
📍Hutan Mangrove Wonerejo
Saat sampai di sana Tasya malah menjadi yang lebih semangat dari Al. Dia berlari menelusuri jembatan di tengah-tengah hutan bakau itu dengan tertawa lepas. Tasya sepertinya sudah sangat lama tidak ke tempat seperti ini.
Al mengarahkan kameranya pada Tasya, objek yang selalu Al sukai saat memegang kameranya. Tasya kemudian berlari ke arah Al dan mengajaknya ikut berlari menelusuri hutan itu.
"Hahahahaha gila ini bagus banget! Gue sukaaa!" Ucapnya pada Al.
"Udah gua bilang, lu pasti suka. Gak mungkin gak suka, makanya jangan nethink dulu." Al mengusap Rambut Tasya lembut.
"Kenapa lo baru ajak gue kesini setelah udah beberapa tahun di Surabaya?" Tanya Tasya kesal.
"Karena kita gak punya waktu, bukan gak punya tapi emang gak kepikiran aja. Ya gapapa, kan sekarang jadi bisa buat tempat healing. Kalau udah sering kesini rasanya gak akan sama," jawab Al.
"Yaiya sih, yaudah ayokk kita jalan lagi," ajak Tasya pada Al sambil berlari kecil.
Suasana di sini menenangkan, ditemani berbagai hewan yang dilindungi dan jarang ada di kota-kota besar. Tasya selalu suka bermain dengan alam. Karena alam memerankan perannya dengan sangat baik.
Mereka tidak melewatkan satu spot mana pun untuk berphoto. Mereka bahkan sampai kejar-kejaran seperti anak kecil di sana. Tasya senang sekali berada di sini dan Al senang sekali melihat Tasya tertawa lepas.
Karena lelah berlari, mereka pun duduk sembarang di atas jembatan. Menyender pada sisinya dan saling menatap sambil saling tetawa.
"Hahaha seruuuuu, huftt hhhhh capeee tapi," kata Tasya sambil tertawa.
"Lu sih gangguin gua mulu, gua kejar malah ketar ketir," balas Al sambil mengatur napasnya.
"Ya siapa lagi yang bisa gue gangguin kalau bukan lo, itu namanya kesenangan tersendiri," ucap Tasya yang masih tertawa.
Al menarik hidung Tasya. Dia sangat gemas pada gadis itu jika tertawa begini. "Untung gua sayang sama lu, kalau engga udah gua buang ke rawa-rawa sana."
Tasya tertawa, tentu Al sayang padanya dan pasti tidak akan pernah tega marah atau ngambek. "Oh jelas pasti dan harus sayang sama gue!"
"Iya, gua sayang sama lu." Al tersenyum menggeser kaki Tasya dan memengang sepatunya, talinya terlepas jadi Al mengikatnya. Kalau tidak nanti Tasya bisa terjatuh.
Tasya tertegun, kenapa dia menjadi salah tingkah begini? Kali ini Al mengucapkannya dengan berbeda. Namun seketika dia tersenyum dan kembali ke alam bawah sadar kalau memang seharusnya begitu. Kan mereka sahabat.
"Lu suka ceroboh, kalau gak dibetulin pasti bangun langsung jatuh," ucap Al.
__ADS_1
"Bukan ceroboh, Al. Gue tuh gak nyadar aja, makanya keliatan ceroboh," bela Tasya pada dirinya sendiri.
Al menatap mata Tasya serius. "Sama aja itu namanya ceroboh, jangan ceroboh dalam hal apapun. Cek dulu kalau mau ngapa-ngapain, apalagi kalau pilih cowok, gua gak mau lu kenapa-kenapa,"
Tasya yang semula menatap Al kini mengalihkan pandangan dan menghela napasnya. Aneh sekali, tidak biasanya dia begini. "Iyaa."
Al tersenyum lalu kembali menyandarkan punggungnya pada pinggir jembatan. Hanya dengan menatap matanya dari dekat saja membuat jantung Al rasanya tidak aman. Tasya lama-lama bisa membuatnya gila kalau seperti ini.
"Al," panggil Tasya perlahan.
"Apa?" Sahut Al dengan lembut.
"Menurut lo makna cinta itu apa?" Tanya Tasya yang kini melirik Al yang ada di sampingnya.
"Emmm menurut gua, makna cinta itu ketika kita kasih semua yang terbaik buat dia, bikin dia ngerasa selalu bahagia, tanpa mengharapkan imbalan apapun," jawab Al sambil tersenyum lembut ke arah Tasya.
"Kok gitu? Bukannya cinta itu hubungan timbal balik kan?" Tanya Tasya tak mengerti.
