
Hari ini teman-teman satu kelas Tasya membuat kejutan untuknya di salah satu cafe. Tentu ini juga bagian dari rencana Al, Monik, Belva, Yoda dan Angkasa. Tasya benar-benar diratukan hari ini. Dia senang sekali.
Tasya menikmati acaranya, meskipun mereka membawa pasangan masing-masing. Hanya Al dan dirinya saja yang seperti jomblo di sini. Tapi tidak apa-apa, mereka tetap menikmatinya.
Tiba seseorang datang dengan penampilan casual, tinggi, memakai masker dan topi hitam, dia membawa kue ulang tahun di tangannya ke hadapan Tasya.
Happy birthday Tasya
Happy birthday Tasya
Happy Birthday Tasya
Happy birthday happy birthday
Happy birthday Tasya
Tasya berdiri di hadapan pria itu dan menatapnya. Tidak lupa dia meniup lilin pada kuenya. Dia masih terpaku, apa ini Viko? Tapi dia menggelengkan kepalanya cepat, tidak mungkin itu Viko. Dia tidak boleh berharap.
"Lo siapa?" Tanya Monik saat melihat orang yang tidak mereka kenali tiba-tiba saja menghampiri mereka.
Viko menyimpan kue dan paper bag yang dia bawa di meja. Perlahan dia membuka masker dan topinya. "Surprise."
Mata Tasya berbinar saat melihat sosok yang dia rindukan bertahun-tahun ada di depannya. Meskipun dia masih marah pada pria itu, namun dia benar-benar merindukannya. Viko merentangkan tangannya dan tentu saja Tasya langsung memeluk leher pria itu.
"Kamu jahat!" Ucap Tasya pelan, tapi malah mengeratkan pelukan pada pria itu dan entah kenapa dia menangis. Tidak tau karena marah atau dia benar-benar merindukan kekasihnya itu.
Viko tersenyum, dia tau kalau Tasya tidak mungkin menolaknya. Dia tau kalau Tasya selalu menghargai sebuah usaha. Jujur, dia merindukan gadis itu. Memeluknya seperti ini, menciumi aroma tubuhnya itu membuat Viko selalu lebih tenang.
"Loh itu pacar Tasya? Aku kira Tasya pacarnya Al," bisik Seana - pacar Angkasa. Tentunya pada Angkasa.
"Cinta segitiga," balas Angkasa berbisik.
Seana hanya mengangguk paham, kasian juga Al. Padahal mereka sangat terlihat serasi menurut Seana. Sementara Al mencoba biasa saja dan tersenyum karena kebahagiaan Tasya sempurna hari ini.
__ADS_1
"Kok nangis? Jangan nangis dong, aku sengaja jauh-jauh kesini buat liat kamu senyum, bukan nangis," ucap Viko sembari menghapus air mata Tasya dengan kedua ibu jarinya.
"Aku masih marah tapi kangen, gitu rasanya," ucap Tasya polos dan membuat sekelilingnya terkekeh.
"Yaudah kita bicara berdua ya? Oke?" Viko menciumi puncak kepala Tasya setelah itu melepaskannya perlahan.
"Hai guys, salam kenal. Gua Viko," ucap Viko sambil beradu tos dengan mereka semua yang ada di sana, termasuk Al.
"Apa kabar lu di sana?" Tanya Al sembari merangkul Viko
"Baik gua, lu sendiri gimana di sini? Aman? Btw makasih udah jagain Tasya buat gua," ucap Viko.
"Aman kok aman, gak usah makasih itu juga udah tugas gua buat selalu jagain Tasya," balas Al sambil tersenyum.
"Oh jadi ini pacarnya Tasya, kasian dari tadi kaya jomblo. Eh sekarang dia seneng karena ada bebebnya," ledek Belva yang membuat Viko sedikit terkekeh.
"Tadi ada yang galau tuh, iya gak?" Timpal Monik yang dihadiahi tatapan tajam dari Tasya. Sementara Yoda dan Angkasa memilih diam, mereka lebih tau perasaan Al. Jadi mereka tidak akan berkomentar apapun.
"Apasihhh engga gituu, tapi seneng sih habis dari tadi gue jadi nyamuk," kesal Tasya.
"Yaudah sana kangenan gih, kita di sini," ucap Al sambil tersenyum.
"Hai guys, miss me?" Tanya seseorang yang tiba-tiba datang.
Viko memejamkan matanya, bukan kah dia sudah membuat kesepakatan dengan Bella agar gadis itu menunggu di mobil? Viko berusaha tenang dan memikirkan rencana agar Tasya dan yang lainnya tidak curiga.
"Bella," gumam mereka sambil berdiri menatap gadis yang telah memutuskan hubungan dengan mereka beberapa tahun lalu.
