Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Permainan


__ADS_3


Tasya sengaja bangun lebih awal lebih tepatnya jam 3 pagi, karena Tasya harus mandi duluan. Karena jika mandi berjamaah pasti lama, dan Tasya tak suka itu.


Setelah selesai mandi, dia langsung menuju ke tenda utama. Ternyata sudah ada Chandra, Bagus, Viko, Reza, dan Arka di sana.


"Lu mandi pagi amat, Sya," kata Arka.


"Ya iyalah, kalau nanti penuh. Gue saranin kalian mandi sekarang," kata Tasya.


"Camping itu petualang, petualang itu bau petualangan, kalau bau artinya gak mandi, dan intinya gak usah mandi," kata Reza dengan bangga.


"Dih sekiranya cuci muka kek sama air wudhu, kita kan mau sholat Subuh. Terus ganti juga baju kalian sama baju olahraga,"


"Iya iya, bawel Ibu Ketos," kata Viko.


"Ingetin aja gue mah. Oh iya, Chan. Jangan lupa nanti tiup peluitnya tepat waktu ya," kata Tasya memperingatkan.


"Sip, lu udah baikan?" tanya Chandra saat sudah sampai di hadapan Tasya.


"Udah kok," kata Tasya tersenyum lebar.


"Jangan bikin gua khawatir lagi," kata Chandra sambil mengacak-acak rambut Tasya perlahan, lalu pergi menuju kamar mandi umum.


Tasya yang mengerjapkan matanya berkali-kali. Tak terasa senyumannya pun terpancar.


'Yaampun kaya ada kupu-kupu di perut gue,' batinnya.


"Acara setelah sholat shubuh apa?" tanya seseorang.


Ternyata itu adalah Ghibran, ketua MPK yang turut hadir untuk mengawasi kegiatan mereka.


"Eh kak, oh iya abis ini itu acara senam atau olahraga bareng. Terus setelah itu games dan ada materi juga."


"Oh gitu," kata Ghibran sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ada waktu luang sekitar jam 10.15 sampai 10.45. Apa alumni mau memberikan materi, kak? Maksudnya mengisi kekosongan waktu tersebut. Kalau tidak, mungkin akan diisi oleh para panitia OSIS," kata Tasya.


"Gak kayaknya, OSIS aja yang bimbing. Alumni sama MPK mah ribet," kata Ghibran.


"Oh oke kak."


Di tenda utama sudah ada pak Taufik disana beserta beberapa guru yang mungkin semalam menyusul.


"Assalamuaalaikum," ucap Tasya.


"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak yang ada di sana.


"Gimana, Sya. Sudah terkondisikan?" tanya pak Taufik.


"Sudah, Pak. Setelah sholat Subuh akan ada senam dan olaraga bersama, lalu dilanjut makan pagi dan games," lapor Tasya.


"Bagus," kata pak Taufik.


"Nih, minum. Kebiasaan setiap acara, ibu pasti liat kamu mondar-mandir mondar-mandir kaya sibuk tapi lupa makan!" kata bu Angel sambil memberikan segelas susu sereal hangat.


"Hehe. Kan tugas, Bu."


"Tugas juga kalau orang yang jadi petugasnya sakit ya gak lancar," kata bu Ratna.


"Iya, iya ibu-ibuku. Makasih udah ingetin Tasya."


Tasya memang dekat dengan semua guru, tak heran jika Tasya disayangi. Apalagi semenjak OSIS berpindah tangan padanya, dia selalu mengusahakan untuk komunikasi yang baik dengan guru-guru. Dia selalu membuat acara yang menyertakan guru-guru didalamnya untuk berpartisipasi.

__ADS_1


...~ • ~...


Setelah selesai olahraga, peserta berkumpul di lapangan untuk mengadakan games. Games ini diisi oleh Tasya, Viko, Yudhis, dan Aul. Karena yang lain sedang sibuk memasak bersama guru-guru.


"Oke sekarang, saya akan kasih kalian games. Games nya adalah ekspresikan diri," kata Tasya saat memulai acara tersebut


Semuanya bertepuk tangan.


"Jadi, saya punya beberapa undian di sini. Nanti salah satu di antara kalian harus maju ke depan dan mengambil undian ini," lanjut Viko.


"Lalu, setelah kalian ambil undian. Kalian harus mengikuti perintah yang ada di kertas itu," lanjut Aul.


"Di sini undiannya berisikan. Puisi, bernyanyi, berjoget, atau stand up comedy," lanjut Yudhis dan itu adalah kalimat terpanjang yang pernah dia ucapkan.


