
"Tante, tante habis nangis?" Tanya Tasya pada Amara. Meskipun Amara tidak menjelaskannya, tapi Tasya tau kalau tantenya ini habis menangis.
"Engga sayang, Tante tadi cuma khawatir sama Tasya. Tante sayang sekali sama Tasya." Amara mengeratkan pelukannya pada Tasya, mengelus rambut Tasya lembut dan memberikan ketenangan pada Tasya.
"Maaf udah bikin Tante khawatir ya. Tasya ngerepotin Tante terus. Tante jangan tinggalin Tasya ya," ucap Tasya lirih. Dia tidak ingin kalau Amara meninggalkannya sama seperti ibunya.
"Tante gak kemana-mana, Sayang. Tante bakalan terus nemenin Tasya. Tapi Tasya jangan kenapa-kenapa. Harus jaga diri, tante gak akan tega liat Tasya sakit kaya gini." Amara meraih tangan Tasya, dia menciumi tangan gadis itu sambil tersenyum.
"Jangan khawatirin apapun ya," lanjutnya.
"Iya Tante, makasih yaaa. Tasya sayang banget sama Tante."
Al yang duduk di samping ranjang Tasya tak lepas menatap Tasya dari tadi. Tasya pun menatap ke arah Al sambil terus memeluk Amara.
"Lo marah ya sama gue, Al?" Tanya Tasya ragu.
"Iya marah, harusnya lu gak pergi pas tadi. Harusnya lu-" Al menarik napasnya, dia tidak boleh menyalahkan Tasya seperti itu. Dia lupa kalau kondisi mental Tasya belum stabil saat ini.
"Gua khawatir sama lu, Sya. Kalau lu sampe kenapa-kenapa gua gak akan bisa maafin diri gua sendiri," kata Al melembut.
"Maaf yaa," ucap Tasya menyesal.
Amara tersenyum melihat mereka berdua. Amara seperti melihat Tasya dan Al kecil. "Udah-udah yang terpenting Tasya udah gapapa. Pelukan kalian, ayokk jangan gitu mukanya."
Amara turun dari kasur dan Al berdiri lalu memeluk Tasya erat. Begitu juga dengan Tasya yang memeluk Al dengan erat.
"Jangan gitu lagi, gua gak pernah se-khawatir ini. Udah gua bilang lu itu berharga buat gua. Jadi lu harus selalu baik-baik aja."
"Lo belum jawab maaf gue."
"Iya dimaafin, udah gua maafin. Jangan bicara maaf terus, tanpa lo minta juga gua udah maafin."
"Ini darah gue ya? Lo belum ganti baju, masih banyak darah gini," kata Tasya.
"Gak peduli, gua mana mikirin seragam. Liat lu kaya gitu rasanya gua gak mikirin nyawa sendiri, Sya." Al mengeratkan pelukannya pada Tasya.
Tasya sedikit tersenyum mendengar ucapan Al. Dia benar-benar beruntung Al ada di saat kondisinya seperti ini. Jauh lebih baik dari kejadian sebelumnya.
Radit menatap Viko yang berada di sebelahnya. Tatapannya menetap sejak tadi pada Tasya dan Al. Radit tau apa yang ada dipikiran Viko saat ini.
"Tenang, Al itu sahabat kecilnya Tasya. Mereka deket karena dari bayi selalu bareng-bareng," ucap Radit pelan.
__ADS_1
"Loh jadi?" Tanya Viko.
Radit mengangguk, dia tidak bisa menyiksa perasaan orang yang sedang jatuh cinta. Pasti tersiksa oleh rasa cemburu.
Viko memeluk Radit akhirnya pertanyaannya sudah terjawab. "Ah gua lega, lagian lu sih bikin orang penasaran.
"Ya gua mau liat aja lu serius atau engga sama adek gua," kata Radit santai.
Viko tersenyum, kali ini dia benar-benar lega. Ternyata Al hanya sahabat kecil dari Tasya. Tidak salah juga jika Al menyebutnya more than friend. Karena mereka memang sangat dekat.
Radit tersenyum, ternyata banyak yang menyayangi Tasya. Salah satunya Viko yang dengan setia selau mendampingi Tasya dalam keadaan apapun. Dia berharap kalau Viko akan terus menjaga Tasya. Meskipun tidak tau kedepannya akan seperti apa.
...~ • ~...
Al tersenyum, Tasya sekarang sudah tertidur. Meskipun dia tidak tau isi pikiran Tasya saat ini seperti apa. Melihat obat-obatan yang harus Tasya minum saja dia sudah bergidik ngeri karena terlalu banyak.
"Sya, lu adalah orang paling kuat yang pernah gua temui. Lu harus sembuh, harus pulih. Biar gua bisa liat senyum lu yang suka bikin gua tenang di saat lagi gusar kaya gini," gumam Al seraya mengelus puncak kepala Tasya.