"Timbal balik itu kesadaran, Sya. Gak bisa dijadiin sebuah keharusan, karena rasanya udah pasti beda kalau dipaksakan. Jadi menurut gua ya, ketika misalnya gua melakukan sesuatu buat orang yang gua sayang dan orang itu gak sadar sama perasaan gua yang otomatis gak ada feedback, ya gapapa. Yang terpenting gua udah mendapat kepuasan karena melakukan yang terbaik buat dia."
Tasya tersenyum, Al ini paling handal dalam masalah percintaan. Tapi anehnya dia tidak mengenalkan satu gadis pun ke hadapannya.
"Tapi itu perasaan cowok ke cewek kan? Cewek kan?" Tanya Tasya lagi.
"Ya gapapa gue cuma jadi sedikit curiga aja sama lo. Takutnya lo homopobic atau biseksu-" jawabnya asal yang membuat Al langsung membungkam mulut Tasya dengan tangannya.
"Heh, Little Baby! Bisa-bisanya bilang kaya gitu!" pekik Al.
Tasya tertawa melihat wajah Al yang panik begitu. Tasya pun melepaskan tangan Al dari mulutnya. "Ya habis lo gak pernah tuh kenalin cewek ke gue. Kan gue jadi curiga."
Bagaimana Al bisa mengenalkannya pada Tasya kalau pada kenyataannya cinta pertama dalam hidupnya yang dia kenal sejak kecil adalah Tasya sendiri. Bikin gemas saja gadis ini.
"Nanti gua kenalin, tapi yang mau gua luruskan adalah gua normal," tegas Al.
"Iya-iya percaya." Tasya tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di lengan Al. Angin di sini rasanya membuat dia mengantuk dan memejamkan matanya.
"Al, i feel sad," ucap Tasya.
"Hmm? Why?" Tanya Al sembari melirik gadis yang sedang bersandar pada lengannya itu.
__ADS_1
"I don't know, suddenly i feel sad." Tasya membuka matanya dan menatap ke arah Al dengan wajah cemberutnya.
Al menangkup pipi Tasya lembut. "You wanna eat something sweet?"
Tasya berpikir. "Like what?
"Just whatever you want," jawab Al.
Tasya mengangguk dan tersenyum mendengarnya, dia memang rasanya ingin makan yang manis-manis atau makan apapun yang bisa membuatnya tidak sedih.
Al berdiri dan mengulurkan tangannya. "Let's go home."
Tasya menerima uluran tangan Al dan bangkit dari posisinya. Kemudian mereka kembali ke dermaga untuk kembali pulang. Setelah beberapa menit perjalanan mereka pun sampai di mobil.
"Kita mau kemana lagi?" Tanya Tasya.
"Nanti juga tau, lu pasti suka sama tempatnya," jawab Al.
"Bentar lagi malem soalnya, jangan bilang lo mau ajak gue ke hutan lagi," kata Tasya menebak.
"Engga, kali ini tempatnya emang harus di datengin malem-malem," balas Al.
"Kebiasaan suka bikin kepo," kesal Tasya.
Al tertawa dia suka membuat Tasya kesal, karena menurutnya wajahnya sangat lucu, seperti bayi yang sedang merajuk.
Sepanjang perjalanan mereka tidak henti-hentinya bercanda, terkadang mereka bernyanyi bersama seperti melepas beban pikiran untuk beberapa saat. Rasanya mereka akhir-akhir ini jarang melakukannya karena sibuk dengan tugas, tugas, dan tugas.
Al menghentikan mobilnya di sebuah pasar kuliner. Ah Al ini memang paling tau apa yang Tasya sukai. Kulineran seperti ini pasti akan membuatnya kalap.
Perlahan Al mengambil dompet miliknya dan memberikannya pada Tasya. "Nih, beli apapun yang lu mau."
Tasya menerima dompet milik Al, tumben sekali pria itu memberikannya secara cuma-cuma. Biasanya Tasya harus merajuk dulu. "Tumben ada apa tiba-tiba nyerahin dompet tanpa harus dibegal?"
"Karena lu lagi sedih jadi pakailah, jajan apapun yang lu mau asal jangan sedih lagi," ucap Al sambil tersenyum.
"Aaaaa gemes bagettt cabatku satu ini." Tasya mengunyel-unyel pipi Al.
"Yaudah, siap kulineran?" Tanya Al.
__ADS_1
"Leggo!!!" Jawab Tasya antusias, mereka pun mulai menyusuri pasar malam dan mencari makanan yang ingin gadis itu makan.
Al tersenyum, walaupun mungkin dompetnya akan terkuras oleh Tasya tapi setidaknya dia bisa membuat Tasya senang. Sesederhana itu Al dalam mencintai.