Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Janji Seorang Aldo Prayoga


__ADS_3


Segerombol motor berhenti di depan seorang pria yang sedang bersender dan tertunduk di depan mobilnya. Karena dikuasai emosi, Monik Turun lebih dulu dari motor Angkasa dan menghampiri Viko.


Plakk ...


Satu tamparan berhasil lolos dari tangan Monik. Viko hanya diam, tak melawan atau emosi. Dia tau kemarahan sahabat-sahabat Tasya ini sangat wajar. Kali ini dia akan benar-benar menerima kemarahan dari mereka.


"Kenapa lo tega sama sahabat gue?! KENAPA LO LAKUIN SESUATU GAK PAKE OTAK HAH?! BAJINGAN, BERENGSEK, ANJING!" Monik mencengkeram baju Viko dengan erat dan menatapnya tajam.


"Kenapa lo diem?! JAWAB GUE BERENGSEK!" Bentak Monik.


Al membiarkan keempat temannya untuk lebih dulu maju, sementara dia menatap tajam pada objek yang dia tuju di depan motornya. Dia tidak ingin banyak bicara, terlalu basa-basi menurutnya. Dia akan langsung pada intinya saja.


"Lo tau, seberapa sayangnya Tasya sama lo? Dia bahkan setiap hari gak ada hentinya bicarain tentang lo, gimana dia bilang kalau dia beruntung punya lo, dia setulus itu sama lo! Mikir!" Kini Belva yang bicara, ingin sekali dia menyumpah serapahi orang yang ada di hadapannya ini.


"Bajingan!" Monik mendorong tubuh Viko yang masih mematung di tempatnya. Entah pembelaan apa yang akan dia katakan di depan mereka, Viko sama sekali tidak berkutik.


"Gua kasian aja sama lu yang mau dibego-begoin Bella. Dia deketin lu cuma karena dendam cintanya Al tolak dan Tasya jadi sasaranya. Lu bodoh, Vik nyia-nyiain cewek sebaik Tasya," ucap Yoda sambil tertawa meremehkan.


Viko menatap ke arah Yoda, apa dia tidak salah dengar dengan apa yang diucapkan Yoda? Jadi Bella memanfaatkannya juga secara tidak langsung demi membalaskan dendamnya pada Aldo?


"Lo sambungin aja deh kejadian tadi siang, kenapa dia bisa ikut lo dan kenal sama kita. Kasian gue sama lo, tapi gue gak akan pake perasaan kalau berhadapan sama orang kaya lo!" Tegas Monik.


"Kaget? Berpikir sebelum bertindak! Bahkan Tasya masih nahan Al sama Radit buat hajar lu ke sini!" Ucap Angkasa dengan wajah dinginnya.


Al melangkahkan kakinya, sudah cukup bermain-main dengan emosi pria itu. Kini gilirannya untuk mendapatkan hal setimpal dengan rasa sakit yang Tasya rasakan. Al mencengkram kerah baju Viko, ditatapnya dengan tajam mangsanya yang tidak memberikan perlawanan sama sekali.


Bugh ....


Satu pukulan berhasil dia layangkan di perut pria itu. "Gua gak suka basa-basi."

__ADS_1


Bugh ....


Dua pukulan berhasil dia layangkan di pipi pria itu sampai mengeluarkan darah dari sudut bibirnya. "Itu untuk kelakuan lu yang semena-mena mainin perempuan berharga di hidup gua!"


Bugh ....


Tiga pukulan berhasil dia layangkan di pipi yang lainnya. "Dan ini buat lu karena udah buat Tasya hancur di acara ulang tahunnya sendiri!"


Al menghajarnya beberapa kali, pria itu masih tidak melakukan perlawanan dan sudah tersungkur ke aspal. Dia kini malah tenggelam dengan emosi dan rasa bersalahnya pada Tasya. Tapi, sesaat Al akan melayangkan pukulannya lagi, dia mematung menatap Viko.


"Kenapa? AYOK PUKUL GUA LAGI! GUA BAJINGAN, TUNGGU APA LAGI HAH?!" Teriak Viko tepat di wajah Al.


Seketika Al mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, dia sebenarnya ingin memukuli pria ini sampai tidak bisa bangun dan seluruh tulangnya retak.


Al menatapnya tajam, melepaskan cengkeramannya dan mendorong Viko ke aspal. "Sebenernya gua ingin, tapi mengingat lu adalah orang yang Tasya cintai, gua masih punya rasa kemanusiaan."


"Jangan pernah ganggu Tasya lagi!" Lanjutnya sembari meninggalkan Viko. Kali ini Al tidak akan mengalah lagi pada siapapun, dia akan menjaga Tasya dan membuatnya bahagia entah bagaimana jalannya nanti berpihak atau tidak. Dia tidak ingin Tasya kembali jatuh kepada pria brengsek seperti Viko.


...~ • ~...


Tidak hanya itu, dia membanting semua barang yang tak luput dari pandangannya. Andai saja Bella tidak ke sana tadi, pasti semuanya akan baik-baik saja.


