
Setelah mengikuti tahapan ospek kurang lebih satu minggu, akhirnya mereka pun resmi menjadi mahasiswa resmi Universitas Airlangga. Tasya merasa bangga saat mendapatkan almamater dan juga jas lab dengan nametag miliknya sendiri.
Hari ini adalah hari pertamanya kuliah, tentunya dia harus mendapat kesan pertama yang bagus saat bertemu dengan dosennya. Apalagi satu kampus sudah mengenalnya akibat saat ospek dia cukup aktif dan mendapat gelar kesayangan BEM karena Tasya Camaba yang mempunyai banyak bakat.
Tasya tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin menggunakan almamater kebanggaannya. Tidak lupa mengambil mirror selfie untuk di posting di story nya.
Setelah selesai dia langsung keluar kamarnya dan mengambil dua roti dari meja yang sudah di sediakan Amara.
"Tan, Tasya buru-buru udah ditungguin sama Al di depan. Tasya berangkat ya," ucap Tasya sembari menyalami Amara.
"Bang gue duluan, jangan lupa makan siang!" Tasya mencium pipi Abangnya lalu berlari keluar karena Al sudah menunggu di mobilnya.
"Kebiasaan Tasya tuh, Tan rusuh kalau mau pergi sekolah dan sekarang ke kampus oun masih sama kelakuannya. Untung sekarang ada Al. Kalau engga Radit yang dirusuhin sama Tasya karena gak mau telat," gerutu Radit.
"Gitu-gitu adik kamu heh, Dit. Gak boleh gitu," bela Amara sambil terkekeh.
"Iya-iya, Tan," ucap Radit pasrah sembari memakan sarapannya.
Amara tersenyum melihat tingkah Radit dan Tasya. Meskipun mereka sudah beranjak dewasa, tapi di mata Amara mereka masih seperti anak kecil. Sama seperti seorang Ibu yang menganggap anaknya selalu kecil.
Tasya memasuki mobil Al dengan teburu-buru, dia langsung memakai sabuk pengaman dan tersenyum riang. Tak lupa dia memberikan satu rotinya pada Al untuk sarapan.
"Ayok, gue udah siap," ucap Tasya sembari memakan roti miliknya.
Al pun melajukan mobilnya dia tersenyum melihat Tasya yang sepertinya sangat senang di hari pertamanya kuliah.
"Seneng banget lu hari ini," ucap Al sembari fokus menyetir.
"Ya seneng lah, Al. Gue punya temen baru, sahabat baru, almamater baru dan sekarang masuk ke lingkup pelajaran yang baru Gue kan jadi antusias buat ngejalaninnya," kata Tasya senang.
"Iyalah secara udah jadi kesayangan BEM," goda Al.
"Ih gak gituu, sebenernya gue tuh gak suka tau jadi kesayangan BEM. Bukan gak seneng tapi gimana ya, orang kan gak selamanya mandang bagus, pasti ada aja yang julid," ungkap Tasya.
"Kebiasaan mikirin omongan orang lain, fokus aja sama diri sendiri. Ngikutin apa kata orang gak akan ada habisnya dan kita gak punya banyak tangan untuk menutup mulut orang banyak, jadi solusinya lu harus bodo amat," nasehat Al.
__ADS_1
"Yaiya sih, tapi lo tau sendiri gue tuh gampang kepikiran, jadi omongan orang tuh gue pikirin semuanya."
"Ya jangan, mulai sekarang fokus aja sama apa yang lu jalanin. Oke?"
Tasya pun mengangguk, untung ada Al. Selagi ada dia Tasya pasti bisa menghadapi apapun. Jujur saja Tasya beruntung karena masih ada Al untuk berbagi apapun. Meskipun dia dengan yang lainnya sudah dekat, namun tetap Al yang lebih paham tentang dirinya.
"Lo tau gak, gue galau banget sebenernya, tapi karena hari pertama ke kampus jadi gue semangat," ucap Tasya.
"Galau kenapa?" Tanya Al sembari memakan roti yang diberikan Tasya untuknya.
"Hubungan jarak jauh tuh ternyata berat banget ya? Emang sih gue bisa ngatasinnya sama Viko cuma terkadang dia sibuk banget di sana. Terus hubungan sama temen-temen gue di sana, kayanya kita sibuk sama urusan masing-masing. Kaya apa ya, gue harus membiasakan itu rasanya berat.
"Udah gua bilang, kita pasti ada di fase ini. Kuncinya ya saling pengertian. Kalian udah gak satu lingkup lagi, jadi wajar aja banyak jadwal yang berbeda. Apalagi hubungan lu sama Viko berjarak 12 jam. Gue yakin lu kuat," ucap Al menyemangati.
