Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Kehilangan Kesekian Kali


__ADS_3


Tidak ada ucapan pagi, tidak ada tegur sapa lagi, apalagi canda tawa. Semua yang terjadi di rumah ini terasa dingin. Begitulah yang dirasakan Tasya saat ini. Dia berada dalam satu meja yang sama, tapi Radit tidak menoleh kepadanya sedikit pun. Sejak hari itu Radit berhenti peduli padanya.


Jika boleh jujur, Tasya merasa sedikit tertekan. Ada perasaan yang tidak bisa dia jelaskan dan akhir-akhir ini kepala Tasya sering sakit. Bahkan bisa membuatnya tidak bisa tidur.


Mereka fokus dengan makanan dan pikirannya masing-masing. Tasya sangat tidak bisa berada di kondisi seperti ini. Akhirnya dia memilih untuk tidak memakan sarapannya dan langsung pergi ke sekolah.


Biasanya Radit akan memarahinya, takut kalau adiknya ini akan kambuh sakit. Tapi hari ini dia tidak melakukannya dan mengikuti jejak Tasya untuk bersiap ke kampus.


Sesampainya di sekolah, Tasya berusaha tersenyum. Meskipun dia akan kembali teringat ayahnya kalau seseorang mengucapkan belasungkawa padanya. Dia sebenarnya tidak kuat, tapi dia tidak bisa kalau terus menghindarinya. Sudah 3 hari dia tidak masuk sekolah, pasti banyak tugas yang harus dia selesaikan. Dia masih memiliki tanggung jawab juga sebagai Ketua OSIS.


Tasya memasuki kelas, terlihat teman-temannya sudah menunggu Tasya di bangku mereka. Memandang Tasya sambil tersenyum bahagia. Dia tau pasti teman-temannya ingin melihat dia juga tersenyum, tapi entah kenapa dia sulit melakukannya.


"Selamat pagi, Tasya cantik," sapa Niken.


"Pagii." Tasya berusaha mengembangkan senyumnya kepada ketiga temannya itu.


"Lo pasti belum sarapan, kan? Nih gue bawain susu kotak sama roti sandwich kesukaan lo." Sherli menaruh makanannya di hadapan Tasya.


"Makasih, Sher. Tapi gue udah sarapan kok, jadi gue taro dulu ya buat nanti," ucap Tasya berbohong.


"Beneran lo udah makan?" tanya Sarah tak percaya.


"Iya beneran kok, udah jangan khawatir. I'm fine." Tasya tersenyum kepada mereka semua.


"Oke, kalau lo butuh apa-apa bilang ya?" Sherli memeluk Tasya sambil tersenyum.


"Butuh catatan, mana catatan yang kalian janjiin?" tanya Tasya.


"Oh iyaa, nih udah kita siapin. Gila banyak banget, lo mau kita bantuin?" Tanya Sarah sambil menaruh setumpuk buku di depan Tasya.


"Gapapa kok, gue bisa sendiri. Makasih ya," ucap Tasya.


"Iya santai aja," jawab Niken sambil mengembangkan senyumnya.


"Yaudah ya gue mau kerjain dulu, mumpung masih pagi."


Tasya pun memasak airpods nya lalu mulai menyicil catatan yang harus dia catat. Sementara ketiga temannya membiarkan Tasya fokus, mungkin dengan seperti itu Tasya akan sedikit teralihkan dari kesedihannya.


Tak selang beberapa lama Viko memasuki kelas bersama ketiga temannya, dilihatnya gadis yang sudah beberapa hari ini tidak ditemuinya. Sedikit lega melihat Tasya sudah kembali ke sekolah, meskipun dia tau, keadaannya masih tidak baik-baik saja.


Tasya sedang fokus dengan catatannya, namun saat Viko ingin menghampiri Tasya, bel sekolah pun berbunyi dan bu Beti sudah memasuki kelas. Tasya pun sekilas bertatapan dengan Viko lalu tersenyum tipis, mengisyaratkan kalau dia baik-baik saja.

__ADS_1


...~ • ~...


Tak ada siapapun di kelas terkecuali Tasya saat jam istirahat, dia kembali fokus untuk menyelesaikan Catatannya. Tiba-tiba Rosa, Dera dan Nadin memasuki kelas sambil menatap Tasya dengan sinis.


"Eh kalian tau gak kalau papanya Ketos kita meninggal," ucap Rosa seolah ingin terdengar oleh Tasya.


Tasya yang sensitif pun melirik sedikit ke arah kumpulan mereka. Mereka berbicara begitu kerasa, tidak mungkin Tasya tidak mendengar itu semua.


"Gue denger-denger meninggalkan karena Tasya kan? Eh masa iya sih? Ketos kok kelakuannya gitu. Kasian papanya punya anak kaya dia, semoga tenang deh," timpal Nadin.


"Kasian ya papanya, pasti gak tenang tuh di sana. Mikirin kelakuan anaknya," sahut Dera sambil tertawa sinis.


Tasya pun langsung meletakkan pulpennya kasar dan keluar dari kelas. Sesaat dia bertemu Viko di depan pintu, namun dia tak peduli dan langsung menuju ke ruang OSIS. Ya, Viko mendengar semuanya. Dia sudah geram kepada mereka sekarang. Orang-orang tidak berempati yang hanya bia menyakiti perasaan orang lain.


"Mulut lu pada emang gak bisa dijaga ya? Gak ada empati!" Amarah Viko tak bisa ditahan.


"Apasih, Viko. Orang kita bicara fakta kok," ketus Rosa.


"Terserah deh, percuma gua ngomong sama orang yang kerjaannya nyinyirin hidup orang. Urus hidup lu sendii dah, kaya udah bener aja hidup lu." Viko langsung meninggalkan mereka bertiga dan berlari menyusul Tasya.


