Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Mama Viko


__ADS_3


Di sinilah Tasya terdiam. Di ruangan dokter yang sudah menjadi langganannya. Ya, hari ini adalah jadwalnya Tasya untuk checkup. Pengobatan asmanya ini memang memerlukan pengontrolan agar tidak sering kambuh.


Sebenarnya Tasya sudah bosan dengan aroma Rumah Sakit. Tapi dia harus kesini, jika tidak Radit akan marah dan memaksanya ke sini. Lebih baik dia inisiatif sendiri. Apalagi sekarang dia sedang tidak akur dengan Radit.


"Gimana, Dok, apa harus ganti obat lagi?" tanya Tasya pada dokter Rudy.


"Waktu kambuh kemarin, obatnya bereaksi?" Dokter Rudy melirik Tasya sembari memeriksa laporan perkembangan pasiennya itu.


"Bereaksi sih, Dok. Tapi cuma sebentar, terus jadi pusing sama bibir jadi kering gitu," jelas Tasya sembari memainkan jari-jarinya. Dia rasanya ingin cepat pulang dari sini.


"Sepertinya dosis yang kemarin terlalu tinggi untuk kamu pakai, saya akan buatkan resep obat yang sebelumnya, ditambah dengan satu jenis obat lagi," ucap dokter Rudy lalu menuliskan beberapa resep obat yang harus dia minum nantinya.


"Jadi obatnya kembali ke semula ya, Dok?" tanya Tasya.


"Iya, seperti lebih cocok obat yang kemarin."


"Baik, Dok."


"Kakak kamu kemana, Sya? Biasanya kakak yang antar kamu checkup?" Saking seringnya bertemu Dokter Rudy, beliau sampai hafal kalau Tasya tidak pernah lepas dari Radit, Abangnya pasti yang selalu mengantar Tasya kemana-mana. Selain untuk mengetahui perkembangan Tasya, Radit memang begitu menyayangi adik satu-satunya itu.


"Oh, Abang sibuk, Dok. Jadi sendiri aja," jawab Tasya, karena dia tak mungkin kan bicara kalau mereka sedang perang dingin.


"Ya sudah, ini saya sudah buatkan resep. Bisa kamu tebus di apotek."


"Terima kasih, Dok."


"Ingat agar selalu menghindari stress, makan teratur, dan jangan sampai kecapean," peringat dokter.


"Siap, Dok, terima kasih," ucap Tasya sambil berdiri dari kursinya.


"Sama-sama, ingat saran saya."


Setelah selesai, Tasya pun keluar dari ruangan itu. Yang sekarang harus dia lakukan adalah, menebus obat. Menghindari stress, makan teratur dan jangan kecapean. Semuanya terbayang-bayang dalam otak Tasya. Apa yang dilarang, justru tak bisa dihindari olehnya sekarang.


"Sya, Tasya!" Teriak seseorang dari belakang. Tasya pun menoleh ke sumber suara. Dia mengerutkan keningnya, aneh kenapa pria itu ada di sini.


"Viko?" gumam Tasya keheranan. Viko pun berlari ke arahnya.


"Ngapain di sini?" Tanya Viko saat dia sampai di hadapan Tasya.


"Habis checkup, terus baru aja nebus obat. Lo ngapain di sini?" Tanya Tasya balik. Apa mungkin Viko sakit?


"Gua lagi-"


"Bang, kamu Mamah cariin di sini ternyata, eh ini siapa?" tanya Rena yang sukses memotong pembicaraan antara Tasya dengan Viko. Rena tersenyum ke arah Tasya, Rena sangat menyukai anak perempuan. Karena Rena hanya memiliki 2 anak laki-laki.


"Aku Tasya, Tante temen sekelasnya Viko," kata Tasya sambil bersalaman kepada Rena. Tidak lupa dia membalas senyumnya agar terlihat lebih sopan.


"Ini Tasya, Mah. Kita satu sekolah, ya bener sekelas juga." Viko pun memperkenalkan Tasya pada Rena. Entah kenapa dia seperti kepergok rasanya. Ada sedikit ketakutan kalau-kalau mamanya berbicara macam-macam pada Tasya.


