Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Jangan Pernah Berjanji!


__ADS_3


Tasya mengerjapkan matanya, dia meringis karena kepalanya merasa pusing sekali. Bukan hanya itu, matanya yang sembab dan juga selang infus yang terpasang bersamaan selang oksigen membuat dia semakin lemas. Dia tidak mengingat apapun tadi malam, dia hanya mendengar samar-samar suara Al dan Radit yang panik, itu saja.


Dilihatnya Radit sedang tertidur pulas dengan posisi duduk di sebelahnya. Tasya menatap wajah Radit lekat-lekat, apa dia tidak berangkat kerja? Ah dia juga lupa belum mengkonfirmasi ketidak hadirannya hari ini. Semalam dia benar-benar kacau karena emosinya sendiri.


Tasya mengubah posisinya menjadi duduk dan itu membuat Radit bangun dari tidurnya. "Kenapa? Ada yang sakit?" Tanya Radit yang panik saat melihat Tasya sudah terbangun.


Tasya menggeleng pelan. "Gak kenapa-kenapa, Abang gak kerja?"


"Mana bisa kerja, adek gua lebih butuh Abangnya di sini daripada kantor." Radit memeluk Tasya dengan erat, dia baru menyadari kalau selama ini dia terlalu berambisi mengejar karirnya, tapi saat dia mendapatkannya justru hampir saja kehilangan adiknya.


Tasya sebenarnya ingin menangis dan bercerita banyak hal, tapi entah kenapa dia malah terpaku karena omongan Radit barusan dan akhirnya hanya membalas pelukannya saja.


"Hmm gue kangen sama Abang," ucap Tasya yang menatap Radit penuh makna. Entah kenapa Radit merasa sorot mata Tasya seperti mengiris hatinya, ada perasaan sakit saat melihat matanya.


"Abang juga kangen adek kecilnya," balas Radit dengan senyum.


Radit takut kalau Tasya akan kembali kumat seperti beberapa tahun lalu, dia tidak boleh terlalu stress agar mentalnya stabil. Sejauh ini Tasya sudah berhasil melewati itu dan Radit tidak mau terulang lagi di mana Tasya benar-benar down. Kalau bukan Al yang mencegatnya tengah malam kemarin, mungkin dia tidak akan pernah sadar dengan kondisi Tasya yang kesepian di rumah besar ini.


"Sya, kalau ada apa-apa cerita sama Abang ya. Jangan dipendem, ini sampe sakit begini kan gak tega liatnya. Jangan sakit," ucap Radit sambil menciumi puncak kepala adiknya.


Tasya tersenyum. "Tapi gue seneng, karena gue sakit lo ada di sini. Ada yang ajak gue bicara, nanyain kabar gue, peluk gue kaya gini di saat gue pusing sama rutinitas, jadi gapapa gue seneng."


"Maafin Abang ya, kemarin Abang terlalu sibuk sama dunia sendiri sampai lupa kalau ada lu yang harus diajak bicara. Maafin Abang ya? Jangan sakit, gua janji bakalan lebih banyak waktu sama lu, Dek," ucap Radit sembari mengelus pipi adiknya itu.


"Abang apa orang yang berjanji bakalan nepatin janjinya? Gue udah terlalu banyak nerima janji dari orang ternyata mereka gak bisa tepatin." Tasya terkekeh jika mengingat banyaknya janji yang dia terima dari setiap orang.


"Lu kenapa? Ada yang nyakitin lu? Viko?" Tanya Radit.

__ADS_1


"Engga gue cuma nanya aja, karena bagi gue sekarang janji itu cuma sekedar formalitas dan gue gak mau nerima kata-kata itu," jawab Tasya.


"Oke gimana kalau kata janji itu gua ubah jadi kata, gua akan selalu usahakan? Gua akan selalu usahakan ada waktu buat nemenin adek kesayangan gua biar dia gak ngerasa kesepian, gimana?" Tanya Radit.


Tasya mengangguk sambil tersenyum, sekiranya itu jauh lebih baik dari kaya janji yang akhir-akhir ini menyakitinya. Janji yang dibuat dengan sendirinya tapi mudah dilupakan sang pengucap.


...~ • ~...


Sepulang kuliah Al langsung ke rumah Tasya, tadinya di akan bersama yang lain, tapi mereka akan menyusul nanti malam. Al melihat Tasya yang sibuk dengan buku hafalan miliknya, karena memang mereka banyak sekali test lisan dadakan.


Al duduk di tepi kasur dan mengambil buku dari tangan Tasya. "Harusnya lu istirahat dulu yang bener, tugas bisa nanti. Lu udah dapet istirahat 3 hari."


"Gue gak ada kerjaan, Al. Lo udah urus izin gue? Tadi kata Bang Radit lo yang urus," tanya Tasya.


Al mengangguk. "Iya tadi gua udah lapor akademik. Nih makan, biar cepet sembuh." Al menyuapkan satu sendok bubur sumsum gula merah ke arah Tasya.


Tasya hanya mengangguk dan menerima suapannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Tertera panggilan video dari Viko. Tasya sedang tidak ingin bicara dengan pria itu akhirnya dia hanya mendiamkannya.


"Gapapa, lagi gak mau aja," jawabnya singkat.


Ponsel itu terus berbunyi sampai beberapa kali, Al mulai jengah dengan keadaan seperti itu. Pasalnya Tasya tidak menceritakan apapun dan sekarang dia hanya diam menatap kelakuan gadis itu yang mendiamkan orang yang biasanya dia tunggu. Al takut dia kenapa-kenapa.


