
Beberapa hari berlalu, Tasya kini merasa cukup baik. Meskipun suara-suara itu masih selalu menghantuinya setiap malam, tapi tidak separah seperti sebelumnya. Tasya memperhatikan obat-obatan yang dia minum. "Kenapa?" adalah hal yang selalu dia pikirkan akhir-akhir ini. Dia sering bertanya kepada abang dan juga tantenya, tapi mereka selalu menjawab kalau itu vitamin. Sesungguhnya Tasya lelah dengan obat-obatan kemarin, apalagi ditambah seperti ini.
"Tasyaaaa!!!" Teriak ketiga temannya yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Mereka memeluk Tasya sampai membuatnya kaget. Sherli menatap Tasya sambil tersenyum. Mereka sudah diberitahu agar membuat Tasya selalu senang dan membantu Tasya kembali bisa berbaur dengan dunianya. Sherli menangkup pipi Tasya.
"Miccuu bestii," ucapnya sambil kembali memeluk Tasya.
"Kita kangen banget tau sama lo," kini giliran Sarah yang buka suara.
"Sekolah sepi gak ada lo, gak seru tau," kata Niken.
"K-kalian kenapa gak bilang mau kesini?" tanya Tasya bingung.
"Gakk, mau kasih kejutan. Kita kangen lo tau, lo gak kangen kita emangnya?" Niken mengerutkan bibirnya.
"Kangen," ucap Tasya, meskipun sebenarnya dia tidak merasakan apa-apa.
Sarah memahami kondisi Tasya pun mencoba mencairkan suasana.
"Lo gimana? Udah mendingan belum?" tanya Sarah.
"Gue gak kenapa-kenapa, tapi Tante gue suruh gue buat diem aja di rumah," jawab Tasya.
Perlahan dia menundukkan kepalanya, berada di tengah orang-orang membuatnya sedikit pusing.
"Lo gak boleh terus terpuruk, Sya. Lo harus kembali ceria, jadi Tasya yang bawel, Tasya yang selalu terbuka sama kita." Sherli mengelus punggung Tasya lembut.
"Hmm." Tasya menganggukkan kepalanya singkat.
Terlihat sangat jelas perubahan Tasya, mereka merasakan jika Tasya benar-benar takut untuk kembali ke kehidupan normalnya. Namun, mereka tidak pantang menyerah, mereka pasti akan membuat Tasya kembali mempercayai mereka. Mereka ingin Tasya bisa mengungkapkan perasaannya agar dia tidak larut dalam overthinking.
Tidak ada rasa takut saat menghadapi Tasya, meskipun Amara dan Radit sudah menceritakan semua tingkah laku Tasya. Mereka yakin, Tasya tetaplah Tasya, hanya saja dia sedang sakit dan sebagai teman sudah tugas mereka untuk membantu Tasya untuk kembali pulih.
"Syaaa, liat gue bawa apa." Niken mengeluarkan lipcream yang waktu itu mereka pesan.
"Ihhhhh jadi dong kita ke pangandaran ... " Sarah kegirangan melihatnya.
"Gimana kalau kita sekarang cobain make up? Boleh kan, Sya?" tanya Sherli.
Tasya mengangguk sambil tersenyum, "Boleh, tapi kalian aja yaa, gue gak ikut. Gue liatin aja."
"Ett apa-apaan, gak bisa. Lo ikut dong," ucap Sarah sambil tertawa.
Niken dan Sarah menarik tangan Tasya perlahan dan mendudukkannya di meja rias.
"Biasanya kan lo yang dandanin kita, sekarang gantian!" Sherli memainkan brush sambil tersenyum riang.
Tasya sebenarnya canggung tapi mereka membuat Tasya membiasakan diri kembali untuk berkumpul.
Niken membuka lemari Tasya, mencari beberapa gaun Tasya yang tersusun rapi di sana. Sementara Sarah dia mengambil pernak-pernik dan hiasan. Sherli tentunya sedang berkarya di wajah Tasya.
__ADS_1
Sedikit lengkungan senyum di bibir Tasya membuat Sherli merasa senang.
"Nah gitu senyum kan cantik," kata Sherli sambil memoles wajah Tasya dengan loose powder.
Tasya memperhatikan Sherli, dia mulai terbiasa lagi dengan kehadiran teman-temannya di sampingnya.
"Pake ini bagus gak sih buat study tour, ini gak full belajar di luar kan?" tanya Niken sambil memperlihatkan dress biru langit selutut dengan pita melingkar di pinggang.
"Baguss, gak lah masa iya belajar terus. Katanya sih bakalan ada party juga," timpal Sarah.
"Emmm bagus-bagus, berarti gue harus make-up-in yang natural biar senada sama dress-nya," kata Sherli sambil memilih warna eye shadow.
Setelah memakai blush on dan memakaikan berbagai pernak-pernik, sarah memakaikan kalung liontin simpel yang membuat Tasya terlihat anggun.
"Cantik banget temen gue," kata Sherli yang terlihat puas dengan hasil karyanya bersama Sarah dan Niken.
"Ayokk sekarang coba bajunya." Niken meraih tangan Tasya dan menarik Tasya ke fitting room pribadi Tasya.
"Pake ya," ucap Niken sembari memberikan dress yang sudah dipilihnya tadi.
Tasya pun menutup gorden dan mengganti pakaiannya.
"Gue seneng deh walaupun sedikit, Tasya udah bisa senyum," gumam Sarah.
"Hmm, kita harus terus berusaha buat bikin Tasya kaya dulu." Sherli pun memeluk Sarah.