Orang tuanya kini marah besar dan bahkan membuat surat pengunduran diri untuk kuliahnya di Amerika. Karirnya diputus begitu saja karena pasport dan Visanya ditahan dan sekarang dia kehilangan Tasya yang selama ini telah menemaninya menjadi pria dewasa.


Tiba-tiba pintu apartemen terbuka. Bella kaget dengan kekacauan yang ada di sana. Kenapa Viko bisa se-berantakan ini? Tubuhnya terlihat memar dan banyak bekas luka, apa dia berkelahi dengan seseorang? Bella panik, bukan ini yang dia harapkan.


"Kamu kenapa, Sayang?!" Tanya Bella sambil menghampiri Viko.


Viko menatap Bella tajam. Kalau selama ini Bella mengenalnya sebagai Viko yang penyayang, kali ini Viko akan membuatnya melihat kalau Viko mempunyai sisi lain jika seseorang mengganggu hidupnya. Menerima kenyataan kalau Bella menjadikannya objek balas dendam membuat, membuat Viko ingin membunuh wanita ini sekarang juga.


Viko mencengkram leher Bella dan menyudutkannya di dinding. "Bener kamu jadiin aku alat buat bales dendam sama Al?"

__ADS_1


"E-engga, Vik. Dengerin penjelasan aku dulu," pinta Bella yang kini mulai ketakutan melihat Viko yang kesetanan.


"JAWAB!! IYA ATAU ENGGA?!" Bentak Viko penuh emosi.


"IYAA!! AWALNYA AKU JADIIN KAMU ALAT BIAR BISA BALES DENDAM SAMA AL. TAPI AKU SAYANG SAMA KAMU, VIKO. AKU GAK MAIN-MAIN SOAL ITU!" Kini Bella yang membentak Viko, air matanya turun ketika Viko membentaknya barusan.


"Tega! Puas sekarang udah hancurin semuanya?!" Tanya Viko dengan mata yang mulai memanas karena emosi.


"Aku gak berniat hancurin kamu Viko, aku mau hacurin Tasya! Kamu dan aku bisa bahagia!"


"TEGA KAMU! Tasya gak ada salah apa-apa! Kenapa kamu tega lakuin itu sama orang yang aku cintai!"


"KALAU KAMU CINTA SAMA DIA, GAK MUNGKIN KAMU TERGODA SAMA AKU MESKIPUN AWALNYA KARENA KITA SAMA SAMA MABUK BERAT TAPI KAMU MELANJUTKAN HUBUNGAN INI SAMPAI SEKARANG! ITU APA KALAU BUKAN CINTA HAH? KAMU JUGA JAHAT SAMA DIA BUKAN HANYA AKU VIKO?!" Bentak Bella.


"AKU GAK CINTA SAMA WANITA MURAHAN SEPERTI KAMU BELLA! AKU CUMA CINTA SAMA TASYA!" Viko mendorong tubuh gadis itu ke lantai, membuatnya semakin terisak dan kesakitan akibat tersungkur sangat keras.


Viko membanting sebuah gelas tepat di samping tubuh Bella, gadis itu gemetar. Dia tidak menyangka kalau perbuatannya akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.


"Lebih baik kamu keluar sebelum aku berbuat yang lebih dari ini," ucap pria itu parau.


"T-tapi, Vik-"


"KELUAR ATAU GUA SERET?!" Bentak Viko yang bahkan mengubah kosa katanya menjadi lebih kasar.


Bella dengan cepat keluar dari apartemen itu. Dia menangis, jujur dia terluka karena ini. Dia hanya berniat menyakiti Tasya, bukan Viko dan akhirnya dia juga terkena imbasnya. Sungguh ini kali pertamanya dia diperlakukan kasar oleh seseorang. Apalagi seseorang yang dia cintai.


Dia kini bahkan menangis di dalam mobilnya. Jika Tasya memiliki teman-teman yang siap ada di sampingnya, kini dia sendirian. Dia harus bicara dengan siapa? Orang tuanya pasti juga akan malu jika mengetahui ini semua.


"ARGHHTTT KENAPA JADI KAYA GINI?!" Bella memukul-mukul setirnya. Harusnya dia bersenang-senang hari ini karena rencananya berhasil, tapi dia malah ikut terluka.


Di sisi lain Viko menatap ponselnya, melihat foto-fotonya bersama Tasya. Entah kenapa dia justru menangis. Memang terlihat lemah untuk ukuran lelaki dewasa sepertinya. Tapi Viko benar-benar menyesali perbuatannya

__ADS_1


Sesekali dia menatap room chat nya bersama Tasya. Tidak ada jawaban dari gadis itu. Bahkan kini ponselnya mati dan tidak bisa dihubungi. Dia tidak marah pada Tasya karena Al memukulinya, bahkan jika Tasya menyuruhnya pun Viko tidak akan emosi. Dia sadar perbuatannya sekarang sangat menyakiti hati Tasya.


"Gimana pun caranya, gua harus dapetin Tasya lagi!" Gumamnya perlahan. Dia benar-benar tidak ingin kehilangan Tasya untuk selamanya.


__ADS_2