"Contoh, contoh,contoh," semua peserta bersuara bertepuk-tepuk agar diberikan contoh.


"Oke, karena semua minta contoh, jadi biar kakak Tasya dan kak Viko yang memperagakan, setuju?" kata Aul sambil tersenyum jahil.


"Setujuuu," jawab mereka antusias.


Tasya dan Viko pun kaget, mereka serempak melihat ke arah Aul. Aul yang merasa dilirik hanya terkekeh menahan tawanya.


Petama-tama Tasya pun mengambil 1 undian yang akan dia contohkan. Itu isinya adalah...


Membaca Puisi.


"Oke saya mulai ya, saya kebagian untuk membacakan puisi. Puisi apa? Ada yang punya ide?" tanya Tasya.


"Puisi buat kak Viko," salah seorang peserta berteriak.


Tasya kaget, dia harus membacakan puisi untuk Viko. Sungguh, ini membuat jantung Tasya seperti mau copot. Tapi, mau tidak mau Tasya harus melakukannya.


"Oke," kata Tasya memberanikan diri.


Untuk sang pengisi hati


Apa kau pernah sadari


Kau yang selalu kunanti


Di saat seja datang


Kala siang menjelang


Hanya rupamu yang tebayang


Mengusik rindu yang terkekang


Aku mencintaimu


Walau kau tak tahu


Aku selalu menantimu


Walau dalam bisikku


Viko masih menatap Tasya, begitu pun sebaliknya. Viko terhanyut dalam puisi yang dibacakan Tasya. Sedangkan Tasya terhanyut dalam puisinya sendiri. Pasalnya puisi tersebut spontan ia keluarkan, tanpa pernah membacanya atau mengarangnya terlebih dahulu.


"Oke udah ya tatap-tatapannya kakahhh, sekarang giliran kak Viko," kata Aul sambil memberikan gulungan-gulungan kertas itu.


Ternyata isinya adalah...


Bernyanyi.

__ADS_1


"Oke saya kebagian bernyanyi," kata Viko sambil mengambil gitar yang telah di sediakan di tengah lingkaran itu.


Entah kenapa, dengan spontan Viko menghadap ke arah Tasya. Seolah lagu yang dia nyanyikan adalah untuk Tasya yang sedang ada di hadapannya sekarang.


Betapa bahagianya hatiku saat


Kududuk berdua denganmu


Berjalan bersamamu


Menarilah denganku


Lagi-lagi Tasya terpukau dengan suara indah milik Viko Narendra. Ditambah lagu romantis yang lagi hits di kalangan remaja seusia mereka.


Namun bila hari ini adalah yang terakhir


Namun ku tetap bahagia


Selalu kusyukuri


Begitulah adanya


Namun bila kau ingin sendiri


Cepat cepatlah sampaikan kepadaku


Agar ku tak berharap


dan buat kau bersedih


Tasya terhanyut dalam tatapannya pada Viko. Sementara Aul dan Yudhis tertawa kecil, karena rencana mereka berhasil.


Bila nanti saatnya t'lah tiba


Kuingin kau menjadi miliku


Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan


Berlarian kesana-kemari dan tertawa


Namun bila saat berpisah t'lah tiba


Izinkanku menjaga dirimu


Berdua menikmati pelukan diujung waktu


Sudilah kau temani diriku


Viko menyudahi lagunya, dia kurang nyaman jika bernyanyi di tengah orang ramai. Semuanya pun bertepuk tangan.


Tasya yang langsung tersadar dari lamunannya langsung mentralkan degupan jantungnya. Ini rasanya sama seperti dia sedang bersama Chandra.


Apa mungkin Tasya munyukai Viko?


'Gue gak boleh suka sama cowok bad boy kaya dia! Gak boleh! Tapi jantung gue ini kenapa ya. Apa gue punya penyakit jantung?' batin Tasya.


Tasya langsung menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali. Tasya meyakinkan dirinya, kalau dia hanya kagum dengan suara Viko. Tidak akan lebih dari rasa kagum itu. Lagi pula mereka akrab hanya saat ini saja, setelah acara ini selesai mungkin mereka akan bertengkar dan menjadi musuh kembali.


Viko juga sama, dia merasakan ada degupan dalam jantungnya yang sangat kencang. Viko meskipun badboy belum pernah merasakan jatuh cinta. Jadi dia tidak paham dengan semua ini.


'Gua kenapa sih? Kok deg-degan mulu kalau deket itu si cewek rese,' batin Viko.


Daripada berkutat dengan pikirannya, mereka memilih untuk melupakan semuanya dan kembali melanjutkan permainan.

__ADS_1


__ADS_2