
"Bunda sama Ayah kenapa gak bilang Al dulu kalau mau ke sini?" Tanya Al sambil menatap makanannya tak minat.
"Oh udah jelas pasti kamu akan larang Bunda sama Ayah kesini, right?" Tebak Diana seraya menyajikan kopi untuk suaminya.
"Ck, Bund. Itu juga karena Al punya alasan. Pasti Bunda mau temuin Tasya terus bahas soal hal yang kemarin, kan?"
"Oke kamu benar sayang, tapi Bunda mau tanya satu hal sama kamu. Kalau Bunda dan kamu gak kasih tau Tasya sekarang, kapan kita akan sampaikan ke Tasya? Lambat laun dia juga harus menghadapinya, kan?" Tanya Diana.
"Al udah pikirkan semuanya, Bund. Entah cepat atau lambat, pasti Al kasih tau. Tapi biarin dulu Tasya sekarang bernapas lega, lakuin hal yang dia suka, nikmatin hari-harinya. Kemarin- kemarin dia banyak beban. Sekarang Tasya baru bisa senyum lagi, Bund. Al gak mau ngerusak itu."
Haris menghela napasnya, dia hanya tersenyum jika melihat Istri dan Anaknya sudah beradu argumen. Diana yang selalu ingin cepat dan Al yang selalu melakukan segala hal penuh pertimbangan.
"Sudahlah, Bun. Anaknya pasti sudah mempunyai perkiraan sendiri. Yang terpenting kita tidak mengabaikannya, kan? Serahkan semuanya pada Al, dia sudah dewasa. Sudah tau mana yang baik dan benar. Beri dia kepercayaan dan tanggung jawab dari sekarang. Karena untuk sekarang yang mengerti posisi Tasya Al bukan kita," ujar Haris dengan bijak.
"Tidakk, kali ini aku tidak memaksanya Ayahnya Aldo Prayoga. Aku justru memberinya tanggung jawab dengan target. Kapan akan dilakukan, kapan semuanya selesai. Itu kan juga penting," ucap Diana.
"Iya, Bund. Tenang aja, Al pasti bakalan nepatin janji ke Bunda dan Ayah."
"Baik kalau gitu coba kamu jelaskan apa rencanamu sekarang. Setelah selesai sekolah di sini kamu akan kembali ke Surabaya atau tetap di sini?" Tanya Haris pada anaknya.
"Al mau ikut SNMPTN UNAIR," jawab Al singkat seraya menyendok makanannya.
"Sudah menentukan untuk masuk jurusan apa? Atau kamu masih tetap ada cita-citamu?" Tanya Haris lagi.
"Al tetap akan menjadi dokter sesuai apa yang sudah Al persiapkan," tegasnya.
"Ck, Sayang. Sudah mama bilang, kalau kamu akan lebih sukses menjadi seorang pembisnis. Kamu bisa meneruskan perusahaan Ayah di masa depan," ucap Diana.
"Al gak tertarik sama dunia bisnis, Al ingin mengabdikan diri untuk masyarakat. Banyak masyarakat yang membutuhkan tenaga kesehatan namun tidak memiliki biaya. Al ingin mewujudkan itu dengan kemampuan yang Al miliki."
"Bund, it's oke kalau anaknya mau seperti itu. Dokter atau pengusaha juga sama-sama baik untuk masa depannya," ucap Haris.
__ADS_1
"Tapi, Yah. Huft kenapa anak kita saja yang berbeda ingin menjadi dokter? Padahal kita keturunan pembisnis." Diana menghela napasnya.
"Mari kita ubah keturunan," kata Al santai.
"Yasudah lah terserah kamu Al. Bunda pusing memikirkan jalan pikiranmu. Yang terpenting kamu bisa menjaga kepercayaan Bunda ini sama kamu," ucap Diana pasrah.
Diana memang selalu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Memiliki anak pertama perempuan yang penurut, membuatnya menerapkan hal itu juga pada Al. Tapi Al mengikuti garis keturunan Ayahnya yang selalu keras kepala dan memiliki prinsip yang berbeda. Kalau sudah begitu suka atau tidak Diana sebagai seorang Ibu hanya bisa mendukung keputusan anaknya, berharap kalau kelak mereka akan berhasil.
"Zea kenapa gak ikut?" Tanya Al.
"Zea zea, itu kakak kamu. Panggil dia kakak!" Perintah Diana.
"Ya kak Zea. Biasanya dia selalu mau ikut kemana pun kalian pergi," kata Al.
"Zea harus kuliah, dia sudah memasuki semester produktif. Tentu harus lebih kera lagu usahanya. Jadi kami tinggal," jawab Haris.
"Al Bunda ini sebenarnya bukan hanya ingin menemui Tasya ke sini. Tapi Bunda khawatir dengan putra bungsunya yang jauh dari rumah," ucap Diana yang duduk di samping Al seraya mengelus lembut rambut anaknya.