Tasya menutup pintu ruang OSIS, dia menuju ke belakang bangku dan duduk terpojok di sudut ruangan itu. Dia terus memeluk lututnya erat. Rasa bersalah itu muncul kembali. Dia terus dibayangi rasa bersalah yang dia rasakan.


"Gak mereka gak salah, mereka bener. Gue emang bukan anak yang baik," gumamnya di sela isakannya.


Perlahan Tasya ngadahkan wajahnya, menatap Viko yang berada di hadapannya dengan tatapam penuh luka yang Viko bisa rasakan.


"Kenapa lo kesini?" tanya Tasya sembari menghapus air matanya.


"Gua khawatir, udah lega?" tanyanya.


Tasya hanya menganggukan kepalanya perlahan.


"Gak usah didengerin. Lu tau sendiri Nadin and the genk gimana. Mereka udah jelas gak suka lu, bakalan berusaha kerasa buat bikin lu jatuh."


"Gakk, mereka gak salah, Vik. Semua yang mereka ucapin bener kok."


"Gakk, jangan salahin diri lo lagi. Jangan dengerin kata mereka ya?"


"Tapi, Vik. Seberapa kali pun disangkal, gak akan merubah kenyataan. Kalau misalnya gue gak cari perkara, semuanya gak akan kaya gini."


Viko memegang kedua bahu Tasya, menatapnya dengan serius.


"Dengerin gue, iya mungkin lu yang bikin semua ini terjadi. Tapi kalau soal bokap lu meninggal, itu bukan salah lu. Semuanya udah diatur sama Tuhan."

__ADS_1


"Gue gak tau harus gimana, gue gak tau, Vikooo."


"Lu itu kuat, lu pasti bisa lewatin ini. Lu gak sendiri, lu punya gua, temen-temen lu, anak-anak OSIS."


Tasya hanya terdiam, dia tidak bisa berkata apa-apa, yang dia tau adalah sekarang bel sudah berbunyi. Mau tidak mau dia dan Viko harus kembali ke kelas.


...~ • ~...


Viko dan Tasya sudah sampai di depan rumah Tasya. Viko khawatir jika membiarkan Tasya pulang sendirian, takut Tasya melakukan hal yang aneh-aneh. Namun Tasya kaget saat melihat Radit memasukan barang-barangnya ke dalam mobil, sontak Tasya berlari ke arah Radit.


"ABANG, LO MAU NGAPAIN?" Tasya mulai panik saat Radit akan memasuki mobilnya.


"Pergi, apa peduli lu?" tanya Radit.


"Gak, jangan tinggalin gue. Gue sama siapa di sini? Abang gue minta maaf, gue tau maaf gue gak bisa nebus semuanya tapi jangan pergi." Tangisan Taya mulai pecah.


"Bang lu jangan gini, gua tau lu marah tapi jangan giniin Tasya dah. Jangan emosi, lu perlu waktu oke tapi jangan pergi kaya gini." Viko mencoba menenangkan mereka berdua.


"Gak, keputusan gua udah bulet. Lepasin." Radit melepaskan genggaman Tasya dan memasuki mobilnya.


"Abang gue mohon jangan tinggalin gue, ABAAANG!" Tasya mulai histeris. Dia mencoba membuka pintu mobil namun tidak bisa.


Radit tidak tega, tapi dia tidak akan mengubah keputusannya. Dengan cepat dia melajukan mobilnya dan menjauh dari rumah. Tasya berlari mengejar mobil Radit sambil terus menangis.


"ABANG! STOPP! GUE BILANG STOPP!!" Tasya terus mengejar, namun langkahnya tak mampu menyusul mobil Radit.


Viko yang mengejar Tasya pun memeluk Tasya dari belakang, mencoba untuk menghentikannya. Viko semakin erat memeluk Tasya yang terus berontak. Dia tidak tega melihat Tasya seperti ini, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa agar Radit kembali sekaeang.


"Udahh, jangan dikejar lagi. Tenang, nanti kita pikirin buat bujuk Radit, jangan nangis." Tanpa sadar Viko mengeluarkan air matanya sambil terus memeluk erat tubuh Tasya.


"Lepasin gue, Vik. Gue mau kejar abang gue. VIKOO!!! Gue gak punya siapa-siapa lagi. Lepasin." Tubuh Tasya yang sempat memberontak pun akhirnya melemas, tangisnya semakin pecah dia merasa dunianya sudah hancur. Dia kehilangan semuanya.


"Udah yaa, gua mohon. Gua pasti bakalan buat Radit balik lagi kesini," ucap Viko perlahan.


"Gue mau mati aja, gue mau nyusul papa. Gue gak bisa di sini lagi," lirihnya. Dia merasakan sesak yang begitu menyakitkan. Dia merasa pertahannya sudah benar-benar hancur sekarang dan tidak memiliki kekuatan apa-apa lagi untuk bertahan.


Seketika kepalanya mulai berat dan semua pandangannya terlihat kabur, laluu gelap.


"Syaa, lu kenapa? Syaaa!!" Viko menopang tubuh Tasya dan mencoba menepuk pipi Tasya perlahan. Viko langsung mengendong tubuh Tasya masuk ke rumah, lalu dia baringkan di sofa. Dia panik dan tak tau harus berbuat apa.


Viko terus menepuk pipi Tasya, dia takut sesuatu akan terjadi kepada Tasya.


"Syaa, lu kenapa? Bangun, Syaa." Viko pun akhirnya menghubungi Sherli, berharap kalau dia bisa datang kesini dan membantunya.

__ADS_1


__ADS_2