Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Pembicaraan Serius Berujung Ricuh


__ADS_3


Tasya menarik kopernya memasuki rumah, di sana terlihat Amara dan Radit sudah menyambutnya. Mereka sangat merindukan Tasya karena komunikasi yang terbatas. Ya, akhirnya setelah 40 hari dia selesai juga menjalankan KKN-nya dengan baik dan berkesan.


Tasya memeluk tantenya dengan erat. "I miss you soo much, Tanteee."


Amara tersenyum dan membalas pelukan keponakannya itu dengan lembut. "I miss you too soo much, gimana selama di sana baik-baik aja, kan?"


"Baik kok, Tan. Baik banget dan aku juga gak kenapa-kenapa," jawab Tasya.


Kini tatapannya beralih pada Radit, setelah memeluk Tantenya kini Tasya memeluk Abangnya. Dia sangat rindu dengan Radit, baru kali ini dia jauh dengan waktu yang cukup lama dari Radit.


"I miss youuuuuuuuu sooo much!" Tasya memanjangkan ucapannya.


Radit menciumi pipi adiknya itu dengan lembut. "Abang juga kangen. Gimana di sana gak ada internet, betah?"


"Betah, betah banget. Jauh dari keramaian tau, tapi gak enaknya gak ada lo aja," jawab Tasya.


"Wahhh dikirain gak bakalan betah di sana karena gak ada internet sama sinyal. Malah betah si bocil ini," ucap Radit sembari mengusak rambut Tasya.


Tasya dan Radit duduk di sofa ditemani oleh Amara. Nampaknya Tasya sangat antusias untuk menceritakan kegiatannya pada mereka.


"Ya jadi aku di sana ya seneng aja, masih asri gitu loh, Tan. Kita juga berhasil bikin petani di sana punya usaha yang bisa dijadikan penghasilan utama. Anak-anak di sana juga udah mulai paham pentingnya minum susu dan warganya udah sadar kesehatan, pokoknya aku seneng."


"Bagus dong. Itu berarti kalian berhasil KKN-nya. Semoga juga hasilnya memuaskan buat kalian," ucap Amara.


"Di sana gak kambuh kan? Makannya gimana? Terus kalau bosen ngapain? Biasanya kan kalau bosen nonton drakor atau main youtube?" Tanya Radit.


"Emmm engga sih, gak kambuh. Al tuh bawel banget soal makan gue di sana. Salah dikit, ngomel jadi gue aman-aman aja sih. Kalau bosen ya main ke sawah, main ke sungai atau ajak Al keliling pake motor. Eh pernah tau gue naik motor bebek di sana lucu banget," kata Tasya antusias.


"Iya gua liat di story lu, kasian Al jadi korban kegabutan adek gua," ucap Radit sembari menggelengkan kepalanya.


"Emm kayanya malam ini ada yang mau dibicarain deh," ucap Tasya pelan.


"Bicarain apa?" Tanya Amara.


Tiba-tiba Tasya merasa mual. Dia berlari sebentar ke wastafel dan memuntahkan isi perutnya. Tidak ada apa-apa memang. Hanya terasa asam saja. Radit yang panik langsung mengusap punggung adiknya. Sepertinya Tasya masuk angin.

__ADS_1


"Yaudah-yaudah nanti lagi ceritanya, sekarang kamu istirahat dulu gih, Sya. Cape pasti di perjalanan itu masuk angin, nanti kita cerita-cerita lagi," ajak Amara.


Tasya pun mengiyakan dan langsung ke kamarnya, Tasya merebahkan diri di kasur sambil menatap langit-langit kamarnya. Rasanya mual sekali dan perutnya terasa sakit, sepertinya dia butuh tidur. Entah kenapa dia malah kepikiran Al, padahal mereka baru saja berpisah.


Tasya merasa kalau di dekat Al adalah hal yang paling nyaman. Meskipun perasaannya belum sebesar itu. Tasya tersenyum memikirkan sebuah kalimat yang pernah dia baca. Jangan menangisi seseorang yang mengkhianatimu, tapi berterima kasihlah karena berkat dia, kamu akan menemukan jalan ke tempat yang lebih baik. Mungkin itu adalah kata-kata yang tepat.


...~ • ~...


Suara bel berbunyi, Amara membukakan pintu dan ternyata itu adalah Al dan keluarganya. Amara bingung, memang sih mereka sering bolak-balik ke sini tapi tidak satu keluarga begini.


"Ehhh ayok masuk, Mba, Mas," ucap Amara dengan ramah.


"Makasih lohh, kami masuk ya?" Diana dan keluarganya pun masuk lalu duduk di ruang keluarga.


"Ini ada apa, Mba, Mas?" Tanya Amara.


Radit pun ikut masuk kedalam perkumpulan keluarga itu, dia juga heran, tidak biasanya mereka datang satu keluarga.


"Saya juga gak tau mau apa, Al yang mengajak kami untuk berkumpul di sini," jawab Haris.