"Habis dari dokter atau nganter orang tua?" tanya Rena pada Tasya.


"Iya Tante, biasa harus checkup bulanan rutin," jawab Tasya sopan.


"Emangnya kamu sakit apa, sayang?" Rena memegang bahu Tasya sambil mengelus ya perlahan.


"Asma sama lambung, Tan. Tapi cuma kontrol aja kok, gak tahap serius." Tasya tersenyum sembari merapikan rambutnya. Dia merasakan hal yang aneh. Entah apa.


"Oh begitu, harus jaga kesehatan ya. Asma sama lambung itu biasanya karena pola hidup. Jadi harus jalanin rutinitas yang baik dan benar. Pola makan, pola tidur, pola rutinitas juga," Nasehat Rena.

__ADS_1


"Hehehe iya, Tante. Makash ya udah diingetin, nanti Tasya catat." Tasya tertawa kecil dam dibalas tawa oleh Rena. Sepertinya mereka mudah akrab.


"Lu pulang naik apa, Sya?" tanya Viko.


"Pesen online mungkin," jawab Tasya asal.


"Gimana kalau lu bareng gua aja?" tanya Viko lagi.


"Enggak, gak usah ngerepotin, Vik. Gue bisa sendiri kok." tolak Tasya perlahan.


"Gak apa-apa, lagian searah juga 'kan?"


"Hm." Tasya mengangguk kecil, benar juga tapi tidak enak dengan orang tuanya Viko.


"Gak apa-apa, bareng aja ya sayang," kata Rena sambil tersenyum.


"Mm boleh deh, makasih ya, Tan, Vik." Tasya pun mengiyakan ajakan Viko dan mamanya, lagian tidak enak juga kalau dia menolak.


...~ • ~...


Sepanjang jalan, Tasya dengan Rena asik mengobrol. Sementara Viko? Dia sibuk menyupiri kedua wanita itu. Viko tersenyum karena mamanya dan Tasya bisa dekat. Mungkin karena Tasya anak organisasi jadi dia mudah untuk berinteraksi dan menyesuaikan diri.


"Jadi Viko gimana di sekolah, Sya?" Tanya Rena sambil menatap ke arah Tasya.


"Viko itu bandel tuh, Tan. Dia bad boynya sekolah. Kalau dikasih tau suka gak mau denger. Seiring kena razia, suka males masuk kelas. Berisik banget juga di kelas," adu Tasya.


"Weh weh weh, ngadu lu ya. Enggak, Mah. Abang gak seburuk itu, Tasya itu terlalu melebih-lebihkan," sanggah Viko.


"Ih beneran Tante. Viko kalau disuruh masukin baju aja susah, dasinya gak pernah diiket. Tasya harus marah-marah dulu, itu pun gak didengerin. Marahin, Tan," ucap Tasya kesal.


"Ya gimana mau denger, lunya aja cerewet. Marah-marah terus, lagian sekolah kita terlaku ketat dah. Ma kalau di sekolah Tasya garang, Mah. Gak jauh beda sama yang ini." Giliran Viko yang mengadu, Rena hanya bisa tertawa melihat pertengkaran keduanya. Sangat menggemaskan.


"Lebih tepatnya ketua OSIS, Mah," sambung Viko.


"Hebat, perempuan tapi jadi ketua OSIS. Tante salut sama Tasya," ucap Rena.


"Tapi ketua OSIS cerewet, lemot, galak.""


"Ya kalau gak galak nggak akan nurut. Apalagi siswanya kek lo semua. Bikin naik darah, terus setelahnya minum obat sakit kepala dua. Eh, maaf Tante. Kalau cewek udah ngomong suka kebablasan."


"Ya cerewet emang lo."


"Nggak apa-apa. Kalau Viko yang cerewet baru gak boleh. Tante baru tau loh Viko bandel. Padahal di rumah manjanya minta ampun," tutur Rena.


"Manja? Bad boy bisa manja juga Tante?" tawa Tasya pecah saat Rena mengungkapkan hal itu.


"Iya, kalau datang manjanya suka gelayutan kaya anak monyet. Suka minta dielusin kepalanya atau cium pipi tante kalau lagi ada maunya," jelas Rena.


