
Dua hari berlalu. Malam ini seperti biasa mereka disibukan dengan beberapa laporan yang harus disusun. Tidak lupa juga mereka mengecek apa saja proker yang sudah terlaksana dan belum terlaksana. Beginilah tugas mahasiswa, KKN-nya memang akan berakhir tapi bukan berarti mereka sudah sampai garis finish. Karena akan banyak pekerjaan lagi yang harus mereka lakukan baik dalam bentuk laporan ataupun video.
Tasya memakan mi cup instan sambil tetap fokus pada laptopnya, begitu juga dengan Al. Terkadang mereka saling memeriksa pekerjaan agar tidak ada miss komunikasi.
Al melirik Tasya yang sedang meminum cola. "Jangan banyak-banyak minum cola, perut lo gak kuat minum kaya gitu."
"Gue baru minum cola tau, udah lama gak minum cola. Sekali aja, besok-besok gue gak minum cola lagi," ucap Tasya sambil menunjukkan dua jarinya pertanda kalau dia sudah berjanji.
"Yaudah kalau gitu gua mau." Al mendekatkan wajahnya pada Tasya dan Tasya dengan senang hati meminumkan cola miliknya pada Al.
"Enak kan? Coba mie punya gue, yang ini mie gorengnya enak. Gue tuh liat rekomen di tiktok jadi gue beli yang ini, aaa." Tasya mendekatkan suapan pada bibir Al.
Al menerima suapan dari Tasya dan mengangguk-ngangguk kecil. "Hm enakk."
"Iyalah, gue gak pernah salah kalau milih," ucap Tasya bangga sembari membersihkan sudut bibir Al dengan ibu jarinya.
Al tersenyum lalu mengelus puncak kepala Tasya dengan lembut. Monik, Belva, Angkasa dan Yoda semakin curiga pada mereka berdua. Beberapa hari ini mereka dekat, tapi ada yang berbeda.
Bahkan saking asiknya mereka berdua, yang lain seakan tidak terlihat. Mereka merasa terkacangi oleh Tasya dan Al yang sibuk dengan dunia mereka sendiri.
Al dan Tasya menatap ke arah mereka yang kini sedang menatap ke arah keduanya dengan tatapan curiga. Tapi mereka dengan polosnya tetap santai.
"Kenapa?" Tanya Al datar.
"Gapapa, agak sedikit heran aja dengan kelakuan kalian berdua," jawab Monik.
"Heran kenapa? Emang gua sama Tasya ngapain, orang biasa aja," balas Al.
"Gak, gua cuma mengendus suatu kejanggalan tapi tidak bisa dijelaskan. Kita harus bicara sih, Al nanti," ucap Yoda.
"Kita juga harus bicara sih, Sya," timpal Monik.
"Padahal kalau bicara tinggal di sini aja," ucap Tasya santai.
"Tar deh, gue lanjut laporan dulu." Monik mengalihkan kembali matanya pada layar.
Dan mereka semua pun melakukan hal yang sama. Setelah selesai dengan pekerjaan mereka, barulah mereka harus mengeksekusi Tasya dan Al.
Dua jam berlalu, kini Tasya, Monik dan Belva sudah berbaring di atas kasur mereka dengan posisi Tasya di tengah-tengah mereka. Mereka menatap tajam pada Tasya sementara yang ditatap hanya terkekeh.
__ADS_1
"Jujur, lo sama Al kenapa sih? Kok jadi aneh?" Tanya Monik.
"Aneh apanya?" Tanya Tasya pura-pura tidak mengerti.
"Jangan pura-pura gak tau. Gue tau kalian deket, tapi ada yang aneh loh. Like ... Lebih romantis dari biasanya? Apa gue yang salah mengartikan?" Tanya Belva.
"Romantis gimana? Sama aja, perasaan lo aja kali," balas Tasya.
"Ngaku, kalian kenapa?" Tanya Monik yang kini mengubah posisinya menjadi duduk.
Tasya pun iku merubah posisinya. "Kenapa apanya? Gak kenapa-kenapa."
"Syaaa, lo cerita atau gue gebuk lo?!" Ancam Belva.
"Males ah, kalian juga main rahasia-rahasiaan sama gue selama ini. Jadi ya giliran gue main rahasia-rahasiaa," ucap Tasya ngambek.
"HAH, RAHASIA APA?! KITA GAK PERNAH RAHASIA-RAHASIAAN LOH?!" Teriak Belva dan Monik berbarengan.
"Brisik ih lo berdua. Ada, bohong banget kalian gak rahasia-rahasiaan. Payah," cibir Tasya.
"Asli kita gak pernah rahasiain apapun dari lo anjirr, coba bilang apa yang lo tau sampai bilang kita main rahasia-rahasiaan?" Tanya Monik.
"Gak mau, pikir aja sendiri wlek," ledek Tasya.
"Oke gue kasih tau, kalian tau Al suka sama gue dari lama, kan?" Tanya Tasya men-skak mereka.
"Lo tau itu darimana anjirrr, atau jangan-jangan kalian-" ucapan Belva menggantung.
"Sesuai apa yang kalian pikirkan," ucap Tasya.