Radit dan Zea pun menatap ke arah Al yang terlihat santai. Sementara yang ditatap malah mencari keberadaan gadisnya yang tidak ada di sana.


"Kalem, sabar. Tasya mana?" Tanya Al pada Radit. Radit menatap ke arah Al dengan curiga. Apa yang akan dilakukan oleh pria itu?


"Ada, lagi tidur kayanya. Gak bangun-bangun, kecapean," jawab Radit simpel.


Al berdecak, lalu sekarang apa yang harus dia lakukan? Tidak mungkin dia bicara sendirian di sini. Memang Tasya ini selain bisa membuat gila perasan, dia juga bisa membuat gila pikiran.


"Gakkkkkkk, suudzon. Aku udah bangun," teriak Tasya dari atas tangga.


Al melihat ke arah Tasya yang sudah cantik menggunakan dress biru pastel miliknya. Rambutnya yang terurai sedikit bergelombang, ditambah jepit pemberiannya dan juga polesan make up natural membuatnya semakin cantik.


Radit semakin heran melihat Tasya yang sudah cantik seperti itu, entah kebetulan atau janjian. Baju Tasya dan Al malah senada. Tasya menghampiri mereka dan tidak lupa menyalami kedua orang tua Al, lalu menyapa Zea. Al pun menarik lengan Tasya agar menemaninya dengan duduk berdampingan.


"Jadi, apa yang mau dibicarin?" Tanya Diana menatap putranya.


Al dan Tasya saling bertatapan. Mereka bingung harus memulainya bagaimana. Biasanya mereka hanya akan izin bermain atau liburan bersama, sekarang mereka harus izin melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius, rasanya canggung.

__ADS_1


"Lo aja yang bilang," ucap Tasya setengah berbisik.


"Bilang bareng-bareng lah, masa gua doang?" Balas Al.


"Lohh, kan emang alurnya kaya gitu. Cepetan bilang atau gak usah jadi ajalah," kata Tasya.


Al menghela napasnya, gadis ini malah mengancamnya sekarang. Dengan satu tarikan napas akhirnya dia memberanikan diri. "Al sama Tasya mau tunangan."


Semua orang yang ada di sana saling menatap tak percaya. Iya mereka tau kalau Tasya dan Al memang dijodohkan, tapi Al selalu menolak dengan alasan ini itu. Jadi mereka kaget saja tiba-tiba sudah ada kesepakatan antara Tasya dan Al.


Diana mulai overthinking, apalagi mereka baru saja pulang KKN yang terkadang menghasilkan hasil negatif. "Jujur sama Bunda, kalian gak ngapa-ngapain, kan?"


"Hah? Ngapain apa, Bund?" Tanya Al tak mengerti.


"Tasya, jujur sama Bunda. Kamu diapain sama Al? Dipaksa atau gimana? Bilang aja sama Bunda jangan takut, Sayang. Kapan kalian ngelakuinnya?" Tanya Diana pada Tasya.


Tasya melirik ke arah Radit yang sudah menatap tajam ke arah mereka. Lalu dia menatap bingung pada Al dan Al hanya diam karena terkejut dengan pertanyaan Bundanya.


"Diapain gimana, Bund? Kita gak ngapa-ngapain. Al mau tunangan sama Tasya," jawab Al.


"Tasya tadi muntah-muntah, jangan bilang lu hamilin adek gua," tuduh Radit.


"Astagfirullah, language! Engga, kenapa malah jadi gini?"


"Kenapa kalian malah ngelakuin duluan, padahal kan kalau mau menikah tinggal bilang," ucap Zea tak menyangka dengan kelakuan adiknya.


"Al, Ayah tidak pernah mengajari kamu untuk jadi lelaki pengecut ya. Kenapa kamu malah melakukan hal yang tidak pantas begini?"


Diana mulai menangis, dia merasa gagal mendidik anaknya. Tasya dan Al saling menatap bingung, kenapa malah mereka dituduh berbuat yang tidak-tidak. Padahal niat mereka ingin menerima perjodohan ini dengan baik.


"Abang, gue gak hamil ya Allah. Gue gak ngapa-ngapain, kalian salah paham. Kita tuh-"


"Stop, Sya. Abang kecewa sama lu."


"Kita panggil dokter sekarang," ucap Amara.


"Hah dokter buat apa, Tante?" Tanya Tasya tak percaya.

__ADS_1


"Buat pastiin kehamilan kamu," jawab Amara sembari beranjak dan menelepon dokter langganan kelurga mereka.


Tasya dan Al menyenderkan tubuh mereka ke sofa. Lebih baik mereka diam dan menerima ceramah saja. Biar dokter sendiri yang membuktikan. Sedikit menyesal membicarakan hal ini sekarang. Tapi tidak salah juga sih, karena situasi mereka sekarang adalah sehabis pulang KKN dan di satu rumah yang sama selama 40 hari. Jadi mereka pasrah.


__ADS_2