"Al udah besar, Bund. Udah bisa jaga diri sendiri. Bunda jangan khawatir, Al bakalan baik-baik aja selama Bunda gak nekan Al lagi kaya kemarin," kata Al spontan.
Al mengangguk dan tersenyum ke arah Bundanya. Sekiranya dia sudah tenang karena Bundanya mempercayainya. Yang terpenting tidak gegabah dalam menemui Tasya.
...~ • ~...
Tasya terbangun dari tidurnya, dia kelelahan sampai-sampai dia tidur lama sekali. Jam menunjukkan pukul 19.00 sedikit menyerngitkan dahinya karena terdengar keramaian dari bawah sana.
Tasya merapikan rambutnya lalu keluar dari kamarnya. Terlihat sosok yang dia kenali sedang berbincang di ruang keluarga bersama tante dan juga abangnya
Tasya langsung berlari dan menemui mereka. "Bundaaaa."
Diana yang melihat Tasya langsung tersenyum dan menyambutnya dengan pelukan. Diana sudah menganggap Tasya seperti putrinya sendiri. Dari kecil bahkan Diana yang menyusui Tasya. Jadi tidak heran kalau mereka cukup dekat.
Tasya memeluk erat Diana dengan senyum sumringah. "Bunda kapan kesini? Perasaan baru kemarin Bunda bilang mau ke Bandung?"
__ADS_1
"Dari tadi pagi sebenarnya Bunda sudah ada di Bandung. Tapi mampir dulu kesana-kemari. Bunda kangen kamu sayang," ucap Diana lembut.
Amara, Radit, Haris dan Al tersenyum melihat itu. Entah kenapa mereka merasakan kalau Tasya memang memerlukan sosok seorang ibu, jadi mereka senang melihat Tasya begitu pada Diana. Setidaknya bisa mengobati luka Tasya dari Ibu kandungnya.
"Tasya juga kangen sama Bunda, kangen banget. Bunda di sini sampai kapan?" Tanya Tasya.
"Jangan pikirkan itu dulu. Ayok kita bicarakan hal lain aja. Sini-sini," ucap Diana sambil mengajak Tasya duduk di sofa.
"Eh Ayah, lupa belum salam. Ayah Tasya juga kangen sama Ayah," ucap Tasya seraya menyalami pria paruh baya itu.
"Ayah juga kangen sama Tasya. Gimana sekolahnya lancar?" Tanya haris sambil mengelus rambut Tasya. Kini Tasya berada ditengah-tengah mereka. Nampak seperti sebuah keluarga.
"Baik, Tasya sekarang udah bisa belajar normal lagi," kata Tasya terkekeh.
"Bagus, kalau sekarang gimana keadaan kamu? Udah baik-baik juga, 'kan? Bunda khawatir loh, tapi kemarin Bunda sangat sibuk di Surabaya dan ada pekerjaan yang tidak bisa Bunda tinggalkan. Bunda minta maaf ya?" Diana memeluk Tasya dan Tasya pun membalasnya.
Tasya tersenyum mendengarnya. "Tasya udah gapapa, Bund. Tasya baik-baik aja, ya emang suka kambuh kadang-kadang tapi gak parah. Dan juga harus terus terapi," jawab Tasya.
"Nah itu, kamu jangan telat terapinya. Untuk mempercepat kesembuhan kamu," kata Haris.
"Bandel, susah kalau disuruh, ngeyel, harus dibujuk dulu bahkan diseret," celetuk Al.
"Apasih, Al. Bohong banget ya lo! Engga, Bund. Orang Tasya nurut, cuma Al suka maksa jadi suka males," adu Tasya pada Diana.
"Cimi Il siki miksi jidi siki milis," ejek Al.
"Tuhh kan, Bund. Al tuh nyebelin , siapa juga yang mau kalau dianterin sama orang nyebelin wlek!" Balas Tasya.
"Eh gua gak nyebelin kalau lunya nurut ya, Aurell! Emang dasarnya aja badung, malah ngadu cih," decih Al.
"Ehhh kenapa jadi ribut kalian. Al, gak boleh gitu ah sama Tasya. Kalau kamu ajaknya baik-baik pasti mau, iyakan sayang?" Tanya Diana dan dihadiahi anggukan oleh Tasya.
"Bund yang anak Bunda ini Al atau Tasya sih?" Kesal Al.
__ADS_1
"Dua-duanya anak Bunda. Udah jangan ribut-ribut," ucap Diana menenangkan.
Tasya tersenyum kemenangan ke arah Al, sementara Al kesal dibuatnya. Mereka tertawa melihat pertengkaran Al dan Tasya. Setelah itu Amara dan Diana sibuk menyiapkan makanan, Radit dan Haris sibuk membahas soal bisnis. Tasya dan Al mereka tentunya sibuk ber-selfie, apalagi yang mereka berdua lakukan selain itu?