"WOOII KALIAN JADIAN?" Teriak Monik namun tidak terlalu kencang.
"SUMPAH GUE SENENG BANGET AAAAAA." Belva memeluk Tasya dengan erat sambil mengguncang-guncangkan tubuh gadis itu.
"Ehhh gakkk gituu, gakk gituuuu!!!" Pekik Tasya.
"Loh, terus kalau gak gitu gimana? Lo mah ah pemberi harapan palsu," kesal Monik.
"Gakk, gue sama dia gak akan pacaran."
"Karena lo anggap dia sahabat doang? Syaa, Al itu tuh beneran tulus sama lo loh dia itu-"
__ADS_1
"Ya gue emang gak akan bisa pacaran sama Al, Monik. Gue mau langsung tunangan aja karena kita dijodohin," ucap Tasya sambil terkekeh.
"Anak babi, UDAH MELLOW YA GUE," kesal Belva sembari memukul Tasya dengan guling, sementara Tasya hanya tertawa melihat reaksi mereka.
"Tapi kalian belum jawab gue tau, kenapa kalian gak pernah cerita soal itu? Gue jadi ngerasa bersalah buat dia nunggu dan patah hati Kalian tau sendiri gue bucin banget sama Viko dulu," kesal Tasya.
"Kita tuh udah gatel banget tau pingin teriak depan muka lo yang gak pekaan. Tapi Al selalu larang kita buat bicara sama lo. Sampe gue gedeg banget sama itu orang," kesal Monik.
"Lo tau gak, dia bucin banget waktu SMA. Gak ada hari di mana dia gak ngomongin lo. Dia sesuka itu sama lo yang gak pekaan kaya anjing," ceplos Belva.
"Gue tuh bukan gak peka, tapi gak bisa baca isyarat. Coba kalau dia bilang kan gue jadi tau," balas Tasya tak terima.
"Ya dia emang terlalu sayang sih sama lo, Sya. Ahhh gue seneng banget akhirnya dia bisa dapetin cintanya dan lebih seneng lagi lo sekarang sahabat kita. Gue seneng dan maunya kalian bahagia," ucap Monik sembari memeluk Tasya.
"Pantes aja bucin, kita gak sadar lagi kalau Tasya emang bucin. Pokoknya besok gue harus todong si Al. Btw dia bilangnya gimana? Romantis? Al itu dia gak bisa romantis sih setau gue," tanya Belva.
"Gak romantis emang, tapi manis," ucap Tasya sambil tersenyum.
"Mulai deh bucinnya, anak babi. Gimana-gimana ceritain," paksa Monik.
"Ya kemarin kita nanam padi, terus ya biasa bercandaan sampai akhirnya jatuh ke sawah. Baju gue sama dia kotor semua. Jadi gue sama dia ke sungai buat bersihin diri. Dia itu manis banget, terus gue mikir gimana dia mau punya pacar kalau dia aja sama gue terus."
"Jadi gue tanya lah ke Al kaya gitu. Dia bilang suka sama orang dan gue maksa dia buat kasih tau. Susah banget dia kalau ditanya soal percintaan te-"
"Yaiyalah bego orang dia sukanya sama lo," potong Monik.
"Yakan gue gak tau, akhirnya setelah maksa Al waktu itu yaudah gue tau soal perasan dia dan gue mutusin buat belajar bales peraaan dia."
"Sometimes, gue mikir kalau dia itu manis banget. Maksud gue Al itu cowok yang paham dan perhatiin hal-hal kecil di hidup gue. Misalnya kaya jepit gue yang rusak, tali sepatu gue yang lepas atau makanan dan minuman yang bisa gue makan atau engga."
"Terus?" Tanya Belva.
"Dia juga selalu ada di moment-moment gue, bahkan dari kecil kayanya gue selalu bertameng sama dia. Clingy gitu gak sih? Ya mungkin lo berdua juga tau gue ke Al kaya gimana. Itu kenapa gue mikir kalau gue selalu butuh Al di hidup gue."
"Hmm lalu?" Tanya Monik.
"Yaudah jadi kayanya gue bisa cepat jatuh cinta gak sih sama dia?"
"Keputusan tepat, lo udah ambil keputusan yang bener kali ini. Kalian sama-sama temen gue dan gue bisa jamin dia beneran sayang sama lo lebih dari siapapun. Lo aja gak tau kan malam setelah lo putus itu Al yang datengin Viko dan mukulin dia karena gak terima lo disakitin?" Tanya Belva.
"Loh emang iya? Dia gak ada bilang apa-apa sama gue," ucap Tasya kaget.
__ADS_1
"Ya kerena pasti lo larang dia. Tapi dia gak bisa biarin si brengsek itu enak-enakan setelah nyakitin lo, jadi kita semua datengin dia," lanjut Monik.
Tasya memeluk kedua temanya itu, dia senang sekali mempunyai teman yang selalu mensuport nya dalam keadaan apapun. Meskipun Sherli, Sarah dan Niken melupakannya, tapi Tasya beruntung karena dipertemukan dengan Belva dan Monik. Tentunya dengan Angkasa dan Yoda juga.