
Sorry aku baru update, karena aku emang ambil jatah libur nulis 3 hari. Tapi aku gatel mau update jadi update ajalah.
Al dan yang lainnya sedang berada di kantin rumah sakit, sepertinya Tasya ini menjadi asisten kesayangan dokter Fadil, entah kenapa dari tadi seniornya itu selu mengandalkan Tasya dalam apapun.
"Kusut banget itu muka, kenapa?" Tanya Yoda pada Al.
"Gak." Al kembali membuka ponselnya dan mengirim pesan pada Tasya agar segera ke kantin, namun sebelum pesan itu terkirim Tasya sudah sampai di sana dan duduk di sebelah Al.
"Aduhhh maaf-maaf, bentar cape." Tasya langsung meminum, minuman yang sudah Al pesankan. Dia memang berlari saat ke sana karena takut membuat yang lainnya menunggu.
"Kerjaan lo banyak banget ya, Sya?" Tanya Belva.
Tasya mencoba mengatur napasnya seraya mengangguk. "Iya banyak. Gila ya dokter Fadil tuh orangnya baik banget, tadi gue ada kesalahan kan tapi dia benerin. Ya aman deh gue jadi gak kena marah senior."
"Dokter Fadil tuh yang tadi keluar dari ruangan pas gue ke ruangan kalian? Udah ganteng, baik lagi. Dia masih single gak sih?" Tanya Monik.
"Masih, tadi suster banyak yang gosipin dia," jawab Angkasa.
"Akhirnya jalan menuju istri dokter terbuka lebar," kata Monik bahagia.
"Pacar lu mau dikemanain bego?" Tanya Yoda.
"Selagi masih belum menikah, masih boleh pilih-pilih mana yang terbaik," balas Monik.
"Tadi sebenernya gue ditawarin makan bareng di kantin khusus dokter tapi gak enak, yaudah gak gue terima," kata Tasya polos sembari memakan nasi goreng miliknya.
"Wah iya? Dia tertarik sama lo kayanya. Perasaan dari tadi lo terus yang dipanggil. Padahal posisinya Yoda, Angkasa, gue nganggur," ucap Belva.
"Ngaco, engga lah," balas Tasya.
"Tapi bisa jadi sih, apalagi dia nyebut Tasya-Tasya mulu. Gua mau protes tapi itu senior," kata Yoda.
"Engga, lagian ini baru pertama kali kita masuk, kan? Gak mungkin lah, mungkin karena emang gue yang kesebut jadi kaya gitu. Jangan ngaco." Tasya sih tidak peduli, karena menurutnya dia hanya melakukan tugasnya.
Al masih tidak bicara, dia malah menghela napasnya kasar. Mendengar itu membuatnya semakin panas saja. Lagipula kenapa coba harus mengajak Tasya makan siang bersama? Memangnya dokter senior selalu seperti itu pada dokter muda?
Tasya melirik Al yang sedari tadi hanya diam dan fokus pada makanannya. Tidak biasanya begitu. "Kamu kenapa?" Tanya Tasya pada Al.
Al menggeleng lalu mengusap puncak kepala Tasya dengan lembut. "Gapapa, lanjut makannya."
"Bohong, gak biasanya diem gitu. Kaya cacingan aja," kata Tasya.
__ADS_1
"Gak kenapa-kenapa, lagi pusing aja banyak kerjaan," jawab Al sembari memakan makanannya lagi.
"Biasanya juga kamu yang nenangin aku, aneh. Kamu gak mau cerita sama aku? Kamu dimarahin senior? Pekerjaannya salah? Atau gimana?" Tanya Tasya.
"Ini cemburu woii," batin Al.
"Gak kenapa-kenapa, Sayang. Udah, fokus makan."
Aneh sekali, biasanya Al selalu bisa bersikap tenang dalam menghadapi pekerjaannya. Membuat Tasya sedikit aneh melihat perilaku Al hari ini. Sementara Al hanya merutuk dalam hati. Memang gadisnya ini tidak peka, biasanya cowok yang selalu tidak peka dan ini malah terbalik.
Monik, Belva, Angkasa dan Yoda memilih tidak ikut campur perkara prahara rumah tangga yang terjadi pada Tasya dan Al. Mereka hanya tertawa geli saja karena yang satu tidak pekaan yang satunya terlalu bucin. Pasangan yang cocok, iya cocok untuk perang.
...~ • ~...
"Dokter muda Tasya," panggil Dokter Fadil.
Tasya dan Al menoleh ketika hendak keluar dari ruangan. Dokter Fadil pun menghampiri mereka berdua. "Iya kenapa, Dok?" Tanya Tasya ramah.
"Pulang naik apa? Mau saya antar pulang?" Tanya Fadil.
Al terdiam menunggu jawaban apa yang Tasya berikan dan Tasya terlihat gugup. Maksudnya dia merasa aneh saja ditawari oleh seorang pria di depan tunangannya sendiri. "Oh e-enggak usah, Dok. Saya bareng Al, soalnya rumah kita deketan."