"Ihhh pelukan gak ngajak." Niken pun ikut memeluk mereka berdua.
"Huu lo itu gak diajak," ledek Sarah.
Saat mereka sedang asik, Tasya pun keluar. Terlihat dia sangat cantik dengan dress yang dia kenakan.
"Emang ya kalau orang cantik tuh susah, gak dandan aja cantik, sekarang makin cantik aaaaaa." Sherli, Sarah dan Niken berlari ke arah Tasya dan memeluk Tasya.
"Kita sayang lo," kata Niken.
"Gue juga sayang kalian," balas Tasya dengan sedikit senyum. Ada rasa terharu karena teman-temanya begitu peduli padanya saat ini. Rasanya kesepian yang selalu menghantuinya sedikit berkurang.
"Kalau lo sayang sama kita, lo gak boleh ngerasa sendirian lagi, lo harus berusaha buat sembuh, lo harus semangat lagi," kata Sarah.
"Gue udah sembuh, gue gak sakit, Sar. Cuma Abang gue belum bolehin gue sekolah," ucap Tasya.
"Emmm aaa, itu maksudnya lo harus cepet pulih dan bangkit dari apa yang lo rasain. Janji sama kita ya lo harus baik-baik aja." Sherli mencoba meluruskan perkataan Sarah.
"Iyaa, gue usahain."
"Janji ya jangan mendem apapun sendiri," kata Niken sambil memegang kedua tangan Tasya.
"Iyaa kita kan bestie," kata Sarah dan setelah itu mereka tersenyum.
Mereka akan menghabiskan waktu bersama Tasya hari ini sampai Tasya merasa bahagia.
...~ • ~...
__ADS_1
Di sini lain, Viko sedang fokus pada ponselnya. Biasanya Tasya akan update apapun di sosial medianya. Hal yang selalu Viko tunggu notifikasinya, tapi sudah hampir 1 bulan akunnya seperti akun mati, tidak ada kehidupan.
Dia me-scroll chat di Line bersama Tasya, sesekali dia tersenyum. Dia merindukan Tasya, gadis periang yang sering dia kerjai, sering dia ajak bertengkar sampai adu argumen dan tentu wanita yang dia cintai.
"Yaelah galau mulu," celetuk Arka.
"Ga," singkat Viko.
"Alah sia boy, galau ahaha. Samperin lah ke rumahnya, jangan liatin chatnya doang," timpal Bagus.
"Bener tuh, kayanya tadi Sarah, Sherli, Niken ke rumah buketos," kata Reza.
"Tau, gua dikasih tau Sherli. Cuma gua gak mau ganggu kebersamaan mereka dulu dah." Viko memutar mutar hpnya.
"Btw, emang lu udah tau Tasya sakit apa?" tanya Reza.
"Skizofrenia," gumamnya perlahan.
"Hah penyakit apa tuh?" tanya Arka tak paham.
"Gua gak tau pastinya gimana. Tapi yang gua tau penderitanya bisa ngalamin kecemasan berlebihan dan halusinasi. Dia bakalan mempercayai sesuatu yang gak nyata menurut kita," jelas Viko.
"Hah? Gua makin gak mudeng asli." Bagus menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Gini, bang Radit bilang Tasya suka denger suara-suara yang nyuruh dia buat bunuh diri, Tasya juga kalau liat kaca seolah dirinya ini dia yang lain. Yang selalu merutuki dirinya sendiri."
"Kaya di film horor? Kalau kita ngaca, bayangannya bicara sendiri?" tanya Arka.
"Iya, itu semua halusinasi dia. Dia gak bisa bedain antara halusinasi dan kenyataan. Itu bisa dialami semua orang saat mereka merasakan trauma."
"Anjay bahasa lu. Tapi serem juga, maksud gua dia bertahan sejauh ini aja keren loh. Gua jadi dia kayanya gak sanggup," kata Bagus.
"Iya, dia kuat. Cewek terkuat yang pernah gua temui."
"Lu kan jomblo dari lahir. Emang pernah ketemu siapa lagi dah?" ledek Arka.
"Anak babi." Viko menggeplak kepala Arka dan disambut gelak tawa mereka.
"Di sini gua baca, katanya itu penyakit seumur hidup," ucap Reza yang dengan niat membuka google karena penasaran.
"Hah? Asli? Jadi Tasya bakalan gitu selamanya?" Bagus pun kaget dengan penuturan Reza.
"Iya tapi kalau penyakitnya dari awal ditangani dan lingkungan dia positif, dia bakalan cepet sembuh," tutur Reza.
"Harusnya dia kembali sekolah aja gak sih? Jadi bisa kita rangkul dia dan bikin dia gak sendirian. Gua gak paham penyakit itu, tapi setau gua orang yang punya penyakit mental harus dihindari dari kesendirian, biar gak aneh-aneh," kata Bagus.
"Bener, gimana kalau kita bujuk bang Radit biar izinin Tasya sekolah. Kita bareng-bareng jagain Tasya dari hal-hal yang bikin dia tertekan," kata Arka dengan yakin.
"Nanti kita coba bicara, tapi tumbenan lu semua pinter dah." Viko tertawa sambil merangkul Reza.
"Goblok-goblok gini gua pinter anjir," ucap Reza bangga.
"Nahkan mulai gobloknya, dinamain nya aja udah goblok, gimana ada goblok tapi pinter." Bagus dan Arka terbahak mendengar perkataan Reza.
__ADS_1
Viko beruntung memiliki ketiga sahabatnya ini. Dia akan mendengarkan nasehat mereka. Dia berharap ada jalan baik untuk membuat Tasya kembali pulih.