
Hari minggu. Tasya berencana akan pergi hari ini, untungnya Ainun sudah pulang. Kalau bocah itu masih di sini, mungkin Tasya tidak bisa berpergian kemana-mana. Pasalnya gadis kecil itu tidak ingin lepas dari Tasya dan kemauannya harus selalu di turuti.
...Osis SmaVen XI (11)...
Chandra Aditya menambahkan Viko Narendra ke grup.
Chandra Aditya menambahkan Reza Arya ke grup.
Chandra Aditya menambahkan Bagus Putra ke grup.
Chandra Aditya menambahkan Arkan Bagaskara ke grup.
^^^Lah? Kok mereka diinvite?^^^
Chandra Aditya : mereka juga panitia.
^^^Tinggal bikin grup baru, gak usah di sini. Rusuh.^^^
Chandra Aditya : ribet.
Vionalen Restia : iya gapapa kali, Sya. Udah acara beres kick aja.
^^^Kekickeran @vionalen Restia^^^
Vionalen Restia : iya dungs.
Bagus Putra bergabung ke grup.
Vionalen Restia : kam.
Yudhistira pateh : pret.
Bagus Putra : Grup paan?
^^^Grup OSIS, gak liat apa?^^^
Bagus Putra : yee, galak amat Bu Ketos.
^^^Sksk g.^^^
Bagus Putra : Y sksk l j
^^^Hm^^^
Arka Bagaskara bergabung ke grup.
Reza Arya bergabung ke grup.
Reza Arya : grup apa?
^^^Kalian pada gak bisa baca ya, heran gue.^^^
Reza Arya : gua baru datang diomelin Bu Ketos :((
Arka Bagaskara : gua diculik, someone, help me please!
__ADS_1
^^^Gila -_-^^^
Viko Narendra bergabung ke grup.
Viko Narendra : ini apaan?
^^^Sekali lagi pada nanya ini grup apaan, gue lempar lo satu-satu! -_-^^^
Viko Narendra : gua kan baru datang. Udah marah marah aja lu.
^^^Bodo amat, gue udah kesel dari tadi.^^^
Chandra Aditya : jadi gini, gua sebagai koordinator lapangan mau kasih tau. Tugas kalian bertiga buat acara camping.
Pertama :
- Arka sama Bagus kalian jadi sie keamanan.
- Reza lo jadi sie peralatan bareng Yudish.
- Viko jadi dokumentasi.
Viko Narendra : oke
Tasya langsung menutup LINE-nya untuk bersiap-siap mandi. Setelah selesai mandi, Tasya langsung menuju meja makan. Mungkin dia akan memakan satu atau dua roti dengan selai coklat kesukaannya.
"Pagi, Abang," sapa Tasya sambil duduk di sebelah Radit, tak lupa dia mencium pipi Abangnya itu.
"Pagi kebo, tumben udah rapi. Mau kemana?" Tanya Radit yang keheranan karena melihat adiknya sudah rapi dan wangi. Biasanya Tasya masih dekil.
"Lo gak akan kemana-mana, Bang?" Tanya Tasya pada Abangnya.
"Jomblo kaya gua emang mau apa di hari Minggu? Kalau gak main PS ya gua tidur, kalau gak tidur ya gua makan. Gitu aja terus." Jawab Radit santai.
"Curhat amat lo," kata Tasya sambil menyuapkan Rotinya dan terkekeh. Tiba-tiba ....
"Kamu sudah bangun, sayang?" Seseorang menyapa Tasya dan mengelus pelan rambut Tasya. Tasya hanya terdiam. Paginya seketika hancur hari ini. Kenapa ayahnya itu datang tiba-tiba seperti ini?
"Kenapa dia ada di sini sih?!" Batin Tasya.
Dia adalah Jonathan, Ayahnya Tasya. Dia langsung duduk di kursinya. Tasya masih bergeming, rasanya dia sudah tak berselera untuk melanjutkan sarapan.
"Gimana kabar kamu, sayang?" Tanya Jonathan pernuh perhatian pada putri bungsunya itu.
"Baik," singkatnya tanpa berniat untuk menatap ayahnya. Entah kenapa emosinya selalu memuncak ketika melihat ayahnya, apalagi kalau bersikap yang menurut Tasya sok baik.
"Apa kamu gak bisa, maafin Papa, Nak?" Tanya Jonathan sendu.
"Kalau gak bisa gimana? Kalau Papa gak nyakitin mama, Tasya sekarang pasti bisa bareng sama mama! Kalau papa gak ngekhianatin mama, Tasya gak akan pernah ngerasain gak punya mama!" Kata Tasya yang menyimpan garpu nya dengan penuh penekanan.
"Tasya!" Tegur Radit kasar.
"Diem, Bang. Abang mungkin udah pernah ngerasain pelukan mama, tapi Tasya gak pernah! Abang tau gimana rasanya Tasya ngeliat temen-temen Tasya dipeluk dan dicium sama mamanya? Tasya iri! Kalau Papa bisa hargain mama, semuanya gak akan kaya gini!" Tasya merubah posisi duduknya menghadap Radit.