"Biar gua yang angkat." Al mengambil ponsel Tasya namun gadis itu menahannya.


"Jangann." Tasya mengambil ponselnya dari Al dan perlahan mematikan ponselnya agar tidak diganggu malam ini.


Al menghela napasnya menyimpan bubur yang dia pegang di meja, lalu menatap Tasya seolah meminta penjelasan.


"Jangan tatap gue kaya gitu, Al," peringat Tasya.

__ADS_1


"Makanya jangan nutupin sesuatu dari gua, Sya. Gua gak mau liat lu tiba-tiba kaya kemarin. Udah gua bilang, gua bakalan selalu gagal jagain lu kalau kaya gitu," ucap Al mencoba menjelaskan keadaannya pada Tasya.


"Tapi janji jangan bilang bang Radit. Gue gak mau malah runyam nantinya, lo juga jangan ngapa-ngapain. Jangan bertindak apa-apa. Biar gue selesain masalah gue sendiri," pinta Tasya.


"Sya ... "


"Please ..."


"Yaudah iya, kenapa? Berantem sama Viko?" Tanya Al.


Tasya mengangguk. "Itu salah satunya. Lo tau gak, hampir dua tahun ini temen-temen gue di Bandung sibuk sendiri. Padahal mereka yang duluan bilang kalau gue gak boleh asik sendiri di sini. Tapi nyatanya gue juga yang mereka tinggalin. Buat sekedar bales chat gue aja gak."


"Terus kenapa lagi?" Tanya Al yang mencoba mendengarkan Tasya agar dia mengeluarkan semua isi pikirannya dulu.


"Abang gue jarang di rumah. Iya gue bakalan biasa biasa aja kalau misalnya kita di kampus, nongkrong, tapi setiap ke rumah gue ngerasa kesepian. Makanya gak jarang gue main ke rumah lo kan karena gue gak ada temen buat diajak bicara,"


"Gue gak pernah cerita ya? Selama hampir dua tahun ini Viko punya temen di sana cewek. Apart mereka sebelahan, satu kampus, satu jurusan, satu kelas. Dia sama-sama orang Indonesia, Viko bilang dia perhatian, sering masakin dia, kemana-mana bareng dia, suka anterin makan ke kantor. Dia cerita sama gue saat masih awal di sana dan oke gue mikirnya gapapa karena gak mungkin kan gue biarin dia gak ada temen. " Tasya yang mulai menangis, kini menyeka air matanya.


"Ahh bentar, cengeng banget gue. Padahal udah mau 20 tahun," kesal Tasya.


Al menghapus air mata Tasya dan mencoba memahami apa yang dirasakan gadis itu. "Gapapa, kalau gak nangis berarti lu bukan Tasya Aurell. Malah lebih aneh, terus gimana lagi? Lu cemburu?"


"Gue cemburu tapi gue selalu berusaha biasa aja Al, maksud gue, gak pernah gue bilang sama dia. Bertahun-tahun gue diem, bahkan cerita sama lo aja gak pernah kan? Karena gue menghargai privasi hubungan gue sama dia, gue ngehargain hubungan gue sama dia dengan berusaha ngertiin dia."


"Tapi makin kesini dia selalu bahas cewek itu terus, kita komunikasi bahkan pernah cuma 1 bulan sekali karena dia sibuk. Sekalinya bisa bicara yang dia bahas cewek itu lagi, gue kesel. Coba lo bayangin jadi gue Dia cerita setiap hari dibawain makan, dimasakin, nugas bareng, ditungguin di kantor sampe tengah malem, kemana-mana bareng. Apa lo gak akan curiga? Gue cuma minta dia buat gak bahas cewek itu, karena gue juga gak pernah kaya gitu," lanjutnya.


"Iya-iya gua paham. Sya kalau buat temen-temen lu, mungkin ini emang prosesnya kalian buat ngembangin masa depan. Nanti ada masa di mana kalian saling membutuhkan kok, gua yakin mereka juga kangen lu. Cuma emang waktunya udah gak sama. Kalau soal Radit gua udah bicara sama dia. Dan maaf bikin lu kesepian, seharunya gua juga bisa bikin rasa kesepian yang lu rasain itu berkurang, tapi malah lu larut begini," ucap Al.


"Soal Viko, jangan berpikiran jauh dulu. Kan lu udah bilang maunya gimana sama dia, yaudah jangan dipaksa terus untuk a b c, terkadang orang kalau digituin malah dia gak suka karena ngerasa gak ada yang salah. Selama ini lu diem kan? Jadi setelah ungkapin itu, lu sama dia sama-sama nenangin diri, gapapa kalau gak mau bicara dulu. Rehat dari rasa cape sebentar gapapa kok. Tapi jangan kelamaan, yang ada hubungan kalian gak akan membaik."

__ADS_1


"Iya gue paham, tapi maksudnya apa gue se-berlebihan itu? Lo tau gak, Al. Gue percaya sama Viko tapi ada perasaan di mana feeling gue bilang kalau ada yang gak beres. Gue selalu ngerasa kaya gitu di tengah tengah pemikiran gue untuk selau positif."


Al memeluk Tasya perlahan. Perasaan Tasya hanya bisa diredakan dengan pelukan, itu kenapa Al selalu melakukan itu agar Tasya membaik. Dia paham dengan perasaan Tasya, bahkan kini dia pun mulai mencurigai sikap Viko. Tapi bagaimana pun dia tidak boleh mengutarakannya pada Tasya, karena dia pasti akan jauh lebih banyak berpikir yang aneh-aneh.


__ADS_2