"Manja ya emang. Gak nyangka loh anak mama juga ya kalau di rumah. Owalahhh gitu yaa dede Viko hahaahahha," Tasya pun mulai meledek Viko.


"Heh diem lu, awas aja bocorin satu sekolahan," ancam Viko yang dibalas tawa oleh Tasya dan mamahnya.


Ada sedikit rasa iri Tasya yang muncul sekarang. Dia berpikir, mungkin jika mamahnya bersamanya, dia akan melakukan hal yang sama. Bisa saja lebih parah manjanya.


"Rumah kamu di mana, Sya?" tanya Rena.


"Ke depan sedikit lagi sampe kok, Tan," jawab Tasya.


"Kamu tinggal sama orang tua?" tanya Rena lagi.


"Iya, sama abang juga."

__ADS_1


"Oh kamu punya kakak laki-laki?"


"Iya, Mah. Abangnya Tasya juga alumni sekolahnya Tasya sama Viko," sambung Viko.


"Kakak kamu sekarang apa? Kerja atau kuliah?" tanya Rena.


"Kuliah tante baru semester satu," jawab Tasya.


"Ayah kamu kerja?"


"Iya, Papah kerja dan pulang dua minggu sekali ke rumah, soalnya dinas di luar kota."


"Ibu kamu kerja atau enggak? Aduh tante kepoan, jadi nanya-nanya," kata Rena.


"Ahh nggak apa-apa, Tan. Mam-"


"Udah sampe," sela Viko cepat.


Belum sempat menjawab, ternyata mereka sudah sampai di depan rumah Tasya.


"Ah, nanti dilanjut lagi ya, Mah. Kasian Tasya butuh istirahat, Mamah juga kan?"


"Ah iya, lain kali main ke rumah sama Viko ya, Sya. Tante seneng bisa ketemu kamu hari ini," kata Rena.


"Iya, nanti kapan-kapan Tasya main kok. Tasya turun ya, Tan." Tasya pun bersalaman dengan Rena dan turun dari mobil.


"Salam, buat Mamah ya, Sya." Rena pun bersuara dari balik kaca mobil.


Tasya hanya membalasnya dengan sebuah senyuman. Setelah mobil Viko menjauh, Tasya pun masuk ke dalam rumahnya dengan rasa bahagia.


Entahlah, dia senang bisa berkenalan dengan orang tuanya Viko. Senyumnya merekah, seperti anak gadis yang habis dikenalkan kepada calon mertuanya.


"Ternyata gini rasanya ngobrol bareng seorang Mamah? Ya bukan Mamah gue sih, tapi nyaman banget rasanya," gumamnya.


Tasya membuka pintu rumahnya. Terlihat abangnya sudah menunggunya.


"Cie yang abis ketemu camer," ledek Radit.


"Apaan sih, tadi ketemu pas checkup," sambar Tasya.


"Tetep aja kenalan. Baik gak calon mertua lu, Dek?" tanya Radit.


"Ya Allah, bukan calon mertua ih, Bang. Tapi tante Rena baik kok."


"Sebentar lagi lu juga mengakui itu calon mertua," ledek Radit.


"Eh tunggu sebentar, gue kan masih marah sama lo, Bang. Kenapa lo ledekin gue? Kenapa gue ngomong sama lo?"


"Lah?"


"Lo suka ngalihin deh ya. Kebiasaan," kesal Tasya.


"Yah marah lagi nih? Masa marah mulu sama gua. Nggak kangen gua gitu?"


"Tau ah, gue belum maafin lo ya. Bye," ucap Tasya yang langsung menuju kamarnya.


Radit pun mengacak-acak rambutnya frustrasi. Dia gagal mengalihkan kemarahan Tasya hari ini. Jadi, dia harus berpikir keras untuk mendapatkan maaf dari Tasya.


"Adek gua ngambekan banget, dosa apa gua punya adek macem dia," gerutu Radit.


Meskipun begitu, Radit sangat menyayangi Tasya. Dia tak tahan lama-lama bermusuhan dengan adik manisnya itu.

__ADS_1


__ADS_2