temannya. Apa mereka ikut marah juga?
"Pagi," ucap Al.
Mereka langsung mengambil peralatan dokter mereka dan langsung keluar tanpa menjawab sapaan dari Al. Al benar-benar frustrasi jika seperti ini. Memikirkan cara agar Tasya tidak marah saja sudah pusing apalagi memikirkan membujuk semuanya sekaligus?
Stelah melakukan visite ke beberapa pasien, Tasya pun keluar dari ruang perawatan. Namun saat di perjalanan dia berpapasan dengan Fadil. Tasya berusaha ramah dan menerapkan etika kerjanya karena Fadil tengah bersama atasan, namun dia tidak ingin berlama-lama dan langsung mempercepat langkahnya setelah melewati keduanya.
Saat memasuki ruangan, tidak ada siapa-siapa. Namun terdapat 3 batang coklat dan setangkai bunga mawar yang tergeletak di atas tas milik Tasya.
"Dari siapa?" Tasya mengambil coklat dan bunga itu, perlahan dia membuka note yang sudah sepaket dengan bunganya :
Sometimes the best way to say sorry doesn’t involve words, that’s why I give you these flowers. I’m sorry for blaming you for everything you didn’t do. I love you. - Aldo Prayoga
__ADS_1
Tasya mengulum senyumnya. Tapi tidak, dia tida boleh luluh begitu saja. Tasya lalu memasukan bunga dan coklat ke dalam tasnya dan membuka bukunya.
Al melirik Tasya saat masuk ke dalam ruangan. Gadis itu sepertinya sudah menerima bunga dan coklat darinya, namun mukanya masih ditekuk. Apa itu belum mampu meluluhkan Tasya ya? Pikirnya.
Al dengan ragu akhirnya duduk di sebelah Tasya, tidak ada respon dari gadis itu. Bahkan matanya tetap fokus pada bacaannya. Berarti benar dugaan Al kalau Tasya memang masih marah padanya.
"Masih marah ya?" Tanya Al yang memberanikan diri bertanya.
"Kamu kalau mukanya gitu gemes tau, kalau bukan di rumah sakit mungkin udah aku peluk erat-erat," goda Al.
Tasya menghela napasnya, tanpa mempedulikan pertanyaan Al dia malah kembali sibuk membuka lembaran demi lembaran. Al mengangguk-anggukan kepalanya, "Yaudah kalau masih marah gapapa. Tapi jangan lupa makan siang nanti ya, aku ikut operasi sama dokter Gabriel."
Tasya masih tetap cuek, jadi Al harus bersabar. Yang terpenting dia sudah izin pada Tasya agar tidak menunggunya makan siang. Tapi mungkin juga Tasya tidak mempedulikan itu sekarang.
...~ • ~...
Seperti yang telah di sepakati akhirnya Tasya, Angkasa, Yoda, Belva dan Monik menongkrong di salah satu cafe. Al juga sebenarnya diajak, namun dia memilih untuk tidak ikut karena ingin memberikan Tasya waktu. Dia tau kalau Tasya pasti butuh space untuk rehat sejenak darinya.
Namun sepertinya itu tidak membuat Al tenang, terbukti sekarang dia sedang makan malam namun bolak-balik mengecek ponselnya. Hanya ada dia, Zea dan Fadil di meja makan. Cukup awkward tapi bagaimana lagi.
"Gapapa."
"Gapapa gapapa gimana, lo kaya orang stress. Kenapa sih? Masih marahan sama Tasya?" Tanya Zea.
"Iya, tau sendiri kalau Tasya marah susah dibujuk," jawab Al.
"Lo kurang usaha kali, berusaha lebih keras makanya. Dengerin kata-kata gue kemarin, jangan cuma iya-iya aja. Kalian bukan anak kecil lagi, udah mau menikah. Itu bukan urusan main-main," peringat Zea.
Fadil sedikit melirik saat Zea membahas Tasya pada Al. Bertengkar? Kenapa juga mereka bertengkar? Apa karena dirinya?
"Mending lu terapin ke suami lu, biar dia gak mempermainkan pernikahan dan deketin calon adik iparnya sendiri."
__ADS_1
Al tidak ingin memperpanjang, dia memilih untuk menyelesaikan makan malamnya dan kembali ke atas. Perasaannya tidak karuan kalau harus membahas Tasya di depan Fadil.
Sudah 4 jam Al mondar-mandir di kamar, Tasya belum mengabarinya. Ya itu memang tidak akan mungkin terjadi sih, karena gadis itu jika marah akan benar-benar mempertahankan gengsinya. Namun kali ini teman-temannya juga tidak membalas pesannya. Dia khawatir jika Tasya pulang terlalu malam sendirian.
Akhirnya dengan nekad Al pun mengambil jaket dan menyusul ke tempat mereka biasa menongkrong. Dia harus memastikan Tasya baik-baik saja. Karena tidak baik juga kalau dia pulang larut malam sendirian.
Al langsung turun ke bawah untuk keluar dan menaiki motornya. Tidak peduli Tasya akan semarah apa, yang terpenting perasaannya bisa lega sekarang. Zea menatap kepergian Al. Sudah bisa ditebak, Al pasti akan melakukan hal itu. Benar-benar bucin.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Al sampai di salah satu cafe. Namun hanya terlihat Angkasa dan Yoda saja di sana. "Tasya mana?" Tanya Al.
"Loh, dia udah pulang sama Monik, Belva dari 2 jam yang lalu," kata Angkasa.
"Hah?! Gua udah cek rumahnya, satpam bilang belum pulang. Ck. " Al langsung menghubungi Monik dan Belva.
Menanyakan apakah mereka sudah sampai rumah atau belum. Tapi dia malah mendapat jawaban kalau mereka sudah sampai di rumah dan tidak kemana-mana setelah pulang.
Angkasa dan Yoda tidak tinggal diam, mereka pun mencoba menghubungi Tasya namun tidak aktif. "Nomor Tasya gak aktif," ucap mereka berbarengan.
"Serius?" Al langsung menghubungi Tasya dan benar saja nomornya tidak aktif. Bahkan dia mengirim pesan di mana-mana pun tidak mendapatkan tanda-tanda kalau Tasya sedang menyalakan datanya. Apa ponselnya mati?
Sungguh Al semakin panik mendengarnya. Dia kembali berkutat dengan ponselnya dan menghubungi Radit. "Halo, Bang. Tasya udah di rumah?"
"Tasya gak sama lu?" Tanya Radit panik dari seberang sana.
"Dia tadi nongkrong sama anak-ank gua gak ikut karena dia masih marah. Katanya udah pulang dua jam yang lalu."
"Ck kenapa bisa gak bareng lu. Bentar gua coba hubungi, nanti gua kabarin." Radit langsung mematikan sambungannya.
"Kita harus cari Tasya. Kita mencari, nanti saling kabarin." perintah Al pada keduanya sambil berjalan ke luar cafe..
Mereka mengangguk setuju, sudah dipastikan Al juga akan menelusuri tempat mana saja yang sering Tasya kunjungi ketika sedang ingin menyendiri. Dia jadi menyesal karena tidak ikut tadi. Dia takut Tasya kenapa-kenapa.
__ADS_1
Al pun melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ini sudah hampir tengah malam, bagaimana dia tidak cemas? Apalagi dia menyadari kehadiran Viko di Surabaya, meski berusaha berpositif thinking tapi dia tetap saja khawatir.
"Syaa, kamu kemana?" Gumam Al.