Iya, akhir-akhir banyak tekanan yang Al rasakan namun tidak bisa dia jelaskan. Banyak hal juga yang dia pikirkan jauh ke depan, tapi diselimuti rasa takut. Al butuh Tasya, tapi saat ini Tasya lebih membutuhkannya.
Sekilas Al melihat Viko yang berdiri di balkon sedang menatap ke langit. Entah apa yang dia pikirkan, tapi Al tertarik untuk bergabung.
Al menghampiri Viko yang terdiam di balkon kamar rawat Tasya. Radit sudah menceritakan tentang hubungan Viko dan Tasya dari jauh-jauh hari. Dia senang jika ada yang menyayangi Tasya sama seperti yang Al lakukan.
"Lu tau gua suka sama Tasya?" Tanya Viko yang sedikit kaget saat Al menghampirinya.
Al mengangguk lalu tersenyum. " Gua sebenernya tau dari bang Radit. Tapi setelah liat lu ya keliatan jelas kalau lu sayang banget sama Tasya. Gua pingin liat aja reaksi lu kemarin-kemarin haha."
"Sialan, nyiksa banget lu sama bang Radit."
"Tapi dari sana gua bisa tau kalau lu beneran sayang sama Tasya. Jadi gua bisa dengan aman nyerahin dia sama lu." Al menepuk punggung Viko dan terkekeh.
"Gua beneran sayang sama dia. Sekarang gua hanya mau dia sembuh dulu tanpa mikirin perasan. Karena gua tau pasti kalau yang Tasya butuhin sekarang itu suport untuk bantu dia sembuh."
"Vik, jangan pernah tinggalin Tasya walau dalam keadaan apapun ya?" Pinta Al.
Viko tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. "Gua janji, gua bakalan selalu jagain Tasya seperti yang lu dan bang Radit lakuin. Lu bisa percaya gua."
Al tersenyum, meskipun Viko pencemburu tapi dia masih mementingkan kesehatan Tasya dan tida egois dengan perasannya.
"Iyaa, itu yang mau gua bilang ke lu. Dan gua harap lu bakalan suport dia terus kaya gini sampai dia sembuh. Kita kerja sama ya?" Kata Al mengulurkan tangannya. Viko pun tersenyum dan menyambut ukuran tangan Al. Mereka mulai sekarang harus saling menjaga Tasya.
Setelah itu hening, tak ada percakapan di antara mereka. Viko fokus untuk melihat bintang dan Al menatap ponselnya. Lagi-lagi pesan dari ibunya ini mengacaukan pikirannya. Tapi yang pasti keputusannya untuk saat ini sudah benar. Meskipun tidak tau kedepannya akan bagaimana.
__ADS_1
Al jadi teringat pada Angkasa dan Yoda, biasanya jika Al sedang merasa seperti ini mereka akan menghibur Al dengan berbagai cara. Entah itu nongkrong atau balapan.
"Besok libur, lu gak balik?" Tanya Al pada Viko memecahkan keheningan.
"Bentar lagi dah, ortu emang udah rewel tapi gua masih mau di sini," jawab Viko.
"Btw besok Sherli dkk mau kesini, tadi gua udah kabarin mereka," lanjut Viko.
Al mengangguk. "Oke tar gua sampein ke Tasya."
Al membuka Tasnya dan memberikan baju kaos miliknya pada Al. "Ganti baju lu, ini bersih. Gua selalu bawa kalau gua mau bolos tinggal ganti."
"Thanks yo." Al mengambil baju milik Viko.
"Yaudah gua balik dulu, kalau ada apa-apa lu bisa hubungi gua."
"Iya sip, hati-hati lu. Awas begal."
"Yoi." Viko tersenyum lalu berjalan ke arah pintu. Sekilas dia melihat Tasya yang sedang tertidur pulas. "Selamat tidur peri cantik."
Viko keluar dan menutup pintunya kembali. Perasaannya sekarang jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya saat belum mengetahui kalau Al adalah sahabat Tasya.
Berbeda dengan Al yang kini sedang bingung akan mengangkat telfon ibunya atau tidak. Namun sepersekian detik berikutnya dia memutuskan untuk mengangkatnya.
"Halo bund ada apa?"
"..."
"Udah, Al udah bicara sama tante dan bang Radit."
"..."
"Bund, gak bisa instan. Tolong ikutin aja keputusan Al ya. Semuanya butuh proses."
"..."
"Bund, percaya sama Al."
"..."
"Iya Al janji."
Al memutuskan panggilan itu. Matanya terpejam, sesekali dia menarik udara segar di sini. Jika ada bintang jatuh, Al hanya memohon agar semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1