Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Cita-cita Tasya


__ADS_3


Waktu menunjukan pukul 22.00. Setelah selesai nongkrong, Al mengajak Tasya ke suatu tempat. Tasya tidak mengerti kenapa Al mengajaknya ke sini. Apalagi Al mengajak Tasya mengendap-endap.


"Kita mau maling, Al?" Tanya Tasya keheranan.


"Enggalah gila, lu ikut aja. Jangan berisik," peringat Al.


Mereka memasuki sebuah taman di kota Surabaya. Dan sekarang mereka berdua sedang berada di depan patung Surabaya yang Tasya inginkan. Matanya berbinar melihat patung di tengah air mancur itu. Ada perasaan yang meledak-ledak dalam diri Tasya yang ingin dia luapkan.


"Aaaaaa baguss," teriak Tasya pelan.


"Ya lu mau ini kan? Sana lah." Al tersenyum ke arah Tasya, melihat Tasya bahagia seperti itu membuat perasaan Al teduh.


Tasya mengangguk dan mendekati patung itu, dia juga mengambil beberapa photo bersama Al. Al mengeluarkan kamera dari dalam tasnya. Sengaja dia bawa karena ingin mengabadikan moment langka ini, mengikuti cita-cita yang tidak masuk di akal.


"Sya berdiri di situ," perintah Al menunjuk tepat di tengah-tengah.


Tasya menurut dan melihat ke arah kamera. Setelah beberapa photo diambil Tasya mendekat ke arah Al untuk melihat hasilnya. Dia cukup puas, pasti akan sangat bagus jika diposting di akun Instagram miliknya.


"Al gue mau di photoin di kolamnya," cicitnya.


"Sya ini udah malem, tar lu sakit," kata Al melarang.


"Pleasee, kalau gak diikutin tar gue ngidam gimana? Ayo klahhh udah nanggung sampe sini juga.


"Sya ..."


"Pleaseee," pinta Tasya memelas.


Al pun tidak kuat jika Tasya merajuk seperti itu. Rasanya akan aman jika tidak ada penjaga yang lewat. Tasya pun langsung berlari kegirangan. Kakinya naik sembari mencelupkannya ke air kolam. Rasanya bahagia sekali bisa mewujudkan keinginannya masuk ke kolam di bawah patung Surabaya.


Setelah itu Tasya berdiri menghadap kamera, Al mengambil beberapa photo di sana dari mulai berdiri, bergaya, duduk dan berbagai macam gaya Tasya keluarkan.

__ADS_1


Namun, saat sedang asik dengan kegiatan mereka tiba-tiba ....


"Woii ngapain di sana!" Teriak seseorang.


Tasya yang kaget pun langsung keluar dari kolam dan menarik tangan Al agar berlari bersamanya. "Kaburrr hahahahaha."


Al dan Tasya berlari mengelilingi taman, orang yang di belakang mereka sepetinya tidak akan membiarkan mangsanya kabur begitu saja. Tapi yang dikejar malah tertawa seperti kesenangan. Menurut Tasya ini sangat seru, malam-malam begini mereka bermain kucing-kucingan dengan penjaga monumen.


Mereka berdua tertawa, rasanya seperti seseorang yang kepergok maling. Saat mereka sudah sampai di motor, ternyata orang yang memergoki mereka tadi sudah tidak mengejar lagi. Tapi mereka masih tertawa karena kejadian tadi.


"Hh hh hh hahaha udah gua bilang, pasti bakalan dimarahin orang, bandel sih lu," kata Al sambil tertawa.


"Hh hh gilaa seru tapi hahaha tadi gue kaget, terus langsung lompat dari sana. Hahahaha," ucap Tasya yang masih ngos-ngosan.


Al berdecak. "Ck, kalau gak karena lu seneng. Gua gak akan izinin kaya gitu, Sya. Liat baju lu basah semua."


Al melepas jaket miliknya dan memakaikannya pada Tasya. Tasya tersenyum dia tidak merasa kedinginan, karena dia sedang merasa senang.


"Gak dingin, gue tuh seneng. Makasih ya lo udah aja gue ke sini," ucap Tasya sambil tersenyum manis. Saking manisnya Al tidak bisa bicara apa-apa dan hanya mengusak rambut Tasya pelan.


"Ayok, tapi janji ya ajak gue jalan lagi. Kita ospek masih lama, pasti gue gabut banget," kata Tasya.


"Iyaa, pasti. Yaudah pulang kita?"