"Oh begitu rupanya, oke mungkin next time?" Tanya Fadil.
"Baik, kalau begitu saya duluan," ucap Fadil.
Tasya dan Al keluar dari ruangan dan menuju parkiran, Al masih terdiam, sementara Tasya dari tadi menatap Al karena dia tau kalau Al pasti marah. Berteman sejak kecil tidak mungkin Tasya tidak mengenal dengan baik.
Dia selalu marah ketika Tasya lebih dekat dengan yang lainnya atau dia akan benar-benar langsung bicara pada Tasya kalau dia tidak suka. Apa sekarang dia cemburu ya?
Tasya dan Al memasuki mobil dan Al langsung melajukan mobilnya. Tidak ada percakapan di antara mereka. Hanya keheningan yang menyelimuti mereka sekarang. Tak selang beberapa lama mereka pun sampai di depan rumah.
Seperti biasa Al membukakan pintu untuk Tasya dan gadis itu mengucapkan terima kasih. Namun kali ini dia tidak beranjak dari tempatnya dan berdiri sambil menatap Al.
"Kamu marah kah sama aku?" Tanya Tasya memberanikan diri.
"Engga, aku gak marah. Kenapa nanyanya kaya gitu?" Tanya Al berbalik.
"Soalnya aku tau kamu kaya gimana, kamu cemburu ya?" Tanya mendekat dan menggeggam lengan kanan Al.
"Engga, Tasya aku gak kenapa-kenapa."
Tasya memeluk Al dan Al pun membalas pelukannya, cukup lama mereka dalam posisi itu. Tasya hanya berusaha menetralkan rasa cemburu Al sekarang.
__ADS_1
"Kamu jangan cemburu sama siapapun, karena aku sayangnya ya sama kamu. Jangan mikir aneh-aneh, aku sama dokter Fadil itu kan cuma menjalankan profesionalitas aja," ucap Tasya pada Al.
Ya Al memang tau kalau itu, tapi bukankan aneh kalau Fadil sampai mengajaknya makan siang dan pulang bersama? Dia tidak marah pada Tasya, dia hanya kesal saja pada Fadil sebenarnya.
"Tau, aku gak marah sama kamu, Sya. Cuma gak suka aja dia ngajak kamu diluar profesionalitas pekerjaan. Maaf ya, malah jadi cuekin kamu," kata Al sembari menciumi puncak kepala Tasya.
"Oh jadi kamu cemburu?" Goda Tasya.
"Iya, gak peka banget jadi cewek," jawab Al to the point.
"Gemes banget, maaf ya kalau aku bikin kamu cemburu. Kalau kamu cemburu bilang aja, nanti aku buat lebih cemburu," ledek Tasya.
"Syaa, jangan bandel!" Peringat Al.
"Ya habis kamu kalau cemburu lucu banget, gemes liatnya. Padahal akunya aja gak tanggapin," cibir Tasya.
"Gak tanggepin tapi dianya yang tancap gas, gak tau aja ada calon suaminya," kesal Al.
"Mana calon suami? Oh aku punya calon suami ternyata," goda Tasya lagi. Dia senang sekali bisa menggoda Al, ini pertama kalinya Al cemburu sampai sekesal itu.
"Sya." Al kembali memeluk Tasya dengan erat, kali ini tidak akan dia biarkan gadis itu kemana-mana. Ternyata digoda seperti itu memang menyebalkan.
Tasya tertawa saat Al memeluknya seperti itu, "Lepasin ih itu diliatin orang."
"Gapapa, biar tau kalau kamu punya aku," bisik Al.
"Udah tau lah, orang kamu deket-deket aku terus."
"Kamu belum cerita, tadi kenapa waktu selesai visite?" Tanya Al sembari merapikan helaian rambut Tasya.
"Aku periksa papanya Viko, ada Viko juga di sana," jawab Tasya. Ya ini bukan sesuatu yang harus dirahasiakan kan?
"Terus dia apain kamu?" Tanya Al yang mulai cemas
"Gak ngapa-ngapain, kita juga gak bicara panjang lebar. Aku sebenernya gapapa, maksud aku waktu kita gradu beberapa bulan lalu tuh aku sempet liat Bella di Mall. Jadi aku mikir mereka pindah ke sini? Gak penting juga, lagian aku tadi cuma kaget doang."
"Jangan disepelein, kita gak tau apa yang bakalan dialakuin ke kamu lagi," kata Al.
"Iya, Al. Tapi maksud aku yaudah, kita hidup masing-masing aja. Kalau dia ngusik baru."
"Iya, tapi mulai sekarang jangan jauh-jauh dari aku, aku gak mau sampai kecolongan lagi kaya waktu itu. Bisa jantungan aku, Sya."
Tasya tersenyum lalu mengangguk. Dia paham kalau pria itu begitu khawatir padanya. Tapi kali ini dia akan memastikan dirinya sendiri baik-baik saja.
__ADS_1