"K-kalian udah saling kenal?" Tanya Viko.
Al melirik ke arah Viko yang terlihat panik, perasaannya mengatakan kalau ada yang Viko sembunyikan. Terlihat ekspresinya berubah ketika Bella datang. Sialnya dia tidak mungkin langsung bertanya begitu saja mengingat Tasya yang sedang senang hari ini.
"Mereka temen-temen gue waktu SMA, oh mantan kali ya lebih tepatnya," ucap Bella sedikit menyindir.
Angkasa mencoba menahan Belva yang terlihat emosi saat Bella berbicara seperti itu. Belva mungkin terlihat kalem, tapi jika dia sudah marah tidak ada ampun lagi baginya. Tasya pun sedikit bingung, tapi dia ingat kalau dia adalah Abella yang diceritakan oleh Al dan katanya mereka memang bermasalah.
__ADS_1
"Tahan, jangan diladenin," bisik Angkasa.
"Mulutnya itu loh, Sa," bisik Bella dengan kesal.
"Inget ini ulang tahun Tasya," peringat Yoda.
Tasya menatap ke arah Viko seolah meminta penjelasan soal ini. Jantung Viko seolah berpindah dari tempatnya, wanita yang ada di hadapannya ini benar-benar nekad. Tapi untung saja Bella menggunakan bahasa sebagai teman, jadi mungkin mereka tidak akan berpikir macam-macam.
"Sayang, kenalin ini Bella. Bell, ini pacar gua, Tasya," ucap Viko.
Tasya sedikit tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Bella. "Gue Tasya."
"Hai, Tasya. Kenalin gue Bella, ini hadiah buat lo. Happy birthday. Maaf cuma bisa kasih ini, kapan-kapan gue kasih kejutan yang lebih spesial dari ini, karena lo pacarnya sahabat gue," ucap Bella sembari mengulurkan paper bag pada Tasya, tentunya Bella membalas uluran tangan Tasya dan memeluknya sebentar.
Tasya tersenyum dan menerima hadiah dari Bella ragu. Wanita yang ada di hadapannya ini cantik, manis, dan juga terlihat lebih sexy karena pakaian dan make up nya yang terlihat dewasa. Dia jadi sedikit minder karena di usianya saat ini pun Tasya masih terlihat seperti remaja yang belum bisa dewasa. Bahkan hari ini dia hanya mengenakan dress simpel dengan jaket crop top di acara ulang tahunnya.
"Gak nyangka ya kalau ternyata lo temenan sama mereka, kebetulan banget. Semoga diperlakuin dengan baik deh sebagai sahabat," ucap Bella pada Tasya.
"Bell, jangan buat keributan," peringat Viko setengah berbisik.
Bella tidak peduli dengan ucapan Viko, dia hanya melakukan sesuatu yang sudah dia rencanakan sekaligus memberikan kejutan pada mantan teman-temannya.
"Yaudah, Bell. Gua tinggal dulu ya, lu bisa ngobrol sama temen-temen lu kan, nanti gua anter balik. Gua mau sama Tasya dulu," kata Viko yang dihadiahi anggukan oleh Bella.
Viko mengajak Tasya ke ruang outdoor cafe itu. Mereka pastinya harus menghabiskan waktu berdua hari ini. Yang pasti mereka harus menyelesaikan pertengkaran di antara mereka yang belum selesai.
Tidak masalah membiarkan Viko bersama Tasya sebentar, karena sekarang dia sudah puas melihat reaksi orang-orang di sana saat Bella menghampiri mereka. Terutama Al yang kini menatapnya penuh curiga.
"Kenapa sih ngeliatin gue kaya gitu? Kaget? Santai kali gue bukan setan," ucap Bella sambil tertawa.
Al berpikir apakah Bella adalah orang yang dimaksud Tasya sebagai topik pertengkaran hubungannya? Entah kenapa dia memiliki perasaan yang tidak enak mengingat hubungan mereka tidak baik. Tapi Al harus berpikir positif dan tidak boleh menuduh yang macam-macam.
"Udah lama aja gak ketemu, gabung?" Tawar Al.
"Sorry, gue biasanya gak mungut sampah yang udah gue buang. Gue mau cari tempat lain aja," jawab Bella santai sembari melewati tempat mereka dan memilih duduk di pojok dekat jendela. Untuk apa lagi kalau bukan memantau Viko dan Tasya.
__ADS_1
"Kurang ajar," geram Monik namun ditahan oleh mereka. Bella benar-benar jauh berubah sekarang, entah apa yang membuat gadis polos sepertinya menjadi seperti itu.
Bukan hanya Monik, tapi mereka benar-benar geram dengan tingkah Bella saat ini. Namun mengingat ini adalah pesta ulang tahun Tasya, mereka harus bisa menahan amarahnya.