"Iya-iya, Al. Makasih yaaa selalu jadi rem disaat gue emang bablas banget mikirnya," kata Tasya sabil tersenyum
Al pun mengusak rambut Tasya sambil tersenyum dan mengangguk.
Tak selang berapa lama mereka pun sampai di kampus. Al dan Tasya menuruni mobil. Mereka langsung menghampiri Angkasa, Belva dan Yoda. Monik tentunya tidak bersama mereka karena beda fakultas.
Itu yang kemarin dapet julukan kesayangan BEM gak sih?
Al sama Tasya tuh ada hubungan apa sih?
Mereka kok cocok ya.
Tasya hanya tersenyum tanpa mempedulikan omongan-omongan itu. Seperti kata Al dia harus bersikap bodo amat. Terkecuali jika ada yang menyapanya, baru dia balas.
Dia bersama keempat temannya memasuki kelas, karena mereka berada di satu kelas yang sama. Hari pertama mereka diperkenalkan dengan sistem mata kuliah yang menggunakan blok dan modul.
Setelah itu mereka juga diperkenalkan dengan ilmu-ilmu basic tentang kedokteran. Mata kuliah yang menarik, entahlah jika sudah memasuki semester lanjut akan semenarik dan seantusias ini atau tidak. Tapi ini awal yang baik.
...~ • ~...
Di sisi lain Viko dan Bella baru selesai dengan kegiatan mereka di kampus, hari ini Viko sengaja mengambil pekerjaan untuk dia selesaikan di rumah, karena jadwal kuliahnya yang padat.
Sebelum kembali ke apartemen, mereka berdua menyempatkan untuk makan di salah satu cafe yang berada di kawasan kampus mereka.
__ADS_1
"Gue gak nyangka kalau mata kuliahnya sesusah itu, secara gue paling gak suka ekonomi. Tapi gue harus berhadapan sama itu sekarang," ucap Bella.
"Terus kalau lu gak minat kenapa masuk ekonomi?" Tanya Viko.
"Karena gue ngeliatnya karena keren aja sih, jadi gue masuk sana dan lagi orang tua gue juga merekomendasikan ke sana. Jadi yaudah gue jalanin," jawab Bella.
"Sama sih gua juga, tapi karena gua udah belajar sedikit demi sedikit jadi yaudah di nikmatin aja," balas Viko sembari memakan, makanan miliknya.
Tiba-tiba ponsel Viko menyala, sepertinya ada pesan masuk. Setelah membukanya Viko kembali menyimpan ponselnya. Tidak sopan kalau sedang makan tapi fokus ke hal lain.
Bella melirik ke arah ponsel Viko yang dibiarkan menyala. Wallpaper ponsel itu membuat Bella penasaran.
"Itu cewek lo?" Tanya Bella ragu.
Viko melirik sekilas ke ponselnya lalu tersenyum. "Iya, dia cewek gua."
Viko jadi merindukan gadis itu, dia tau kalau sekarang hari pertama Tasya masuk kuliah, tentunya pasti banyak cerita yang akan Tasya ceritakan padanya.
"Boleh liat?" Tanya Bella. Dia nampak tidak asing dengan wanita itu.
Viko mengarahkan ponselnya ke arah Bella dan memperlihatkan galeri photonya. Bella masih mengingat-ngingat siapa gadis itu, dia tidak mengenalnya tapi samar-samar ingatannya kembali ke masa lalu.
"Namanya Tasya, dia satu sekolah sama gua. Sekarang dia malah di Surabaya, kuliah di Airlangga," jelas Viko.
Degh ....
Kini dia mengingat gadis itu. Seseorang yang dicintai oleh pria yang pernah dia cintai. Dia yakin kalau itu adalah Tasya yang sama dengan yang Al selalu bicarakan dan selalu Al pajang di kamarnya.
Dia memang cantik, jauh lebih cantik dari Bella dan dia pun mengakuinya. Bahkan jauh lebih cantik dari yang terakhir dia lihat di ponsel milik Al.
"Kenapa, Bel?" Tanya Viko yang melihat Bella tidak ada reaksi.
"O-oh gapapa. D-dia cantik, nanti bisa kali ya ketemu gue kalau pulang ke Surabaya," jawabnya sambil terkekeh.
"Iya, dia emang cantik. Baik juga, nanti gua kenalin sama lu," ucap Viko sambil tersenyum.
Bella pun hanya mengangguk, meskipun kini perasaannya mulai tidak karuan. Masa lalu yang dia tenggelamkan dalam-dalam seolah mencuat kembali ke permukaan.
__ADS_1