Tasya pun mengangguk. Mereka pun menaiki motor dan bergegas pulang ke rumah. Hari pertamanya di Surabaya membuat perasaan khawatir menghadapi kehidupan di kota ini sirna seketika. Dia mendapat teman baru dan banyak melihat tempat yang baru. Dia harap di sini, semuanya akan berjalan dengan lancar.


Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai di depan rumah. Mereka berdua saling tersenyum.


"Makasih ya udah anterin gue pulang dengan selamat," ucap Tasya.


"Sama-sama, udah cepet ganti baju lu. Tar masuk angin, udah malem," peringat Al.


"Iyaa, yaudah gue masuk. Dadahhhh." Tasya melambaikan tangan pada Al begitu juga sebaliknya. Setelah itu mereka masuk ke rumah masing-masing.

__ADS_1


...~ • ~...


Setelah membersihkan tubuhnya, Tasya merebahkan diri di kasur. Niatnya sih ingin menghubungi Viko, tapi dia tidak mengangkatnya. Mungkin karena sudah larut malam.


Jika Tasya sedang asik, terkadang dia melupakan ponselnya. Sampai tidak sadar kalau banyak panggilan dari Viko. Tapi semoga saja Viko tidak marah besok.


Tasya membuka instagramnya, mengkonfirmasi beberapa akun yang mengikutinya, termasuk Monica dan Belva. Setelah itu Tasya memposting photo-photo mereka di cafe tadi dengan caption : Halo, aku Tasya. ✨


Sedikit tertawa mengingat pertemuan tadi, semoga saja mereka sama seperti Sherli, Sarah dan Niken. Yang bisa menerimanya dengan baik kedepannya. Tasya tidak lupa juga memposting photonya bersama Al saat berada di patung tadi dengan caption : 🐰🦁


Sayang sekali photo di kamera Al belum dikirimkan, jadi dia hanya memposting yang ada di ponselnya saja. Pintu terbuka, dilihatnya Radit dari balik pintu dengan membawa segelas air ditangannya.


"Ayok minum obat," ucap Radit sembari duduk di pinggir kasur Tasya.


Tasya pun membenarkan posisinya menjadi duduk, wajahnya terlihat sangat gembira, tentu Radit bisa melihatnya dengan jelas. "Kenapa lu senyum-senyum gitu?" Tanya Radit.


"Emm gue seneng aja gitu. Gue dapet temen baru tadi, temennya Al sih tapi mereka juga bilang mau temenan sama gue," jawab Tasya sambil terkekeh.


"Serius? Lu bisa beradaptasi gak sama mereka? Bukannya kemarin lu bilang insecure sama anak-anak Surabaya?" Tanya Radit lagi


"Awalnya iya, gue mikir kayanya gue gak akan bisa bersosialisasi di sini. Tapi pas gue ketemu temen-temenya Al beda tau. Ya mungkin sedikit culture shock dikit karena ada beberapa bahasa atau rutinitas yang gak pernah gue lakuin di Bandung. Cuma selebihnya gue menyesuaikan. Jadi gue seneng," jelas Tasya dengan bahagia.


Radit senang melihat Tasya tersenyum, dia kira Tasya akan banyak mengeluh karena tidak bisa bersosialisasi di lingkungan barunya ini. Al menepati janjinya pada Radit. Al pernah berjanji akan membantu Radit agar Tasya bisa cepat menyesuaikan diri di sini, karena Radit tidak ingin Tasya merasa sedih atau tidak nyaman.


"Bagus, ya gapapa kalau ada yang beda. Nanti juga kan terbiasa. Yang terpenting lu nya jangan menutup diri," nasehat Radit.


"Siap, Abang. Lo juga harus bisa menyesuaikan diri sekarang. Kuliah yang rajin, keren banget Abang udah jadi CEO," ucap Tasya sambil bersorak.


"Iyaa gua juga bakalan mulai menyesuaikan diri. Biar bisa bahagiain adek gua yang banyak mau ini," kata Radit menarik hidung Tasya pelan.


Tasya terkekeh, dia merasa sangat diperhatikan oleh Radit dan Radit adalah sosok Abang sekaligus Ayah untuk Tasya sekarang. "Makasih ya Abang, gue sayang banget sama lo." Tasya memeluk Radit dengan erat.


Radit pun mengangguk sembari mengelus dan menciumi rambut adik tersayangnya itu. "Yaudah diminum dulu obatnya."

__ADS_1


Radit mengambil kotak obat milik Tasya dan membantunya membuka satu persatu. "Nih."


Tasya mengambil obat dari tangan Radit lalu dia meminumnya. Tasya bersyukur meskipun dia harus terus minum obat, penyakitnya tidak kambuh. Dan sekarang Tasya semakin bersemangat menjalani hari-harinya.


__ADS_2