"Cukup Tasya. Cukup!" Bentak Radit yang masih menahan emosinya.
"Abang kenapa sih selalu belain dia? Abang gak pernah belain Tasya. Abang selalu bersikap seolah Tasya yang salah! Apa salah kalau Tasya pingin ngerasain pelukan seorang ibu. Tasya bahkan gak pernah tau, wajah mamah! Gara-gara orang berengsek ini Ta-"
__ADS_1
Plak ...
"CUKUP!" Radit spontan menampar pipi Tasya. Tasya dan juga Radit kaget. Tasya kaget karena.
"Radit!" Bentak Jonathan pada putranya itu.
"Biarin, biar dia bisa bersikap sopan sama Papa," jawab Radit tak acuh.
"Gue gak nyangka sama lo, Bang. Lo, nampar gue? Lo bentak gue demi dia? Lo jahat, JAHAT!"
Tasya beranjak dari kursinya dan mengambil kunci mobil. Radit, orang yang selalu menjadi sandarannya tega melakukan itu padanya. Padahal Radit juga tau, kalau Tasya tidak suka dibentak apalagi ditampar seperti tadi. Bahkan dia tak tahan lagi membendung air matanya. Tasya tak tau harus ke mana. Dia sudah bingung harus apa lagi. Harinya benar-benar kacau akibat orang itu.
"Kenapa gue terlahir di dunia kalau gue harus ngalamin kaya gini? Gue benci hidup gue, gue benci!" Kesal Tasya yang masih terisak dalam tangisannya.
...~ • ~...
Duduk di tepi danau, Tasya bingung harus ke mana. Jadi, dia memutuskan untuk pergi ke danau. Entah kenapa, menangis adalah hal yang iya butuhkan untuk sekarang. Rasa sakit di pipinya, tak sebanding dengan sakit hati yang dia rasakan. Tak adil, mungkin itu yang sedang ada dipikiran Tasya.
"Apa salah, kalau gue cuma pingin kehadiran sosok mama? Apa salah, kalau gue benci orang yang udah nyakitin mamah gue sendiri?" Tasya menghapus air matanya yang turun semakin deras. Dia tak tau harus bersandar kepada siapa.
Sampai akhirnya ...
"Ngapain lo di sini?" Tanya Viko. Iya dia adalah Viko. Entah sedang apa dia di tempat itu.
"Viko ..." Gumam Tasya perlahan seraya menghapus air mtanya.
"Galau lu? Putus? Oh iya lu kan jomblo," ledek Viko. Tapi Tasya hanya bergeming, dia sedang tak berselera untuk bercanda ataupun ribut dengan Viko.
"Kesambet ya lu? Tanya Viko sambil duduk di sebelah Tasya.
"Gapapa."
"Gua gak tau apa yang lagi lu alami. Tapi gua cuma mau bilang, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya," nasehat Viko.
"Gak ada, ini gak ada jalan keluarnya."
"Kenapa lu bicara mendahului Tuhan? Sedangkan Tuhan aja belum tentu bakalan lakuin apa yang lu bilang."
"Lo gak tau apa-apa. Lo gak ngerasain apa yang gue rasain. Hidup lo jauh lebih beruntung dari gue," ucap Tasya yang kembali menekuk lututnya dan menenggelamkan wajahnya.
"Kalau gua gak tau apa-apa tentang kehidupan lu. Kenapa lu dengan sekejap menilai kehidupan gua lebih beruntung?"
"Apa sih yang lo alamin, gak ada. Lo bahkan selalu ketawa gak jelas setiap hari. Lo gak ada beban hidup, lo–"
"Gua tanya, apa dengan mengeluh semua masalah bahkan selesai? Apa dengan gua selalu ketawa geje yang lu bilang itu gua bahagia? Belum tentu."
Tasya hanya terdiam.
"Jangan memposisikan lu sebagai manusia paling banyak beban di dunia ini. Lu belum liat anak jalanan, dia jauh lebih gak beruntung. Mereka gak punya apa pun. Walaupun gua nakal, gua badung, tapi gua gak pernah lupa bersyukur sama Tuhan. Karena berkat-Nya gua masih bisa bernapas sampai sekarang."
"Gue bingung, lo bener tap-" Tasya menghentikan omongannya sebelum terlanjur berbicara kepada Viko.
"Kenapa?"
"Gak apa, gue balik duluan. Makasih buat advicenya." Tasya beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara Viko bertanya-tanya. Ada apakah pada Tasya dan orang tuanya. Apa dia broken home? Jika iya, dia tak menyangka. Karena menurutnya, Tasya adalah manusia cerewet, pintar dan ketua OSIS juga. Sama sekali tak menunjukkan kalau dia adalah anak broken home. Entahlah, yang jelas Viko cukup penasaran.
__ADS_1